
"Ayah kenapa terlihat kesal begitu?" tanya Yasmin.
"Ya, aku kesal karena calon mantu kita itu," jawab Yudha.
"Kenapa memang?"
"Nggak ingat umur, minta di panggil honey sama Aryana."
Mendengar jawaban suaminya Yasmin terkikik geli. Ia tak menyangka calon mantunya yang umurnya hampir sama dengannya minta dipanggil honey.
"Biarkan sajalah, cuma panggilan aja bikin ribut, yang penting ia setia dan bertanggung jawab pada putri kita," ujar Yasmin.
Sedang asyik pasutri itu berbincang tentang putri dan calon menantunya terdengar suara ketukan pintu di ruang kerja Yudha.
"Tok tok, Yaaah, apa ayah di dalam?" tanya Aryana mengetok pintu ruang kerja sang ayah.
"Masuk, Sayang tak di kunci!" pinta Yudha dari dalam.
Ceklek
"Ada apa mencari ayah?" tanya Yudha
"Om Fahmi ingin pamitan mau pulang," jawab Aryana.
"Oh, Om Fahmi sudah mau pulang, cepat sekali?" tanya Yasmin.
"Iya, Bund, katanya biar Aryana segera istirahat," jawab Aryana.
"Pengertian juga dokter pedofil itu," batin Yudha.
Setelah Aryana memberitahu bahwa Fahmi akan berpamitan untuk pulang, Yudha dan Yasmin turun ke bawah untuk menemui Fahmi.
"Sudah sembuh kangennya kok sudah mau pulang?" ucap Yudha menggoda Fahmi setelah sampai di ruang tamu.
"Sebenarnya sih belum, tapi aku kasihan sama Aryana, dia masih masuk sekolah,," jawab Fahmi.
"Nanti malming kan bisa main lagi," ucap Yasmin sambil tersenyum.
"Akan aku usahakan malam minggu bisa kesini lagi, oh ya aku hampir lupa ini ada kue dan buah buat kalian," ucap Fahmi sambil menyerahkan paper bag kue dan parcel buah.
"Ah, honey kenapa repot-repot sih," ucap Aryana tak enak namun ia tetap menerima paper bag dari Fahmi.
"Tidak apa-apa sayang, aku malah tidak enak kalau ke rumah camer tidak membawa apapun, nanti dikira aku ceo pelit," ucap Fahmi.
"Nggak gitu juga kali Om, eh honey," ucap Aryana meralat panggilannya.
Akhirnya pukul sembilan malam Fahmi meninggalkan rumah Yudha. Aryana segera masuk lagi ke rumah sambil membawa paper bag yang berisi kue sedang yang parsel buah dibawa Yudha.
"Calon mantu kita pengertian juga ya," ucap Yasmin sambil tersenyum.
__ADS_1
"Menurutku itu hal biasa, cuma kue dan buah aku juga bisa belikan kebun dan pabriknya padamu," ucap Yudha.
"Bukan begitu ayah, dari tadi sentimen terus sama Fahmi, kalau ayah sudah ikhlas merestui ya harus legowo dong!" protes Yasmin atas sikap suaminya yang terkesan belum menerima Fahmi sebagai calon menantunya sepenuhnya.
"Terserah bunda aja ah, aku mau ke kamar ngantuk," ucap Yudha yang langsung melenggang pergi ke kamar setelah meletakan parsel buah di meja makan.
Melihat sikap suaminya Yasmin hanya bisa memijat pelipisnya yang tiba-tiba pening.
"Oalah, piye to bojoku ki, jare wes mengestoni Fahmi karo Aryana, ning nek ketemu Fahmi kok koyo ora seneng ngono, ya Allah gusti paringono sabar (Bagaimana suamiku ini, katanya sudah merestui Fahmi dan Aryana, tapi kalau ketemu Fahmi kelihatan seperti tidak senang, ya gusti Allah berilah kesabaran)," ucap Yasmin dalam hati.
*****
Waktupun berjalan serasa begitu cepat, hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya ujian kelulusan bagi Aryana dan Afwi pun tiba. Tak hanya Aryana dan Awfi yang bersiap menempuh ujian akhir sekolah namun semua siswa di jenjang SMA/SMK/MA/SMALB.
"Aryana, Afwi hari ini kalian ujian sekolah kan?" tanya bunda saat sarapan bersama.
"Iya, Bund, doakan ya bund kami bisa mengerjakan dengan lancar!" pinta Aryana.
"Iya, bunda dan ayah selalu mendoakan kalian," ucap Yasmin.
"Kak Afwa ujian juga?" tanya Azka.
"Iya kak Afwa juga ujian akhir sekolah minggu ini," jawab bunda.
"Ayah tugas lagi ya bund?" tanya Afwi.
"Nggak apa-apa bunda, kami 'kan sudah terbiasa melalui moment-moment penting tanpa ayah," ucap Afwi datar.
"Sudah ah nggak usah bahas ayah lagi ntar mood kita ambyar lagi, yuk kak berangkat ntar telat!" ajak Aryana.
"Kita berangkat dulu, Bund," pamit Afwi dan Aryana dan Azka pada Yasmin.
Yasmin menyambut uluran tangan anak-anaknya untuk salim. Setelah ketiga anaknya sudah keluar rumah dan tak terlihat bahwa lagi, Yasmin hanya menghembuskan nafas panjang, sesak menyeruak dalam hatinya, ini moment penting dalam kehidupan putra putrinya, ujian akhir sekolah sebagai syarat kelulusan, namun sang suami tak bisa mendampingi buah hati mereka.
Sampai di sekolah, Aryana dan Afwi segera menuju ruang ujian masing-masing, di depan ruang ujian Aryana bertemu dengan Irfan.
