Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 36


__ADS_3

"Aryana!" panggil kakek yang mirip opanya itu.


Aryana menoleh pada asal suara, ia rasanya seperti melihat opa Dimas.


"Kakek siapa, kenapa wajah kakek seperti mirip dengan opaku?" tanya Aryana sambil matanya memindai kakek di hadapannya ini dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kau tidak mengenal kami, tetapi kami mengenalmu, Aryana," ucap nenek yang wajahnya seperti mirip dengan tantenya yaitu Mitha adik dari sang ayah.


"Nak kembalilah ini bukan tempatmu, belum saatnya kamu berada disini," ucap kakek yang mirip dengan opa Dimas.


"Tetapi aku suka disini, pemandangannya bagus, ada sungainya bersih, jernih dan ikannya banyak," ucap Aryana.


"Tidak Nak, kamu belum saatnya berada disini, banyak orang yang masih membutuhkanmu di sana!" pinta kakek itu.


"Kenapa kakek ingin sekali aku pergi dari sini, aku janji tidak akan menganggu kakek dan nenek, kita bisa berbagi tempat di sini, tempat ini kan sangat luas," ucap Aryana mencoba bernegosiasi.


"Tidak anak manis, Dewantara group sangat membutuhkanmu, karena di tanganmu lah Dewantara group akan mengalami puncak kejayaan, sebab diantara keturunan kami kaulah yang paling cerdas," ucap sang kakek.


"Siapa sebenarnya kalian, kenapa tahu tentang DW group dan wajah kalian sangat mirip dengan opa dan tanteku?" tanya Aryana.


"Kami adalah orang tua dari opamu, Sayang," ucap" nenek itu lembut.


"Berarti kalian kakek dan nenek buyut ku, kakek Dewantara?" tanya Aryana lagi yang dijawab anggukan dari kedua kakek dan nenek tersebut.


"Pulanglah, keluargamu dan calon suamimu sudah menunggumu," ucap kakek Dewantara.


"Memang siapa calon suamiku, aku sudah punya calon suami?" tanya Aryana heran.


"Sudah, Fahmi adalah calon suamimu, meskipun nanti akan banyak halangan dalam hubungan kalian tapi tak seorangpun bisa memisahkan kalian, berbahagialah cicitku, mereka semua membutuhkanmu terutama Dewantara group, jangan khawatir, Fahmi akan membantumu, cintanya tulus padamu, jangan ragukan itu," ucap kakek Dewantara.


"Pulanglah!, kami harus pergi, kami menyayangi kalian," ucap kakek Dewantara, lalu tiba-tiba kakek dan nenek Dewantara menjauh dan menghilang.


Aryana berteriak memanggil kakek dan nenek buyutnya namun nihil, keduanya tidak terlihat lagi, kemudian terlihat sebuah cahaya yang bersinar terang mendekat padanya dan tiba-tiba cahaya terang itu menyedot tubuh Aryana masuk ke dalamnya.


Di ruang operasi Yudha sepertinya kewalahan membujuk Fahmi agar beranjak dari sisi putrinya. Disaat Yudha berusaha menarik Fahmi keluar tiba-tiba monitor holter yang terhubung dengan tubuh Aryana berbunyi dan memperlihatkan sinyal bahwa masih ada detak jantung, padahal monitor tadi sudah menunjukkan garis lurus yang artinya pasien sudah tidak bernyawa lagi. Fahmi langsung melihat ke layar monitor, matanya membulat, dia langsung berusaha melepas tangan Yudha yang mencekal nya. Setelah berhasil melepaskan diri dari Yudha, Fahmi menghambur ke sisi Aryana, ia langsung memeriksa Aryana, dan betapa bahagianya Fahmi mendapati detak jantung Aryana telah kembali. Fahmi langsung memeluk tubuh Aryana yang masih terbaring tak berdaya.


'Alhamdulillah, terima kasih, Sayang, kamu mau kembali, Om janji nggak akan ninggalin kamu lagi," ucap Fahmi lalu menghujani wajah Aryana dengan ciuman membuat Yudha langsung menarik Fahmi dari sisi putrinya.

__ADS_1


"Menyingkir dari tubuh putriku, kalian belum halal, main cium-cium seenaknya!" perintah Yudha sambil berusaha menyingkirkan tubuh Fahmi dari sisi Aryana.


Tim dokter segera mendekat ke tubuh Aryana begitu mendengar teriakan Fahmi, ketua tim dokter memeriksa Aryana dan benar apa kata Fahmi, detak jantung pasien telah kembali setelah tadi sempat menghilang.


'Sungguh ini keajaiban, dokter Fahmi, pak Yudha dengan segala hormat mohon anda berdua keluar dulu, biar kami yang menangani nona Aryana!" pinta ketua tim dokter yang mengoperasi Aryana.


"Baik dokter, maaf, kami telah membuat keributan," ucap Yudha lalu menarik Fahmi agar mau meninggalkan ruang operasi yang sudah dibuat kacau olehnya.


Akhirnya Yudha berhasil menarik Fahmi keluar dari ruang operasi, saat sudah sampai di luar ruangan, Yudha dan Fahmi cukup kaget karena sudah banyak orang di sana. Papa mama Yudha, Dika, Andre dan Humaira, bunda Ratna, ayah Danu, semua berkumpul di ruang tunggu rumah sakit. Begitu melihat Yudha dan Fahmi keluar dari ruang operasi, Yasmin langsung menghampiri sang suami.


"Ayah, bagaimana Aryana, kapan kita bisa membawa jenazahnya pulang?" tanya Yasmin sambil terisak.


"Kita tidak akan membawa jenazah Aryana pulang," jawab Yudha membuat Yasmin dan yang lain terkejut.


"Apa maksud ayah?" tanya Yasmin bingung.


"Aryanaku masih hidup," sahut Fahmi yang membuat semua orang berteriak kaget.


"Apa!" pekik semua semua orang yang ada disitu.


"Sayang, apa yang dikatakan Fahmi benar, Aryana kita masih hidup, tadi tiba-tiba monitor perekam jantungnya menyala menandakan jantung Aryana kembali berdetak," ujar Yudha menjelaskan.


"Lalu sekarang, bagaimana keadaan Aryana?" tanya Yasmin.


"Sedang ditangani tim dokter," jawab Yudha.


"Syukurlah," ucap semua anggota keluarga yang ikut menunggu disitu.


Papa Dimas mendekati Yudha, ia ingin mengajaknya menyingkir sebentar karena ada sesuatu yang ingin papa Dimas bicarakan dengan Yudha mengenai insiden tertusuk nya Aryana yang melibatkan nyonya Miranda Pratama.


"Yud, papa mau bicara empat mata dengan mu sebentar!" pinta papa Dimas.


"Baik, kita ke kursi sana saja," ucap Yudha sambil menunjuk deretan kursi tunggu yang masih kosong.


"Yud sebenarnya apa yang terjadi kenapa sampai nyonya Miranda Pratama berada di TKP?" tanya papanya.


"Aku belum tau detailnya, namun secara garis besar Aryana tak sengaja lewat di jalan dimana nyonya Miranda mengalami tindak kejahatan lalu Aryana tiba-tiba menolong nyonya Miranda dan akhirnya tertusuk oleh penjahat itu, motif penjahat itu apa dan mengapa menyerang nyonya Miranda masih dalam tahap penyelidikan," jawab Yudha.

__ADS_1


"Papa seperti merasa satu peristiwa telah terjadi sebelum insiden penusukan itu terjadi pada nyonya Miranda," ucap sang papa.


"Maksud papa?"


