
Pukul lima sora Afwi baru sampai di rumah, sebenarnya Afwi sangat ingin lebih cepat pulang namun pekerjaannya tak bisa di tinggalkan.
"Assalamualaikum, Sayang!" ucap Afwi saat membuka pintu rumah yang tidak terkunci.
"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari arah ruang keluarga.
Saat melihat istrinya akan berdiri dari duduknya untuk menghampirinya, Afwi langsung memberi tanda stop pada sang istri. Saat sampai di depan Nayla, Afwi langsung mendaratkan ciuman di kening sang istri
"Gimana kandungannya sayang, amankan ?" tanya Afwi.
"Alhamdulillah aman, Bang," jawab Nayla sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Sudah makan?" tanya Afwi lembut.
"Sudah, tadi bi Jumi masakin aku bubur lemu, opor ayam sama sambal goreng," jawab Nayla .
"Kamu ngidam ya, Sayang?"
"Sepertinya iya, Bang, sejak pulang dari rumah sakit, aku kebayang makanan khas kota Solo itu, kalau beli di sini pasti jarang yang jual, kebetulan bi Jumi bisa masak menu itu," jawab Nayla lalu memeluk sang suami yang masih memakai seragam polisi lengkap sambil mengirup aroma tubuh Afwi.
"Sayang, Abang bau keringat, belum mandi, kamu main peluk-peluk, nggak risih?" tanya Afwi keheranan dengan sikap sang istri di luar kebiasaannya.
"Nggak, Bang, badan abang baunya enak, Nay suka," jawab Nayla sambil makin mengeratkan pelukannya. Afwi tak bisa mendebat lagi, ia pun membalas pelukan istrinya dengan penuh cinta.
"Apa ini yang di sebut ngidam juga ya?" batin Afwi.
Sekitar sepuluh menit baru Nayla melepaskan pelukannya, ia memandang wajah suaminya lekat lalu mendaratkan ciuman di kedua pipi Afwi.
"Abang, mandi dulu ya, habis mandi lalu abang mencicipi makanan buatan bi Jumi enak lho!" pinta Nayla yang diiyakan oleh sang suami.
Nayla mengandeng tangan suaminya menuju kamar, Afwi pun menerima dengan senang hati perlakuan istri tercintanya yang agak berbeda dari biasanya, namun ia sangat menyukainya karena ia berfikir ini adalah bentuk ngidam sang istri.
Selesai mandi Afwi makan makanan yang di buat bi Jumi dengan di temani Nayla. Afwi kelihatan sangat lahap saat makan makanan tersebut.
__ADS_1
"Makanan yang dibuat bi Jumi, sangat enak, Dek, apa karena abang sudah lama tidak makan makanan khas daerah kita," ucap Afwi.
"Bisa jadi, Bang tapi mungkin juga abang ikut ketularan ngidamnya aku," ucap Nayla tersenyum sambil membelai perutnya yang masih rata.
"Kalau ngidamnya makan makanan enak begini abang mau kok ketularan ikutan ngidam," ucap Afwi.
"Abang bisa aja, nambah lagi Bang, bi Jumi buat banyak kok!" pinta Nayla
"Ini dulu sayang, abang sudah kenyang, meski sudah menikah abang tetap harus jaga pola makan dan bentuk tubuh, biar nggak di suruh olahraga ekstra sama komandan."
"Yakin alasannya jaga pola makan hanya karena itu?" tanya Nayla menyelidik dengan tatapan curiga.
"Memang abang punya alasan lain apa?" tanya Afwi tak peka.
"Bukan karena ingin body terlihat ok di mata cewek-cewek ya," tuduh Nayla yang membuat Afwi tersedak.
Uhukk
"Astagfirullah, Sayang, dari mana punya pikiran begitu? Sungguh, abang rajin olah raga biar berat badan ideal demi menunjang tugas sebagai polisi. Coba bayangin kalau abang gendut dan abang ditugaskan di reserse kriminal, terus ikut penyergapan dengan keadaan badan gemuk gimana abang kejar penjahatnya," ucap Afwi memberi alasan yang cukup masuk akal agar mood bumil di depannya ini aman.
"Alhamdulillah istriku sudah bisa senyum lagi," ucap Afwi.
"Maaf ya Bang, moodnya Nay jadi nggak tentu" ucap Nayla lalu memeluk suaminya.
"Nggak apa-apa, kamu mau marah pun Abang terima, karena di banding perjuanganmu mengandung dan kelak akan melahirkan anak kita," ucap Afwi sambil membelai kepala istrinya penuh sayang.
Selesai makan pasangan suami istri itu berbincang sambil menonton televisi yang menayangkan pertandingan bola voli Pro Liga yang memperebutkan piala Kapolri.
