Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.136


__ADS_3

Dinda memandang tangan putrinya dan Afwa saling tertaut seolah saling menguatkan satu sama lain. Ada rasa tak menentu yang ia rasakan, apakah ia harus mengalahkan egonya demi kebahagiaan putrinya. Dinda beranjak dari duduknya lalu menghampiri dimana Afwa dan putrinya duduk.


"Afwa, tante ingin bicara empat mata denganmu!" pinta Dinda dengan nada dingin.


"Iya, Tante," ucap Afwa namun Kirana menahan tangannya sambil menatap Afwa penuh arti. Afwa mengangguk sambil tersenyum pada Kirana seolah berkata semua akan baik-baik saja.


Dinda mengajak Afwa di taman rumah sakit, wajahnya masih terlihat datar masih seperti tadi, Dinda berusaha mengumpulkan semua keberanian untuk melepas egonya.


"Afwa, apa kau benar-benar mencintai Kirana?" tanya Dinda dingin.


"Tanpa akau jawab, Tante Dinda pasti tau sebesar apa cinta dan sayangku pada Kirana, meski Tante belum merestui hubunganku dengan Kirana tetapi saya tidak pernah meninggalkan Kirana karena kami yakin suatu saat Tante akan merestui kami. Kirana pernah bercerita bahwa sebenarnya ibunya adalah seorang istri dan ibu yang baik dan lemah lembut juga penyayang, maka dari itu ia bertahan dengan hubungan kami yang belum Tante restui," jawab Afwa menjelaskan panjang lebar tentang perasaan dan hubungannya dengan Kirana.


"Kau tahu jadi istri tentara itu tak mudah, apalagi ketika harus berjuang sendirian di saat-saat seorang istri butuh support dari suaminya. Tante tak ingin Kirana melewatkan moment-moment indah itu tanpa seorang suami di sisinya. Sebenarnya Tante berat untuk melakukan ini tetapi demi suami Tante, Tante merestui kalian, tapi ada syaratnya," ucap Dinda membuat Afwa bahagia, penantian selama ia masih kecil bersama Kiran akan segera jadi kenyataan namun ia masih tegang karena ada syarat yang harus ia penuhi.


"Apa syaratnya, Tante?


"Kemanapun kamu tugas, kamu harus membawa Kirana juga, kecuali jika kamu dikirim satgas ke luar negeri."


"Jika memungkinkan dengan senang hati saya pasti bawa Kirana Tante, tapi jika daerahnya rawan konflik saya takut justru membahayakan keselamatan Kirana, Tante tenang saja meski saya jauh dari Kiran nantinya saya akan selalu setia, apalagi mengingat penantian kami selama bertahun-tahun yang tak mudah."


"Baiklah, Tante pegang kata-katamu, aku akan selalu mengawasi kalian, sekali saja kau menyakiti Kirana apalagi mengkhianatinya, jangan harap kau bisa melihat Kirana lagi! sebuah ultimatum keluar dari mulut Dinda.


Mendengar perkataan Dinda, Afwa langsung meraih tangan kanan Dinda dan menciumnya sambil mengucapkan terima kasih.


"Saya janji tante, saya akan setia pada Kirana saya akan menjaganya dengan nyawa dan hidup saya seperti saya menjaga dan melindungi ibu pertiwi," janji Afwa pada Dinda.


Setelah berbicara empat mata Dinda dan Afwa kembali ke ruang tunggu dimana Raka di rawat, namun betapa terkejutnya Dinda dan Afwa mendapati Yudha dan Yasmin sudah di sana sedang berbincang dengan Kirana.


"Ayah!, Bunda!, kapan kapan kalian datang?" ucap Afwa kemudian menyalami dan mencium tangan kedua orang tuanya, ia juga memeluk mereka karena rindu lama tak bertemu meski sering berkirim kabar lewat telepon.


"Kami baru saja sampai," jawab Yasmin setelah mengurai pelukannya.


Setelah melepas kangen dengan sang putra Yasmin mendekat ke Dinda yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Dinda, apa kabar?, maaf baru bisa menemui kamu sekarang, di rumah sakit pula," ucap Yasmin lalu cipika cipiki dan memeluk sahabatnya itu.


"Alhamdulillah kabarku baik, Yas," jawab Dinda setelah melepas pelukannya.