"Tadi Afwi bilang, bahwa teman sekolah Aryana ada yang melihat Aryana di datangi sebuah mobil mewah, lalu seorang laki-laki keluar dari mobil menyuruh Aryana masuk ke dalam mobil orang tersebut. Teman Aryana sempat memfoto nomor polisi mobil tersebut dan memberikan foto itu pada Afwi, dan ternyata mobil tersebut milik keluarga Pratama. Jadi menurut analisa papa sebelum insiden tersebut terjadi, Aryana dan nyonya Miranda sempat bertemu sebelumnya," ujar papa Dimas.


"Apa yang papa bilang ada benarnya, karena beberapa hari sebelumnya aku menyelidiki tentang nyonya Miranda Pratama tentang masalah hubungan Fahmi dan Aryana. Nyonya Miranda tidak menyetujui hubungan Fahmi dan Aryana karena penyakit kelainan jantung Aryana membuat nyonya Miranda khawatir Aryana tak bisa memberikan keturunan pada keluarga Pratama, keluarga Pratama juga sudah menjodohkan beberapa orang wanita dengan Fahmi namun Fahmi menolak semua wanita itu. Setelah aku selidiki semua wanita yang sodorkan keluarga Pratama pada Fahmi tidak ada satu pun ada yang benar, mereka semua wanita ular, meskipun berasal dari keluarga yang terpandang dan berkelas tak menjamin mereka punya kepribadian dan akhlak yang baik," ucap Yudha.


"Hemm, jadi berita yang kudengar benar bahwa cucuku Aryana ada hubungan spesial dengan dokter Fahmi Arya Pratama," ucap papa Dimas.


"Iya, dan aku juga baru mengetahuinya akhir-akhir ini, meskipun sudah beberapa tahun yang lalu aku merasa ada yang aneh atas sikap Fahmi pada Aryana yang aku angap berlebihan," ucap Yudha.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri, apa kau menyetujui hubungan mereka?" tanya papanya.


"Mulanya aku marah waktu mengetahuinya, mengingat dulu Fahmi punya perasaan khusus dengan Yasmin, aku takut perasaanya pada Aryana hanya obesesi karena ia dulu tak berhasil mendapatkan Yasmin maka Aryana yang jadi pelampiasannya. Namun Yasmin memberi pengertian padaku bahwa perasaan Fahmi tulus pada Aryana. Sebelum aku memberi restuku pada mereka, aku menyelidiki tentang tuan dan nyonya Pratama," ujar Yudha.


"Baiklah nanti papa akan bantu cari tahu apa benar nyonya Miranda yang menemui Aryana sebelum insiden tersebut terjadi, kamu fokus pada kesembuhan Aryana saja.


Setelah berbincang papa Dimas dan Yudha kembali ke ruang tunggu operasi, tak lama kemudian Aryana sudah keluar dari ruang operasi akan di pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih intensif. Di balik ruang kaca Fahmi dan keluarga Yudha menatap sendu tubuh Aryana yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat media yang terpasang di tubuhnya. Pemandangan itu sudah biasa bagi Fahmi karena dia seorang dokter, namun ketika yang terbaring lemah itu adalah gadis yang ia cintai rasanya tubuhnya juga ikut sakit.


Sedangkan di sebuah mansion seorang pria paruh baya sedang terlihat marah pada seorang wanita paruh baya yang berstatus istrinya.


"Apa yang mami lakukan pada Aryana, hah!" tanya pria paruh baya itu dengan nada tinggi, ya pria paruh baya itu adalah tuan Pratama papi dari Fahmi.


"Mami hanya mengajaknya minum teh," jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah nyonya Miranda.


"Minum teh katamu?, aku tidak percaya, mami pasti sudah mengatakan hal yang bukan-bukan pada gadis tak berdosa itu. Ingat ya Mi kalau sampai keluarga Dewantara dan Fahmi tahu apa yang sudah mami lakukan pada Aryana, papi tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong mami!" ucap tuan Pratama kemudian pergi begitu saja meninggalkan sang istri.


_________________________________________


Tuh dah Aryana dah balik kan


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2