Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 199. Manja


__ADS_3

Pukul setengah enam sore Afwi baru sampai rumah, hari ini selain mengurusi masalah Briptu Fabian, Afwi juga tiba-tiba diminta mendampingi bapak Kapolres mendatangi undangan kedinasan sehingga hampir magrib ia baru sampai rumah.


"Assalamualaikum!" ucap Afwi saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Nayla dari dalam.


Begitu melihat sang istri menyambutnya, Afwi langsung memeluk tubuh Nayla setelah mendaratkan ciuman di kening kekasih halalnya itu. Ia tampak menikmati aroma wangi yang menguar dari tubuh Nayla, wangi yang sangat menenangkan dan selalu membuat hatinya hangat.


"Abang kenapa sih kok tiba-tiba peluk, Nay begini setelah pulang kerja?" tanya Nayla karena merasa heran dengan sikap suaminya yang tidak biasa.


"Abang sangat lelah hari ini, Dek, pinginnya di peluk dan dielus sama kamu," jawab Afwi dengan posisi masih memeluk sang istri.


Mendengar pengakuan suaminya, Nayla tersenyum, sungguh baginya sangat menggelikan, bagaimana tidak, suaminya yang terkenal tegas, datar dan dingin saat di berdinas cosplay menjadi seperti kucing anggora yang lucu dan manja dengan istrinya. Apalagi saat ini Afwi bersikap manja dengan masih memakai seragam polisinya. Nayla jadi terkekeh geli saat membayangkan kelakuan manja sang suami saat bersama dirinya diketahui oleh rekan seprofesinya atau anak buahnya.


"Memang apa yang abang kerjakan seharian ini sampai lelah sekali seperti ini?" tanya Nayla sambil mengurai pelukan sang suami yang sedang mode manja itu.


"Banyak, Dek," hanya itu jawaban pendek Afwi.


"Ya sudah, ini sudah mau adzan magrib, abang mandi dulu sekalian persiapan shalat magrib, nanti setelah shalat, Nay pijitin," ucap Nayla sambil mengusap kepala Afwi dengan lembut.


Afwi langsung tersenyum bahagia karena perlakuan yang manis dan tawaran mengiurkan dari sang istri, sungguh nikmat Tuhanmu mana yang kau dustakan.


"Siap, Nyonya Afwi, tugas dilaksanakan," ucap Afwi kemudian ia langsung ngacir ke kamar dengan semangat empat lima karena tawaran menggiurkan dari sang istri. Nayla yang melihat kelakuan suaminya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Dua puluh menit berlalu, Afwi sudah mandi dan melaksanakan shalat magrib berjamaah bersama Nayla di rumah. Sesuai dengan perkataannya tadi Nayla meminta Afwi menganti baju kokohnya dengan kaos agar lebih nyaman saat berbaring.


"Mana yang pegel, Bang?" tanya Nayla.


"Semuanya, Dek," jawab Afwi.


"Kalau begitu abang lepas kaosnya terus tengkurap, Nay pijitin dari tengkuk dulu lalu punggung!" pinta Nayla yang langsung di sambut senyum sumringah oleh Afwi.


Afwi langsung tengkurap setelah membuka kaosnya, Nayla lalu mengambil minyak zaitun yang sudah dicampur minyak aroma terapy. Perlahan Nayla mengoleskan minyak dan memijat punggung kokoh sang suami, dan sentuhan pijatan sang istri membuat Afwi merem melek, dalam hati ia tersenyum senang, meski tekanan pijatan Nayla tak semantap tukang pijit profesional tapi niat baik sang istri membuat Afwi sangat bahagia, apalagi jika pijatan Nayla bisa sampai ke bawah perutnya, Afwi pasti tak akan menolak dan bertambah bahagia.


"Bang, pijatan Nay terasa nggak, ini sudah kekuatan maksimal yang Nay punya?" tanya Nayla sambil terus memijat punggung sang suami.


