Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 164


__ADS_3

Pas baca episode ini bayangin backsound nya lagunya mbak Keisya-Tak Ingin Usai!


Setelah Yudha dan Yasmin keluar dari suang ICU, kini guliran Nayla dan Kombes Mahendra masuk ke ruangan dimana Afwi di rawat. Nayla menatap nanar Afwi yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan segala alat medis penunjang kehidupan sang kekasih. Perlahan Nayla mendekat le ranjang Afwi, kemudian ia memegang jemari tangan Afwi lalu menciumnya sambil menetaskan air mata.


"Abang..., bangun Bang, Nay kangen sama abang, kenapa abang nggak jujur sama Nay, Nay marah sama abang, marah sangat marah, tapi melihat abang begini, Nay nggak bisa membohongi hati Nay sendiri, Nay cinta sama abang, Nay sakit lihat abang seperti ini, aku mohon Bang, bangunlah dan berjuanglah untuk sembuh!. Demi orang tua kamu yang sangat menyayangi abang, juga aku bang. Kalau abang nggak bangun-bangun aku nggak akan maafin abang, hiks...hiks..."


Nayla menumpahkan isi hatinya sambil menangis, meski ia merasa sakit hati karena Afwi telah berbohong tentang pekerjaannya yang sesungguhnya, namun ia juga tak bisa mengingkari perasaannya yang sangat mencintai Afwi..


Afwi masih saja memejamkan matanya, namun dari sudut matanya keluar setitik air mata, namun Nayla tak menyadarinya karena ia sibuk menangis dan bersedih sambil menggenggam tangan Afwi yang tidak di infus.


Kombes Mahendra merengkuh Nayla ke dalam pelukannya, "sabar Nay, kita hanya bisa berdoa dan berfikir positif semoga Afwi segera sadar."


"Aku sayang, abang, Pa," ucap Nayla dengan masih terisak.


"Apa kamu sudah bisa Afwi dan pekerjaannya sebagai polisi?" tanya Kombes Mahendra.


"InsyaAllah, Nay akan terima, Pa, Nay baru sadar bahwa rasa cinta Nay sama abang Afwi besar dari pada ketakutan Nay terhadap resiko bersuamikan seorang polisi, Nay nggak sanggup kalau harus kehilangan abang Afwi," jawab Nayla.


"Syukurlah, kamu sudah bisa menerima Afwi dan profesinya yang sesungguhnya. Papa percaya bahwa Afwi adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan setia, meski kita tak tahu kedepannya akan seperti apa, namun yang papa lihat dari sosok Afwi adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan amanah baik dalam tugas maupun keluarga," ucap pak Mahendra penuh rasa syukur karena akhirnya trauma sang putri terhadap pekerjaan seorang polisi bisa mulai sembuh, dan besar kemungkinan Nayla bisa berdamai dengan keadaan.


Kombes Mahendra kemudian mengajak Nayla segera keluar dari ruang ICU tersebut, meskipun putrinya sepertinya tak rela meninggalkan sang kekasih yang terbaring lemah di brangkar rumah sakit.


Setelah Kombes Mahendra dan Nayla kini giliran Komandan Ardan, pak Adiguna dan Medina yang menjenguk Afwi.


Keesokan harinya seperti yang sudah direncanakan Fahmi terbang sendiri ke Indonesia untuk melihat keadaan Afwi. Aryana sebenarnya ingin sekali ikut tetapi Fahmi melarangnya karena anak mereka yang masih kecil, lagipula Fahmi hanya sebentar pulang ke Indonesia.


Pukul sembilan pagi waktu Indonesia Barat, Fahmi sudah sampai di rumah sakit HS tempat Afwi di rawat. Di sana sudah ada Yudha, Yasmin dan Refanda. Refanda adalah putra dari om Devan orang kepercayaan papa Yudha. Refanda dipercaya untuk menangani semua bisnis DW group yang ada di Bandung.


" Asaalamualaikum," ucap Fahmi menyapa kedua mertuanya.


"Waalaikumsalam," jawab Yudha, Yasmin dan Refanda bersamaan.


"Kapan kamu datang, Fahmi?, seperti hantu saja," ucap Yudha yang selalu bersikap datar pada menantu dokternya itu, meskipun sekarang Yudha sudah benar-benar menerima mantan rivalnya itu menjadi menantunya.


"Baru saja, setelah pesawat landing aku langsung ke sini, aku tak bisa lama karena Aryana ngambek nggak aku perbolehkan ikut kesini," jawab Fahmi.


"Hah anak itu memang sejak kecil lebih dekat dengan Afwi daripada Afwa, padahal Afwi itu datar, dingin, kaya kulkas tapi si Aryana malah lebih suka curhat sama Afwi," ucap Yudha yang paham pada sikap putrinya.

__ADS_1


"Seperti kamu kan mas, Afwi kan copasnya kamu banget," ucap Yasmin menimpali sambil mencebik.


Fahmi yang mendengat itu hanya terkekeh, ia senang melihat ayah mertuanya kena skak dari ibu mertuanya.


"Sudah-sudah, kenapa jadi malah ngomong nggak jelas sih, aku ingin bertemu dokter yang menangani Afwi!" pinta Fahmi.


"Dokternya akan datang setengah jam lagi, saya sudah menghubungi beliau tadi ketika melihat anda sudah datang," ucap Refanda yang tiba-tiba menimpali membuat Yasmin dan Yudha menepuk jidat mereka sendiri karena melupakan keberadaan Refan di samping mereka.


"Ya Tuhan Refan, maafkan kami melupakan kehadiranmu," ucap Yudha tampak menyesal.


"Tidak apa-apa, Om, saya mengerti keadaan Om dan Tante," ucap Refanda sambil tersenyum.


Melihat Refanda, Fahmi langsung mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih, Refan, maafkan kedua mertuaku ini, maklum mereka sudah beranjak tua jadi sudah sering lupa, tapi kalau berhadapan dengan nominal uang, setua apapun mereka, pasti tak akan lupa," ucap Fahmi sambil menepuk bahu Refan agar seolah memberi tahu agar lebih bersabar, sedangkan Refanda hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Fahmi, ia ingin sekali tertawa tapi takut dengan Yudha.


"Dasar menantu kurang ajar," umpat Yudha yang merasa tak terima dengan ucapan Fahmi yang menyebutnya tua.


Mendengar umpatan suaminya, Yasmin hanya geleng-geleng kepala, ia heran kenapa Yudha dan Fahmi tidak bisa kalem saja barang satu hari jika bersama.


Setelah setengah jam menunggu akhirnya dokter Rafli yang merawat Afwi datang juga. Refanda langsung mengantar Fahmi bersama Yudha dan Yasmin menuju ke ruangan dokte Rafli. Sampai di sana Fahmi di sambut hangat oleh dokter Fahmi, sungguh kehormatan baginya seorang pemilik rumah sakit ternama sekaligus ceo perusahaan besar mau mennemui dirinya yang hanya dokter bedah biasa.


"Anda bisa saja dokter, jangan berlebihan," ucap Fahmi, kemudian ia dan kedua mertuanya duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Rafli sedangkan Refanda memilih menunggu di luar.


"Bagaimana kedaan kakak ipar saya, dokter?" tanya Fahmi membuka pembicaraan.


"Maaf dokter Fahmi, sampai saat ini, pak Afwi belum menunjulkkan perkembangan yang signifikan," jawab dokter Rafli dengan nada penyesalan belum bisa membuat Afwi segera sembuh.


"Boleh saya melihat rekam medis kakak iparku?" tanya Fahmi pada dokter Rafli.


"Tentu, sebentar saya ambilkan," ucap dokter Rafli kemudian beranjak dari duduknya menuju lemari yang ada di ruangannya.


"Ini rekam medis pak Afwi," ucap dokter Rafli sambil menyerahkan map berlogo rumah sakit.


Fahmi membuka map tersebut dan membacanya dengan seksama, setelah membaca isi map itu Fahmi kemudian menutupnya dan mengembuskan nafas kasar, tanda apa yang di katakan dokter Rafli benar dan sebagai dokter ia juga cukup paham isi rekam medis Afwi tersebut.


"Saya ingin melihat keadaan kakak ipar saya, apa bisa sekarang?" tanya Fahmi.

__ADS_1


"Boleh, namun saat ini belum jam besuk ruang ICU, jadi hanya saya dan anda yang bisa masuk," jawab dokter Rafli.


Fahmi kemudian menatap Yudha dan Yasmin, kemudian Yudha mengukan kepalanya tanda setuju jika hanya dia dan dokter Rafli yang bisa masuk.


Dokter Rafli mengantar dokter Fahmi ke ruang ICU, sampai di dalam dokter Rafli menunjukkan bed dimana Afwi di rawat. Fahmi berjalan mendeka ke ranjang di mana Afwi terbaring tak berdaya. Meski raut muka Fahmi terlihat biasa saja saat melihat Afwi terbaring, tapi hati Fahmi merasa pilu. Afwi adalah sosok istimewa dalam kehidupan istrinya, rela mengubur impiannya sekolah SMA impiannya hanya karena ingin melindungi adik perempuannya, berusaha selalu ada untuk adik perempuannya.


"Assalamualaikum kakak ipar, apa kabar aku jauh-jauh datang kesini mengunjungimu seharusnya kau sudah bangun, kasihan ayah, bunda, Aryana yang tiap hari bersedih untukmu. Kami hanya bisa berusaha menyembuhkanmu tapi yang bisa membuatu benar-benar sembuh adalah dirimu sendiri. Banyak orang yang menyayangimu, kamu harus menghargai mereka, kalau kau tak kunjung sadar, terpaksa aku harus membawamu ke Singapura," ucap Fahmi sambil menatap sendu kakak iparnya.


"Apa dokter Fahmi serius akan membawa pak Afwi ke Singapura?" tanya dokter Rafli ketika mendengar perkataan dokter Fahmi.


"Iya, dan maaf bukan karena kami tak percaya pada anda ataupun rumah sakit ini, tapi ingin Afwi secepatnya pulih," ucap Fahmi memberi pengertian pada dokter Rafli agar tidak tersingung dengan rencana keluarga membawa Afwi ke rumah sakit di Singapura.


"Saya mengerti dokter Fahmi, anda tak perlu sungkan, memang memindahkan pasien ke rumah sakit lain adalah hak pasien, tapi harus ada prosedurnya," ucap dokter Rafli.


"Ya tentu saja, saya akan mengurus semua prosedurnya," ucap Fahmi.


"Yah, Sultan mah bebas mau ngelakuin apa saja, mau minta di rawat di rumah sakit di negara manapun pasti bisa," batin dokter Rafli.


Kemudian dua dokter beda generasi itu meninggalkan ruang ICU tempat Afwi dirawat. Fahmi segera menceritakan rencananya pada Yudha dan Yasmin perihal pengobatan Afwi. Fahmi segera mengurus kepindahan perawatan Afwi ke rumah sakit ME Singapura.


Fahmi sudah menghubungi pihak rumah sakit ME di Singapura agar mempersiapkan segala sesuatunya untuk perawatan Afwi.


Saat ini Afwi sudah berada di bandara di temani kedua orang tuanya, mereka akan ke Singapura menggunakan jetpri DW group. Fahmi juga meminta menugaskan satu dokter dan satu perawat untuk mendampingi Afwi yang masih belum sadarkan diri. Di bandara sudah ada Nayla ditemani sang papa, juga Medina yang juga ikut mengantar Afwi untuk melanjutkan pengobatan ke negeri Singa.


Nayla memegang tangan Afwi seolah tak mau melepasnya, ia memberanikan diri untuk mencium kening Afwi sambil meneteskan air mata.


"Abang harus berjuang untuk sembuh, abang harus tempati janji abang untuk melamarku setelah kasus yang abang tangani selesai," ucap Nayla sendu sambil mengusap air matanya.


Semua orang yang melihat adegan itu merasa terharu bahkan Yasmin memeluk Nayla dari samping agar Nayla lebih tegar dan sabar. Sedangkan Medina yang melihat adegan itu merasakan sesak di dadanya, ia harus belajar menerima bahwa Afwi bukan miliknya. Mencintai sendirian pasti akan sangat menyakitkan. Ia juga tak punya nyali jika harus melakukan pemaksaan atau trik kotor untuk mendapatkan Afwi seperti cerita di novel-novel yang kadang ia baca. Posisi Afwi terlalu kuat, sang papa sudah menceritakan siapa orang tua Afwi dan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Dewantara group.


Nayla terpaksa harus melepaskan pegangan tangannya pada tangan Afwi karena Afwi harus segera dibawa ke dalam jetpri. Kombes Mahendra memeluk putrinya dari samping sebagai wujud dukungan moral untuk putrinya, sedangkan pintu jetpri berlahan-lahan tertutup dan siap landas membawa sang kekasih berjuang untuk kembali sembuh di negeri sebrang. Medina juga tak kalah sedih bagaimanapun Afwi sudah mengisi hari-harinya belakangan ini, bahkan rela mengorbankan dirinya untuk menyelematkan nyawanya. Jika sampai Afwi cacat Medina bersedian merawat seumur hidup, bukan karena hutang nyawa tapi karena ia benar-benar mencintai putra kedua ceo DW group, namun sayang sang pujaan hati sudah memiliki calon permaisuri di hatinya.


...💔 Cinta tak pernah salah namun kadang datang di saat yang tidak tepat dan pada orang yang salah.💔...


_____________________________________


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah

__ADS_1


Thank You


__ADS_2