"Bagaimana keadaan Raka?" tanya Yudha yang ternyata sudah ada di depan Dinda.


"Mas Raka dinyatakan koma setelah sempat mengigau menyebut nama Afwa dan Kirana."


"Kalau rumah sakit K ini tak bisa menangani Raka kau bisa pindahkan ke RSPAD di Jaksrta," usul Yudha.


"Atau minta bantuan adik ipar, Yah," seloroh Afwa yang ikut menimpali pembicaraan.


"Terima kasih atas tawarannya tapi aku tidak ingin menyusahkan orang lain, mas Raka tanggung jawabku sebagai istrinya," ucap Dinda menolak dengan halus usulan Yudha dan Afwa.


"Kau ini bicara apa, kau dan Raka juga anak-anakmu sudah kami anggap sebagai saudara sendiri, kalau butuh bantuan jangan sungkan," ucap Yasmin membuat hati Dinda makin terasa sesak karena menolak hubungan Afwa dan Kirana, meski baru hari ini ia memberikan restunya. Yasmin masih sahabatnya yang dulu, baik, lembut, rendah hati dan pemaaf, Yasmin sama sekali tidak membenci Dinda meski Dinda bersikap acuh pada Afwa karena tak menyetujui hubungan Kirana dengan Afwa.


"Lalu apa kata dokter tentang perkembangan Raka?" tanya Yudha.


"Kata dokter kita hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya dan dokter meminta Afwa dan Kirana sering mengajaknya bicara untuk memberi stimulus agar mas Raka bisa segera sadar, karena hanya nama Afwa dan Kirana yang di sebut mas Raka dalam igaunya sebelum akhirnya dinyatakan koma," jawab Dinda sendu.


"Setelah mendengar Raka menyebut nama Kirana dan Afwa, apa kamu masih tak merestui hubungan mereka?" tanya Yudha lagi, kali ini nada bicara Yudha terdengar dingin.


"Aku baru saja merestui mereka, mungkin aku harus menekan egoku."


"Syukurlah kau sudah merestui mereka, aku turut bahagia, aku janji akan memperlakukan Kirana seperti putriku sendiri, aku senang karena aku mengenal Kiran dari kecil, dia anak yang manis, cantik, penurut dan dia juga pintar masak kue dan snack seperti dirimu," ucap Yasmin sambil terkekeh.


Mendengar bahwa sang ibu sudah merestui hubungannya dan Afwa, Kirana langsung bagun dari duduknya dan berjalan menuju sang buda lalu memeluknya.


"Ibu, terima kasih sudah bersedia merestui aku dan kak Afwa," ucap Kirana sambil memeluk ibunya.


"Masalah hubungan Afwa dan Kirana sudah menemukan jawabannya, sekarang tinggal bagaimana caranya agar Raka cepat sadar dari komanya," ucap Yudha yang tampak berfikir keras agar sahabat seperjuangannya di militer itu segera sembuh.

__ADS_1


Afwa pamit ke toilet sebentar, namun diam-diam ia menghubungi adik iparnya si dokter pedofil.


Afwa


"Hallo Assalamualaikum, adik ipar!"


Fahmi


"Waalaikumsalam kakak ipar, ada apa tumben pak tentara sempat menelponku?"


Afwa


"Ck dasar kau, aku mau minta tolong cari tahu dokter terbaik di Singapura yang bisa membuat seseorang sadar dari koma!"


Deg


Mendengar permintaan Afwa jantung Fahmi serasa berhenti berdetak, siapa gerangan yang sakit sampai koma dan Afwa sendiri yang menelpon, semoga saja bukan diantara keluarga Yasmin atau Yudha, harap Fahmi.


Fahmi


"Hah!, siapa yang sakit sampai koma Afwa?"


Afwa


"Om Raka, calon ayah mertuaku."


Fahmi


"Raka suaminya Dinda?"


Afwa


"Iya, bisa bantu nggak?"


Fahmi


Afwa


"Om Raka kecelakaan lalu lintas, terjadi benturan di kepala, kata dokter begitu."


Fahmi


"Baiklah aku akan cari data dokternya dulu di rumah sakit ME Singapura."


Afwa


"Terima kasih adik ipar, bagaimana kabar adikku dan keempat keponakanku, mereka sehat kan?"


