Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 78


__ADS_3

Pukul dua siang waktu Singapura Aryana sampai di rumah besar, ia langsung bergegas menuju kamar dan membersihkan diri kemudian melaksanakan shalat dzuhur. Setelah melaksanakan kewajibannya, Aryana merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, saking lelahnya ia melupakan makan siangnya. Bibi Mey sudah mengetuk pintu kamar Aryana namun tak ada jawaban dari nyonya mudanya itu. Akhirnya bibi Mey menghubungi tuannya karena takut terjadi apa-apa pada nyonya mudanya.


Fahmi


"Hallo, bibi Mey ada apa?"


Bibi Mey


"Tuan, nyonya Aryana, jam dua baru pulang, saya akan memberi tahunya mengingatkan untuk makan siang, tapi saya ketuk pintunya berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam kamar, saya khawatir dengan nyonya tuan."


Fahmi


"Baiklah, aku akan mencoba menelponnya, terima kasih sudah memberi tahu."


Bibi Mey


"Sama-sama Tuan."


Fahmi langsung memutuskan sambungan telponnya. Ia langsung mendial nomor istrinya, Aryana yang sedang tidur terusik karena telpon yang ia taruh di nakas selalu berdering, dengan mata berat ia berusaha membuka matanya, ia berusaha meraih ponsel yang ada di atas nakas.


"Siapa sih nelpon terus," gumam Aryana malas sambil meraih ponselnya di atasnya.


"Hallo, Assalamualaikum," ucap Aryana dengan malas.


"Waalaikumsalam, Sayang," ucap Fahmi.


"Honey, ada apa meneleponku?" tanya Aryana dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sayang, kamu baru bangun tidur?" tanya Fahmi


"Iya, honey aku jam dua baru pulang, aku ngantuk terus tidur," jawab Aryana.


"Sudah makan siang belum?"


"Belum, Honey, aku ketiduran."


"Kalau begitu, segera bangun dan makan, aku nggak mau kamu sakit, Sayang!" pinta Fahmi.


"Iya, Honey aku akan segera turun untuk makan siang," ucap Aryana.


"Good, My wife, I love you," ucap Fahmi.


"I love you too, Honey," balas Aryana sambil tersenyum dari seberang telpon.


Aryana kemudian bergegas bangun, ia mencuci muka lalu keluar kamar menuju ruang makan, sana terlihat bibi Mey sedang membereskan meja makan.


"Bibi Mey, aku mau makan," ucap Aryana.

__ADS_1


"Baik nyonya saya panaskan dulu sebentar," ucap bibi Mey segera memanaskn sup iga sapi. Fahmi memang mengatur menu makan sang istri dengan makanan yang bergizi dan megandung asam folat agar junior kecil bisa segera hadir di rahim istri kecilnya.


Selesai menghangatkan sup iga sapi, bibi Mey segera membawanya ke ruang makan.


"Ini nyonya silahkan, jika nyonya mau tambah lagi sup nya masih ada, nanti saya ambilkan," ucap bibi Mey.


"Iya bibi Mey, terima kasih, aku makan ini saja dulu, jika aku ingin nambah lagi aku bisa ambil sendiri," ucap Aryana.


Selesai makan, Aryana menuju ruang perpustakaan kecil di lantai bawah, bersebelahan dengan taman belakang, perpustakaan yang dindingnya menghadap ke taman di beri beberapa jendela yang terbuat dari kaca, agar memberikan nuansa alam tersendiri. Di dalam perpustakaan tersebut Fahmi sudah menyiapkan semua buku-buku yang diperlukan Aryana yaitu buku-buku kedokteran dan buku manajemen bisnis juga dilengkapi satu unit komputer keluaran terbaru perusahaan Hi-Tech yang cukup terkenal yang berpusat di negara J yang juga menjalin kerjasama dengan Pratama group. Tak lupa


jaringan internet dengan kualitas nomor satu. Jangan tanyakan berapa us dollar Fahmi mengeluarkan budget untuk menunjang masa depan istri tercintanya.


"Masyaallah, honey, ini lengkap sekali," ucap Aryana kagum pada perpustakaan yang dibuat untuknya.


Aryana kemudian melihat jenis buku apa saja yang di sediakan sang suami di perpustakaan tersebut. Ternyata setiap rak sudah di beri tulisan jenis buku sehingga memudahkan Aryana jika akan mencari buku. Aryana mengambil satu buah buku kedokteran berbahasa bahasa Inggris. Ia menikmati buku yang ia baca hingga hampir pukul empat sore.


"Ya Allah, ternyata sudah jam empat sore, aku belum shalat ashar," gumam Aryana, kemudian ia pun keluar dari perpustakaan untuk menuju ke kamar menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Setelah melaksanakan kewajibannya Aryana kembali ke perpustakaan membaca buku sampai pukul lima sore. Ia pun menyudahi kegiatannya membacanya. Aryana memutuskan untuk mandi agar ketika suaminya datang ia terlihat segar. Namun sampai masuk waktu magrib sang suami tak kunjung datang, ia ingin menelpon tapi takut mengaggu pekerjaan suaminya, meginggat hampir dua minggu suaminya tak masuk kantor.


"Sudah mau magrib kok Honey belum pulang ya, apa aku telpon saja ya, ah tapi aku takut menganggu, tak usah saja lah, nanti aku di kira istri posesif dan ke kanak-kanakan," batin Aryana bermonolog.


Akhirnya Aryana melaksanakan shalat magrib sendirian, setelah shalat magrib Aryana membaca kitab suci, itulah kegiatannya seusai shalat magrib, karena waktu sudah memasuki waktu isya, Aryana langsung sekalian melaksanakan shalat isya. Sampai jam menunjukkan pukul delapan malam suaminya belum juga pulang. Makan malam yang di siapkan bibi Mey pun tidak ia sentuh.


"Tahu begini, lebih baik aku tinggal di Indonesia saja, kuliah di kota Yogya atau Solo, kalau aku kesepian, aku ingin pulang ke rumah bunda, rumah kakek 'kan dekat," gerutu Aryana dalam hati, tak terasa bulir bening menetes dari bola matanya.


Bersamaan dengan itu pintu kamarnya di buka oleh seseorang namun saking sedihnya Aryana tak menyadari kedatangan orang tersebut. Fahmi yang meihat bahu Aryana terguncang karena menangis menjadi terkejut.


"Sayang, kau menangis?" tanya Fahmi sambil memegang pundak Aryana.


Merasa ada yang menyentuh pundaknya, Aryana buru-buru menyeka air matanya.


"Eh, Honey sudah pulang, ucap Aryana dengan menampakkan senyum manisnya, berusaha menutupi rasa sedihnya tapi sayang suami bucinnya itu bukan orang yang bisa di bohongi.


"Jangan bohong!, kenapa menangis hem?" tanya Fahmi sambil menyeka sisa air mata di wajah istri kecilnya.


Aryana yang mendapat pertanyaan suaminya hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Sayang, ayo jawab kenapa menangis?" desak Fahmi.


"Aku tidak apa-apa, Honey, hanya tadi tiba-tiba saja kangen bunda dan ayah," jawab Aryana yang tidak sepenuhnya bohong.


"Sungguh, hanya itu saja tak ada alasan lain?" tanya Fahmi menyelidik, ia yakin bahwa tak hanya hal itu yang membuat istri kecilnya menanggis.


Fahmi lalu menarik tubuh Aryana ke dalam pelukannya, rasa bersalah menyeruak ke dalam hatinya, seharusnya gadis seusia istrinya masih menikmati kebebasan di luar sana namun Aryana dengan tulus menerima pinangannya menjadi istrinya dan sekarang istri kecilnya harus jauh dari keluarganya untuk menemaninya.


"Maafkan aku, Sayang," lirih Fahmi namun masih terdengar di telinga Aryana.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf, Honey?" tanya Aryana yang masih mendengar suara suaminya yang masih memeluknya penuh sayang.


Fahmi mengurai pelukannya, menatap wajah cantik dan imut istrinya, ia mencium kedua kelopak mata sang istri yang baru saja menanggis.


"Sayang, ayo katakan apa yang kamu rasakan, hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini," ucap Fahmi sambil membelai wajah istrinya.


"A-aku, me-merasa kesepian, dari sore aku menunggu kamu tapi tidak pulang-pulang, aku ingin menelponmu ta-tapi aku takut menganggu," jawab Aryana dengan sedikit terbata.


"Maafkan aku, Sayang hari ini banyak sekali berkas yang harus aku periksa karena sudah dua minggu lebih aku tidak ke perusahaan, aku harap kamu mengerti, jangan pernah berfikir yang bukan-bukan tentangku, Sayang. Aku hanya berdua dengan Juan. Sejak dulu aku menolak sekretaris atau asisten perempuan, tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan," ucap Fahmi memberikan pengertian pada istri kecilnya.


"Aku juga minta maaf, aku belum bisa istri yang baik untukmu, Honey, aku kekanak-kanakan," ucap Aryana dengan terisak, membuat Fahmi meraih kepala Aryana agar bersandar di dadanya, Fahmi mencium pucuk kepala Aryana, sungguh ialah yang bersalah dalam hal ini, ia telah membuat Aryana menjadi dewasa sebelum waktunya karena harus menyandang status seorang istri untuknya di usia yang masih belia.


"Kamu tidak salah, Sayang, aku yang salah, aku yang membuatmu kehilangan masa remajamu, aku yang memaksamu menikah denganku di usia muda, usia dimana kamu masih bisa bersenang-senang dengan teman-teman sebayamu, bermanja -manja dengan kedua orang tuamu, tapi kau begitu berbesar hati mau menikah denganku, berpisah dari orang tuamu, jangan pernah menyahkan diri sendiri, Sayang. Jika ada yang ingin kamu katakan padaku katakan saja, kau mau menelponku sebanyak yang kau mau telpon saja aku tidak keberatan, aku akan dengan senang hati menerimanya dan kalau kau bosan, dari kampus kamu boleh langsung ke perusahaan menemuiku," ucap Fahmi sambil membelai kepala istri kecilnya penuh sayang.


"Terima kasih, kamu sudah sangat mengerti aku, Honey," ucap Aryana sambil melepaskan sandarannya dari dada bidang suaminya yang hangat, wangi maskulin yang bercampur keringat sang suami membuat Aryana merasa tenang.


"Sama-sama, Sayang, sekarang, aku mandi dulu ya, lalu kita makan bersama, dari tadi kamu belum makan 'kan?" ucap Fahmi.


"Kenapa kamu bisa tahu, Honey kalau aku belum makan?" tanya Aryana.


"Tentu saja aku tahu, apa kau pikir aku akan membiarkanmu di rumah dan di luar rumah tanpa pengawasan," jawab Fahmi.


"Jadi aku di mata-matai nih ceritanya?"


"Of course, yang ku nikahi ini bukan wanita biasa tapi putri kesanyangan dari seorang perwira anggota pasukan khusus, dan aku yakin ayahmu yang super posesif itu tak akan membiarkan putri kesayangannya jauh darinya tanpa pengawasan."


"Jadi ayah juga mengawasiku dimanapun aku berada, meski aku sudah menikah denganmu?"


"Menurutku begitu, dan semoga dugaanku ini salah."


"Ayah, kenapa sih masih begitu," ucap Aryana menggerutu.


"Jangan salahkan ayahmu, ini baru dugaanku, kalaupun benar, berarti aku harus benar-benar baik-baik menjagamu, ayahmu belum benar-benar percaya padaku, tapi tak apa, akan aku buktikan kaulah satu-satunya dalam hidup dan cintaku," ucap Fahmi sambil mencium kening Artyana kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk memberaihkan diri.


Sedangkan Aryana hanya terdiam setelah mendengar penuturan suaminya, jika benar dugaan suaminya, sungguh ia tak habis pikir dengan sikap ayahnya yang berlebihan.


"Sampai kapan ayah tak mempercayai om Fahmi, ya Allah tolong bukalah pintu hati ayahku untuk percaya pada suamiku," batin Aryana penuh tanya namun juga harapan.


__________________________________________


Bagaimana ya readers kalau dibuatkan perpustakaan ala om dokter Fahmi, seneng nggak?


Maaf juga baru up lagi agak nggak enak badan mau lanjut nulis dari tadi siang tapi kalah sama mata.


Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2