Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode 228. Belajar di Restauran


__ADS_3

Acara tujuh bulanan kehamilan Kirana berjalan dengan baik meski dengan formasi yang tidak lengkap, namun tak mengurangi khidmatnya acara doa bersama yang di lantunkan untuk Kirana dan janin yang di kandungnya. Fahmi dan keluarganya melanjutkan berwisata di kota Semarang dan Yogyakarta twelebuh dahulu sebelum kembali ke Singapura. Si kembar sangat senang bisa bertemu keluarga besar plus berwisata di dua kota yang cukup terkenal di Indonesia, terutama Alesya yang ternyata memiliki kesan tersendiri saat kunjungannya ke Akmil. Anak angkat Fahmi itu sangat mengagumi sosok sang opa dan pakdhenya yaitu Afwa.


Alesya sangat terkesan melihat beberapa taruna akmil. Alesya pun sampai tahu kalau istri tentara angkatan darat disebut dengan Persit. Ia melihat foto besar yang terpanjang di rumah sang opa dan foto Afwa dan Kirana saat memakai seragam PDH dan seragam persit, baginya foto itu sangat keren, makanya terbersit di dalam pikiran polosnya ingin jadi istri tentara saja.


Kini Afwa dan Kirana sudah kembali ke rumah dinasnya, Afwa sudah bertugas di kesatuannya seperti biasa dan Kirana masih aktif membuat kue pesanan dengan di banti bi Nani.


"Sayang, jangan kecapean, Mas nggak tega lihat perut kamu semakin besar begini," ucap Afwa sambil mengusap perut buncit sang istri.


"Aku nggak merasa kecapean, Mas Afwa tenang saja aku membatasi jumlah pesanan, aku utamakan dulu pesanan dari teman-teman yang ada di sekitar sini," ucap Kirana memberi pengertian suaminya.


"Sifat kamu itu hampir sebelas dua belas sama bunda, tinggal duduk manis menikmati uang suami tapi masih tetap aja pingin kerja dengan alasan hanya hobby dan biar nggak gabut," ucap Afwa sambil memanyunkan bibirnya membuat Kirana gemas


"Sejak kuliah aku sudah cari uang tambahan dengan membuat kue meski ayah masih bisa membiayai kuliahku dan semua keperluanku, aku hanya merasa sayang kalau kolaborasi hobby dan pengetahuan di anggur kan begitu saja, bahkan laptopku seharga sembilan juta aku beli dengan uang ku hasil berjualan kue."


"Afwa mencium pipi istrinya gemas, dalam hati ia sangat bersyukur karena Allah begitu baik padanya, Sungguh nikmat Tuhanmu mana yang engkau dustakan?. Afwa terlahir dari keluarga Sultan namun hidup dalam kesederhanaan karena didikan sang bunda sangat mendominasi. Sebenarnya banyak pengusaha yang mentargetkan putra putri pewaris Dewantara group untuk bisa menjadi menantu mereka, apalagi putra putri Yudhatama Dewantara tidak pernah terlibat scandal apapun, mereka bersih dan taat dalam menjalankan perintah agamanya. Harta berlimpah tak membuat mereka keluar dari jalur taqwa.


"Oke, mas ijinkan kamu masih mengurus bisnis ini, tapi jika sudah bulan ke sembilan harus off, kalau bosen nanti kamu datang saja ke restoran milik Dewantara group, atau gerai oleh-oleh punya Nayla," ucap Afwa sambil membelai kepala sang istri.


"Lalu aku ngapain di sana?"


"Kamu bisa ke kantor manajemen restoran, bisa sambil belajar, karena sebenarnya restoran itu akan di serahkan ke kamu untuk di kelola tapi karena kamu hamil maka bunda menundanya sampai kamu melahirkan dan aku selesai satgas."


"Mas..., restoran sebesar itu apa aku sanggup? apa bunda nggak berlebihan?" ucap Kirana terkejut sekaligus ragu akan kemampuannya.


"Nggak, Sayang, jika bunda sudah memilih berarti bunda percaya kamu bisa, dan keputusan bunda sudah di setujui ayah, oma dan tante Mitha."


Mendengar jawaban suaminya ada rasa haru yang menyeruak di dalam hatinya, mata Kirana berkaca-kaca namun bibirnya menyunggingkan senyuman dan akhirnya bulir bening menetes dari matanya.


"Kenapa menangis, hem?" tanya Afwa lalu mengusap air mata sang istri dengan jemari tangannya.


"Aku terharu, Mas, keluarga Mas begitu baik padaku, mereka mempercayakan bisnis restoran sebesar padaku, aku masih merasa nggak pantas menerima semuanya ini."


"Kalau bukan kamu siapa lagi yang pantas, kamu istriku, semua anak dan menantu keluarga Dewantara sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, karena aku dan Afwa adalah abdi negara maka belum bisa menerima semua tanggung jawab itu, jadi sebagian masih di tangani orang-orang kepercayaan ayah, dan sebagian di kasihkan ke Aryana, kamu dan Nayla agar kelak kalian sudah bisa mahir dalam bisnis saat Aku dan Afwi benar-benar siap menerimanya. Semua bisa kita diskusikan bersama, aku sedikit-sedikit tahu tentang bisnis Dewantara group karena ayah dan opa kadang mengajakku berdiskusi tentang bisnis saat ada waktu luang."


Di sore hari yang cerah itu Afwa dan Kirana berbincang dari hati ke hati, mengungkapkan segala rasa yang ada, menjalin komunikasi yang baik dengan kejujuran agar segala kemungkinan masalah yang terjadi.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hampir dua bulan berlalu, seperti yang sudah di rencanakan Kirana sudah off menerima pesanan kue, dia hanya datang ke restoran Dewantara group untuk mempelajari manajemen restoran tersebut itupun tidak setiap hari. Kirana adalah wanita yang pintar, dalam waktu satu bulan ia cukup mengerti tentang bisnis restoran milik mertuanya itu.

__ADS_1


Hari ini Kirana datang ke restoran Dewantara karena chef di sana akan memperkenalkan menu baru dan chef tersebut meminta Kirana mencicipinya dan memberi penilaian. Kirana datang dengan ditemani bi Nani karena kandungannya yang makin membesar. Sampai di restoran Kirana di sambut manajer restoran dan mereka langsung ke area dapur. Sang chef pun mulai memasak menu baru.


"Silahkan di cicipi Nyonya!" pinta sang Chef sambil menghidangkan menu baru di depan Kirana.


Mata Kirana berbinar saat melihat tampilan masakan menu baru tersebut, perlahan Kirana mencicipi masakan tersebut. Senyuman langsung tersungging di bibir manisnya saat ia merasakan taste dari makanan tersebut.


"MasyaAllah ini rasanya enak banget, Chef, ini enak sekali, saya punya keyakinan kalau menu ini akan banyak yang menyukainya," ucap Kirana yang penuh dengan optimisme.


"Terima kasih, Nyonya, jika Nyonya Kirana memiliki ide untuk menu-menu di restoran ini jangan sungkan untuk memberitahu saya, kita bisa mencobanya," ucap sang Chef yang bernama Damian itu.


"Baik chef Damian, jika saya punya ide untuk menu masakan untuk memajukan restoran ini saya akan menyampaikannya pada anda."


Kirana kemudian keluar dari ruang dapur restoran, ia kembali ke ruangan manajemen pimpinan yang biasanya di gunakan ibu mertuanya saat berada di restoran untuk memeriksa laporan. Kirana mendudukkan dirinya ke sofa dengan hati-hati, kandungannya yang semakin membesar membuat ia merasa sesak.


"Huh ternyata jadi orang kaya itu tak seindah yang di pikirkan ya, lihat baru mengurus satu restoran besar saja sudah serepot ini, apalagi ayah Yudha, bunda dan opa, tante Mitha juga, pasti mereka capek banget. Apa aku bisa ya seperti mereka?" gumam Kirana dalam hati.


Kirana kembali memeriksa beberapa berkas dan file yang sudah di tunjukkan oleh manajer restoran, dari sana ia akan tahu bagaimana restoran ini berproses dan hal apa saja yang menjadikan restoran ini maju juga beberapa kendala yang dialami. Kirana cukup pintar dalam belajar mengenai manajemen restoran milik mertuanya itu, ia semakin tertantang untuk bisa lebih memajukan restoran tersebut apalagi dengan keadaan ekonomi yang sekarang ini yang berdampak daya beli masyarakat menurun. Banyak PHK yang di barengi naiknya beberapa komoditi, hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi Kirana agar restoran sang mertua tetap eksis meskipun daya beli masyarakat menurun. Di sela-sela kesibukannya pintunya di ketuk dari luar.


Tok tok


"Masuk!" pinta Kirana.


"Mas," ucap Kirana terkejut dan ia hampir berdiri dari duduknya namun sosok pria berseragam loreng itu mengangkat tangannya sebagi isyarat bahwa Kirana tak perlu bangun dari kursinya.


"Bagaimana harimu, Sayang?" tanya pria pria berseragam loreng sambil mendaratkan ciuman di kening Kirana.


"Alhamdulillah baik, Mas," jawab Kirana sambil tersenyum.


"Sepertinya kamu sudah mulai nyaman dan percaya diri belajar tetang restoran ini," ucap pria berseragam loreng yang tak lain adalah Afwa sang suami.


"Mulanya aku ragu dan takut tak bisa seperti yang di harapkan bunda, tapi semua orang di sini membantuku dengan baik, sehingga aku punya semangat untuk belajar lebih baik."


"Syukurlah kamu bisa langsung paham, dalam mengerjakan pekerjaan apapun selama ada kemauan pasti ada jalan, berusahalah dengan baik selebihnya serahkan pada Allah, namun kita juga jangan terlalu bergantung pada usaha sehingga tanpa disadari kita menganggap diri kita bisa dan lupa mengantungkan satu satunya harapan yaitu Allah, maka katakanlah InsyaAllah karena sekuat dan sebagus apapun usaha kita jika Allah tak mengijinkan maka hal yang kita harapkan tidak akan terjadi. Kita punya keinginan dan Allah pun juga punya keinginan yang mungkin berbeda dengan keinginan kita. Makanya Allah lah satu-satunya tempat kita mengantungkan harapan agar jika usaha kita gagal kita tidak akan putus asa, karena Allah lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, mengerti?" tutur Afwa lalu mengusap lembut kepala sang istri dengan penuh cinta.


"Iya sedikit," jawab Kirana sambil tersenyum canggung.


Afwa menghela nafas panjang, yang artinya ia harus memberikan contoh perumpamaan dalam penjelasannya tadi.

__ADS_1


"Begini, misalnya kamu ingin membuatkan aku kue yang sangat lezat di rumah kamu sudah mempersiapkan bahannya dengan baik, bahan-bahan kuenya kamu pilih dengan kualitas paling bagus, ovennya pun masih baru, semua sudah ready tinggal masak, apalagi dengan kemampuan kamu yang sudah terbiasa membuat kue menjadikan kamu merasa bisa, namun saat kamu akan mengaduk adonan kamu merasa mulas dan akhirnya kamu dibawa ke rumah sakit tanpa sempat menyelesaikan masakan kuemu karena ternyata kamu mau melahirkan karena hpl kamu maju satu minggu. Dengan kejadian itu kamu jadi membuatkan kue yang enak buat Mas apa tidak?"


"Tidak."


"Berarti sampai di sini paham?"


"Paham, Mas."


"Good, berarti kalau merencanakan sesuatu harus bilang apa?" tanya Afwa


"InsyaAllah," jawab Kirana yang di hadiahi ciuman oleh sang suami.


"Istri pintar," ucap Afwa


"Mau pulang sekarang atau masih nanti?" tawar Afwa.


"Sekarang saja, Mas ini sudah sore juga, Mas pasti capek."


"Baiklah kita pulang sekarang!"


Afwa lalu membantu Kirana bangun dari duduknya karena perutnya yang makin membuncit, namun anak Kirana tidaklah kembar dan berjenis kelamin perempuan. Kirana dan Afwa menerima takdir dengan senang hatik, mereka tak kecewa ketika anak yang di kandung Kirana bukan anak kembar.


Kirana mengambil tas yang berada di kemari kabinet di dekat meja kerjanya, Afwa membantu membereakan berkas-berkas di meja Kirana sebelum meninggalkan ruangan, dengan hati-hati Afwa mengandengan tangan sang istiri untuk berjalan menuju pintu keluae resto.


"Mau jajan apa, Yang sebelum pulang?" tanya Afwa ketika di perjalanan pulang


"Aku pingin cilok kuah yang pedas, sepertinya seger gitu biar mata melek."


Jangan makan terlalu pedas, kamu lagi hamil!"


"Kalau nggak pedas mana enak, Mas."


"InsyaAllah enak, jangan memikirkan diri sendiri ada debay yang harus kamu jaga!" tegas Afwa.


"Yo wislah" ucap Kirana pasrah.


Akhirnya mereka menemukan pedagang cilok kuah saat hampir.sampai dirumah dinas. Afwa lalu turun membeli cilok kuah namun tak terlalu pedas. Setelah selesai membeli cilok, Afwa dan Kirana melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas yang sudah sangat dekat. Meski tak puas dengan rasa ciloknya yang kurang pedas tapi Kirana paham semua demi kebaikannya dan calon buah hati mereka.

__ADS_1


________________________________________


__ADS_2