Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.133


__ADS_3

Acara pembukaan kios lumpia milik Nayla berjalan dengan lancar, meski jenis kuliner yang di jual Nayla bukan khas Bandung namun banyak pengunjung yang terkesan dengan taste dan rasa lumpia buatan Nayla.


Hari berikutnya setelah pembukaan, pembeli ke lumpia buatan Nayla bisa di kategorikan lumayan, tak banyak juga tak sedikit. Ada beberapa polisi yang membeli lumpia Nayla. Entah apa motif para polisi muda itu, memang benar-benar ingin membeli lumpia atau hanya modus untuk ngecengin putri sang Kombes. Namun beberapa polisi muda itu tak berani menggoda atau menanyakan hal yang macam-macam pada Nayla, mereka hanya sesekali mencuri pandang dan tatapan yang nelangsa pada putri semata wayang sang Kombes karena maksud hati tangan tak sampai.


"Andai bukan putri pak Kombes Mahendra sudah ku kejar langit di ujung," ucap salah seorang perwira polisi yang sedang menikmati segelas teh dan lumpia buatan Nayla sambil menghalu seperti author.


"Yah, mas saja yang perwira minder apalagi saya," ucap salah seorang rekannya yang berpangkat Briptu.


"Beruntung banget ya pak Mahendra memiliki putri seperti mbak Nayla," ucap seorang polisi berpangkat perwira tadi.


"Ya apalah daya pak, orang seperti kita ini hanya bisa dapat yang standar," ucap rekannya sesama polisi.


Itulah kasak kusuk para polisi saat berada di kios lumpia milik Nayla, dengan taste dan rasa yang enak, Nayla tak terlalu kesulitan mendapatkan customer, apalagi para polisi yang muda yang hampir tak pernah absen membeli lumpia sang Kombes, yang jelas setiap hari pasti ada saja polisi yang mampie ke kios Nayla. Demi apa coba, apalagi kalau bukan agar bisa lihat princess nya sang Kombes.


Hari demi hari perkembangan penjualan lumpia Nayla yang berada di Bandung menunjukkan volume penjualan yang cukup baik. Kali ini pertama kalinya setelah bertugas di Bandung Afwi memberanikan diri menemui Nayla, namun ia tak memakai seragam polisinya.


"Permisi, mbak apa lumpianya masih?" tanya Afwi semanis mungkin.


"Masih, A, mau beli berapa dan yang isi apa?, rebung atau sayur?" tanya Nayla tersenyum ramah.


"Ehm, yang rebung lima yang isi sayur lima tapi, yang dua saya makan di sini, sama minta teh hangat!" pinta Afwi lalu duduk di meja yang bisa langsung menghadap ke Nayla, kebetulan kios Nayla tak terlalu ramai sore itu jadi Afwi bisa leluasa memilih tempat duduk.


"Baik, A, silahkan tunggu sebentar!" pinta Nayla kemudian meminta Dio mengoreng lumpia pesanan Afwi, sedangkan Nayla membuat teh hangat.


"Ini A, silahkan di nikmati!, terus yang delapan di bungkus?" ucap Nayla sambil tersenyum ramah


"Iya, Dek, yang delapan di bungkus," jawab Afwi tanpa sadar memanggil Nayla dengan sebutan Dek, yang tentun saja membuat Nayla merasa aneh dengan kata Dek, kayak gimana gitu di panggil Dek, sama cowok seganteng pelanggannya ini.


"Hah, Dek?, manis banget panggilan itu, dan kenapa hatiku kok berdebar kayak gini ya, padahal pelangganku yang kemarin banyak juga cowok yang cakep, tapi aku biasa aja kenapa yang ini beda ya," monolog Nayla heran dengan perasaannya sendiri.


"Ya, Allah ya Rabb, boleh nggak aku nikahin Nayla sekarang aja, pinggin cepat halalin dia, meleleh hati abang Dek di senyumin gitu," batin Afwi berharap.


Afwi segera menyantap lumpia yang sudah terhidang di depannya, sambil meminum teh buatan Nayla Pada saat Afwi meminum teh buatan Nayla, matanya lansung membelalak, ia tak menyangka rasa teh buatan Nayla sangat enak dan pas di lidahnya.


"Astaga kenapa bisa kebetulan seperti ini, teh buatan Nayla sama persis dengan teh buatan bunda, apa ini tandanya kami berjodoh?" gumam Afwi dalam hati.


Afwi sangat menikmati lumpia dan segelas teh hangat buatan Nayla, apalagi ia memakannya sambil menikmati pemandangan indah di depannya, sampai tak terasa dua lumpia di piringnya suda habis.


"Mbak sudah, berapa semuanya?" tanya Afwi.


"Lumpia yang isi rebung empat belas ribu per biji, yang isi sayur lima belas ribu dan tehnya lima ribu, jadi semuanya seratus empatpuluh lima ribu, A," jawab Nayla.


Lalu Afwi mengekuarkan uang seratus lima puluh ribu diberikan pada Nayla. Namun saat Nayla akan memberi kembalian di tolak oleh Afwi.


"Kembaliannya, A," ucap Nayla.

__ADS_1


"Ambil, saja buat mbak," tolak Afwi.


"Aduh jangan begitu, A, saya nggak enak," ucap Nayla kikuk.


"Tidak apa-apa, oh ya saya mau pesan lumlia buat hari jumat besok bisa?" tanya Afwi.


"InsyaAllah bisa, A, mau pesan berapa?"


"Saya pesan 100 biji, lima puluh isi rebung dan lima puluh isi sayur."


"Seratus, A, kalau boleh tahu buat acara apa?"


"Cuma acara bareng sama teman, kalua bisa jadikan dua tempat yang rebung separo dan yang isi sayur separo, saya ambil jam sembilan bisa?"


"Bisa, A, bisa, nanti saya siapkan," ucap Nayla dengan mata berbinar, karena baru kali ini selama buka di Bandung ada yang memesan lumpia dengan jumlah yang banyak.


"Ini uang dpnya," ucap Afwi sambil menyerahkan lima lembar uang seratus ribu pada Nayla.


"Terima kasih, A, kalau boleh tahu siapa nama AA?"


"Nama saya Afwi," jawab Afwi sambil memberikan senyuman termanisnya yang hanya akan ia berikan pada Naya seorang.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Afwi lagi namun di tahan oleh Nayla.


"Tunggu, A!"


"Maaf minta nomor telpon AA, ini untuk kepentingan pesanan A bukan untuk apa-apa!" pinta Nayla dengan sedikit ragu takut Afwi menolak memberi nomor telponnya.


"Oh ya terima kasih sudah di ingatkan, saya malah lupa memberi nomor telpon," ucap Afwi memberikan nomor telponnya.


"Coba miss call saya, pinta Afwi!"


Nayla lalu mendial nomor baru yang baru saja ia masukkan ke ponselnya.


"Itu nomor saya, A," ucap Nayla.


Afwi kemudian segera meninggalkan kios Nayla, dan tentu saja dengan senyum yang mengembang di bibirnya, bahkan saat ia memasukki mobil pajero sportnya, Afwi masih saja menyungingkan senyuman.


Sedangkan di kiosnya Nayla sangat senang karena mendapat pesanan yang sangat banyak.


"Mbak Nay kenapa kelihatannya senang sekali sih?" tanya Dio.


"Ya senang lah Dio, kita dapat orderan lumpia banyak."


"Dari mana, Mbak, dari mas ganteng tadi?"

__ADS_1


"Iya," jawab Nayla sambil senyum-senyum tak jelas membuat Dio menjadi curiga.


"Mbak Nay, kelihatannya masnya tadi suka sama mbak," ucap Dio yang membuat Nayla berhenti tersenyum.


"Kau ngaco deh, mbak baru pertama kali ketemu sa si AA itu, mana mungkin dia suka sama mbak," sangkal Nayla namun tiba-tiba ia teringat sesuatu tentang sosok Afwi pelangan barunya.


"Sepertinya aku pernah lihat cowok seperti AA Afwi, tapi dimana ya aku lupa?" tanya Nayla dalam hati sambil mengingat-ingat sosok pria yang baru saja menjadi pelanggan barunya itu.


Sesuai pesanan Afwi, hari Jumat Nayla sudah mulai mengoreng pesanan Afwi, sejak semalam Nayla sudah mencicil meracik bumbu dan menyiapkan bahan-bahan yang lain, ia tidak ingin orderan besar pertamanya memiliki reputasi buruk.


Afwi datang tepat waktu, pukul sembilan selepas senam sehat bersama ia ijin keluar sebentar mengambil pesanan lumpia di kios Nayla, namun ia bergantia pakaian agar Nay tidak tahu kalau dia seorang anggota polisi.


"Huh aku berasa seperti mau nyamar nangkap pengedar narkoba saja, harus ganti kostum cuma mau lihat ayang beb, tapi demi cinta nggak apa-apa deh," batin Afwi saat sudah di kios Nayla.


"Eh, A Afwi bentar ya A, aku ambil dulu pesananya," ucap Nayla, kemudian segera menggambil lumpia pesanan Afwi dibantu dengan Dio.


"Dio, kamu bantu bawa kotak lumpia ini ke mobil A Afwi ya!" pinta Nayla.


"Ya mbak."


"Yang mana mobilnya ?" tanya Dio.


"Oh yang itu Pajero warna putih," jawab Afwi menemani Dio ke mobilnya.


"Sudah A, semoga AA puas dengan mbak Nay," ucap Dio setelah meletakkan box-box berisi lumpia di jok belakang.


"Terima kasih, Dio, aku akan selalu puas dengan masakan mbak kamu," ucap Afwi sambil menepuk pundak Afwi.


Namun sebelum pergi Afwi mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan untuk diberikan ke Dio.


"Ini buat kamu," ucap Afwi sambil menyerahkan uang dua ratus ribu pada Dio.


"Apa ini A, tak usah nanti saya si marahi mbak Nay," tolak Dio.


"Saya tidak terima penolakan, ayo terima anggap saja ini tips!" pinta Afwi.


Akhirnya dengan terpaksa Dio menerima uang tips yang di berikan Afwi. Setelah itu Afwi meninggalkan kios milik Nayla menuju ke kantornya. Rencananya seratus lumpia itu akan ia bagi-bagikan ke rekan-rekan polisi dengan judul Jumat berkah, hitung-hitung sambil promosiiin dagangannya Nayla secara tidak langsung.


Sampai di kantor, Afwi meminta tolong OB kantor membagi-bagikan lumpia yang ia beli, dan benar saja satu kantor heboh ngomongin lumpia yang di kasih Afwi.


"Sering-sering aja Ipda Afwi kayak gini, bisa irit uang jajan kita, he...he...," kelakar salah seorag polwan setelah mencicipi lumpia gratisan. Memang sesuatu yang nggak pakai bayar itu pasti enak, apalagi soal makanan, hampir ssmua orang nggak akan nolak ditraktir.


Jika di Bandung Afwi sudah melancarkan aksinya dengan strategi yang di namai Operasi Lumpia Cinta. Di Semarang Afwa sedang menyusun strategi untuk meluluhkan hati calin ibu mertuanya, meski Raka sudah memberi restu tapi tanpa restu dari seorang ibu, bagi Afwa kehidupannya bersama dengan Kirana nanti tak akan lengkap.


_______________________________________

__ADS_1


Please, Likez Vote, Coment, Rate and Hadiah


Thank You


__ADS_2