
Bulan madu di Maldives pun berakhir kini Fahmi dan Aryana melanjutkan perjalanan ke tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah umroh, karena ini perjalanan suci, Fahmi tak berani macam-macam dengan Aryana. Kini jet pribadi Fahmi mendarat di bandar udara King Abdul Aziz Arab Saudi. Fahmi dan Aryana sudah memakai pakaian untuk umroh. Rencananya mereka akan berada di Arab Saudi selama sepuluh hari, dengan di bantu seorang ustad, Fahmi dan Aryana melakukan ibadah umroh. Aryana benar-benar serius dan antusias melaksanakan setiap rukun umroh. Tak lupa di setiap tempat yang banyak doa yang akan di ijabah, seperti di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan tempat lainnya yang mustajab saat memanjatkan doa. Aryana berdoa agar pernikahannya dengan Fahmi langgeng saminah mawadah warahmah sampai maut memisahkan dan segera di karunia keturunan dan Aryana memohon untuk kesembuhan jantungnya. Sepuluh hari sudah mereka di Arab Saudi kini saatnya mereka kembali ke Singapura untuk mengawali aktifitasnya kembali.
Pukul sembilan malam waktu Singapura Fahmi sudah sampai di bandara Changi Singapura, mereka di jemput oleh asisten Fahmi yang bertugas menghandle semua pekerjaan Fahmi di Singapura.
"Selamat datang kembali, Tuan ke Singapura," ucap Juan saat membuka pintu mobil untuk Fahmi dan Aryana.
"Terima kasih, Juan, bagaimana keadaan perusahaan di sini selama aku tinggal?" tanya Fahmi.
"Semua aman dan terkendali, Tuan," jawab Juan sang asisten.
"Langsung ke rumah saja, istriku sudah sangat lelah!" pinta Fahmi pada Juan.
Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah Fahmi yang di Singapura, Aryana tampak tertidur di pangkuan suaminya. Fahmi membelai sayang wajah istri kecilnya yang mengemaskan dan sesekali ia mendaratkan ciuman di kening dan pipi Aryana. Pemandangan itu pun tak lepas dari Juan yang menjadi sopir mereka saat ini. Jiwa jomblo Juan pun meronta-ronta melihat kemesraan majikannya secara live.
"Ya Tuhan, tak bisakah Tuan menahannya sampai di rumah, kasihanilah diriku yang jomblo ini," batin Juan yang hanya berani berkata dalam hati.
Akhirnya mobil yang ditumpangi Fahmi dan Aryana tiba di sebuah rumah yang sangat mewah juga rindang terlihat ada beberapa pohon di sekitar rumah tersebut. Aryana tertidur pulas di pangkuan Fahmi. Juan langsung membukakan pintu, Fahmi dengan sigap mengendong tubuh Aryana ke dalam rumah karena ia tak tega membangunkan istri kecilnya yang terbuai dengan alam mimpinya. Sampai di kamar Fahmi membaringkan sang istri di tempat tidur dan menyelimutinya, kemudian ia ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Fahmi belajar banyak dari istri kecilnya tentang banyak hal dalam urusan agama. Tak lama Aryana mengeliat bangun, ia mengerjab-ngerjabkan matanya, setelah kesadarannya terkumpul, ia merasa heran dengan tempat yang ia tempati sekarang, namun pandangannya terhenti pada sosok pria yang masih memakai baju koko warna krem sambil melipat sajadahnya.
"Sudah bangun, Yang?, nyenyak benar tidurnya," ucap Fahmi sambil melipat sajadahnya dan meletakkannnya di atas kursi.
"Honey, ini kita di mana?" tanya Aryana bingung.
"Ini di rumah kita, Sayang," jawab Fahmi.
"Rumah kita yang dimana?"
"Rumah kita yang ada di Singapura, 'kan kemarin aku sudah bilang dari tanah suci langsung ke sini."
"Tadi aku 'kan di pesawat, kok sekarang bisa di sini?"
"Ya tentu saja aku yang bawa kamu ke sini, gendong kamu dari mobil sampai kamar, apa benar-benar nggak berasa?"
"Nggak, cuma tadi tubuhku rasanya seperti melayang gitu, aku kira mimpi jadi ya aku lanjut tidur saja."
