
"Kakak," ucap Aryana
"Maaf, permisi saya mau menjemput adik saya pulang," ucap Afwi pada pak Harun dan keluarganya.
"Oh mas ini kakaknya mbak Aryana?" tanya pak Harun.
'Iya saya kakaknya Ana," jawab Afwi.
"Maaf sebelumnya mas, bukannya saya ingin ikut campur, alangkah baiknya apapun masalah kalian bicarakan dengan kepala dingin, kasihan mbak Aryana, soalnya tadi pas baik taxi saya dia tampak kacau, saya tanya mau kemana, mbak Aryana cuma jawab meminta saya mengantarkannya ke tempat yang tenang tanpa mau menyebutkan alamatnya. Akhirnya saya ajak mbak Aryana ikut pulang sebentar ke rumah saya karena istri saya menelpon suruh pulang, mbak Ana sekalian mau shalat dzuhur juga," jelas pak Harun berusaha membuat Afwi mengerti.
Flash back on
Afwi kebingungan mencari kemana perginya Aryana, ponsel Aryana juga tak bisa dihubungi, akhirnya Afwi menelpon Ridho orang kepercayaan sang ayah untuk meminta bantuan orang IT dari DW group untuk melacak nomor Aryana, namun ada sedikit kendala karena ponsel Aryana dalam posisi off jadi sulit terlacak, setelah satu jam lebih baru orang IT Daw group bisa melacak keberadaan Aryana karena ponsel Aryana sudah on, dari situlah Afwi mengetahui posisi sang adik, kemudian segera menyusulnya.
Flash back off
"Terima kasih bapak sudah menjaga adik saya," ucap Afwi.
"Sama-sama mas, saya juga punya anak perempuan seusia mbak Aryana, jadi saya juga bisa mengerti apa dirasakan mbak Aryana," ucap pak Harun.
"Kalau begitu saya mau membawa adik saya pulang," ucap Awfi.
Aryana yang mendengar pembicaraan sang kakak dengan pak Harun hanya diam saja, sebenarnya Aryana masih ingin tinggal di rumah pak Harun, ia masih malas bertemu dengan kakaknya juga anggota keluarganya yang menganggap dirinya wanita yang lemah karena mempunyai kelainan jantung bawaan.
"Ayo, Dek kita pulang, kasihan bunda sudah menunggu!" ajak Afwi lalu meraih tangan Aryana.
"Sebentar kak," ucap Aryana menahan tangan dan langkah sang kakak.
Aryana menggambil tasnya yang ada di ruang tamu rumah pak Harun, kemudian ia mengambil kertas dan pulpen lalu menuliskan sesuatu di selembar kertas. Aryana berjalan menuju bu Harun.
"Bu, jika putri sulung ibu nanti belum dapat pekerjaan, putri ibu bisa ke alamat ini, disini juga sudah saya tulis siapa yang harus putri ibu temui," ucap Aryana sambil memberikan selembar kertas tadi pada bu Harun.
"Terima kasih mbak Aryana, nanti saya akan ibu sampaikan Ayu, putri ibu," ucap bu Harun sambil tersenyum bahagia.
"Weni, Fandy, besok-besok kakak akan kesini lagi kita akan shopping sama-sama, sekarang kakak pulang dulu," ucap Aryana yang diangguki kedua anak pak Harun.
"Pak Harun, saya pamit pulang dulu, maaf saya sudah membuat bapak bingung tadi, juga merepotkan pak Harun," ucap Aryana.
"Nggak apa-apa, mbak, justru kami yang sudah merepotkan mbak Ana," ucap pak Harun.
"Ini untuk bayaran ongkos taxi saya," ucap Aryana sambil menyodorkan sepuluh lembar uang seratus ribu.
"Nggak usah mbak, mbak Ana sudah banyak menolong kami," tolak pak Harun tak enak.
"Saya mohon terimalah, Pak, keluarga bapak membutuhkan uang ini, ini bayaran ongkos taxi yang harus bapak terima?" pinta Aryana dengan masih memegang uang ratusan ribu tersebut.
"Tapi ini kebanyakan mbak," ucap pak Harun.
__ADS_1
"Terima saja uangnya pak, adik saya tulus memberikannya," sela Afwi sambil berjalan mendekat pada Aryana dan pak Harun.
Akhirnya dengan perasaan tak enak, pak Harun menerima uang bayaran ongkos taxi dari Aryana. Dalam hati pak Harun masih terbersit tanda tanya siapa sebenarnya gadis SMA yang menjadi penumpang taxinya, kenapa bisa membawa uang sebanyak itu ke sekolah dan juga kedatangan pemuda berseragam SMA yang tiba-tiba masuk rumahnya dan mengaku kakak dari Aryana.
"Kalau begitu, kami permisi, senang bisa mengenal keluarga pak Harun, Assalamualaikum," ucap Aryana kemudian keluar dari rumah pak Harun diikuti Afwi di belakangnya.
"Waalaikumsalam," jawab pak Harun.
Sepeninggal Aryana dan Afwi, bu Harun mendekat kepada suaminya, ia memberi tahu tentang kertas yang diberikan oleh Aryana.
"Pak, tadi mbak Aryana pesan kalau Ayu belum dapat pekerjaan katanya suruh datang ke alamat ini dan menemui orang yang ditulis mbak Aryana disini," ucap bu Harun.
"Lho kok mbak Aryana tahu Ayu sedang mencari perkejaan?" tanya pak Harun.
"Tadi ibu cerita karena mbak Aryana tanya tentang siapa pemilik kamar yang ia gunakan untuk shalat, lalu ibu cerita sedikit tentang Ayu," jawab bu Harun.