"Wah permainannya bagus ya , Bang," komentar Nayla walaupun ia tak terlalu mengerti permainan bola voli namun ia cukup tertarik dengan performa pemain voli pro liga
"Iya permainan mereka bagus kan mereka sebagai atlet harus latihan setiap hari."
"Kalau abang sukanya olahraga apa?"
__ADS_1
Afwi tertawa begitu mendengar pertanyaan sang istri, sudah sekian tahun menikah baru nanya apa olahraga kesukaan suaminya.
"Kok malah ketawa sih Bang, memangnya asa yang lucu dari pertanyaanku?"
"Sayangku, Cintaku, selama ini kamu kemana Neng baru nanya apa olahraga kesukaan suami."
"Nggak kepikiran nanya hal begitu, soalnya bisa nikah sama abang saja itu suatu keajaiban, jadi ya nggak terlalu memikirkan olah raga kesukaan abang."
"Keajaiban gimana maksudnya?"
"Ya, Abang tahu sendirilah aku dulu nggak suka sama profesi sebagai polisi, eh tahunya nikah sama polisi, mana ternyata polisinya anak pengusaha ternama, gimana nggak ketar-ketir."
Afwi mengusap lembut kepala Nayla setelah mendengar perkataan sang istri tentang perasaannya dulu.
"Kamu pasti mikir yang macam-macam ya kan?" tebak Afwi.
"Iya, takutnya mama abang, bakal bersikap angkuh, berdandan cetar membahana seperti yang aku lihat di medsos."
"Dan ternyata?" tanya Afwi.
"Ternyata bundamu spek bidadari."
Mendengar jawaban sang istri, Afwi terkekeh lalu berkata," makanya ayah bucin banget sama bunda, kita aja jadi mupeng ihat kemesraan mereka."
"Nggak menyangka aja, istri tentara bisa selembut dan sepengertian itu, aku jadi pengen seperti bunda Yasmin, keibuan, lemah lembut, pengertian, sholehah, dermawan dan cantik."
"Bunda memang bunda terbaik menurut versiku, bukan hanya karena aku anaknya, tetapi sebagai seorang laki-laki dewasa. Meski bunda tahu ayah bukan hanya seorang tentara berpangkat perwira tapi juga anak petinggi militer dan cucu dari konglomerat namun itu semua tak membuat bunda berubah menjadi angkuh atau sombong, gaya hidup bunda sangat bersahaja, beliau jarang mengikuti pertemuan sosialita, bunda lebih banyak menggunkan waktunya untuk mengurus keluarga dan bisnis Dewantara group yang sanggup bunda jangkau, seperti kuliner dan butik oma Dewi," ujar Afwi tentang kekagumannya pada sang bunda.
"Apa karena itu ayah Yudha sepertinya cinta mati sama bunda, ampun deh kalau lihat mereka berdua, para abg aja kalah," ucap Nayla sembari tertawa.
"Iya, kami berempat sampai mupeng kalau lihat kemesraan mereka, selain kagum sama bunda aku juga kagum pada ayah yang setia sebagai suami, meski tampan dan kaya raya tak terbersit di hati ayah untuk mendua, bahkan ketika pensiun dink dari militer beliau tetap setia dengan bunda, tak ada pikiran menikah lagi meski finansial ayah sangat memungkinkan. Tak akan ada wanita yang akan menolak.dijadikan istri kedua oleh ceo Dewantara group, tapi Alhamdulillah ayah tak pernah melakukannya, itulah sebabnya kami berempat menjadikan ayah dan bunda role mode untuk kami. Sejauh ini Alhamdulillah dari keluarga Dewantara maupun dari keluarga Danuarta tak ada yang mendua. Mereka tetap setia pada satu cinta."
"Semoga kita bisa seperti itu ya, Bang, saling setia sampai maut yang memisahkan kita," harap Nayla sambil menyandarkan kepalannya di bahu sang suami.
__ADS_1
"Aamiin semoga ya, Sayang," ucap Afwi mengaminkan ucapan istrinya.
Malam itu Afwi dan Nayla menghabiskan waktu bersama sambil menonton televisi yang menyiarkan pertandingan bola voli pro liga dalam rangka Kapolri Cup secara live. Berharap saling setia sampai menua dan hanya maut yang akan memisahkan, jangan ada dusta dan orang ketiga diantara kita. Itulah harapan Afwi dan Nayla juga harapan itu yang selalu di langitkan para pasangan suami istri yang lainnya. Apalagi seorang istri, dia akan sangup ikut susah karena keterbataran finansial sang suami, sanggup menerima tekanan apapun dalam rumah tangga, namun satu yang tak akan di terima seorang istri adalah sebuah pengkhianatan.