"Dasar ya, suami sudah pegel, malah nggak bangun-bangun, untung staminaku masih usia dua puluh tahun, jadi masih kuat gendong kamu sampai lantai atas."
Mendengar ucapan suaminya, Aryana jadi terkekeh, lalu turun dari tempat tidur dan langsung mendekati suaminya.
"Uluh-uluh, cayangnya aku, makasih ya sudag gendong aku dari mobil sampai kamar," ucap Aryana sambil mengecupi wajah suaminya.
Cup cup cup
"Sayang, jangan menggodaku!"
"Siapa yang menggodamu, aku 'kan hanya memberi hadiah ucapan terima kasih."
"Kalau kasih hadiahnya begini sama saja kamu menggodaku sayang," ucap Fahmi sambil memeluk Aryana.
__ADS_1
"Kamu, terlihat lebih tampan jika pakai pakaian seperti ini Honey, aku adem melihatnya," puji Aryana.
"Benarkah?" tanya Fahmi yang di jawab anggukan dan senyuman manis oleh istri kecilnya.
"Kamu benar-benar mengemaskan tak sabar aku memakanmu malam ini," ucap Fahmi menggoda.
"Baiklah siapa takut, mau berapa ronde?" tantang Aryana.
"Mulai berani ya kamu, oke kamu lihat saja berapa ronde nanti, tapi sekarang kamu mandi dulu dan lakukan kewajibanmu dulu pada Allah, belum shalat kan," ucap Fahmi menginggatkan istrinya.
"Oh iya, Honey aku belum shalat," ucap Aryan kemudian segera bergegas ke kamar mandi sekalian berwudhu untuk shalat, Fahmi yang melihat tingkah istrinya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Kamu sangat mengemaskan, Sayang, setiap yang ada pada dirimu selalu membuatku jatuh cinta, aku tak tahu bagaimana hidupku tanpamu, semoga Allah memberi kita umur panjang dan kesehatan agar aku bisa selalu membahagiakanmu istri kecilku tersayang Aryana Maira Yudhatama," batin Fahmi dalam hati sambil memandangi pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
Tak lama Aryana sudah keluar dari kamar mandi, namun ia tak menemukan sosok suaminya di dalam kamar, ia tak ambil pusing, Aryana lalu langsung berganti pakaian kemudian langsung melaksanakan shalat. Setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, ia keluar dari kamar, Aryana bingung mau mencari suaminya di mana rumah yang ia tempati ternyata sangat besar hampir sama dengan rumah mertuanya di Indonesia.
"Ternyata rumah ini sangat besar modelnya hampir sama dengan rumah papi di Jakarta, tapi di mana suamiku?" batin Aryana bertanya-tanya.
Aryana berjalan menuruni tangga, terlihat satu orang paruh baya sedang berjalan menujunke suatu ruangan.
"Eh itu ada orang, apa dia asisten rumah tangga di sini ya," batin Aryana yang kemudian mengikuti wanita paruh baya tersebut.
"Permisi!" ucap Aryana pada wanita paruh baya yang ternyata sedang berada di dapur dengan posisi membelakangi Aryana jadi wanita paruh baya tersebut tidak mengetahui kedatangan nyonyanya.
"Eh nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya tersebut.
"Saya asisten rumah tangga di rumah ini, Nyonya," jawab wanita tersebut.
"Bibi tahu di mana suami saya?" tanya Aryana.
"Tahu Nyonya, Tuan ada di ruang kerjanya," jawab wanita paruh baya tersebut.
"Tapi aku tidak tahu di mana letak ruang kerja suamiku," ucap Aryana.
"Kalau begitu saya antar Nyonya," ucap wanita paruh baya tersebut.
Kemudian Aryana diantar ke ruang kerja Fahni yang berada di lantai satu dekat tangga.
"Ini ruang kerja tuan, Nyonya,"
"Baik, terima kasih, tapi ngomong-ngonong nama bibi siapa?, sepertinya bibi bukan orang Singapura.
"Nama saya Maisaroh, Nyonya tapi Nyonya bisa memangil saya bibi Mey, dan saya memang bukan orang Singapura, saya warga negara Indonesia, Nyonya," jawab bibi Mey yang hampir saja membuat Aryana tertawa.
"Baiklah, terim kasih bibi Mey, sekarang kau boleh pergi!"
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
Tok tok
"Siapa?"
Aryana tidak menjawab, ia hanya diam sambil mengetuk pintu, ia masih kesal dengan suaminya yang meninggalkannya begitu saja di kamar sehingga dia kebinggungan mencari suaminya karena rumah yang sangat besar dan asing baginya, karena tak ada jawaban dari luar Fahmi bangun dari duduknya berjalan meraih gagang pintu.
Ceklek
"Sayang, kenapa tidak langsung masuk saja, dan kenapa tidak menjawab tadi?" tanya Fahmi terkejut.
Aryana tidak mempedulikan apa yang di katakan suaminya, tanpa sepatah katapun ia langsung masuk ke ruang kerja suaminya dan langsung duduk di kursi kerja yang tadi di duduki oleh Fahmi.
"Nyaman juga duduk di sini, sampai-sampai meninggalkan istrinya sendirian di kamar yang asing," sindir Aryana yang masih kesal dengan Fahmi.
Fahmi yang mendengar perkataan istrinya mulai mengerti, kalau istrinya sedang kesal padanya.
"Maaf, Sayang aku tadi tidak bermaksud meninggalkanmu sendiri, aku hanya ke ruang kerjaku sebentar mengecek pekerjaanku," ucap Fahmi menjelaskan tapi tampaknya istri kecilnya masih marah.
"Aku tidak suka rumah ini terlalu besar jika hanya di tinggali oleh kita berdua, aku lebih suka rumah yang sederhana namun asri seperti rumah teman-teman sekolahku dulu," ucap Aryana sambil masih duduk di kursi kerja sang suami.
"Sayang, jangan begitu, aku tahu aku salah, tapi rumah ini aku beli karena aku mencintaimu dan ingin memberikan yang terbaik untukmu," ucap Fahmi.
"Aku tadi kebingungan mencarimu di rumah sebesar ini, dan aku tidak tahu seluk beluk tempat ini, sampai aku bertemu dengan bibi Mey," ucap Aryana dengan mata yang sudah ber kaca-kaca, melihat itu sungguh Fahmi tidak tega dan merasa bersalah, tidak seharusnya ia meninggalkan istrinya sendirian di kamar, dia belum mengenalkan rumah ini pada sang istri, tapi yang membuat Fahmi heran kenapa istrinya jadi melow seperti ini.
"Sayang, please dong jangan marah, aku 'kan cuma meninggalkan kamu sebentar, habis ini janji deh aku nggak bakal ninggalin kamu lagi, kalau kemana mana aku bakal bilang sama kamu," ucap Fahmi sambil memeluk kepala istrinya dari belakang, namun Aryana hanya diam saja entah kenapa di tinggal Fahmi sebentar saja hatinya rasanya begitu kesal.
"Ayo kita makan dulu, ya, kita tadi cuma makan di pesawat, bibi Mey pasti sudah menyiapkan makanan, ayo dong sayangku, cintaku," ucap Fahmi sambil menciumi pipi istrinya agar tak marah lagi.
"Tapi aku malas jalan, aku capek rumah ini terlalu besar," ucap Aryana yang masih cemberut.
"Oke, aku gendong kalau begitu," tawar Fahmi.
"Tapi aku pingginya gendong belakang!" pinta Aryana dengan nada manjanya seperi anak balita yang merajuk minta di gendong.
"Baik, tuan putri, tapi pegangan yang kuat ya, biar tidak jatuh!" pinta Fahmi yang langsung memposisikan dirinya di depan Aryana dengan posisi membelakangi karena istrinya minta di gendong di belakang.
Akhirnya Fahmi mengendong sang istri di belakang punggunya keluar dari ruang kerja Fahmi menuju ruang makan, bibi Mey dan beberapa pelayan lain yang melihat itu tampak tercengang, mereka baru melihat tuan muda mereka sebucin ini dengan istrinya yang masih bisa terbilang sangat belia.
____________________________________________
Hai readers, maaf ya untuk acara umroh Fahmi dan Aryana aku cuma cerita sekilas aja ya karena aku sendiri belum pernah kesana untuk melaksanakan ibadah umroh jadi kalau cerita takutnya salah karena menyangkut ibadah.
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1