
Enam bulan berlalu, Aryana dan Afwi kini sudah naik ke kelas dua belas, dan Azka naik ke kelas dua SMP. Mereka menjalani hari-hari mereka dengan ceria, ternyata hidup di daerah pedesaan cukup menyenangkan, udaranya bersih, tidak begitu bising dengan kendaraan. Aryana juga sangat menikmati hari-harinya meski dalam relung hatinya dia sangat merindukan Om Fahminya.
Sedangkan di tempat lain, Fahmi sedang berkutat dengan berkas-berkas di perusahaan, setelah Aryana menghilang, Fahmi memutuskan untuk tidak bekerja sebagai dokter di rumah sakit ME di Singapura, Fahmi memilih menetap di Indonesia, mengelola perusahaan Pratama group yang di Indonesia juga rumah sakit Permata miliknya.
Namun Fahmi yang sekarang dengan Fahmi yang dulu, ia sangat berbeda. Dulu Fahmi adalah pribadi yang ramah namun semenjak Aryana menghilang bersama semua anggota keluarganya Fahmi menjadi pribadi yang dingin, pendiam dan pemarah. Hal itu membuat tuan Pratama dan nyonya Miranda semakin merasa bersalah, andai waktu bisa diputar, mereka akan merestui hubungan Fahmi dan Aryana.
"Fahmi, sampai kapan kamu seperti ini, paling tidak kasihani dirimu sendiri, kalau Aryana tahu kau seperti ini dia tidak akan suka," ucap tuan Pratama pada Fahmi.
"Aku tahu bagaimana menjaga diriku sendiri, papi tidak usah mengkhawatirkan diriku," ucap Fahmi datar.
"Kalau kamu butuh bantuan papi untuk menemukan Aryana Ayah akan membantumu," tawar tuan Pratama.
"Tidak, terima kasih," balas Fahmi datar.
"Baiklah, kalau begitu papi pergi dulu, jaga kesehatan, papi berjanji padamu Nak, kalau Aryana sudah di temukan papi akan langsung menikahkan kalian," ucap tuan Fahmi kemudian segera keluar dari ruang kerja Fahmi di Pratama group.
Sedangkan di tempat lain, Aryana duduk di bangku taman, dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan Om Fahmi kesayangannya, tak terasa bulir bening keluar dari matanya. Tiba-tiba ada sebuah tangan menyodorkan sapu tangan di depan wajahnya, yang membuat Aryana otomatis mendongakkan wajahnya.
"Irfan," lirih Aryana
"Gadis cantik sepertimu, tidak pantas menangis, nanti cantiknya hilang," ucap Irfan, teman sekelas Aryana.
"Bukan urusanmu," ucap Aryana datar.
"Memang bukan urusanku tapi, aku tidak tega melihatmu menangis," ucap Irfan. Lalu ia duduk disebelah Aryana.
"Kenapa kamu disini?" pergilah!" pinta Aryana.
"Apa sebegitu tidak sukanya kamu padaku, sampai kamu mengusirku?" tanya Irfan.
"Aku hanya ingin sendiri, jadi jangan ganggu aku!" ucap Aryana yang kemudian berdiri meninggalkan Irfan yang masih terduduk di bangku taman.
"Gadis yang menarik," gumamnya dalam hati.
Aryana berjalan menuju kelasnya dengan muka ditekuk, ia kesal dengan kehadiran Irfan yang tiba-tiba di depannya. Entah kenap ia merasa tak nyaman dengan temannya Irfan itu. Irfan adalah ketua OSIS di sekolah baru mereka. Selain pintar dengan program-program OSIS nya, Irfan juga cukup tampan, banyak siswa cewek yang berusaha mendekatinya dan berharap bisa menjadi pacar Irfan namun tak satupun yang di tanggapi oleh Irfan. Tapi sejak kehadiran Aryana di sekolahnya Irfan berbeda, ia sangat tertarik dengan hal apapun yang berkaitan dengan Aryana, namun Irfan hanya tahu Aryana adalah anak dari seorang tentara, tidak ada satupun di sekolah itu termasuk kepala sekolah siapa sebenarnya Aryana Maira Yudhatama. Aryana dan Afwi juga tak keberatan dengan status mereka yang hanya dikenal sebagai anak seorang tentara biasa, mereka lebih nyaman dengan status itu.
Waktu terus bergulir, jam pulang pun tiba, seperti biasa Aryana membonceng motor Afwi, pada saat melewati sebuah kedai kopi, Afwi menghentikan mobilnya.
"Lho Kak, kok berhenti disini?" tanya Aryana.
"Kita berhenti dulu disini sebentar, kakak haus," jawab Afwi.
__ADS_1
Kemudian Afwa dan Aryana turun dari motor dan berjalan menuju kedai kopi.
"Es teh tawar satu buk!" pinta Afwi pada pemilik kedai.
"Baik mas," jawab pemilik kedai.
"Kamu mau minum apa dek?" tanya Aryana.
"Air mineral saja, Kak," jawab Aryana.
"Dek, apa tadi si Irfan, mendekati kamu?" tanya Afwi.
"Iya, tapi cuma nyapa aja, kok," jawab Aryana.
"Syukurlah," ucap Afwi membuat Aryana mengernyitkan dahinya.
"Kenapa memang, kenapa kakak bilang syukurlah?" tanya Aryana heran.
"Nggak apa-apa, Irfan banyak yang naksir, kakak cuma takut fans garis kerasnya ada yang nggak terima dan nyakitin kamu," jawab Aryana.
"Kakak tahu dari mana Irfan punya banyak fans garis keras?" tanya Aryana.
"Kamu nggak perlu tahu, yang penting jangan terlalu dekat dengan dia, ingat ada seseorang yang selalu menjaga hatinya untukmu," ucap Afwi.
"Iya, selamanya hati ini miliknya," ucap Aryana.
"Kamu tenang saja, ayah pasti sudah mengirimkan orang-orangnya untuk memantau om kesayanganmu itu, setulus dan sejauh apa om kesayanganmu. Dari kabar yang aku dengar dari mata-mata ayah, Om Fahmi sudah menetap di Indonesia, dia sudah tidak menjadi dokter di Singapura lagi sejak kamu menghilang," ujar Afwi.
Mendengar hal itu, ada rasa sesak di hati Aryana, ia ingin sekali memberitahukan dimana dirinya tapi ia takut sang ayah marah, lagipula ponselnya sudah diganti sang ayah beserta kartu yang baru jadi tidak ada kontak om Fahminya di sana.
"Yuk pulang!" ajak Afwi
Aryana langsung memposisikan dirinya membonceng sang kakak, Afwi segera melajukan motornya untuk pulang ke rumah.
Sampai di rumah, Aryana dan Afwi sudah disambut sang bunda, sedangkan Azka sudah pulang dari tadi dijemput pak Toto.
"Assalamualaikum," ucap Afwi dan Aryana bersamaan.
"Waalaikumsalam, balas sang bunda.
"Kalian kok baru pulang sih, telat setengah jam lho," ucap Yasmin.
__ADS_1
"Tadi kak Afwi ditengah jalan haus terus mampir ke kedai kopi untuk minum bund," ujar Aryana.
"Ya, sudah sekarang kalian ganti baju shalat lalu makan siang, sudah bunda siapin di meja makan!" suruh Yasmin.
Afwi dan Aryana bergegas masuk ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian dan shalat, setelah menyelesaikan kewajibannya mereka segara ke meja makan, di sana sudah ada Azka dan sang bunda.
"Ana gimana sekolahmu hari ini?" tanya Yasmin.
"Alhamdulillah, baik, Bund," jawab Aryana.
"Ayah kapan pulang kesini," tanya Azka.
"Mungkin Sabtu besok," jawab Yasmin.
Yasmin dan anak-anaknya di Bandung, sedangkan Yudha masih bekerja di kesatuannya yang lama yang ada di kota S. Entah bagaimana Yudha bisa pergi ke Bandung tanpa diketahui oleh siapapun, sehingga sampai detik ini tidak ada yang tahu dimana Yudha menyembunyikan anak dan istrinya.
Di Pratama group, Fahmi tampak berdiri depan jendela kaca besar, pandanganya lurus ke depan menembus jendela kaca kantornya dari lantai lima tujuh belas, sesekali dia membenarkan letak kaca matanya.
"Aryana, apa aku harus menyerah denganmu, aku sudah menunggu tujuh belas tahun apa hanya akan berakhir begini," gumamnya dalam hati.
Tak lama ponselnya berdering, terdengar suara seorang laki-laki dari seberang telepon.
"Hallo, boss, pembagunan hotel kita yang ada di kawasan kebun teh di Bandung ada sedikit masalah, apa boss bisa datang kemari," tanya orang diseberang telpon.
"Baiklah, besok aku akan kesana besok," jawab Fahmi
"Baik, kami tunggu kedatangan anda," jawab orang diseberang telpon.
Setelah menerima telpon, Fahmi menghembuskan nafas kasar, "Sekalian saja aku refreshing."
Fahmi lalu mendial nomor Evan untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Bandung, sebenarnya jika ada masalah seperti ini cukup Evan atau koordinator lapangan kepercayaannya yang menyelesaikan, tapi entah kenapa, dia sangat ingin ke Bandung hanya untuk menyelesaikan masalah kecil di perusahaannya.
__________________________________________
Apa nanti Fahmi akan ketemu Aryana?
Maaf baru bisa up karena banyaknya kegiatan di dunia nyata, dan maaf jika cuma sedikit.
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung...