
Sampai di rumah Aryana, Fahmi cukup terkejut, karena pintu gerbang rumah digembok dari luar yang berarti tak ada satupun manusia di dalamnya. Fahmi ingin bertanya mengenai penghuni rumah Aryana namun ia tak tahu siapa yang harus ia tanyai. Fahmi menelpon Yudha, Yasmin dan siapapun yang masih ada hubungan keluarga dengan Yasmin dan Yudha namun mereka tidak ada satupun yang bisa memberi informasi tentang Aryana. Fahmi tak putus harapan, ia mendatangi perusahaan DW group untuk menemui papa Dimas. Sampai di DW group ia langsung menemui papa Dimas yang kebetulan baru selesai meeting dengan beberapa manajer.
Tok tok
"Permisi pak!" ucap Fania sekretaris papa Dimas.
"Ada apa Nia?"
"Itu di luar ada pak Fahmi dari Pratama group."
"Persilahkan dia masuk, Nia!" pinta pak Dimas.
Fahmi kemudian masuk ke dalam ruangan papa Dimas, setelah masuk ke ruangan Fahmi langsung berlutut di depan papa Dimas.
"Pa, aku mohon beritahu aku dimana Aryana, aku mohon Pa, jangan pisahkan kami, aku mencintai cucu perempuan Papa, aku nggak bisa hidup tanpa dia," ucap Fahmi memohon sambil terisak berlutut di kaki papa Dimas.
"Fahmi, jangan begini, ayo bangun Nak!" pinta papa Dimas sambil memegang kedua lengan Fahmi untuk menyuruhnya berdiri.
Fahmi kemudian berdiri dan langsung memeluk papa Dimas, papa Dimas mengelus punggung Fahmi untuk memberi ketenangan pada laki-laki yang sudah ia anggap anaknya sendiri.
"Ayo duduk dulu, tenangkan dirimu!" pinta papa Dimas mengajak Fahmi duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
"Pa, katakan padaku kemana Yudha membawa Aryana!" pinta Fahmi memohon.
"Papa nggak tahu kemana Yudha membawa Aryana, tapi percayalah kamu dan Aryana akan bersatu. Mungkin Yudha punya pertimbangan sendiri kenapa ia membawa Aryana pergi tanpa memberitahumu atau siapapun. Bayangkan orang tua mana yang tak khawatir dengan anaknya di usia belia sudah mengalami hal-hal yang berat. Aryana sudah menderita kelainan jantung dari lahir, ia masih tetap bisa hidup sampai sekarang itu ada adalah suatu keajaiban, dan sekarang ia mendapat tekanan dari orang tuamu yang tak menyukainya ditambah terkena luka tusuk dan hampir kehilangan nyawanya, bukan maksud papa membela Yudha tetapi papa berusaha melihat dari sudut pandang yang lain, jadi papa harap kamu mengerti, Nak," ucap papa Dimas memberi pengertian pada Fahmi.
"Tapi sekarang papi dan mamiku sudah merestui hubunganku dan Aryana," ucap Fahmi.
"Apa kamu pikir Yudha akan percaya begitu saja dengan orang tuamu, aku tahu seperti apa putraku, selain Yudha itu putraku dia juga seorang militer seperti diriku, bahkan kemampuannya lebih hebat dariku, terbukti Yudha bisa lolos seleksi menjadi anggota pasukan khusus untuk menjaga keamanan negara, sering dilibatkan di segala misi besar dan berbahaya membuat dia selalu detail dan waspada pada hal apapun yang mengancam keamanan dan keselamatan masyarakat dan negara. Tak heran jika dia juga menerapkan kewaspadaan itu pada keluarganya, dia tak akan percaya begitu saja pada setiap orang asing masuk ke dalam keluarganya. Kejadian Claudia dulu cukup memberinya pelajaran karena hampir kehilangan Yasmin dan janin yang dikandungnya," ucap papa Dimas.
"Apa yang papa katakan ada benarnya, tapi aku tak bisa berpisah lama dengan Aryana, Pa," ucap Fahmi sendu.
"Aku mengerti perasaannmu namun Yudha dan Yasmin juga butuh waktu untuk menerima rentetan kejadian yang menimpa putri mereka. Papa percaya kamu akan jadi pendamping Aryana
"Kenapa papa bisa seyakin itu padaku akan menjadi jodoh Aryana?" tanya Fahmi.
"Papa yakin dengan kata hati papa, apalagi beberapa malam sebelum kejadian insiden itu papa berpimpi dengan ayah dari papa, kakeknya Yudha yaitu kakek Dewantara, dalam mimpi itu papa melihat kakek Dewantara menyatukan tanganmu dan tangan Aryana lalu tersenyum pada papa lalu kemuadian papa terbangun. Padahal berpuluh-puluh tahun papa tak pernah memimpikan beliau, tapi kali ini mimpi itu sangat jelas, papa hanya berharap semua itu pertanda yang baik. Suatu saat kalian pasti akan bertemu, bersabarlah, papa yakin Yudha dan keluarganya hanya butuh waktu untuk menenangkan Aryana juga mungkin menguji seberapa besar cinta dan kasih sayangmu pada putri mereka satu-satunya," ucap papa Dimas.
Mendengar penjelasan papa Dimas hati Fahmi sedikit tenang, bagaimanapun caranya ia harus menemukan Aryananya. Ia akan menyebar anak buahnya untuk mencari dimana calon istrinya berada. Setelah berbincang dengan papa Dimas, Fahmi keluar dari perusahaan DW group melajukan mobilnya ke perusahaannya. Fahmi langsung memanggil Evan untuk menyiapkan beberapa anak buah kepercayaannya untuk menemukan dimana Aryana.
__ADS_1
Di saat Fahmi kalang kabut mencari Aryana. Di sebuah rumah sakit militer di kota Bandung seorang gadis terbaring lemah di ruang rawat inap. Tampak Yasmin sedang menungui gadis itu, ya gadis itu adalah Aryana. Sebelum subuh Yudha meminta untuk meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk memindahkan Aryana ke rumah sakit lain dengan alasan keamanan Aryana. Dengan kekuasaan DW group Yudha akhirnya bisa memindahkan Aryana ke rumah sakit militer yang ada di kota Bandung. Yudha memang tidak memindahkan Aryana rumah sakit luar negeri karena ia tahu pasti Fahmi bisa melacaknya, maka tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Fahmi tak akan mengira kalau Aryana masih di Indonesia. Yudha memang melakukan ini demi keselamatan dan ketenangan Aryana saat ia sadar nanti, ia juga ingin mengetahui seberpa besar cinta Fahmi pada putrinya.
"Yah, apa yang akan kita katakan pada Aryana saat ia sadar nanti?" tanya Yasmin.
"Bunda jangan khawatir, Aryana pasti mengerti apa yang ayah lakukan," jawab Yudha.
Yudha tidak hanya memindahkan perawatan Aryana tetapi juga memindahkan sekolah Afwi dan Azka ke Bandung, Afwi dan Afwa tidak disekolahkan di sekolah kota yang favorit dan berkelas tetapi sekolah di daerah pedesaan di wilayah kota Bandung, dengan bantuan Raka Yudha bisa menemukan sekolah yang tepat dan aman untuk Afwi dan Azka. Sedangkan Afwa masih tetap di SMA Taruna di Magelang. Yudha juga sudah berkoordinasi pada pihak sekolah SMA Taruna agar tidak boleh pihak luar menemui Afwa tanpa sepengetahuan Yudha.
Tiga hari kemudian Aryana sadar dari tidur panjangnya, matanya pelan-pelan terbuka, ia memindai ruangan yang ia tempati saat ini terlihat sang bunda duduk dan tertidur disamping tempat tidurnya. Merasa ada pergerakan Yasmin pelan-pelan membuka matanya, ia terkejut melihat Aryana sudah tersadar.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar Sayang, sebentar bunda panggilkan dokter," ucap Yasmin.
Tak lama dokter datang memeriksa keadaan Aryana, dan menyatakan kondisinya baik, hanya tinggal pemulihan, harus banyak istirahat, makan makanan bergizi dan minum obat teratur.
