Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 189. Persiapan Ngunduh Mantu


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam Afwi dan Nayla sampai di kota K, tentu saja dengan jet pribadi untuk mengejar waktu. Mereka sampai di kota K sekitar pukul lima sore. Sampai di rumah besar Afwi dan Nayla disambut hangat oleh semua keluarga, ternyata pak Mahendra dan keluarga juga sudah datang di rumah Yudha yang ada di kota K.


"Kalian kenapa jam segini baru datang sih, tuh papa mertuamu sudah datang dari tadi," omel Yasmin pada Afwi.


"Tadi Afwi mampir dulu ke kantor Afwi menyapa teman-teman sebentar acara pengajiannya kan masih bada isya kan?"


"Iya, tapi nggak enak sama saudara yang lain sudah kumpul."


"Maaf, deh, bund, aku mau ajak Nayla ke kamar dulu."


Afwi lalu mencari istrinya yang tadi sudah di culik sama Kirana dan Aryana, ternyata tiga wanita yang sudah menyandang status sebagi istri itu sedang berbincang di ruang makan sambil ngemil beberapa snack di sana.


"Kalian disini rupanya, cari kemana-mana, dasar ya kalian istriku baru sampai bukannya di suruh istirahat malah diculik," protes Afwi pada Kirana dan Aryana.


"Halah bojone disilih sik dilit ra oleh (istrinya dipinjam sebentar saja nggak boleh)," ucap Aryana dengan logat jawanya.


Meski tinggal di Singapura tapi Aryana masih ingat bahasa ama kelahiran orang tuanya. Melihat kedatangan Nayla tadi, Aryana nggak sabar pingin ngobrol sama Nayla kebetulan Kirana juga ada, maka jadilah tiga istri rempong nan menawan.


"Aku karo Nayla lagi teko, ra mesakne opo masmu dan mbakyumu ki kesel ameh ngeleyeh, kowe kuwi dadi adik ra peka (Aku dan Nayla baru saja datang, apa tidak kasihan masmu dan mbakmu ini capek mau tiduran, kamu itu jadi adik tidak peka)," balas Afwi dengan logat jawa juga membuat Nayla dan Kirana terkekeh geli.


"Sudah dulu ya ngobrolnya, nanti lanjut lagi, aku mau bantu abang beres-beres di kamar, sebentar lagi kan tamu-tamu pengajian akan segera datang," ucap Nayla menengahi kakak adik.yang nggak mau kalah itu.


"Tuh kan, istriku memang the best, ayo sayang ke kita ke kamar dulu!" ajak Afwi.


Nayla pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekat ke suaminya, Nayla pamit pada Kirana dan Aryana untuk ke kamar bersama Afwi. Setelah membiarkan Nayla dibawa pergi oleh Afwi, Kirana dan Aryana kembali ke ruang tamu membantu persiapan pengajian yang akan di adakan pukul tujuh tiga puluh malam.


Mulai pukul tujuh para tamu sudah berdatangan, untuk undangan pengajian, Yudha membatasinya karena tempat yang terbatas karena pengajian diadakan di rumah utama, di perkirakan sekitar lima ratus tamu yang akan hadir belum termasuk keluarga besar. Dress code keluarga malam hari itu bernuansa putih. Para lak-laki mengenakan koko putih dan para perempuan mengenakan abaya bernuansa putih juga, tak ketinggalan empat anak Aryana juga menggunakan baju putih, dan itu tampak mengemaskan. Terlihat Yudha, opa Dimas, kakek Danu, Andre, Dika, Fahmi, Afwa, Afwi dan Azka, ikut di depan menyambut para tamu dengan ramah. Para perempuan di keluarga Dewantara dan Danuarta juga ikut menyambut tamu, namun mereka khusus menyalami tamu putri.


"Mbak Kiran, ramai banget ya, padahal hanya pengajian, ayah Yudha undang berapa orang sih?" bisik Nayla pada Kirana yang kebetulan berdiri di sebelahnya.


"Kurang tahu, Nay, pastinya banyak, ini aja sudah di batasi lho sama ayah Yudha, kamu harus terbiasa dengan acara seperti ini nantinya, bunda Yasmin sering mengadakan acara seperti ini," jawab Kirana yang sudah kenal betul kebiasaan keluarga mertuanya itu.


"Gitu ya, mbak, ini aja sudah ramai gimana dengan besok malam," ucap Nayla.


"Yang pasti, bakal the royal wedding, kalau kamu tahu dulu waktu nikahnya Aryana dan dokter Fahmi, wow lihat dekorasinya saja sudah mau pingsan, sumpah bagus banget," ucap Kirana.


"Ya, iya, ayah Yudha kaya banget tapi kenapa abang Afwi dan mas Yudha malah memilih jadi anggota TNI dan Polisi?"

__ADS_1


"Mau gimana lagi jadi prajurit sudah cita-cita mas Afwa dari sekolah, makanya dulu mas Afwa milih sekolah di SMA Taruna Nusantara."


"Oh mas Afwa lulusan SMA Taruna Nusantara, hebat dong ya karena aku dengar nggak gampang masuk SMA itu."


Mereka menyambut tamu sambil sesekali mengobrol, sampai hampir semua tamu yang di undang hadir. Acara pun segera di mulai, diawali dengan pembacaan Al-Qur'an oleh Azka, di lanjutkan dengan sambutan oleh tuan rumah oleh Yudha kemudian langsung ke inti acara pengajian oleh seorang ustad kenamaan di kota K, semua tamu mendapatkan jamuan makan yang istimewa juga souvernir pernikahan Afwa dan Afwi, acara segera selesai kemudian ditutup dengan doa. Acara pun selesai dengan lancar, semua tamu sangat senang dengan penyambutan keluarga Yudha yang begitu ramah dan baik.


"Alhamdulillah acaranya berjalan lancar ya , Yah," ucap Yasmin pada Yudha saat mereka kumpul di ruang keluarga.


"Ya, Bunda, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar," ucap Yudha lalu mencium kening sang istri.


Perilaku sepasang suami istri yang tak muda lagi itu cukup membuat baper para keluarga di sekitarnya, terutama anak-anak mereka.


"Masyaallah, ayah dan bunda masih mesra saja meskipun sudah berumur, bisa nggak ya kita nanti seperti mereka, Bang?" ucap Nayla yang kagum dengan kemesraan mertuanya itu.


"Insyaallah bisa, Dek, asal kita saling percaya, setia dalam satu cinta dan satu frekuensi," ucap Afwi sambil merengkuh pinggang istrinya.


Pada saat keluarga berbincang-bincang selesai acara, ruangan di riuhkan dengan anak-anak Aryana yang saling berkejaran, Alesya dan Alya yang memakai gamis putih tampak lucu berlari mengejar Arsen dan Arnan sambil menjinjing bajunya.


"Alsen... Alnan...awass kalian melucak jilbabku...!" teriak Alya sambil berlari mengejar dua saudara kembarnya di ikuti Alesya yang juga ikut berlari mengejar.


Mereka berkejaran sampai pada tempat dimana para keluarga sedang berbincang, melihat keponakannya saling berlarian Afwa langsung menangkap Arsen saat melewatinya, dan Kirana menangkap Arnan sedangkan Fahmi dan Aryana menangkap dua putrinya lalu memangku nya, Alya dan Alesya terengah-engah sambil menangis karena kesal jilbab cantik yang terpasang di kepalanya di tarik oleh saudara kembarnya hingga tatananya rusak.


"Alsen cama Alnan nakal pa, jilbabku yang cantik lucak, hiks...hiks...," jawab Alya sambil menangis.


"Ya deh nanti Arsen dan Arnan akan kasih tagu biar nggak nakal lagi, sekarang diam nanti cantiknya papa ilang lho," ucap Fahmi lembut sambil membelai kepala Alya yang tertutup jilbab.


"Jilbab lesya juga di lucak, hiks...hiks..., kenapa Arnan dan Alcen celalu nakali lesya? apa lwsya bukan caudalanya Alnan dan Alcen, hiks...hiks..," tangis Alesya di pangkuan Aryana.


Deg


Semua orang di ruangan tersebut semua terdiam begitu mendengar curahan hati Alesya terutama Fahmi dan Aryana, rasanya hati mereka melorot entah sampai kemana.


"Hei sayangnya mama, kenapa lesya bilang begitu, lesya anak mama dan papa, lesya juga saudara dengan Arsen, Arnan dan Alya. Lesya nggak boleh ngomong gitu lagi, oke? semua sayang Lesya.


Afwa dan Kirana yang memangku Arsen dan Arnan membawa kedua bocah itu keluar dari ruangan, terlihat mata Arnan dan Arsen berkaca-kaca, mereka menyesal telah membuat kedua saudara perempuannya menangis.


"Sini ikut Om!" ajak Afwa pada Aranan dan Arsen.

__ADS_1


Afwa membawa kedua keponakannya ke taman belakang di dampingi sang istri yang mengendong Arnan.


Afwa meminta kedua keponakannya duduk di kursi dekat kolam ikan, lalu Afwa mengambil posisi jongkok di depan kedua keponakannya itu.


"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" tanya Afwa dengan nada lembut tapi terdengar tegas.


"Tahu Om," jawab Arsen dan Arnan bersamaan sambil menunduk.


"Mulai sekarang jangan menjahili Alya dan Alesya, kalian kan laki-laki harusnya melindungi saudara kalian yang perempuan, bukannya malah berbuat jahil seperti itu, mengerti?" ucap Afwa menasehati kedua keponakannya.


"Om juga kembar tiga, tapi om Afwa dan om Afwi tak pernah menjahili mama kalian, kami sangat menjaga sekali mama kalian, kalau nggak percaya kalian boleh tanya mama kalian, opa Yudha ataupun oma Yasmin," sambung Afwa lagi.


Melihat keponakan barunya yang hanya menunduk dan hampir menangis Kirana ikut duduk di depan keduanya, ia ikut memberi nasehat dengan cara yang lebih lembut.


"Dengerin tante!, kalian anak sholeh dan pintar jadi nggak boleh nakal dengan saudara atau siapapun, sesama manusia harus saling menyayangi dan menghormati agar di sayang oleh Allah," ucap Kirana sambil membelai kepala Arsen dan Arnan.


"Nah sekarang masuk yuk minta maaf sama Alya dan Alesya?" ajak Afwa kemudian mengandeng dua keponakannya untuk masuk lagi ke dalam rumah.


Di dalam rumah Alya dan Alesya sudah berhenti menangis, kedua gadis cilik itu hanya diam di pangkuan orang tua mereka. Tak lama muncul Afwa dan Kirana membawa kedua anak laki-laki Aryana.


"Ayo.sekarang minta maaf sama Alya dan Alesya, laki-laki yang baik harus berani mengakui kesalahan!" pinta Afwa.


Perlahan Arsen dan Arnan mendekati Alya dan Alesya yang duduk di pangkuan kedua orang tuanya.


"Alya, Lesya, kami minta maaf ya sudah merusak jilbab kalian," ucap Arsen megulurkan tangan diikuti oleh Arnan.


Melihat kedua putrinya diam saja saat dimintai maaf, Aryana dengan lembut menasehati kedua putrinya untuk memaafkan saudaranya, Aryana memberi nasehat pada kedua putrinya yang sedang merajuk.


"Sayangnya mama, kalau ada seseorang yang minta maaf harus di maafkan karena Allah saja Maha Pengampun."


Mendengar nasehat mamanya, Alya dan Alesya bersedia mengulurkan tangannya menyambut tangan Arsen dan Arnan.


Pemandamgan itu membuat anggota keluarga yang ada disitu menjadi terharu, senyum teraunging dari para anggota keluarga melihat keempat cucu Yudha itu rukun kembali, sedangkan Nayla juga ikut tersenyum meski di dalam hatinya ia cukuo penasaran kenapa tadi anggota keluarga yang lain sedikit terkejut ketika Alesya menangis sambil menyebut bahwa dirinya bukan saudara Arsen dan Arnan.


__________________________________________


Ketemu dulu sama Fahmi dan Aryana, beaok siap-siap ngunduh mantu.

__ADS_1


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You


__ADS_2