
Sesampainya di rumah Fahmi masuk ke kamarnya melepaskan jas petunagannya dengan Aryana, lalu ia segera membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandinya Fahmi merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Tubuhnya terasa lelah namun ia tak kunjung bisa memejamkan matanya bayangan cantik Aryana saat acara pertunangan tadi masih menari-nari di dalam pikirannya, aroma wangi tubuh Aryana rasanya masih menempel di hidungnya.
"Aryana sayang, rasanya Om nggak sabar pingin setiap hari bertemu denganmu, aku nggak sabar melihatmu di rumah kita, melihatmu perut buncitmu mengandung anakku, umurku sudah tak muda lagi, makanya aku ingin segera menghalalkanmu," ucap Fahmi dalam hati, lama-kelamaan matanya terasa berat akhirnya Fahmi tertidur.
Waktu terus bergulir, hari demi hari terlewati, liburan semester gasal telah berakhir, Aryana, dan saudara-saudaranya kembali belajar ke sekolah. Semester kali ini Aryana dan Afwi juga pastinya Afwa harus lebih giat belajar karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan, les tambahan pelajaran pun diadakan oleh sekolah agar para siswa lebih maksimal dalam ujian akhir mereka. Afwa dan Afwi memutuskan untuk masuk militer seperti impian mereka, hanya saja Afwi memutuskan masuk Akpol sedangkan Afwa tetap di pendiriannya semula masuk Akmil, soal kisah cintanya dengan Kirana akan ia serahkan pasa takdir Tuhan karena jodoh adalah rezeki dan rezeki tidak akan pernah tertukar, karena Afwa dan Afwi memutuskan masuk militer maka selain belajar dengan giat untuk kelulusan mereka juga latihan fisik, seperti lari renang, sit up, pull up dan latihan fisik lainnya yang menunjang saat test fisik nantinya.
"Aryana!"
Mendengar namanya dipanggil Aryana menoleh ke belakang tempat asal suara.
"Kak Irfan."
"Aryana, kamu mau ke kantin?" tanya Irfan
"Iya, memang kak Irfan juga mau ke kantin juga?" jawab Aryana yang balik bertanya.
"Iya, boleh aku temani kamu makan di kantin?"
"Boleh."
Sesampainya di kantin Irfan langsung memesan makanan untuknya dan Aryana. Sembari menunggu pesanan makanan datang mereka mengobrol.
"Na, apa benar kabar burung yang kudengar kamu sudah bertunangan?" tanya Ifran menyelidik.
"Iya, pas liburan kemarin," jawab Aryana jujur.
"Tetapi kabarnya kamu mau tunangannya setelah lulus, kenapa malah sekarang?" tanya Irfan.
"Sebenarnya aku maunya pas aku lulus SMA saja tapi kekasihku pinginya di majukan, orang tua kami setuju jadi aku ya ok ajalah daripada ribet," jelas Aryana.
Sekarang memang Aryana lebih terbuka pada Irfan dari pada dulu terhadap teman sekelasnya yang pernah mengungkapkan perasaan padanya bisa lebih mengerti. Aryana juga tak takut lagi jika dekat dengan Irfan, kejadian kemarin membuat semua siswa maupun guru lebih berhati-hati jika berhadapan dengan dua anak sultan yang nyasar bersekolah di SMA mereka.
"Sebenarnya siapa tunanganmu itu, Na?, apa dia lebih ganteng juga lebih segalanya daripada aku?" tanya Irfan, pada saat Aryana akan menjawab pesanan mereka datang.
"Makan dulu kak, nanti keburu dingin tak enak!" ajak Aryana.
Mereka berduapun segera menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Pada saat makan Irfan terkadang mencuri-curi pandang ke Aryana yang sibuk menikmati makanannya. Dia benar-benar kagum dengan sosok gadis depannya, seorang anak sultan yang penuh kesederhanaan, cantik dan pintar.
"Ya Tuhan jika Aryana bukan jodohku, aku mohon kirimkan satu lagi seorang gadis seperti Aryana di dalam hidupku," ucap Irfan dalam hati.
"Oh ya tadi kak Irfan tanya tentang siapa tunanganku ya?" tanya Aryana yang diangguki oleh Irfan.
"Aku mengenalnya sejak aku masih balita dan aku tak menyangka dia yang akan menjadi jodohku, kisah kami tak semulus jalan tol, duka dan air mata mewarnai kisah kami hingga sampai pada di titik ini kami bisa merasakan kebahagiaan dan tinggal selangkah lagi kami menuju halal," ucap Aryana sambil sesekali tersenyum saat bercerita tentang kisahnya cintanya dengan Om Fahmi.
Irfan mendengarkan cerita Aryana dengan seksama, dalam hati ia masih penasaran siapa dan bagaimana sosok pria yang beruntung mendapatkan hati Aryana, namun rasa penasarannya itu hanya mampu ia simpan dalam hati.
"Beruntung sekali pria yang berhasil merebut hatimu dan akhirnya menjadi tunanganmu itu," ucap Irfan.
"Ya, Alhamdulillah dia pria yang sangat baik, sabar dan pengertian," ucap Aryana sambil tersenyum sambil memuji Om Fahmi.
Tak terasa mereka cukup asyik mengobrol sampai bel masuk berbunyi, Irfan dan Aryana segera bangkit dari duduknya, dan tak lupa ia membayar makanan mereka. Sebenarnya Aryana akan membayar makanannya sendiri tapi sudah terlanjur dibayar oleh Irfan.
"Kak Irfan makananku tadi habis berapa?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku mau menganti uang kakak."
"Hei, cuma bayarin semangkuk soto dan teh hangat aku nggak akan jatuh miskin meski aku tak sekaya dirimu."
"Maaf bukan begitu maksudku."
"Sudah tak apa-apa sesekali aku traktir anak sultan," ucap Irfan sambil tertawa.
Mereka berdua akhirnya segera berjalan agak cepat untuk segera memasukki ruang kelas mereka untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Sedangkan di perusahaan Pratama group yang ada di Bandung, Fahmi sedang berkutat dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Kali ini dia bantu asistennya yang bernama Joan, Fahmi memang lebih menyukai dan nyaman jika sekretaris atau asistennya adalah laki-laki.
"Jo, bagaimana revisi saluran Amdal untuk proyek hotel di kawasan dekat kebun teh itu?" tanya Fahmi.
"Sedang di kerjakan dan hampir selesai Pak jawab asisten Joan.
"Hemm, bagus, setelah selesai langsung berikan padaku, aku mau diskusikan dulu dengan tunanganku!" pinta Fahmi.
Mendengar penuturan Fahmi asisten Joan sedikit heran, mengapa urusan perusahaan harus di bahas dengan tunangan bosnya.
"Maaf, pak kalau boleh saya tahu kenapa bapak harus mendiskusikan masalah Amdal dengan tunangan bapak, bukannya Amdal punya tim sendiri?" tanya Joan.
"Kau tidak tahu Jo, gadisku ini sangat hebat, kau tanya kenapa aku mendiskusikan masalah Amdal hotel dengannya?, karena dialah yang justru menemukan kebocoran sistem Amdal yang dibuat tim kita untuk menangani proyek hotel itu, padahal gadisku masih SMA," ucap Fahmi dengan bangganya menceritakan kehebatan Aryana dalam mendesain sistem Amdal dan hal tersebut membuat asisten Joan melongo.
"Sehebat itukah gadis tunangan pak Fahmi," pikir Joan.
"Jo, Joan, Joan Agustin!" panggil Fahmi sampai beberapa kali karena sang asisten malah melamun.
"Eh, iya Pak, maaf," ucap Joan setelah tersadar dari lamunannya.
"Kamu ini diajak ngomong malah melamun, mikir apa sih?"
"Huh, ternyata itu yang dipikiranmu, tapi by the way gadisku ini memang mengagumkan, kapan-kapan akan aku kenalkan kamu dengannya, tapi awas jangan sampai kamu jatuh cinta padanya!"
"Pak Fahmi, mana berani saya begitu, saya masih sayang nyawa dan karir saya," ucap asisten Joan yang membuat Fahmi tersenyum.
"Ok, kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu, jangan lupa pesanku tadi ya!"
Setelah memenuhi panggilan sang bos, asisten Joan segera meninggalkan ruangan atasannya tersebut. Sedangkan di dalam ruangan tiba-tiba Fahmi merasakan rindu pada Aryana, ia langsung mendial nomor sang pujaan hati.
Fahmi
"Hallo, Assalamualaikum, Sayang!"
Aryana
"Waalaikumsalam, Om
Fahmi
"Sayang, kamu sedang apa?"
Aryana
"Ini sudah selesai jam pelajaran terakhir, istirahat lima belas menit terus lanjut jam tambahan untuk persiapan ujian akhir nanti, memang ada apa, Om?"
__ADS_1
Fahmi
"Nggak ada apa-apa, cuma kangen sama kamu aja."
Aryana
"Ih Om, lebay deh, tiap hari juga telpon aku."
Fahmi
"Tiap hari Om kangen, Sayang, pingin cepat halallin kamu, Oh ya nanti malam Om mau ke rumah kamu bisa kan, Yang?"
Aryana
"Tentu Om ku sayang, memang kapan aku larang Om main ke rumah, Om aja yang sekarang jarang ke rumah sampai-sampai aku mau dikenalin sama anak buahnya ayah di kesatuan," ucap Aryana menggoda Om kesayangannya.
Fahmi
"Jangan harap itu bisa terjadi!, aku akan membawamu kawin lari!" ucap Fahmi emosi membuat Aryana tersenyum diseberang telpon.
Aryana
"Habisnya akhir-akhir ini Om jarang ke rumah sih, jadi cinta Om masih dipertanyakan."
Fahmi
"Dasar ayahmu itu ya Yang, sepertinya nggak ikhlas merestui kita."
Aryana
"Makanya sesibuk apapun Om sempatkan main ke rumah biar ayah nggak nyari mantu cadangan," ucap Aryana masih memanas manasi Om kesayangannya yang sekarang sudah berstatus tunangannya.
Fahmi
"Tunggu aku nanti malam, Yang, tak akan aku biarkan ayahmu mencari calon mantu cadangan untukmu!"
Aryana
"Ok Om ki sayang, aku tunggu, muaach."
Fahmi
Ok, sayang hati-hati, I miss you, Assalamualaikum.
Aryana
"I am miss you too, Waalaikumsalam."
Setelah menutup panggilan telpon dari pujaan hatinya Aryana cekikikan sendiri, ia membayangkan wajah Om Fahminya yang pasti sudah tak enak dipandang. Entah kenapa setelah bertunangan dengan om kece kesayangannya, Aryana sangat senang jika menggoda om sekaligus berstatus tunangannya itu.
___________________________________________
Maaf ya readers nunggu up nya agak lama soalnya lagi banyak urusan di dunia nyata jadi sempat sruck ide buat melanjutkan nulis 🙏🙏🙏.
Please Like, Vote, Rate, Coment and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung...