
Fahmi begitu terkejut ketika melihat kedua mertuanya sudah duduk manis di depan ruang operasi sang istri, sungguh mertuanya ini seperti jin yang bisa muncul tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
"Bagaimana putriku dan cucu-cucu kami?" tanya Yudha dengan suara tegasnya, aura militer seakan tak bisa lepas darinya, meski sudah tak menjalani profesi dengan seragam loreng itu.
"Alhamdulillah mereka baik, tapi--."
"Tapi apa?" cepat katakan!" bentak Yudha.
"Ta-tapi Ar-Aryana koma," jawab Fahmi terbata dengan suara yang bergetar karena kesedihan atas kondisi sang istri pasca melahirkan.
"Kenapa bisa terjadi hal seperti itu, apa kau tidak becus menjaganya hah?" tanya Yudha lagi dengan penuh emosi.
"Mas sudahlah, biarkan dia tenang dulu, Fahmi juga pasti lelah dan syok dengan keadaan Aryana, Fahmi juga sudah menemani putri kita berjuang di dalam sana!" pinta Yasmin sambil memegang lengan suaminya dan memintanya untuk duduk.
"Setelah selesai melahirkan ketiga anak kami tiba-tiba Aryana mengalami pendarahan dan kesadarannya menurun, jantung Aryana sempat berhenti beberapa menit, tapi aku berusaha memanggilnya agar tetap hidup, bahkan aku sendiri yang melakukan tindakan CPR pada istriku, akhirnya dia mendengarkan ku agar mau tetap hidup, namun dokter Sarah mengatakan bahwa itu keajaiban, tapi dokter Sarah juga mengatakan kemungkinan Aryana akan mengalami koma. Dia akan bekerjasama dengan dokter Nick untuk memastikan bagaimana kondisi Aryana sebenarnya dan berapa lama istriku akan mengalami koma," jelas Fahmi dengan suara parau, baju yang ia kenakan sudah tak berbentuk lagi.
Saat Fahmi tertunduk lesu di depan kamar operasi, seorang perawat memanggil Fahmi.
"Suami nyonya Aryana!" panggil seorang perawat.
"Saya, Sus," sahut Fahmi.
"Bayi anda sudah di bersihkan silahkan jika ingin di adzani!" ucap perawat tersebut.
"Iya Sus," ucap Fahmi kemudian ia mengikuti perawat tadi menuju ruang bayi, Yudha dan Yasmin mengikuti Fahmi setelah mendengar perkataan perawat tersebut.
Di dalam ruang bayi, terlihat tiga bayi mungil, Fahmi menatap haru tiga bayi kembarnya, dengan tangan bergetar ia meraih tubuh mungil anak pertamanya yang berjenis kelamin perempuan. Di pandangannya putri kecilnya yang merupakan duplikat dari sang istri, perlahan ia mengadzani putri kecilnya di lanjutkan mengadzani kedua jagoannya. Yudha dan Yasmin yang melihat ketiga cucu mereka dari jendela kaca menangis haru, Yasmin bahkan sampai terisak, sedangkan Yudha menyeka air mata yang merembes di sudut matanya. Kegagahan seorang Yudhatama Dewantara seakan tak berkutik ketika di hadapkan dengan keluarga, cucu dari putri satu-satunya yang ia jaga dengan segenap jiwa dan raga.
"Dokter Fahmi, jika anda sudah selesai mengadzani, silahkan melakukan skin to skin karena istri anda tidak memungkinkan untuk melakukannya!" pinta perawat.
Kemudian Fahmi di minta berbaring dengan membuka baju atasnya, perawat kemudian meletakan bayi pertama ke atas tubuh Fahmi, melihat sang putri tidur di atas tubuhnya sambil mengerak-gerakan tangan, kaki dan mulutnya membuat Fahmi berkaca-kaca, perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena ia bisa melakukan banyak hal untuk kelahiran anak-anaknya, namun juga sedih ketika mengingat kondisi istrinya yang tengah koma.
__ADS_1
"Seharusnya kamu yang melakukan ini, Sayang bukan aku, tapi jika memang aku harus mengantikan mu aku senang hati dan merasa terhormat melakukan tugas mulia ini," batin Fahmi dalam hati.
Selesai melakukan skin to skin dengan ketiga anaknya, Fahmi kembali menemui Yudha dan Yasmin.
"Terima kasih, kamu sudah mau berjuang untuk putriku," ucap Yudha ketika Fahmi mendekat padanya.
"Itu sudah tugasku, ayah mertua tak perlu berterima kasih, aku akan lakukan apa saja untuk Aryana, termasuk nyawaku."
"Apa orang tuamu sudah kau beri tahu?" tanya Yasmin.
"Belum, aku terlalu panik waktu itu, tapi kenapa kalian bisa tahu Aryana melahirkan?"
"Tentu saja aku tahu, aku dan Yasmin sedang perjalanan ke bandara, karena tiba-tiba Yasmin merasakan perasaannya tidak enak, sejak tahajud tadi malam perasaannya tak tenang, katanya bayangan Aryana selalu menghantuinya, lalu ia memintaku mengantarkan untuk ke pergi ke Singapura, siapa sangka saat sudah sampai bandara pengawal bayangan yang aku tugaskan mengawasi Aryana mengabarkan bahwa Aryana dilarikan ke rumah sakit. Makanya kami langsung ke sini," jawab Yudha.
Mendengar penjelasan ayah mertuanya, Fahmi hanya mengangguk tanda paham. Fahmi dan kedua mertuanya menuju ruang ICU ketika di beri tahu Aryana sudah di pindahkan ke ruang tersebut. Di luar ruang kaca, Fahmi hanya bisa memandang tubuh sang istri yang terpasang beberapa alat medis. Seandainya yang terbaring lemah itu adalah pasien lain bukan istrinya, Fahmi akan merasakan hal yang biasa, tapi saat melihat yang terbaring di ranjang pasien adalah istrinya sendiri rasanya ia sungguh tak sanggup. Demi melahirkan keturunannya, sang istri harus berjuang antra hidup dan mati.
"Andai bisa di tukar, biarlah aku saja yang mengantikan semua rasa sakitmu, Sayang, aku sungguh tak tega melihatmu seperti ini. Cepatlah bangun, Sayang, anak-anak merindukanmu," tangis Fahmi dalam hati.
Melihat Fahmi begitu kacau, Yudha berinisiatif memberi tahu orang tua Fahmi soal kelahiran cucu mereka. Sedangkan Yasmin mencoba membujuk Fahmi agar pulang untuk berganti pakaian karena ia juga harus ikut memantau bayi-bayi mereka.
"Tapi akau takut, saat aku pulang, Aryana meninggalkan aku," ucap Fahmi dengan suara parau.
"Fahmi hidup mati sudah di tentukan oleh Allah, yang terpenting sekarang segarkan kondisimu agar kamu bisa berfikir jernih dan juga bisa menjaga istri dan ketiga anakmu dengan baik!" ucap Yasmin memberi nasehat pada Fahmi agar mau pulang membersihkan diri dan istirahat sebentar.
Melihat penampilan Fahmi yang awut-awutan sungguh sangat menyedihkan, tidak mencerminkan bahwa Fahmi adalah seorang ceo. Sekarang dia hanyalah sosok ayah dan suami yang tidak berdaya karena keadaan.
"Aku sudah memberitahu tuan Pratama soal kelahiran anak kalian, dan mereka akan secepatnya ke sini," ucap Yudha yang menyusul Fahmi di depan ruang ICU tempat dimana Aryana di rawat.
"Terima kasih, saat ini aku sedang tidak bisa memikirkan apapun kecuali istri dan ketiga anakku," ucap Fahmi sendu.
"Lalu apakah kau sudah menyiapkan nama untuk ketiga anakmu?" tanya Yasmin.
__ADS_1
"Kami belum mencari nama yang tepat untuk anak-anak kami, karena kami memang tak ingin tahu apa jenis kelamin bayi kami, biarlah itu menjadi kejutan. Hanya saja Aryana pernah bilang jika anaknya perempuan, harus ada unsur kata Hafidzah dan kalau laki-laki harus ada kata Hafidz, yang artinya penghafal Al-Qur'an. Tapi sekarang aku belum bisa memikirkan nama yang tepat untuk merangkai nama dari kata yang di minta oleh Aryana. Aku ingin memberi nama anak kami bersama-sama dengannya, tapi kalau sampai ia tak bangun-bangun bagaimana," ucap Fahmi sendu bercampur bingung.
"Tak perlu buru-buru, kita berdoa saja semoga Aryana segera bangun dari tidurnya dan memberi nama anak kalian bersama-sama," ucap Yasmin lembut seolah menantu di depannya seorang anak sekolahan.
"Apa yang di katakan Yasmin benar, kamu jangan terlalu memikirkan tentang nama itu, seperti yang di katakan Yasmin tadi, kamu pulanglah, bersihkan dirimu, ganti pakaian dan istirahat jangan lupa makan. Kalau kamu sampai sakit siapa yang akan menjaga anak dan istri kamu!" pinta Yudha.
Mendengar perkataan ayah mertuanya Fahmi hanya bisa menghembuskan nafas kasar, meski berat dia memang harus pulang sebentar untuk membersihkan diri, apa yang di katakan kedua mertuanya benar, mereka lebih berpengalaman dalam mengurus anak, apalagi dalam situasi yang genting. Mengingat mertuanya adalah pensiunan prajurit dan seorang persit yang selalu bersahabat dengan yang namanya terluka dan kematian.
Fahmi lalu berpamitan dengan kedua mertuanya, tak lupa ia meitipkan istri dan anak-anaknya pada mereka, dengan langkah gontai Fahmi berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju lobby rumah sakit karena ia sudah menelpon sang supir untuk menunggundi sana. Begitu sampai di pintu keluar lobby Fahmi bergegas menghampiri mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa menghiaraukan apapun, ia merasa tubuhnya sangat lelah hari ini, benar kata mertuanya, ia memang harus pulang dan istirahat sejenak.
Tanpa Fahmi sadari ada sepasang mata yang mengamatinya sejak ia memasuki lobby rumah sakit, sepasang mata itu menatapnya dari kejauhan dengan rasa penasaran.
"Sepertinya aku pernah lihat laki-laki itu tapi dimana ya, eh tapi kenapa dia ada di sini dan penampilannya itu lebih mirip seperti orang habis berkelahi," tanya wanita itu dalam hati.
Sedangkan Fahmi kini sudah dalam perjalan ke rumah, rasa lelah semakin mendera fisiknya yang sudah tak muda lagi, lelah lahir batin itu yang Fahmi rasakan sampai tak terasa ia tertidur di mobil sepanjang perjalanan. Mertuanya memang the best, untung ia mengingatkan untuk bawa supir kalau tidak tamatlah riwayat Fahmi jika menyetir mobil dalam keadaan mengantuk.
__________________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Dukung karya Author yang lain ya, dimana dua diantaranya mengikuti perlombaan menulis novel.
Cinta Yudha (Tamat)
Catatan Hati Maharani (On Going, YAAWS 6)
The Assistant (On Going, Mengubah Takdir Kategori Wanita).
__ADS_1
Thank You
Bersambung.....