
Setelah satu minggu di rawat di Singapura Afwi akhirnya di ijinkan pulang dan kembali ke Indonesia. Saat ini Nayla sedang membantu Afwi membereskan barang-barangnya, sedangkan Yudha dan Yasmin menyelesaikan admistrasi rumah sakit.
"Bang, boleh Nay tanya sesuatu?"
"Boleh, mau tanya apa, hem?"
"Kemarin abang bilang punya property, abang cuma tanam modal saja, memang property apa?"
"Oh itu abang cuma sebenarnya cuma bantuin teman saja sekalian belajar berwirausaha, bukan property mewah cuma bangun lima kos kosan di lingkungan perusahaan garment, bagi hasil lumayan lah meski nggak besar, cuma niat bantu teman saja. Sebagian penghasilan abang dari bagi hasil kos- kosan sebagian buat membantu pendidikan anak-anak miskin. Meski abang anak orang kaya tapi semua aset termasuk perusahaan masih milik ayah dan opa, aku tahu aturan jadi abdi negara. Ayah sudah pensiun dari militer saat aku dan kak Afwa memutuskan terjun di dunia militer. Opa semakin tua tak sanggup menanggung tanggung jawab sebesar DW group. Kau tenang saja, insyAllah gaji abang sebagai polisi cukup, nanti kalau sudah nikah hasil dari kos-kosan itu kamu yang pegang, tapi jangan lupa tetap sisihkan buat pendidikan anak-anak miskin."
"Abang kenapa bisa punya pemikiran seperti itu ? dan masih sempat mengurus itu padahal abang di Akpol?"
"Abang punya usaha itu sewaktu masih SMA kelas tiga, modalnya dari tabungan abang sendiri, sebagian pemberian hadiah dokter Fahmi dan setelah masuk Akpol usahaku aku serahkan bunda buat di urus, termasuk pemasukan semua bunda yang terima, aku fokus di pendidikan di Akpol, bunda akan berikan itu ketika nanti aku menikah, katanya buat istri aku nanti."
"Hadiah dari dokter Fahmi, maksudnya?" tanya Nayla bingung.
"Dokter Fahmi sudah jatuh cinta sama Aryana sejak bayi, gila kan dia, makanya hampir setiap kenaikan kelas dia kasih hadiah ke Aryana dan otomatis aku dan kak Afwa juga Azka kecipratan hokinya, hadiahnya mahal-mahal, jadi dari pada di simpen gak guna sebagian aku jual dan uangnya buat bantu teman huat kost-kosan sewaktu SMA."
Mendengar penjelasan sang kekasih, Nayla menlongo, otaknya traveling membayangkan berapa harga hadiah yang diberikan dokter Fahmi pada Afwi dan saudara-saudaranya.
"Sudah nggak usah ngebayangin berapa nominal uang dari hadiah dokter Fahmi, kamu bisa pingsan!" tegur Afwi yang membiar Nayla sedikit kesal.
"Iih... siapa yang ngebayangin itu, sembarangan nuduh," sangkal Nayla atas ucapan Afwi padanya meskipun sangkaan Afwwi benar adanya.
Afwi tersenyum melihat wajah Nayla yang terlihat salah tingkah, dugaannya pasti benar sang kekasih membayangkan barang seperti apa hadiah dari seorang putra mahkota Pratama group.
"Kamu lucu kalau sedang gugup begitu," ucap Afwi sambil mendekat ke Nayla.
"Abang nih yang bikin kepo, tapi by the way kenapa abang bisa punya pemikiran membantu di bidang pendidikan dengan jerih payah abang sendiri?" tanya Nayla yang begitu penasaran dengan pemikiran sang kekasih.