"Ah ibu kenapa harus cerita pada mbak Aryana sih," ucap pak Harun sedikit kesal dengan istrinya yang malah menceritakan masalah keluarganya.
"Ya maaf pak, sekarang bapak tahu alamat ini apa tidak?" tanya bu Harun sambil menyerahkan kertas yang diberikan Aryana tadi.
Pak Harun lantas mengambil kertas tersebut dari istrinya, lalu membacanya, betapa terkejutnya pak Harun ketika membaca alamat yang tertera dikertas yang diberikan kan istrinya tersebut.
"Apa DW group!" pekik pak Harun terkejut.
*****
"Om Fahmi," ucap Afwi dan Aryana bersamaan.
Fahmi mendekat pada Afwi dan Aryana yang diam mematung, Aryana jangan ditanya jantungnya serasa mau melompat keluar melihat om kece kesayangannya tiba-tiba ada di depan matanya.
'Hai!, apa kabar Afwi and my love?" sapa dokter Fahmi pada Afwi dan Aryana.
"Baik Om," jawab Afwi, sedangkan Aryana hanya diam mematung dengan sorot mata menatap om kece di depannya.
Fahmi lalu berjalan mendekat ke depan Aryana dan tanpa aba-aba Fahmi langsung memeluk Aryana sambil berbisik, "menangislah sayang jangan kau tahan, ada om disini untukmu", Aryana hanya diam saja saat om Fahmi memeluknya, namun matanya sudah meneteskan air mata, Fahmi bisa merasakan Aryana menangis dalam pelukannya karena ia merasa kemejanya basah. Adegan ini tak luput dari pandangan Afwi dan Yasmin yang berada di teras rumah. Untung Yudha belum pulang, kalau ia juga melihat adegan ini bisa dipastikan dia akan mencak-mencak.
Fahmi lalu melepaskan pelukannya setelah menyadari bahwa ada dua pasang mata yang menatapnya.
"Maaf, Om terlalu mengkhawatirkan mu," ucap Fahmi setelah mengurai pelukannya.
"Dek, sebaiknya kamu sekarang masuk ke dalam!" pinta Afwi.
Aryana pun segera masuk ke dalam tanpa bicara apapun dengan om kesayangannya, namun Fahmi bisa memahami itu, ia tahu Aryana sedang ada masalah tapi tak berani bercerita apapun, sepertinya dia cukup tertekan dan ia harus bicara tentang hal ini dengan Yudha dan Yasmin.
"Mari om masuk ke dalam!" ajak Afwi ramah.
"Kalian darimana baru pulang," tanya om Fahmi sambil berjalan dengan Afwi menuju rumah.
__ADS_1
"Saya baru saja menemukan Ana, dia pergi meninggalkan saya begitu saja sepulang sekolah," jawab Afwi, percakapan terhenti ketika sampai teras karena ada Yasmin di sana.
"Mas Fahmi, ada keperluan apa kemari, tumben nggak kasih kabar?" tanya Yasmin sambil mempersilahkan Fahmi masuk.
"Aku ke kamar dulu ya bund, om," ijin Afwi.
"Iya, kamu ke kamar dan segera mandi, sama tolong bilang bik Imah suruh buatkan minum buat om Fahmi!" pinta Yasmin.
"Iya, Bund."
"Mari duduk dulu, Mas!" ucap Yasmin mempersilahkan tamunya duduk.
"Terima kasih," ucap Fahmi.
"Ada apa gerangan mas kesini?" tanya Yasmin menyelidik.
"Aku hanya ada urusan sedikit dengan perusahaan papi yang di Indonesia sekalian mampir melihat gadis kecilku" jawab Fahmi sedikit berbohong, karena tak mungkin ia bilang langsung datang ke Indonesia dengan jet pribadi hanya demi Aryana dan untuk perusahaan papinya, Fahmi memang berencana melihatnya sebentar mumpung dia di Indonesia.
"Oh aku kira ada apa," ucap Yasmin santai meski ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Fahmi.
"Yudha mana, Yas?" tanya Fahmi
"Mas Yudha belum pulang, tadi ia telpon ada pertemuan mendadak dengan Kapolres dan pimpinan kesatuan lain, mungkin magrib atau isya nanti baru pulang," jawab Yasmin.
"Oh, begitu. Ehem, Yas, sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan denganmu dan suamimu soal Aryana," ucap Fahmi dengan mimik wajah serius.
Deg
Yasmin terkejut, ia takut Fahmi akan membicarakan masalah perasaannya pada Aryana.
"Ada apa dengan Aryana, kenapa kau terlihat begitu mencemaskannya?" tanya Yasmin.
Pembicaraan terhenti ketika bik Imah membawakan minuman dan camilan untuk Fahmi. Setelah bik Imah pergi mereka melanjutkan pembicaraan.
"Putrimu sepertinya sedang ada masalah, dan ia terlihat cukup tertekan, apa sebagai seorang ibu kamu tak merasakan itu?" tanya Fahmi dengan nada suara yang menyiratkan kekecewaan.
"Apa maksud mas Fahmi?" tanya Yasmin bingung.
"Tadi Aryana menelponku menanyakan apa bisa kuliah kedokteran bisa sambil kuliah bisnis, waktu aku tanya kenapa dia menanyakan itu dia malah menangis, dan bilang tak bisa mengatakannya di telpon, lalu Aryana menangis lagi dan bilang ia tidak berguna lalu menutup telponnya begitu saja, aku hubungi balik ponselnya tidak aktif, bagaimana aku tidak panik dan khawatir, kalau kalian tak bisa menjaganya serahkan Aryana padaku," ucap Fahmi yang membuat Yasmin terkejut.
__________________________________________
Segini dulu ya, kepoin terus ceritanya
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung...