Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 74


__ADS_3

Matahari pagi sudah mulai menyelinap masuk ke kamar resort yang di tempati Fahmi dan Aryana. Aryana masih bergelung selimut dengan tubuhnya yang naked. Sedangkan Fahmi sudah membersihkan diri dan memakai baju kasual terlihat lebih tampan dari usia yang sebenarnya.


"Sayang... ayo bangun sudah jam delapan!" pinta Fahmi pada Aryana sambil membelai kepala istrinya itu penuh sayang.


"Eugh, kak Afwi jangan ganggu aku!, ini kan hari Minggu," ucap Aryana dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar ucapan istrinya, Fahmi tersenyum, sekaligus sedikit kesal karena sang istri malah mengingat laki-laki lain meskipun itu kakaknya sendiri.


"Dibangunin malah ingat sama kakaknya yang kaya kulkas itu," gerutu Fahmi dalam hati.


"Yang...bangun dong, ini sudah pagi, kalau nggak bangun aku mau minta jatah lagi sehari penuh!" ucap Fahmi dengan sedikit ancaman.


Mendengar perkataan Fahmi dan tubuhnya sedikit di goyang-goyangkan oleh suaminya, meski berat, Aryana berusaha membuka matanya. Perlahan ia berusaha untuk bangun dan membuka matanya, akhirnya Aryana berhasil bangun namun masih duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya.


"Jam berapa sih ini?" tanya Aryana sambil mengerjab-ngerjabkan matanya dan mengumpulkan semua nyawanya.


"Jam delapan pagi, Sayang," jawab Fahmi.


"Oh, sudah siang ya," ucap Aryana tanpa sadar waktu ia duduk selimut yang menutupi tubuhnya yang naked melorot sehingga menampakan dua aset berharganya yang mengiurkan.


"Sayang... tadi kita sudah beberapa ronde lho, apa sekarang kamu masih kurang sehingga mau menggodaku?" tanya Fahmi menggoda Aryana yang tak menyadari dua asetnya terpampang jelas.


"Siapa yang menggoda, aku aja baru bangun tidur, masih ngantuk lagi," ucap Aryana tanpa dosa.


"Kalau nggak menggoda ini namanya apa?" ucap Fahmi sambil sedikit menyentuh salah satu aset di dada sang istri.


Menyadari ucapan dan sentuhan sang suami, buru-buru Aryana menutup dua asetnya dengan selimut.


"Akh..., kamu mesum, Honey!" teriak Aryana yang membuat Fahmi justru tertawa.


"Kau ini sungguh mengemaskan, aku sudah melihat semuanya, masih saja malu dan pakai di tutupi segala," ucap Fahmi.


"Sudah, minggir aku aku mau ke kamar mandi!" pinta Aryana sambil melilitkan selimut dan berusaha turun dari tempat tidur. Ia meraih handuk kimono nya yang tergantung di sebelah kamar mandi lalu memulai ritual mandinya.


Selesai mandi, Aryana mengeringkan rambutnya dengan handuk, Fahmi yang melihat itu, langsung mendekati istrinya dan mengambil handuk dari tangan Aryana.


"Sini aku bantu mengeringkan, kamu duduk di sini!" pinta Fahmi sambil menyuruh Aryana duduk di depan meja rias.


Aryana hanya pasrah menerima perlakuan sang suami yang dengan telaten mengeringkan rambutnya dengan handuk dan kemudian baru mengeringkan dengan hair dryer.


"Kita makan di resort saja ya, aku sudah pesan makanan, sebentar lagi akan diantar kesini," ucap Fahmi sambil masih mengeringkan rambut istrinya.


"Iya, tidak apa-apa, lagipula tubuhku rasanya capek sekali."


"Maaf ya, Yang seharusnya aku tidak menggempur mu tadi pagi."


"Dasar, baru nyadar sekarang, di sini spanya ada nggak ya, Honey?" tanya Aryana.


"Tentu saja aja ada, nanti aku pesankan di ke layanan resort."


"Excuse me!"


"Sebentar, Sayang itu pasti layanan dari resort, kamu ganti baju dulu biar aku yang menemui!" pinta Fahmi yang di iyakan oleh Aryana. Fahmi lalu menuju pintu resort nya dan benar saja ada pelayan resort yang mengantarkan pesanannya.

__ADS_1


Setelah menerima pesanan makanannya Fahmi kembali ke kamar, di sana ia melihat istrinya sudah berganti pakaian.


"Sayang, ayo makan dulu, biar tenagamu pulih!" pinta Fahmi.


Mereka berdua segera menyantap sarapan yang sudah tersedia, sesekali Fahmi menyuapkan makanannya ke mulut istri kecilnya. Fahmi sangat tahu kebiasaan Aryana setelah menikah, ia sangat suka makan dan minum dari sendok dan gelas yang sama dengannya.


"Sayang, aku sudah mendaftarkan mu di universitas xx di Singapura, jadi setelah kita selesai bulan madu, kamu bisa langsung masuk kuliah," ucap Fahmi ketika sarapannya hampir habis.


"Iya, makasih, Honey, seharusnya kamu tak usah repot-repot mengurusi kuliahku, aku bisa sendiri.


"Setelah menikah kamu sepenuhnya adalah tanggung jawabku, termasuk kuliahmu, aku sudah berjanji pada ayahmu tak akan melarangmu meneruskan kuliah dan mengurus segala hal yang menyangkut kuliahmu,"


"Terserah kamu saja, Honey, aku nurut saja, tapi jangan menyesal ya kalau aku bakal menghabiskan uangmu, Honey," ucap Aryana santai.


"Habiskan saja kalau kau bisa!" tantang Fahmi dengan senyum smirknya.


Pasalnya Fahmi sudah tau itu hanya candaan sang istri. Tak mungkin Aryana akan mampu menghabiskan uangnya dengan gaya hidupnya yang jauh dari kesan kemewahan, dan satu fakta baru yang baru saja ia tahu tentang Aryana adalah, tempat favorit istri kecilnya bukanlah mall atau tempat-tempat wisata namun sebuah pondok pesantren yang setiap ahad pagi mengelar pengajian rutinan Ahad pagi, biasanya Aryana menghadiri pengajian tersebut bersama sang bunda.


"Habis ini aku mau jalan-jalan sekitar resort, kemarin aku sempat melihat ada toko yang menjual pernak-pernik khas kota ini," ucap Aryana setelah ia menghabiskan sarapannya.


"Boleh, memang mau beli untuk kamu sendiri apa untuk oleh-oleh?" tanya Fahmi.


"Ya buat aku sendiri sama buat oleh-oleh," jawab Aryana.


"Lho kita 'kan dari tanah suci langsung ke Singapura, lalu gimana ngasihnya ke keluarga kita?" tanya Fahmi.


"Ya di paketin lah, 'kan dulu aku juga pernah maketin barang buat mu, Honey," jawab Aryana yang membuat Fahmi mengingat moment beberapa tahun lalu, ia pernah mendapat hadiah penjepit dasi dari Aryana.


"Maaf, aku terpaksa melakukannya karena ayah tak suka aku terlalu dekat denganmu, dan maaf juga penjepit itu tidak mahal, mungkin kamu tidak suka dan sudah membuangnya, Honey," ucap Aryana dengan wajah sendu.


"Hei, apa yang kau katakan, Sayang. Aku suka hadiahmu dan sampai sekarang aku menyimpannya seperti benda berharga dan hanya di acara-acara tertentu aku memakainya," ucap Fahmi.


"Sungguhkah, tapi penjepit itu tidak mahal, masa kamu segitunya, Honey?" ucap Aryana tak percaya benda pemberiannya yang harganya tidak sampai dua ratus ribu itu dianggap sangat berharga oleh pria yang sekarang berstatus suaminya itu.


"Sayang, aku tidak memandang barang apa yang kau berikan padaku dan berapa harganya tapi siapa orang yang memberinya," ucap Fahmi sambil menggenggam erat tangan istri kecilnya.


"Terima kasih, Honey, kamu sudah menghargai hadiah pemberianku yang tak seberapa itu, terima kasih kamu mau bersabar menungguku selama tujuh belas tahun, terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang kau berikan padaku," ucap Aryana pada Fahmi kemudian memeluk dokter bucin yang sudah menghalalkannya dengan erat. Fahmi juga membalas pelukan istri kecilnya itu dengan kasih sayang.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Fahmi menemani Aryana ke jalan-jalan di sekitar resort tempat mereka menginap dan mengantar Aryana ke toko pernak-pernik yanh dimaksud Aryana.


"Ini tokonya, Yang?" tanya Fahmi ketika sudah sampai di depan toko yang di maksud sang istri.


"Iya, ayo masuk, Honey!" ajak Aryana.


Fahmi dan Aryana masuk ke dalam toko yang tidak terlalu besar tapi barang-barangnya sangat lengkap, dari baju, tas dan aksesoris yang lain.


"Selamat datang, Tuan!, anda mencari barang apa?" tanya pelayan toko tersebut.