"Terasa kok, Sayang, pijatan kamu enak, apalagi jika adek kecil di bawah perut juga kamu pijit pelan, lelahku pasti seketika hilang," ucap Afwi tanpa filter.


Plakk

__ADS_1


"Aduh, kok malah punggung abang dipukul sih, Dek?"


"Abang ini katanya capek, badannya pegal-pegal tapi masih mikir ke situ juga!" sungut Nayla kesal.


"Maaf, Dek, abang cuma bercanda, tapi kalau kamu mau melakukan abang akan dengan senang hati melakukannya."


"Ih abang, bercandanya nggak lucu, mau diterusin nggak pijitnya? kalau mikir mesum terus udahan aja Nay mijitnya," ancam Nayla.


"Jangan dong, Yang pijatan kamu paling mantep sedunia karena di dasari rasa cinta, lagian kakikku juga masih pegel belum di pijat."


"Oke, Nay bakal lanjut pijatnya tapi jangan bicara aneh-aneh lagi!"


"Siap nyonya besar!" ucap Afwi lalu memilih mengunci mulutnya daripada sang istri mengakhiri pijatan lembuatnya lebih awal.


Nayla meneruskan memijat punggung Afwi lalu diteruskan memijat bagian paha dan kaki, setelah selesai memijat, Nayla memberitahu Afwi jika acara pijat memijatnya sudah selesai namun tak ada jawaban, setelah Nayla mengecek kepala Afwi ternyata sang suami sudah terbang ke alam mimpi.


"Huft malah tidur pantas dari tadi tidak terdengar suaranya," keluh Nayla kemudian ia menarik selimut hinga ke leher sang suami, ia membiarkan Afwi tidur seperti itu karena tak ingin menganggu tidur sang suami yang sepertinya memang sangat lelah. Tak lupa sebelum meninggalkan kamar, Nayla mencium kening sang suami.


"Istirahatlah, Bang kamu sepertinya sangat lelah," gumam Nayla kemuadian ia melangkahkan kaki keluar dari kamar.


Nayla menuju dapur, karena sang suami malah tidur, ia membereskan meja makan yang sudah ia tata sedemikian rupa. Selesai membereskan meja makan, Nayla mengambil wudhu untuk shalat isya karena waktu sudah menunjukkan saat shalat isya. Selesai shalat Nayla membuka laptop lalu mengecek penjualan lumpia cinta miliknya yang sudah memiliki beberapa gerai, Nayla juga menghubungi Dio untuk menanyakan kabar adik angkatnya itu.


Di dalam kamar, Afwi menggeliat, ia merasakan hawa dingin menyapu tubuhnya, meskipun tertutup selimut namun, tubuh bagian atasnya yang polos membuatnya sensitif terhadap suhu udara. Afwi berusaha membuka matanya yang terasa berat, setelah matanya benar-benar terbuka, ia baru menyadari bahwa ia tidur tanpa mengenakan atasan dan hanya memakai celana pendek.


Afwi kemudian menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ia melihat jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Mengingat ia belum shalat isya, Afwi segera ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Selesai menunaikan shalat isya, Afwi keluar kamar mencari keberadaan istrinya yang ternyata sedang duduk di ruang tengah sambil mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.


"Sayang, kamu di sini rupanya," ucap Afwi lalu duduk disebelah sang istri.


"Abang sudah bangun?"


"Iya, kamu kenapa nggak bangunin abang sih, Dek?"


"Abang ketiduran waktu Nay pijitin, abang terlihat sangat lelah jadi Nay nggak tega bangunin."


"Abang memang lelah banget hari ini, makasih ya sudah menservice abang dengan baik," ucap Afwi sambil membelai surai hitam milik sang istri.


"Sama-sama, Bang, itu sudah kewajiban Nayla, istri itu memang harus bisa menservice suaminya dengan baik biar nggak ada celah buat pelakor atau ulat bulu penganggu," ucap Nayla tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Dek, jangan mulai lagi deh!" tegur Afwi.