"Ah Syukurlah keadaanmu membaik," ucap Yasmin sambil membelai rambut Aryana setelah dokter pergi meninggalkan ruangan.
"Bund, aku dimana ini?" tanya Aryana masih sedikit linglung.
"Kamu di rumah sakit," jawab Yasmin.
"Ayah mana, Bund?" tanya Aryana.
Aryana mencoba menginggat kejadian sebelumnya, ia lalu memandang bundabya seolah ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.
"Bunda, bagaimana keadaan nyonya yang aku tolong, juga pak Harun?" tanya Aryana.
"Nyonya yang kamu tolong itu selamat dan pak Harun juga selamat," jawab Yasmin.
"Alhamdulillah, mereka selamat," ucap Aryana.
"Sayang, apa kamu tahu nyonya yang kamu tolong sampai kamu mempertaruhkan nyawamu itu adalah ibunya Om Fahmi?" tanya Yasmin.
"Iya, aku tahu nyonya itu ibunya Om Fahmi," jawab Aryana.
"Kamu satu-satunya putri kami, kenapa harus melibatkan diri untuk hal yang berbahaya," ucap Yasmin.
"Aku nggak tega Bund lihat maminya Om Fahmi dalam kesulitan," ucap Aryana.
"Meski maminya Om Fahmi sudah berbuat buruk padamu?"
__ADS_1
"Bunda tahu apa yang maminya Om Fahmi lakukan padaku?"
"Iya, apa kamu pikir ayahmu akan diam saja melihat putrinya hampir meregang nyawa demi menyelamatkan seseorang yang sudah berbuat
buruk pada putrinya. Ingat Ana?, ayahmu menyanyangi anak-anaknya lebih dari nyawanya sendiri terutama kamu," ucap Yasmin dengan nada sedikit kesal.
"Maafkan Aryana bund, aku hanya bisa membuat kalin susah," ucap Aryana sendu.
Melihat raut muka putrinya yang begitu sedih, Yasmin menyesal sudah berbicara dengan nada kesal.
"Maaf bunda tak bermaksud membuatmu sedih, bunda hanya khawatir padamu," ucap Yasmin sambil mengusap tangan Aryana lembut.
"Bund, bagaimana dengan sekolahku?" tanya Aryana.
"Tenang lah Ana, ayah sudah mengurus ijinmu juga kepindahan sekolahmu disini," jawab Yasmin yang membuat Aryana terkejut.
"Apa maksud bunda pindah sekolah, memang kita sekarang dimana?" tanya Aryana
"Sekarang kamu dirawat di rumah sakit militer yang ada di Bandung, sekolahmu, Afwi dan Azka semuanya dipindahkan disini," jawab Yasmin.
"Kenapa aku dan kakak juga azka harus pindah sekolah bund?" tanya Aryana semakin tak mengerti.
"Sayang, semua ini demi kebaikanmu, kami ingin kamu hidup tenang, kami tidak ingin ibu Om Fahmi mengusikmu lagi, dan tentang hubunganmu dengan Om Fahmi, biarlah takdir yang akan bicara, kamu jangan pernah menghubungi Om Fahmi lagi sampai semua masalah benar-benar selesai, kamu mengerti?"
"Tapi kenapa kak Afwi dan Azka harus pindah sekolah juga?" tanya Aryana.
"Agar Om Fahmi dan keluarganya tak bisa melacak keberadaanmu, sekalian untuk menguji seberapa serius Om Fahmi mencintaimu, apalagi setelah maminya tak mengingunkan dirimu," ucap Yasmin serius. Sebagai seorang ibu, Yasmin merasakan aakit lebih dari siapapun ketika tahu anaknya ditolak oleh orang tua pria yang mencintainya karena Aryana punya kelainan jantung bawaan dan secara terang-terangan nyonta Miranda menemui Aryana agar ia mau meninggalkan Fahmi, Yasmin merasakan sakit yang tak berdarah.
Di tempat lain, Fahmi semakin frustasi karena sudah seminggu orang-orangnya belum berhasil menemukan Aryana.
"Sayang, Om kangen, kumohon kembalilah," ucap Fahmi sendu.
__________________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1