
Niko sudah berada di Singapura untuk menjalankan rencananya untuk bisa dekat dengan keluarga Fahmi. Ia masih menyimpan satu project untuk ia ajukan kerjasama dengan Pratama group. Kali ini projectnya adalah tentang pembuatan pusat bermain anak-anak yang bernuansa edukasi. Bukan tanpa alasan Niko membuat project ini, setelah ia tahu bahwa ia memiliki anak dari Pamela dan ia tak tahu keberadaan sang anak, ia memiliki ide membuat taman edukasi tersebut.
Niko sudah sampai di hotel tempat ia menginap ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, disaat seperti ini ia ingin sekali memeluk putrinya.
"Sayang, papa rindu kamu," batin Niko sambil memejamkan matanya dengan segala rasa sesak di dadanya.
Saking lelahnya akhirnya Niko terlelap di tempat tidur hotel, padahal rencananya begitu sampai di Singapura ia akan segera menemui Fahmi.
Fahmi sedang.duduk di kantornya, tepatnya du kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa berkas sambil membubuhkan tanda tangannya, sampai suara ketukan pintu membuat ia menghentikan aktivitasnya.
Tok-tok
"Ya masuk saja Kim!" pinta Fahmi yang sudah tahu siapa yang mengetuk pintu.
"Boleh saya masuk?"
"Masuklah!"
"Ada apa, Kim?"
"Tuan, lobby ada tuan Niko ingin bertemu dengan anda, tapi karena dalam jadwal anda tidak ada janji dengannya, maka tuan Niko tertahan di lobby, apa anda berkenan menerimanya?"
Mendengar penjelasan, Kim, Fahmi mengernyitkan dahinya, ia cukup heran sekaligus terkejut atas kedatangan Niko yang tiba-tiba tanpa membuat janji. Setelah sejenak berfikir akhirnya Fahmi meminta Kim mempersilahkan Niko menemuinya.
"Suruh tuan Niko ke ruangan saya, dan panggil office boy untuk membuatkan minuman dan camilan!" pinta Fahmi, yang cukup menghormati tamunya, meski dalam benaknya masih ada banyak tanda tanya besar kenapa Niko tiba-tiba datang ke kantornya.
"Baik, Tuan," ucap asisten Kim sambil sedikit menunduk kemudian keluar dari ruangan sang bos.
__ADS_1
Tak lama kemudian Niko sudah berada di ruangan ceo Pratama group, dan Fahmi menyambut ramah pengusaha yang pernah menjalin kerjasama dengannya.
"Tuan Fahmi, apa kabar?" ucap Niko sambil mengangsurkan tangan pada Fahmi.
"Alhamdulillah, kabar saya baik," jawab Fahmi sambil membalas uluran tangan Niko.
"Silahkan duduk Tuan Niko!" pinta Fahmi meminta Niko duduk di sofa mewah yang berada di ruangannya.
"Terima kasih," ucap Niko lalu mengambil tempat duduk di sofa yang posisinya bersebrangan dengan Fahmi.
"Ada angin apa yang membuat Tuan Niko berkunjung mendadak di tempat saya, sungguh suatu kehormatan," ucap Fahmi sambil mengulas senyum tipis.
"Saya minta maaf sebelumnya jika kedatangan saya mendadak, saya hanya ingin menyapa anda dan sedikit berbincang tentang projects baru saya."
"Project baru apa?"
"Memangnya project apa yang anda buat dan apa hubungannya dengan anak-anak saya?"
"Project saya itu adalah pembuatan wahana edukasi untuk bermain anak-anak dan saya berniat menjalin kerjasama dengan anda."
"Kalau begitu anda kirimkan saja proposalnya, saya akan pelajari dulu untuk pertimbangan bersedia atau tidak Pratama group menjalin kerjasama ini," pinta Fahmi sebagai tanggapan tentang tawaran Niko.
"Saya akan segera mengirimnya ke email anda, saya berharap sekali anda bersedia menerima penawaran ini."
Pembicaraan mereka terhenti saat office boy mengantarkan minuman dan camilan ke ke ruangan Fahmi.
"Tuan Niko mari silahkan di minum dan cicipi, ini adalah kue buatan istriku!"
__ADS_1
"Oh ya, saya tak akan melewatkan kesempatan mencicipi masakan nyonya Fahmi," ucap Niko lalu mengambil satu potong kue yang ada di atas piring saji.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fahmi yang juga ikut memakan kue buatan sang istri.
"Sangat enak dan manisnya pas," jawab Niko setelah selesai menghabiskan satu potong kue buatan Aryana.
"Kebetulan tadi pagi, istri saya agak senggang jadi ia mencoba resep baru yang di berikan kakak iparnya, dan ia membuat cukup banyak jadi ia membawakannya untuk di bawa ke kantor."
"Hidup anda sepertinya sangat bahagia, bahkan saya lihat tak pernah sedih," ucap Niko memuji keharmonisan rumah tangga ceo Pratama group.
"Alhamdulillah kami bahagia, dan akan selalu berusaha bahagia lahir dan batin, namun kebahagiaan yanh kami dapat sekarang bukanlah tanpa ujian yang membuat kami jatuh, bangun dalam meraihnya. Anda tak tahu saja Aryana adalah satu-satunya putri Tuan Yudha, ayah mertuaku, betapa ia dikelilingi oleh tiga lelaki tangguh, tuan Yudha, dan dua kakak kembarnya."
"Itulah hidup Tuan Fahmi, ada kalanya kita harus merasakan sakit dulu sebelum merasakan kebahagiaan," ujar Niko sambil tersenyum getir karena apa yang ia katakan sepertinya berbanding terbalik dengan hidupnya.
Dulu ia merasa sangat bahagia dengan apa yang dia miliki, sehingga ia bersikap seenaknya sampai kejadian naas itu merenggut sebagian kebahagiaannya. Sebrengsek apapun seorang laki-laki ia pasti menginginkan wanita yang baik untuk menjadi pendamping hidupnya, dan Niko.sudah kehilangan wanita baik-baik yang ia rengut kesuciannya secara paksa, menolak kehadiran janin yang menjadi darah dagingnya. Tuhan telah menghukumnya dengan sangat menyedihkan, sebagai anak tunggal ia di vonis tak bisa memiliki anak lagi karena kecelakaan yang ia alami.
"Makanya anda harus segera menikah agar juga bisa merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. Setelah berkutat dengan pekerjaan di kantor seharian, dan ketika pulang semua lelah itu terbayar ketika sampai di rumah ada bidadari dan empat malaikat kecil yang menyambut kepulanganku dengan senyuman yang menenangkan. Pelukan hangat mereka membuat semua rasa lelah yang saya rasakan hilang seketika."
Mendengar penuturan Fahmi, Niko hanya tersenyum samar, andai ia bisa ia juga ingin sekali merasakan indahnya hidup berumah tangga, apalagi setelah ia tahu bahwa ia masih memiliki seorang pewaris yang sangat cantik dan mengemaskan. Ingin sekali ia memeluk dan mencium putri angkat Fahmi yang di duga kuat adalah putrinya bersama mendiang Pamela.
"Saya mungkin tak akan seberuntung anda yang memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia. Aku laki-laki yang penuh dosa dan banyak kekurangan, tak akan ada wanita yang mau menikah denganku jika tahu siapa saya yang sebenarnya," ucap Niko dengan raut muka yang sulit diartikan.
"Anda jangan bercanda, siapa wanita yang tak ingin menikah dengan laki-laki sukses dan banyak uang seperti anda," ucap Fahmi sambil tersenyum merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar dari rekan kerjanya itu.
"Terserah anda menilai saya apa namun itulah kenyataannya, jangan dilihat dari covernya, itulah saya," ucap Niko sambil kembali memakan satu potong kue buatan nyonya Fahmi.
Pembicaraan bergulir begitu saja hingga satu jam, setelah itu Niko pamit pada Fahmi, namun sebelum itu ia mengundang Fahmi sekeluarga untuk makan malam dan Fahmi menerima undangan tersebut.
__ADS_1
_______________________________________