__ADS_1


"Nay kan cuma bilang, kewajiban istri itu memang harus pintar merawat suami dengan atau tanpa adanya pelakor, Nay percaya kok sama abang. Ngomong-ngomong abang lapar nggak?"


"Ya lapar lah, Sayang, memang kamu masak?"


"Masak Bang, Nay panasin dulu ya sayur sama lauknya," ucap Nayla kemudian berdiri meninggalkan laptopnya menuju dapur.


Afwi dengan keponya melihat laptop sang istri yang masih menyala, ia langsung tersenyum, sang istri memang sangat berbakat di bisnis kuliner.


"Bang, makanannya sudah siap nih!"


"Ya, Sayang I am coming."


Afwi segera menuju ruang makan yang berada di dekat dapur, di meja makan sudah terlihat sop ayam jamur, tempe goreng, bergedel kentang dan kerupuk. Menu sederhana namun menggugah selera.


"Kamu seperti bunda, Dek, lebih dominan masak masakan nusantara," ucap Afwi di setelah selesai makan.


"Kan aku dan bunda Yasmin sama-sama orang jawa dan dari keluarga biasa jadi selera makannya lebih ke menu nusantara, tapi masakan aku belum seenak masakan bunda Yasmin."


"Tenang, Sayang, meski masakan kamu belum seenak bunda tapi ini sudah cukup enak, kalau dinilai dengan angka masakan bunda itu sepuluh masakan kamu delapan setengah dan lama-lama nanti bisa sepuluh, kalau jam terbangnya sudah lama dalam mengurus rumah tangga dan mau belajar pasti bisa lebih bagus kedepannya," ucap Afwi menyemangati sang istri.


"Makasih ya Bang, sudah mau memahami Nayla dan menerima kekurangan Nay."


"Tidak usah berterima kasih, itu sudah kewajiban abang membimbing, melindungi dan mensuport kamu, apalagi dalam hal kebaikan."


Sepasang suami itu makan malam dengan penuh kebahagiaan, saling menjadi support sistem satu sama lain juga rasa saling percaya dan pengertian membuat keluarga bisa selalu harmonis.


Hal yang sama juga di rasakan saudara kembar Afwi yaitu Afwa yang sedang berbincang santai dengan Kirana di rumah dinas milik TNI AD dimana Afwa bertugas.


"Mas Afwa, nanti kalau di Papua selalu kasih kabar ya!" pinta Kirana sambil bersandar di dada bidang sang suami.


"InsyaAllah, Sayang, kalau nanti tak sibuk dan dapat sinyal, kamu tahu kan daerah tempat tugas mas di sana seperti apa," ucap Afwa sambil membelai rambut Kirana yang tergerai.


"Iya, Kiran tahu, ayah kan juga pernah beberapa kali tugas di sana, tugas pertama ayah di Papua kan sama ayah Yudha juga dan ayah Yudha sempat tertembak saat pembebasan sandra oleh pemberontak di sana."


"Kamu takut, Yang?" tanya Afwa.


"Takut pasti lah, tapi semua ini sudah jadi resiko aku ketika menerima pinangan mas Afwa."


Afwa makin mengeratkan pelukannya pada Kirana yang bersandar di dadanya, sesekali ia mencium pucuk kepala sang istri. Sebenarnya tak hanya Kirana yang takut, sebagai manusia biasa apalagi sudah ada Kirana yang menjadi tanggung jawabnya membuat ia juga takut tak bisa memenuhi harapan sang istri, namun Afwa pun juga tak punya pilihan lain, dan itulah konsekuensi yang harus ia terima ketika memilih bergabung menjadi Tentara Nasional Indonesia.

__ADS_1


"Mas nggak bisa berjanji untuk kembali dalam keadaan baik-baik saja, tapi mas akan berusaha berjuang agar bisa melaksanakan tugas negar dengan baik dan bisa kembali ke sisimu dan keluarga kita," ucap Afwi dengan posisi masih memeluk sang istri dengan hangat dan penuh cinta.


________________________________________


__ADS_2