"Hai, Na, apa kabar, kamu sudah siap untuk ujian kali ini?" tanya Irfan.
"Insyaallah sudah," jawab Aryana.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, guru yang bertugas mengawas sudah berjalan menuju ruang ujian yang akan mereka awasi. Guru pengawas ruang membuka kertas segel yang tertempel di pintu ruangan. Para siswa kemudian masuk ke dalam ruangan dengan tertib. Guru mulai membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada para siswa peserta ujian. Para siswa mengerjakan ujian dengan tertib meski ada satu dua siswa yang bandel tengok kanan kiri saat mengerjakan namun ujian berjalan dengan lancar hingga waktu ujian hari itu selesai.
Sedangkan di lain tempat, Fahmi terlihat agak gelisah, ia tak konsen bekerja membuat sang asisten kebingungan. Meeting dengan beberapa manajer dari berbagai divisi dibatalkan, di ruang kerjanya sang bos hanya duduk dengan gelisah kadang juga mondar mandir di ruangannya.
"Ya Allah hari ini ujian sekolah Aryana, semoga Aryana bisa menyelesaikannya dengan baik, agar kelulusannya tak terkendala apapun," harap Fahmi dalam hati. Tiba-tiba terdengar suara pintu ruangan Fahmi di ketuk
Tok tok
"Siapa?" tanya Fahmi
__ADS_1
"Saya pak, Joan," jawab Joan dari luar.
"Masuk!"
"Selamat siang, Pak!"
"Siang, ada apa menemuiku?" tanya Fahmi datar.
"Pak, tadi PT. Makmur Sejahtera menanyakan tentang proposal kerjasama mengenai furniture yang akan digunakan untuk hotel baru yang sedang di bangun di wilayah perkebunan teh itu," jawab Fahmi.
"Oh itu, katakan pada mereka, aku akan menemui mereka sendiri setelah satu minggu," jawab Fahmi.
"Kenapa satu minggu, itu terlalu lama, biasanya kalau hanya soal furniture untuk melengkapi perusahaan atau hotel tidak selama ini?" tanya Joan.
"Sudah jangan banyak tanya, bilang saja itu sama mereka, kalau mereka tidak mau menunggu seminggu, kita bisa cari supplier yang lain!" jawab Fahmi tegas.
Sang asisten pun tidak bisa berkutik lagi saat big bosnya sudah mengatakan seperti itu. Asisten Joan sungguh tak tahu jalan pikiran ceonya itu.
Di dalam ruang kerjanya Fahmi melihat proposal yang diajukan PT. Makmur Sejahtera yang tadi di bawa oleh asisten Joan. Fahmi membuka satu per satu lembar proposal tersebut dan mempelajarinya.
"Aku menunggu satu minggu karena aku ingin Aryana sendiri yang memilih desain furniturnya, karena hotel ini akan aku bangun untuk mahar pernikahan kami, dan ini akan menjadi kejutan untuk gadisku dan tentunya untuk semuanya, terutama pak tentara judes calon mertuaku itu," ucap Fahmi dalam hati sambil tersenyum smirk
Setelah selesai mengerjakan semua soal ujian di dua mata pelajaran yang diujikan hari itu, Aryana dan Afwi langsung pulang ke rumah. Sampai di rumah mereka disambut Yasmin dengan senyuman.
"Kalian sudah pulang, bagaimana ujian sekolahnya, susah atau gampang?" tanya Yasmin seraya merangkul pundak Aryana.
"Kalau aku Alhamdulillah bisa mengerjakan semua, tapi nggak tahu nanti hasilnya," jawab Aryana.
"Kalau kamu, Fi, gimana ujiannya, bisa mengerjakan?" tanya Yasmin pada Afwi yang berjalan di sampingnya menuju ruang makan.
"Aku bisa mengerjakan, tapi susah atau gampang itu relatif, Bund, tergantung siapa yang mengerjakan soal itu," jawab Afwi yang kemudian mendudukkan tubuhnya ke kursi di ruang makan.
Aryana juga duduk di kursi dekat Afwi, Yasmin mengambilkan air putih untuk kedua anaknya.
"Minum dulu, kalian pasti haus, makanan untuk makan siang sebentar lagi matang, sekarang kalian ganti baju dulu!" pinta Yasmin yang di iyakan oleh Afwi dan Aryana.
Afwi dan Aryana memasuki kamar masing-masing, Aryana langsung melepas seragam abu-abu putihnya lalu membersihkan diri ke kamar mandi, setelah membersihkan diri Aryana memakai baju rumahan, celana pendek selutut dan kaos oblong yang longgar. Ia berbaring di tempat tidur sambil mengecek ponselnya yang sedari tadi ia mode silent. Betapa terkejutnya Aryana mendapati sepuluh panggilan tak terjawab dan tujuh wa dari Om Fahmi, isi chat di wa hanya menanyakan hal yang sangat biasa namun terkesan posesif, gimana ujiannya, sudah selesai apa belum ujiannya, jangan lupa berdoa, jangan telat makan, ya seperti isi chat Fahmi pada Aryana.
"Ya, Allah Om, telpon aku sampai sebanyak ini, apa dia nggak punya kerjaan di perusahaan sebesar Pratama group, sudah tahu aku ujian, masih saja di telponin," ucap Aryana menggerutu, namun ia tetap mendial nomor sang tunangan tercinta agar tidur istirahatnya tidak di teror Om kece kesayangannya.
_______________________________________
Menulis per episode 1000 kata lebih memerlukan mood yang bagus dan pikiran yang tenang ya readers. Jadi sabar ya, ini alurnya mau aku cepetin dikit kasihan om Fahminya ntar keburu tua, he...he...
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
__ADS_1