Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 168


__ADS_3

Setelah pemeriksaan intensif selama tiga hari, ternyata tidak di temukan komplikasi pada organ tubuh Afwi yang lain. Hal itu membuat semua anggota keluarga terasa lega, Nayla dengan setia menunggui Afwi setiap hari sampai dokter menyampaikan kabar baik pada keluarga Afwi. Selama tinggal di Singapura menemani perawatan Afwi, Nayla tinggal bersama Yudha dan Yasmin di rumah besar Fahmi. Nayla benar-benar takjub dengan pemandangan rumah tangga Fahmi dan Aryana. Ke empat anak mereka sungguh mengemaskan, bahkan Nayla sempat berandai-andai kalau dia menikah dengan Afwi dan mendapatkan anak kembar.


Hari ini Afwi akan di pindahkan ke ruang rawat tentu saja kamar perawatan yang di pilih adalah yang paling bagus, namun Afwi menolak di rawat di ruang VVIP, kamar VIP saya sudah cukup untuknya. Menjadi abdi negara yang bekerja mengayomi dan melindungi masyarakat membuat Afwi makin paham dengan kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Meskipun Afwi seorang anak konglomerat tapi ia tak mau semena-mena menggunakan kekayaan keluarganya. Menikmati hasil kerjanya sebagai seorang polisi sudah cukup baginya. Saat ini di kamar rawat inap Afwi terdapat banyak orang, ada Yudha, Yasmin, Nayla, Fahmi dan Aryana.


"Adik ipar, bagaimana keadaanku, kapan aku boleh pulang?" tanya Afwi pada Fahmi.


Fahmi terkekeh mendengar pertanyaan Afwi yang sedikit memelas itu.


"Bersabarlah kakak ipar, lukamu belum benar-benar pulih, mungkin memerlukan waktu sekitar dua bulan lebih, ya seperti ibu yang habis operasi cesar, kurang lebih seperi itu," jawab Fahmi.


"Tidak, aku tidak mau selama itu di tempat tidur dan di rawat di rumah sakit, aku bisa stress," ucap Afwi tak terima.


Semua orang tertawa melihat reaksi Afwi yang ketakutan dan galau, anak tak bisa diam itu mana mungkin betah di rawat di rumah sakit dalam jangka waktu yang lama, selama dua puluh dua tahun baru kali ini Afwi sakit yang sampai rawat inap bahkan operasi dan masuk kamar ICU.


"Kakak ipar boleh jalan-jalan ringan jika luka sudah mengering, tapi hanya sekitar rumah, kakak belum diperbolehkan melalukan aktivitas yang berat, karena meskipun jahitan luar sudah kering tidak berarti jahitan di dalam juga sudah kering, tapi jangan khawatir aku sudah meminta dokter memberikan obat terbaik untuk luka dan pemulihanmu," ucap Fahmi menjelaskan dan hal itu membuat Afwi sedikit lega, setidaknya dia tak terkurung di dalam kamar rumah sakit.


Dalam percakapan itu, Nayla justru lebih banyak diam, ia merasa canggung harus ikut nimbrung dengan pembicaraan, dalam kecanggungan itu, Nayla meminta ijin untuk keluar sebentar.


"Maaf, Tante, Om, saya ijin keluar sebentar," ucap Nayla membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.


"Mau kemana, Nay?" tanya Yasmin.


"Mau keluar sebentar, Tante," jawab Nayla dengan raut gugup melihat itu semua orang mengerti.


"Kamu di sini saja, Tante sama Om mau keluar sebentar sama Fahmi dan Aryana!" pinta Yasmin seakan mengerti apa yang di rasakan kekasih sang putra.


"Tapi, Tante--,"


"Sudahlah, kami pergi dulu, titip Afwi ya!" pinta Yasmin kemudian mengandeng tangan sang suami untuk segera keluar dari ruangan Afwi di ikuti Fahmi dan Aryana.


"Jagain kakakku ya," bisik Aryana saat berjalan melewati Nayla.


Setelah semuanya keluar kini tinggal, Afwi dan Nayla. Afwi memandang sang kekasih yang berdiri di ujung bednya.


"Sampai kapan mau di situ, terus? nggak kangen sama abang?" tanya Afwi dengan nada kesal yang di buat-buat.


Perlahan Nayla mendekat dengan sang kekasih, rasanya sungguh aneh, entah kenapa dia gugup ketika bertemu seperti ini dengan sang kekasih, apalagi setelah tau latar belakang keluarga Afwi yang sebenarnya. Melihat rumah besar adik perempuan Afwi saja ia sudah merinding, apalagi mengetahui siapa suami adik perempuan Afwi, lutut Nayla rasanya lemas. Kisah cinta seperti apa yang sudah terjadi pada Aryana, pastinya sangat menarik untuk di ketahui.


Saat Nayla sudah dekat, Afwi meraih tangan Nayla agar duduk di samping bed mengahadap dirinya. Nayla malah mendunduk saat sudah duduk di samping Afwi, entah kenapa jantungnya berdetak lebih keras, mungkin setelah ini Nayla akan berkonsultasi dengan Fahmi perihal ritme jantungnya yang mengalami ganguan.

__ADS_1


"Kenapa kamu, diam saja hem?" tanya Afwi sambil memegang dagu Nayla agar mengangkat wajahnya.


Saat Nayla mengangkat wajahnya pandangan dua sejoli itu bertemu, ada pancaran kerinduan yang terlihat di mata keduanya.


"A-aku kangen sama Abang," ucap Nayla di detil berikutnya.


Afwi tersenyum, " Abang juga kangen banget sama kamu, Dek, karena mendengar suaramu memanggilku, aku berusaha untuk bangun, aku berjuang agar aku bisa menepati janjiku padamu," ucap Afwi sambil mengusap pucuk kepala Nayla.


"Abang cepat sembuh, Ya, biar bisa hadir di wisuda aku!" pinta Nayla.


"InsyaAllah, ya, Dek, doakan abang biar cepat sembuh, abang juga kesal sakit begini, nggak bebas," ucap Afwi.


"Bang, apa abang sudah yakin dengan pilihan abang sama aku?" tanya Nayla merasa inscure dengan dirinya sendiri dan mendengar hal itu Afwi mengerenyitkan dahinya.


"Maksud kamu apa, Dek?"


"Ehm...keluarga abang terlalu tinggi, aku tak yakin aku bisa mengapainya."


"Maksudmu, latar belakang keluargaku?" tanya Afwi dan di jawab anggukan oleh Nayla.


"Nay Sayang, kamu bisa lihat sendiri kan, bagaimana keluargaku memperlakukan kamu, bunda terlihat sayang sama kamu, begitu juga adik perempuanku, dan aku rasa kakakku Afwa dan adikku Azka, mereka pasti juga bisa menerimamu," ucap Afwi berusaha meyakinkan Nayla.


"Abang, tahu karakter semua saudara-saudara Abang, mereka juga tahu selera Abang, jadi mereka pasti akan acc pilihan Abang," jawab Afwi sambil mengulas senyum manis yang hanya ia berikan pada keluarga dan sang kekasih tercinta.


Sungguh Nayla sangat terpesona dengan wajah ganteng Afwi, apalagi dengan jarak yang begitu dekat membuat jantung Nayla seperti maraton. Pantas saja Medina gadis yang di jaga Afwi sepertinya menaruh hati pada Afwi. Setelah bertemu kesua orang tua Afwi, Nayla tahu menurun dari siapa wajah ganteng paripurna sang kekasih.


"Terima kasih ya, Bang, sudah mau mencintai gadis sepertiku."


"Hei ucapan apa itu? apa maksudmu mencintai gadis sepertimu?"


"Abang itu tampan, punya karir bagus dan anak konglomerat, pasti banyak wanita yang ngantri buat jadi istri abang."