"Aku dan semua saudaraku pernah di ajak mengunjungi tempat tugas ayah di daerah pelosok, cuma empat hari di sana. Nah di sana tuh aku melihat fasilitas pendidikan yang tak layak, jangankan belajar pakai Hp, jaringan aja susah, tenaga pengajar hanya beberapa orang saja tak sesuai dengan jumlah murid dan mata pelajaran, buku juga banyak yang kurang, mulai saat itu aku berinisiatif memberikan sebagian penghasilanku sewaktu SMA untuk bantu mereka, aku juga minta bantuan teman-temanku yang mau berdonasi secara sukarela. Setelah aku masuk Akpol semua itu di urus oleh bunda sampai sekarang, jadi di rekeningku itu hanya ada gajiku sebagai polisi sama sedikit uang sewaktu Lulus SMA," jelas Afwi membuat Nayla makin kagum dengan sosok putra kedua Yudhatama yang begitu low profile dan dermawan di balik sikapnya yang datar dan dingin.
"Tenang saja, Bang, InsyAllah gaji abang cukup, teman-teman Nay yang ayah ibunya cuma buruh cuci ataupun kerja serabutan yang penghasilannya nggak ada satu juta per bulan saja bisa menghidupi bahkan menyekolahan anaknya sampai perguruan tinggi, masa kita nggak bisa. Kata bunda Nana, rezeki itu bukan banyak atau tidak namun keberkahannya, banyak kalau nggak berkah sama juga bohong, kalau gaji abang tak cukup, kan Nay punya usaha lumpia cinta, yang insyaAllah bisa bantu ekonomi keluarga, nanti Nay akan kembangkan membuat makanan snack lainnya," ucap Nayla meyakinkan Afwi bahwa ia bisa menerima keadaan Afwi apa adanya bukan karena ada apa-apanya, bahkan Nay siap membantu perekonomian keluarga dengan keahliannya di bidang kuliner khas kota Semarang itu.
"Wah...sudah siap jadi ibu Bhayangkari ternyata?" goda Afwi membuat wajah Nayla langsung merona.
"Terima kasih atas semua dukungan kamu, Dek, juga inisiatif kamu membantu ekonomi keluarga kita kelak. Abang tidak melarang kamu bantu tapi jangan ngoyo, angap usaha kamu sebagai hobby, cari nafkah tetap kewajibanku, sedangkan untuk seorang istri tak wajib," sambung Afwi.
__ADS_1
Di tengah obrolan sepasang kasih yang begitu hangat, terdengar suara pintu ruang rawat inap Afwi terbuka, munculah Yudha dan Yasmin sambil membawa berkas hasil pemeriksaan Afwi selama di rawat di rumah sakit.
"Apa semua sudah siap, Nay?" tanya Yasmin.
"Sudah, Tante, semua barang-barang abang sudah Nay masukan ke tas," jawab Nayla.
"Terima kasih ya, Sayang, maaf jadi merepotkan kamu," ucap Yasmin sambil membelai kepala Nayla.
"Tidak apa-apa, Tante, saya justru senang bisa membantu Om dan Tante merawat abang Afwi.
"Gimana sudah siap untuk pulang dan berjuang lagi?" tanya Yudha pada Afwi.
"InsyaAllah sudah, Yah, aku sudah tak sabar ingin menjalankan tugasku lagi."
"Bagus sekali, itu baru namanya anak ayah," ucap Yudha tersenyum banga pada putranya.
Kemudian mereka berempat segera meninggalkan ruang rawat inap Afwi menuju lobby rumah sakit di sana sudah menunggu sopir yang sudah di sediakan oleh Fahmi dan satu mobil berisi empat orang pengawal yang di tugaskan Fahmi mengawal keluarganya sampai di rumahnya.
"Apa kita langsung ke bandara, Yah?" tanya Afwi.
"Tidak, kita menginap dulu satu malam di rumah adikmu, baru besok pagi kita akan pulang ke Indonesia, Aryana sudah menyipkan penyambutan untukmu, dia rindu denganmu, sejak masuk Akpol, kalian jarang sekali bertemu," jawab Yudha, membuat Afwi mengulas senyum yang sangat manis, membayangkan adik perempuannya sudah bertumbuh jadi seorang istri dan ibu yang hebat.