"Bukan saya, tapi istri saya yang ingin membeli," jawab Fahmi yang membuat si pelayan sedikit terkejut karena melihat Aryana masih sangat muda Pelayan itu menggira Aryana adalah adik atau anak Fahmi.


Aryana memlih-milih barang-barang yang di inginkannya di bantu dengan pelayan toko, sedangkan Fahmi hanya mengikuti Aryana dari belakang, setelah selesai memilih barang, Aryana menuju tempat kasir, lalu Fahmi mengeluarkan black cardnya untuk membayar semua belanjaan sang istri. Petugas kasir yang menerima black card Fahmi terkejut, ia tak mengira pria yang berpakaian biasa saja ini adalah salah satu pemilik black card yang hanya bisa di miliki oleh para milyuner.


"Terima kasih, Tuan, Nyonya sudah bersedia berbelanja di toko kami," ucap petugas kasir setelah selesai menghitung belanjaan Aryana dan menyerahkan kepada pemiliknya.

__ADS_1


"Terima kasih kembali, Miss," ucap Aryana ramah.


Setelah Fahmi dan Aryana keluar dari toko, si pelayan toko bernafas lega sambil memegangi dadanya yang sepertinya kekurangan oksigen dan hal itu membuat temannya sesama pelayan toko mendekat dan menanyakan apa yang terjadi.


"Hei Carol ada apa?" tanya salah seorang temannya yang tadi kebetulan menemani Aryana memilih barang.


"Kau tahu siapa yang barusan berbelanja disini yang istrinya kamu temani memilih barang?" tanya Carol.


"Tentu saja aku tidak tahu, memang siapa dia?"


"Pria tadi salah satu pengusaha kelas dunia, dia tadi membayar memakai black card yang hanya dimiliki para milyuner," ucap Carol.


"What!"


"Untung tadi aku bersikap sopan dan membantunya memilih barang, kalau tidak habislah toko ini dan tamat riwayat kita," ucap pelayan toko yang tadi membantu Aryana memilih barang.


Sedangkan Aryana tampak tersenyum puas dan bahagia berjalan sambil menenteng beberapa paper bag di tangannya.


"Thank you very much, Honey, kamu sudah bayarin belanjaan ku, padahal tadi aku mau bayar pakai uangku sendiri," ucap Aryana


"Sama-sama, Sayang, cuma terima kasih aja nih, nggak ada imbalan yang lain?" goda Fahmi.


"Ih... pasti gitu deh, ujung-ujungnya minta itu, kalau gitu aku ganti aja deh uang belanjaannya," ucap Aryana cemberut.


"Nggak usah diganti, Sayang, uangku adalah uangmu juga, tadi aku cuma bercanda dan mulai sekarang, jika kamu butuh sesuatu kamu harus bilang sama aku, jangan pakai uangmu karena seusai ijab qobul kamu adalah tanggung jawabku dan jangan minta uang pada ayah bundamu lagi!" pinta Fahmi.


"Kalau minta sama opa Dimas dan oma Dewi, kakek Danu dan nenek Ratna, boleh?" tanya Aryana.


"Apalagi sama opa, oma, kakek, nenek tambah nggak boleh!" jawab Fahmi tegas.


"Ih kenapa, 'kan aku minta uang sama mereka cuma pas lebaran aja, dapat fitrah gitu masa nggak boleh, 'kan aku nggak nentuin jumlahnya terserah kakek nenek, opa oma yang kasih," ucap Aryana yang membuat Fahmi menepok jidatnya sendiri.


"Astaga, Sayang, sekarang kamu sudah jadi seorang istri, bahkan kamu adalah istri ceo Pratama group masa masih minta uang saat lebaran seperti anak kecil saja," ucap Fahmi gemas terhadap istrinya.


"Ya rasanya beda aja kalau uangnya yang kasih kakek dan nenek, opa atau oma saat lebaran, rasa uangnya berbeda," ucap Aryana.


"Pokoknya lebaran besok nggak boleh minta uang sama siapa-siapa lagi, entah lebaran atau tidak, justru kita yang harusnya kasih mereka uang," ucap Fahmi menasehati istri kecilnya yang mengemaskan.


"Istri ceo Pratama group minta fitrah saat lebaran, mau di taruh mana mukaku ini, heh, Aryana, Aryana ada-ada saja," gumam Fahmi dalam hati.


_______________________________________


Beberapa bulan lagi lebaran jadi ingat fitrah, tapi yang dapat bocil-bocilku, he...he...


Please Like, Vote, Komentar, Rate dan Favorit ya.


Thank You


Bersambung...


Jangan lupa mampir di karya terbaruku


...Catatan Hati Maharani...

__ADS_1


__ADS_2