"Aku tahu aku ganteng dan soal financial InsyaAllah bisa diandalkan, ya kau benar banyak wanita yang menatapku penuh puja, tapi yang bisa membuatku hatiku berdebar dan galau hanya kamu, Dek Nay," ucap Afwi berusaha meyakinkan Nayla, tentu saja pengakuannya barusan membuat jantung putri sang Kombes tidak baik-baik saja.


"Ah, Abang gombal."


"Gombal dari mana? baru saja Afwi Shakta Yudhatama memberi pengakuan cinta padamu lho, kalau tak percaya aku akan buat Timsus buat menyidik hatiku dengan kamu tersangka utamanya."


"Iih...Abang apaan sih memangnya kita baru melakukan tindakan kriminal apa, pakai bikin Timsus segala. Memangnya kalau terbukti pasal KUHP mana yang bisa menjeratku?"

__ADS_1


Mendengar ucapan sang kekasih Afwi ingin sekali tertawa tapi takut jahitan di perutnya bermasalah. Afwi hanya bisa tersenyum melihat muka manyun Nayla yang mengemaskan.


"Kamu akan di jerat dengan pasal pencurian hati berencana dengan ancaman hukuman di penjara di dalam hatiku seumur hidup dengan ikatan pernikahan yang menurut agama dan negara."


Wajah Nayla memerah menahan malu, sungguh rayuan pak polisi satu ini melebihi rayuan pulau kelapa. Hati Nayla makin jedag jedug tak karuan. Fix Nayla memastikan pada dirinya setelah ini ia akan menemui Fahmi agar mau memeriksa jantungnya.


"Sini!" pinta Afwi agar Nayla lebih dekat dengannya dan Naylapun menurut.


Tanpa di duga Afwi langsung mencium kening Nayla, sontak Nayla kaget bukan kepalang, selama berpacaran Afwi tak pernah melakukan hal ini.


"Bang!, kenapa cium sih!" kesal Nayla.


"Abang kangen banget sama kamu, setelah abang sembuh dan pulang ke Indonesia kita akan langsung pengajuan nikah ya, Sayang," pinta Afwi membuat Nayla makin tak karuan ternyata laki-laki yang terkenal dingin dan datar di kesatuannya ini bisa baperin anak orang sampai level seratus.


"Terserah Abang, kalau Abang mau begitu, tapi setelah nikah aku masih boleh kerja kan ?"


"Boleh, tapi jam kerja kamu nggak boleh melebihi jam kerja aku, aku ingin saat aku pulang kerja aku bisa melihat wajah kamu menyambutku, juga anak-anak kita nanti," ucap Afwi lalu dengan gemas ia mencubit hidung mancung Nayla.


Tanpa mereka sadari ada empat pasang mata yang mengawasi mereka dari beberapa menit yang lalu.


"Fahmi, kau harus usahakan memberikan pengobatan terbaik agar si kulkas itu segera sembuh lalu secepatnya menikah dan memberikan aku cucu!" pinta Yudha.


"Beres, Yah, serahkan semua itu padaku," ucap Fahmi yang mengiyakan permintaan ayah mertuanya.


Yasmin dan Aryana hanya geleng-geleng kepala melihat kedua laki-laki kesayangan mereka membahas sesuatu yang menggelikan, membuat cucu seolah seperti membuat adonan kue saja.


Keempat pasang mata itu adalah Yudha, Yasmin, Fahmi dan Aryana yang baru saja makan di restoran dekat rumah sakit. Mereka memang tadi sengaja pergi meninggalkan kamar rawat inap Afwi untuk memberi ruang dan waktu pada Nayla dan Afwi untuk melepas rindu. Namun saat kembali ke kamar rawat inap Afwi, mereka berhenti sejenak karena tak sengaja melihat dan mendengar pembicaraan yang sangat manis. Tak di sangka Afwi yang terkenal datar dan dingin juga irit bicara bisa berubah menjadi bucin. Mungkin ini yang di sebut power of love.


_____________________________________________


...Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia...


...🇮🇩🇮🇩 Ke - 77 🇮🇩🇮🇩...


...Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat...


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2