"Opa...Oma...!" teriak ke empat balita itu bersamaan.
Yudha dan Yasmin dengan senang hati menyambut ke empat cucunya itu, sedangkan Nayla membantu Afwi turun dari mobil, semua barang-barang mereka di urus oleh sopir di masukkan ke dalam rumah. Aryana yang melihat kakaknya berjalan di bantun oleh Nayla, langsung menghampiri Afwi daj memeluknya.
"Kak Afwi aku kangen," ucap Aryana sendu.
"Kakak juga kangen dengan adik kecil kakak, sekarang sudah jadi istri dan ibu yang hebat," ucap Afwi sambil memeluk sang adik. Perlahan Afwi mengurai pelukannya, di tatapnya Aryana dengan penuh sayang.
"Kakak sekarang juga sudah jadi polisi yang hebat," ucap Aryana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh ya, apa aku boleh masuk, capek nih?" keluh Afwi yang merasa tak nyaman dengan perutnya.
"Tentu, kak, ayo semuanya masuk ke dalam!" ajak Aryana.
Sampai di dalam rumah, Afwi langsung di suruh istirahat di dalam kamar di lantai bawah karena lukanya belum sembuh benar. Afwi istrirahat di dalam kamar dengan dibantu Nayla dan Yasmin, tentu saja hal itu membuat ke empat kurcaci cilik milik Aryana ikut masuk ke dalam kamar yang di tempati Afwi.
__ADS_1
"Om itu capa kenapa tidul di lumah Alya?" tanya Alya sambil menunjuk ke arah Afwi.
Arsen, Arnan dan Alesya ikut melihat ke arah Afwi dengan tatapan memindai seperti juri lomba kontes kecantikan. Yasmin tersenyum pada ke empat cucunya kemudian mendekati mereka lalu menjelaskan siapa Afwi. Maklum keempat anak Aryana jarang bertemu paman mereka yang sekarang berprofesi sebagi polisi itu.
"Dia adalah paman kalian namanya paman Afwi kakak dari mama kalian, ayo kasih salam!" ucap Yasmin memberi tahu ke empat cucunya yang mengemaskan.
"Assalamualaikum," ucap ke empat balita dengan sedikit cadel.
"Waalaikumsalam keponakan, Paman yang cantik dan tampan," ucap Afwi membalas sapaan salam ke empat keponakannya.
"Ayo kita keluar dulu biar paman Afwi bisa istirahat karena paman Afwi habis sakit!" ajak Yasmin kemudian mengiring ke empat cucunya meinggalkan kamar Afwi.
"Kak Afwi, Kak Nayla, kalau kalian butuh sesuatu jangan sungkan bilang saja padaku!" pinta Aryana kemudian meninggalkan kamar Afwi.
Di dalam kamar, Nayla membantu Afwi berbaring agar tidurnya nyaman.
"Abang, mau pakai selimut nggak?"
"Nggak, Dek, gini aja lebih enak, rasanya sumpek kalau pakai selimut siang-siang."
Setelah di rasa semua beres, Nayla ingin keluar sebentar menemui Aryana dan yang lain. Saat ia akan bangkit dari dudunya Afwi memegang pergelangan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Afwi.
"Mau keluar sebenyar, Bang, ngobrol sebentar sama Aryana juga Om dan Tante."
"Kamu tega ninggalin aku sendiri di sini, Dek?"
"Maaf, bukan maksud Nay begitu, aku cuma ngerasa nggak enak aja, kan kita belum nikah, aku nggak bisa leluasa merawat Abang."
"Oh jadi kamu pinginnya kita cepat nikah kita gitu?"
"Hah?"
_____________________________________________
Jadi pingin lumpia Semarang
__ADS_1
Please Like, Vote, Komentae, Rate and Favorit
Thank You