Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 226. Melepas Rindu


__ADS_3

Selesai makan siang bersama, Afwa mengajak istrinya istirahat di kamar. Afwa duduk di dekat kepala ranjang, ia menyandarkan punggungnya di sana, dan Kirana duduk di sebelahnya dengan posisi yang hampir sama namun kepalanya ia rebahkan di dada bidang sang suami.


"Aku kangen banget sama, Mas," ucap Kirana membuka pembicaraan dengan memeluk Afwa dari samping.


"Mas juga kangen sama kamu dan anak kita," balas Afwa sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"Apa luka tembak yang mas dapatkan sudah sepenuhnya sembuh?" tanya Kirana dengan nada khawatir.


"Alhamdulillah hampir seratus persen sembuh, kamu tak usah khawatir."


"Besok, Mas apa langsung dinas?"


"Tidak, Mas diberi libur tiga hari dari kesatuan setelah itu mas harus dinas lagi."


"Tapi nggak ke luar kota atau pulau lagi kan?"


"Nggak dong, Yang, apa lagi mas belum seratus persen sembuh, kadang masih terasa linu atau kesemutan di sekitar luka tembak."


Mendengar jawaban suaminya, Kirana merasa sangat lega, karena dengan kondisi kesehatan suaminya kemungkinan dalam waktu dekat sang suami taka akan ditugaskan di tempat yang jauh lagi, tak tahu kalau nanti sudah seratus persen sembuh.


"Sayang, tangan kamu dikondisikan ya, kalu begini adikku kecilku bisa bangun!" pinta Afwa ketika tangan sang istri bermain di mengusap dada bidangnya.


"Cuma gini aja masa sudah on, aku cuma kangen pingin dekat-dekat mas terus," ucap Kirana tanpa dosa.


"Tapi aku pria normal, Sayang, apalagi sudah enam bulan tak dapat jatah, disentuh sedikit saja sudah on fire."


"Gini amat ya punya suami tentara, di ranjang saja bahasanya pakai on fire."


Afwa terkekeh mendengar ucapan istrinya, entah kenapa semenjak pulang tadi sang istri terlihat lebih manja dan juga lebih seksi.


"Sayang, kamu pingin?" tanya Afwa yang membuat Kirana yang sedang beesandar di dadanya mendongakan kepalanya menatap wajah sang suami.

__ADS_1


"Pingin apa?" tanya Kirana polos.


"Kamu mau jengukin dedeknya?"


Kirana langsung tersipu ketika mendengar pertanyaan suaminya, ia memang menginginkan hal itu dari tadi namun ia malu meminta duluan. Entah karenna rindu atau pengaruh hormon kehamilan, ia merasa lebih agresif sejak suaminya datang dari Satgas. Melihat wajah istrinya yang memerah dan tersipu membuat Afwa tahu apa yang di inginkan istrinya.


"Aku nggak pingin, lagian Mas masih lelah baru pulang, masa aku minta gitu," elak Kirana membuat senyum di bibir Afwa makin lebar.


"Aku memang lelah setelah pulang Satgas tapi kalau urusan jengukin dedeknya nggak ada kata capek, jangan khawatir Sayang, Mas siap melakukannya dengan senang hati, mau berapa ronde Mas bakal layanin," ucap Afwa membuat Kirana makin tersipu ternyata sang suami mengerti apa yang ia inginkam.


"Kita ini suami istri sah secara agama dan negara, jadi kalau kamu minta duluan pahalanya akan lebih banyak lho, jadi kalau kamu pingin Mas jenguk dedeknya kapan aja InsyaAllah Mas siap asal Mas tidak sedang melakukan tugas negara," ucap Afwa sambil menatap istrinya dengan penuh cinta.


Akhirnya setelah melihat anggukan penuh malu-malu dari sang istri, Afwa mulai melepas pakaiannya satu persatu untuk memberikan nafkah batin pada sang istri yang sudah enam bulan tak bisa ia penuhi. Afwa dengan senang hati dan penuh cinta melakukan ibadah indah di ranjang bersama sang istri. Afwa melakukannya dengan pelan karena menjaga kandungan sang istri yang sudah menginjak tujuh bulan. Di matanya tak ada perubahan yang berarti dengan bentuk tubuh Kirana selain perutnya yang membuncit karena mengandung buah cinta mereka, bahkan Kirana justru terlihat lebih seksi dan berisi. Tentu saja saat sang istri menginginkannya menjenguk calon buah hati mereka, Afwa sangat senang serasa mendapat jackpot yang sangat besar.


Di belahan dunia lain, seorang pria menatap nanar sebuah kertas yang menjawab semua pertanyaan di hatinya selama ini. Tak terasa air matanya menetes lututnya terasa lemas. Sungguh tiada yang bisa ia rasakan selain penyesalan dan kata maaf yang mungkin tak sekarang tak berguna.


"Maaf, Mela aku terlambat, aku sungguh menyesal," lirih Niko dengan suara parau yang menyayat hati.


Setelah beruaaha menenangkan dirinyaz Niko bangkit dari posisinya yang terduduk di lantai, ia berdiri kemudian mengambil ponsel dari.saku celananya.


"Alu minta awasi terus semua kegiatan Alesya jangan sampai terjadi apapun padanya, semuanya harus kamu laporkan padaku!" perintah Niko pada seseorang di seberang telepon.


"Baik Tuan," jawab laki-laki suruhan Niko.


"Apapun akan papa lakukan untukmu, Nak, meski dari jauh, andai kita bisa bersama, papa akan bahagia sekali, tapi semua itu hanya impian papa yang tak akan jadi kenyataan. Kalau papa angkatmu sampai tahu siapa papa, dia pasti akan menjauhkanmu dariku, dan papa tak ingin semua itu terjadi, semoga suatu saat kita bisa bertemu dengan keadaan yang lebih baik," monolog Niko dalam hati sambil berdiri di balkon kamar dimana bisa terlihat indahnya kota Instambul pada malam hari.


Dua minggu setelah kepulangan Afwa, acara tujuh bulan kehamilan Kirana dilaksanakan, karena acaranya cukup besar maka acara tujuh bulanan digelar di rumah orang tua Kirana di Semarang. Kebetulan rumah orang tua Kiran sudah selesai di kontrak, dua bulan lagi akan di tempati oleh Raka dan keluraganya karena Raka akan dipindahkan dari Bandung ke Semarang.


Hari ini keluarga besar Yudha sudah berada di kediaman Raka di Semarang. Yudha sangay senang bertemu dengan sahabat sekaligus besannya.


"Apa kabar Yud, lama kita tidak bertemu," ucap Raka setelah melepas pelukannya pada Yudha.

__ADS_1


"Iya, aku jadi kangen saat kita dinas bersama dulu," ucap Yudha dengan senyum yang mengembang.


"Bagaimana Aryana dan Fahmi, apa mereka akan datang di acara tujuh bulanan Kirana?" tanya Raka karena hanya Aryana dan keluarga kecilnya yang belum kelihatan


"InsyaAllah mereka akan datang besok, biasalah kau tahu sendiri Fahmi juga ceo sepertiku pastinya dia akan sangat sibuk."


"Syukurlah, jadi semua bisa berkumpul."


"Raka, bagaimana perkembangan sikap Dinda pada Kiran dan Afwa, terakhir kudengar kabar kalian tidak menemani Kirana saat pelepasan Satgas ke Papua?"


Mendengar pertanyaan Yudha, wajah Raka langsung terlihat sendu, melihat perubahan sikap sahabatnya Yudha menjadi tidak enak.


"Maaf, kau tak perlu menjawabnya," ucap Yudha.


"Seharusnya aku yang minta maaf atas sikap Dinda, aku memang tak becus menjadi seorang suami, menasehati satu perempuan saja yang berstatus istriku, aku tidak bisa."


"Jangan salahkan dirimu, aku tahu kamu sudah berusaha, semoga dengan kepindahan kalian ke Semarang, bisa membuat Kiran dan Afwa lebih dekat dengan Dinda, aku yakin dengan kelahiran malaikat kecil dari Kirana akan bisa meluluhkan hati Dinda," ucap Yudha lalu menepuk pundak Raka untuk memberi dukungan moral.


"Semoga saja ya, Yud apa yang kamu katakan jadi kenyataan, aku kadang pingin merukiyah istriku rasanya Dinda yang aku kenal dulu tidak seperti ini."


Yudha tertawa mendengar ucapan konyol sahabat sekaligus besannya itu, dan inilah yang ia rindukan dari sosok Raka.


"Dasar kau ini suami tidak ada ahklaq, memangnya Dinda kerasukan jin, atau melakukan hal-hal diluar nalar, Dinda itu itu butuh konseling dengan psikolog, Dinda hanya trauma saat kau tinggalkan Satgas ke Lebanon dulu belum sepenuhnya hilang. Dinda harus berdamai dengan hati dan masa lalunya. Kamu bisa cari waktu yang tepat untuk mengajak dia bicara dari hati-hati dan tawarkan Dinda untuk konseling,"


"Iya kapan-kapan akan aku bicarakan demgan Dinda."


Saat Yudha dan Raka masih asyik berbincang terdengar suara yang sangat familier di telingga Yudha.


"Opa....!


________________________________________

__ADS_1


__ADS_2