Fahmi


"Alhamdulillah mereka semua sehat, Aryana tubuhnya sedikit berisi setelah melahirkan, keponakanmu juga lucu-lucu."


Afwa


"Iya aku kangen mereka, sampaikan salamku buat mereka ya, Assalamualaikum."


Fahmi


"Oke, Waalaikumsalam."


Afwa mengakhiri panggilan telponnya dengan Fahmi setelah itu ia segera kembali ke ruang tunggu depan kamar HCU dimana Raka di rawat bergabung kembali dengan yang lain.


"Kalian langsung pulang atau menginap di Semarang?" tanya Dinda pada Yasmin dan Yudha.


"Kami menginap di hotel milik DW group, sekalian aku memantau bisnisku yang ada di sini," jawab Yudha.

__ADS_1


Yasmin berbincang dengan Dinda dan Kirana karena sudah lama tak bertemu, sedangkan Yudha berbincang dengan sang putra, Yudha lebih banyak memberi wejangan pada Afwa sebagai seorang ayah dan juga pengalamannya di dunia militer yang tak sebentar.


"Bagaimana pekerjaanmu, lancar?"


"Alhamdulillah, baik ayah."


"Apa rencanamu ke depannya?"


"Setelah om Raka sembuh, aku akan segera melamar Kirana dan lanjut ke pengajuan."


"Tapi bagaimana jika Raka tak kunjung sadar?, bisa berhari-hari, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, bagaimana jika Raka tak kunjung sadar hingga berbulan-bulan?"


"Aku sudah memikirkan semua kemungkinan buruk itu, Yah, maka dari itu tadi aku menelpon Fahmi untuk mencarikan dokter terbaik di Singapura."


"Kamu gercep juga," ucap Yudha sambil menepuk pundak sang putra.


Sedangkan di Singapura, Fahmi baru saja pulang ke rumah, seperti biasa ia di sambut empat batitanya yang lucu.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab Aryana dari dalam bersama ke empat anaknya.


"Pa..pa...!" panggil keempat anaknya dengan senyum yang sangat manis membuat semua rasa penatnya hilang.


"Oh jagoan dan princessnya papa," sambut Fahmi dengan ciuman gemas.


Mereka lalu duduk di ruang keluarga dan seperti biasa keempat anaknya berebut minta di pangku oleh sang papa membuat Fahmi kewalahan namun juga tersenyum bahagia.


"Eh minta pangku papa satu satu ya!" pinta Aryana namun tak di indahkan oleh anak-anaknya.


Akhirnya Fahmi memangku keempat anaknya dengan posisi di tengah Alya dan Alesya sedangkan Arnan dan Anser masin-masing di sebelah Alya dan Alesya. Aryana tak menyianyiakan sweet moment ini, ia mengambil video dan gambar saat para bocilnya berebut meminta pangku sang papa. Aryana lalu mengirimkannya ke orang tuannya dan mertuanya.


"Sayang, tadi kak Afwa menelpon kalau om Raka masuk rumah sakit dan sekarang koma," ucap Fahmi.


"Ya Allah, om Raka suaminya tante Dinda?" tanya Aryana memastikan.


"Ya iyalah, kalau Afwa yang menelpon yang pasti om Raka suaminya Dinda."


"Terus kak Afwa bilang apa lagi?"


"Dia minta tolong aku carikan dokter terbaik di Singapura yang bisa membuat orang koma cepat sadar."


"Ih kak Afwa kenapa requestnya gitu sih, mana ada dokter seperti itu, lalu kau mengiyakannya, Honey?"


"Ya aku iyain aja, lah besok aku ke rumah sakit ME mau cari info sama teman-teman dokter."


"Kasihan om Raka," lirih Aryana.


"Kamu ingin tengok om Raka?" tanya Fahmi.


"Memang boleh?"


"Boleh dong, kita berangkat setelah aku dapat info dari rumah sakit ME tentang dokter yang diminta Afwa."


"Makasih ya, Honey kamu memang yang terbaik," ucap Aryana lalu menghujani wajah sang suami dengan ciuman gemas. Keempat anaknya memandang adegan mama dan papanya dengan tatapan yang aneh.


________________________________________


I am back readers


Siapa kangen Fahmi and Aryana Family?


Please Like, Vote, Coment, Rate and Hadiah


Thank You

__ADS_1


__ADS_2