Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 77


__ADS_3

Profesor Richard benar-benar kagum dengan wanita muda di depannya ini, tapi ia ingin tahu alasan istri sahabatnya tidak mau di tempatkan di kelas khusus dan malah memilih kuliah di kelas reguler biasa, berbaur dengan orang-orang yang secara materi tidak selevel dengannya dan meminta merahasiakan siapa Nyonya Fahmi sebenarnya.


"Nyonya Fahmi, boleh saya tahu apa alasan anda menolak di tempatkan di kelas khusus kalangan atas dan memilih berbaur dengan mahasiswa biasa di kelas reguler dan kenapa identitas anda harus dirahasiakan?" tanya profesor Richard.


"Profesor Richard, dalamnya hati manusia tidak akan pernah ada yang tahu kecuali dirinya sendiri dan Tuhan, kebanyakan orang akan lebih memilih berteman dengan orang yang sukses ataupun lebih sukses dari dirinya untuk tujuan tertentu. Jika kita kaya dan punya status yang tinggi kita kadang tidak akan bisa membedakan mana yang tulus mana yang tidak, dan tulusnya seseorang yang mau berteman dengan saya hanya bisa kita dapatkan dengan menutupi identitas ku yang sebenarnya. Intinya saya tidak mau memiliki teman yang bermuka dua, dan satu hal lagi profesor ketika saya di berbaur dengan kalangan menengah ke bawah kita bisa belajar banyak hal yang tidak bisa saya dapatkan ketika berbaur dengan orang-orang kaya," jawab Aryana yang membuat profesor Richard semakin kagum dengan cara berfikir wanita depannya ini.


"Apa yang anda dapat dari berbaur dengan orang kelas menengah kebawah yang tidak bisa di dapatkan ketika berbaur dengan orang kalangan atas?" tanya profesor Richard penasaran.


"Ketulusan cinta, keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur kepada Allah, itu yang sulit saya temukan dari kalangan atas. Kebanyakan orang akan berhasil dalam ujian kekurangan tetapi akan banyak gagal ketika di uji dengan kekayaan," jawab Aryana yang membuat prodesor Richard makin kagum.


"Baiklah Nyonya Fahmi, saya akan memenuhi permintaan anda tetapi saya harus memberi tahu tuan Fahmi terlebih dahulu, tunggu sebentar!" pinta profesor Richard yang langsung mendial nomor Fahmi.


Fahmi yang sedang berbicara dengan Juan tentang pekerjaan menghentkan kegiatannya, ia meraih ponsel di sakunya, tertera nomor Richard di layar, membuatnya heran.


"Si kutu buku menelponku, ada apa ya, apa ini soal Aryana?" batin Fahmi bertanya-tanya sambil pandangannya menatap layar ponselnya, akhirnya Fahmi menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan sahabatnya itu.


Fahmi


"Hallo, Rich, ada apa meneleponku?"


Prof. Richard


"Ini, aku mau kasih tahu kalau istri kamu tidak mau di tempatkan di kelas khusus kalangan atas, dia maunya ikut di kelas reguler biasa, bagaimana ini?, apa kamu mengizinkan?, dan satu hal lagi, dia minta agar identitasnya di rahasiakan, gimana?"


Fahmi


"Turuti saja, tapi satu hal yang nggak boleh dia rahasiakan."


Prof. Richard


"Apa itu?"


Fahmi


"Aryana boleh merahasiakan kalau aku suaminya tapi dia tidak boleh merahasiakan statusnya yang sudah menikah."


Prof. Richard


"Baiklah akan aku sampaikan, maaf sudah mengganggumu."


Fahmi


"Tidak apa-apa dan terima kasih."


Fahmi kemudian menutup panggilan telponnya, ia langsung menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya.


"Sayang, kamu benar-benar wanita istimewa, sampai mati aku tak akan pernah melepaskanmu, aku janji akan menjagamu dengan jiwa dan ragaku," batin Fahmi sambil memejamkan matanya dan hal itu membuat Juan keheranan.


"Tuan, tuan, apa baik-baik saja!" tegur Juan pada Fahmi karena melihat bosnya memejamkan matanya setelah menerima telpon.


"Ya Juan, ada apa?"


"Tuan baik-baik saja?"


"Tidak, aku tidak apa-apa, kita lanjutkan yang tadi sampai mana kita membahasnya?"


Juan lalu memberi tahu sampai dimana bahasan tentang pekerjaannya tadi, sedangkan di ruang dekan, profesor Richard menjelaskan hasil pembicaraannya dengan sahabatnya dokter Fahmi.


"Begini, Nyonya Fahmi, saya sudah bicara dengan dokter Fahmi, dia menyetujui semua permintaan Nyonya, tapi satu hal yang tidak boleh anda rahasiakan ke publik, yaitu status anda yang sudah menikah, dan soal siapa suami anda, anda boleh merahasiakannya," ucap profesor Richard.

__ADS_1


"Baiklah, saya setuju, saya tidak akan mempublikasikan siapa suami saya dan saya minta bantuan anda untuk merahasiakannya, dan saya setuju untuk tidak menutupi status saya yang sudah menikah," ucap Aryana menyetujui permintaan sang suami.


"Kalau begitu anda bisa langsung bergabung ke kelas reguler hari ini, asisten saya Malik akan mengantarkan anda ke ruang kelas.


Kemudian profesor Richard memangil asistennya untuk mengantar Aryana ke ruang kelas reguler.


"Malik, tolong antarkan nona Aryana ke ruang kelas reguler fakultas kedokteran!" perintah profesor Richard.


"Baik, Prof," ucap Malik yang kemudian langsung mengantar Aryana menuju ruang kuliah kelas reguler


"Ini nona kelasnya," ucap Malik, kemudian mengetuk pintu kelas.


Tok tok


"Permisi!"


"Oh pak Malik ada apa, anda langsung datang ke sini, apa ada yang penting?" tanya dosen wanita yang sedang mengajar di kelas tersebut.


"Mrs. Mery ini nona Aryana, dia mahasiswa baru yang berasal dari Indonesia," ucap Malik memperkenalkan Aryana.


"Oh mahasiswa dari Indonesia, baiklah saya akan mengenalkannya pada yang lain," ucap Malik.


"Kalau begitu saya tinggal dulu," ucap Malik.


"Baik pak Malik hati-hati!" ucap miss Mery begitu hormat pada Malik karena Malik adalah asisten profesor Richard yang begitu di segani, jangan tanyakan dingin dan datarnya Malik, hanya sebelas dua belas dengan profesornya dan Jika ada mahasiswa ataupun dosen yang sampai di antar Malik sampai ke ruangan atas perintah profesor Richard berarti orang tersebut bukan orang sembarangan. Para dosen dan staf kampus tahu tentang kode itu.


"Terima kasih," ucap Aryana ramah saat Malik pamit undur diri


"Sama-sama, nona, semoga kuliah anda lancar," ucap Malik.


Sepeninggal Malik, Mrs Mery mempersilahkan Aryana masuk dan duduk di kursi yang masih kosong. Aryana kemudian duduk di salah satu kursi yang masih kosong di deretan nomor dua, bersebelahan dengan seorang gadis berkaca mata tebal dengan rambut di gerai sebahu.


"Aku Aryana, kau bisa panggil aku Ana," ucap Aryana.


Perkenalan singkat itu pun berakhir karena Mrs. Mery melanjutkan memberi materi kuliah perdana di semester pertama di tahun pertama. Aryana sedikit menjadi pusat perhatian karena di kelas tersebut hanya dia yang memakai busana muslim dan hijab. Setelah perkuliahan selesai, Jessie mengajak Aryana mengobrol.


"Kamu sepertinya bukan dari negara ini," ucap Jessie.


"Iya, aku warga negara Indonesia, suamiku bekerja di sini jadi aku mengikuti suamiku sambil kuliah," ucap Aryana.


"Ah kamu sudah menikah, oh My God, berarti usia kamu masih muda sekali, apa tidak sayang semuda ini menikah," ucap Jessie terkejut.


"Aku bahagia dengan keputusanku menikah muda, lagi pula suamiku memberiku kebebasan melakukan apa yang ingin aku lakukan selama itu hal yang positif," ucap Aryana.


"By the way, kuliah di sini sangat mahal, suamimu kerja apa dan dimana sampai bisa membiayai kuliahmu di universitas ini?" tanya Jessie.


"Suamiku bekerja di Pratama group yang ada di Singapura," jawab Aryana.


"Sebagai apa?" tanya Jessie lagi.


"Kepala bagian, sebagian biaya kuliahku dari uang tabunganku sendiri, jadi tidak terlalu membebani suamiku," jawab Aryana berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan bahwa suaminya adalah ceo Pratama group.


"Baik sekali suamimu mau membantu biaya kuliahmu di universitas ternama seperti ini, kalau aku, jika bukan karena beasiswa tidak mungkin kuliah di tempat se bagus ini," ucap Jessie sambil membenarka letak kaca matanya.


"Alhamdulillh, Allah memberiku suami yang baik dan pengertian, karena hal itu juga lah orang tuaku mengizinkan aku menikah muda," ucap Aryana.


"Orang tuamu sendiri bekerja sebagai apa di Indonesia?" tanya Jessie.


"Ayahku bekerja di DW group dan bundaku membantu omaku mengelola butik keci-kecilan di sana," jawab Aryana.

__ADS_1


"Maaf ya Jessie aku harus berbohong padamu tentang keluargaku, ya Allah ampuni hamba juga karena telah membohingi teman hamba," batin Aryana dalam hati sedikit merasa bersalah.


"Kalau orang tuamu Jessie, bekerja di mana?" tanya Jessie.


"Papaku bekerja sebagai petugas kebersihan di hotel Diamond, sedangkan mamaku bekerja di toko bunga, ya walaupun kecil, toko bunga itu milik kami sendiri, oh ya Ana, kalau di perusahaan suamimu membutuhkan bunga untuk acara, bisa pesan dari toko mamaku, mamaku pintar lho merangkai bunga!" pinta Jessie.


"Ya baiklah, nanti aku rekomendasikan toko bunga mamamu pada suamiku, barangkali perusahaan tempat suamiku bekerjan bisa memesan bunga di toko mamamu," ucap Aryana sambil tersenyum.


"Benarkah?, terima kasih Ana, kalau begitu ini kartu nama toko bunga mamaku," ucap Jessie mengulurkan sebuah kartu nama pada Aryana.


"Rosalina Florist, ini nama toko bunga mamamu?" tanya Aryana setelah membaca nama toko yang tertera di kartu nama tersebut.


"Iya."


"Tapi aku tidak janji ya, karena suamiku juga hanya karyawan biasa," ucap Aryana agar Jessie tidak terlalu banyak berharap.


"Tidak apa-apa setidaknya aku sudah berusaha mempromosikan toko bunga mamaku," ucap Jessie penuh semangat dan rasa optimis.


Setelah mengobrol sebentar dengan Jessie, Arayana pamit pulang, sebelumya Aryana sudah memberi tahu sang suami bahwa ia sudah selesai kuliah.


"Jes, aku pulang dula ya," pamit Aryana.


"Naik apa kamu Ana?" tanya Jessie.


"Aku sudah pesan taxi on line tadi," jawab Aryana berbohong tak mungkin ia bilang di jemput supir perusahaan.


"Ah baiiklah, hati-hati ya!" ucap Jessie.


"Ya terima kasih, daa...." ucap Aryana.


Sampai gerbang kampus, seorang pria menghampirinya dan sedikit membungkuk hormat.


"Selamat siang, apa benar anda Nyonya Aryana?" tanya pria tersebut.


"Iya, saya Aryana," jawab Aryana.


"Saya Romi, Nyonya supir suruhan tuan Fahmi untuk menjemput Nyonya," ucap Romi memperkenalkan diri.


"Oh jadi anda yang namanya pak Romi?"


"Benar Nyonya."


"Baiklah, antar aku pulang!"


"Baik Nyonya," ucap pak Romi kemudian membukakan pintu untuk Aryana.


Aryana segera masuk ke dalam mobil dan mobil yang di supiri oleh pak Romi melaju meninggalkan kampus universitas xxx, sedangkan dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan Aryana semenjak sampai di gerbang kampus menunggu jemputan dari pak Romi.


__________________________________________


Naah loo, siapa yang lihatin Aryana dari jauh?


Baca juga karya terbaruku yang ikut berkontibusi di lomba menulis novel You Are A Writer Season 6, "Catatan Hati Maharani" mohon dukungannya ya.


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2