Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 89


__ADS_3

Fahmi dan Aryana sudah menyelesaikan makan siangnya di restoran yang menyajikan masakan khas Indonesia dengan menu provinsi Bali.


"Honey, aku sudah kenyang," ucap Aryana sambil mengelus perutnya.


"Syukurlah kalau kamu kenyang, Sayang, berarti ketiga anakku tidak akan kekurangan asupan makanan," ucap Fahmi sambil tersenyum bahagia, Aryana yang biasanya hanya menghabiskan seporsi kecil nasi kini, ia bisa menghabiskan satu piring nasi ukuran medium dan satu porsi cumi bakar asam manis dengan porsi jumbo, Fahmi hampir saja tak jadi makan karena melihat porsi makan sang istri yang berbeda dari biasanya.


"Sayang, habis ini kita ke kantorku lagi ya, kalau harus antar kamu pulang dulu kejauhan!" pinta Fahmi.


"Iya, nggak apa-apa," ucap Aryana sambil masih mengelus perutnya yang kekenyangan dan hal itu membuat Fahmi terkekeh.


"Makannya, kalau makan jangan sampai kekenyangan kasihan dedek bayinya kedesak sama makanan yang kamu makan," ucap Fahmi menggoda istrinya.


"Iih, Honey, nggak ada ya teori seperti itu," ucap Aryana cemberut namun justru terlihat imut di mata Fahmi.


"Aku hanya bercanda, Sayang. Sudah yuk balik ke kantor lagi!" ajak Fahmi, dan tak lupa sebelum pulang Fahmi membayar tagihan makan mereka dengan nilai yang cukup lumayan, jika untuk makan di warteg Indonesia bisa untuk beberapa hari.


Fahmi dan Aryana segera meninggalkan restoran kembali ke perusahaan, karena kekenyangan Aryana tertidur di mobil, untung saja sebelum berangkat makan siang, Fahmi dan Aryana shalat dzuhur di kantor. Sekitar empat puluh lima menit sepasang pasutri itu sampai di perusahaan, Fahmi sebenarnya akan mengendong Aryana karena tak tega membangunkan bumil kesayangannya itu, tapi saat tangan Fahmi akan bersiap mengangkat tubuh si bumil, Aryana menggeliat dan berusaha membuka matanya.


"Eughh, kita sudah sampai kantor ya?" tanya nya dengan mata yang masih menahan kantuk.


"Iya, Sayang, kita sudah sampai, kamu tertidur karena kekenyangan cumi bali," jawab Fahmi sambil terkekeh.


"Habis, enak banget sih tadi cuminya, semoga aku nggak mual dan muntah di kehamilan ini, kan sayang kalau cumi semahal itu harus keluar lagi," ucap Aryana membuat Fahmi tertawa, istri yang hemat sampai memikirkan makanan yang sudah masuk ke dalam perut.


"Sudah, yuk keluar mobil!" pinta Fahmi.


Kemudian Fahmi membukakan Aryana pintu mobil, lalu berjalan sambil memeluk pinggang sang istri dengan posesif. Seperti biasa saat sang ceo datang pasti banyak pasang mata memperhatikan seolah ada selebriti yang memasuki perusahaan, apalagi sang ceo memeluk posesif seorang gadis cantik berhijab yang masih sangat muda.


Setelah memasuki ruang kantornya, Fahmi langsung melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Aryana duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Yang, kalau kamu masih ngantuk tidur lagi saja, nanti aku bangunkan kalau kita sudah mau pulang!" pinta Fahmi.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mengantuk lagi, aku sedang chat Jessie, untuk menanyakan apa materi kuliah hari ini, ada tugas atau tidak," ucap Aryana.


"Ya sudah, aku lanjut kerja lagi ya," ucap Fahmi yang kembali menatap layar laptopnya.


Aryana sedang berada di perusahaan menemani sang suami bekerja sedangkan di tempat lain mami Miranda sedang memberitahu sang suami yang masih berada di kantor Pratama group yang ada di Jakarta, jika Aryana hamil.


"Masuk!" terdengar suara laki-laki paruh baya dari dalam ruangan.


"Mami!"


"Iya, kenapa papi kaget begitu?" tanya mami Miranda yang melihat suaminya yan terkejut atas kehadirannya tiba-tiba di kantor.


"Pi, ada yang mau mami sampaikan," ucap mami Miranda.


"Ini tentang, Aryana," jawab mami Miranda.


"Ada apa tentang Aryana, jangan bilang mami menyuruhnya meninggalkan Fahmi karena ia tak kunjung hamil!" ucap papi Pratama.


"Mami!, kenapa mami selalu saja mengusik Aryana?, dia pilihan putra kita, dia wanita yang baik, dia adalah berlian bagi keluarga Dewantara, mami melukai Aryana seujung kuku saja, siap-siap Pratama group akan rata dengan tanah, sepertinya mami belum pernah merasakan amukan Yudhatama Dewantara ya?!" ucap tuan Pratama dengan tatapan marah.


"Ma-maaf, Pi," hanya kalimat itu yang bisa mami Miranda katakan, tangannya masih bergetar, sepanjang pernikahannya, baru kali ini suaminya begitu sangat marah padanya.


"Mami, tahu, tak hanya hubungan keluarga yang kita jalin dengan keluarga Dewantara, tapi juga banyak kerjasama bisnis yang terjalin di dalam dua keluarga ini. Mi, sampai ke ujung dunia mami tidak akan menemukan menantu perempuan sebaik Aryana, bahkan untuk bisa mendapatkan menantu sebaik Aryana papi rela mengorbankan sepuluh anak kandung," ucap papi Pratama sambil mengusap wajahnya kasar.


"Mami, tahu mami salah, mami ke sini mau memberitahukan bahwa tadi Fahmi meneleponku, memberitahukan kalau Aryana hamil, dan calon bayinya kembar tiga," ucap mami Miranda dengan nada bergetar.


"Apa?, Aryana hamil anak kembar tiga?" tanya papi Pratama tak percaya.


"Iya, tapi Fahmi mengatakan kabar itu pada mami dengan nada yang datar dan dingin," ucap mami Miranda.


"Tentu saja, Fahmi bersikap begitu, karena kau selalu saja mempermasalahkan Aryana yang sampai dua tahun pernikahan belum memberikan seorang anak, dan kau mendesaknya untuk menikah lagi. Mi, kenapa kau tak bisa bercermin pada dirimu sendiri, dulu selama lima tahun lebih mami belum juga hamil, apa orang tuaku mendesak mami untuk segera hamil?, apa orang tuaku mengusik kehidupan rumah tangga kita yang pada waktu itu belum di karuniai seorang anak?, tidak bukan, bahkan orang tua kita menyarankan mengadopsi seorang anak untuk pancingan bukan menyuruhku untuk menikah lagi seperti yang mami lakukan pada Fahmi," ucap papi Pratama memflash back ke masa lalu dimana pernikahannya dengan mami Miranda juga tak kunjung diberi keturunan hampir lima tahun lebih namun orang tua papi Pratama bersabar dan tidak pernah berfikir untuk sang putra menikah lagi demi mendapatkan seorang anak.

__ADS_1


Mendengar penuturan suaminya mami Miranda hanya bisa menunduk, sambil menyeka air matanya, apa yang di katakan suaminya benar, orang tua suaminya tak pernah mendesaknya segera memiliki seorang anak, hanya sesekali orang tua papi Pratama menanyakan tidak sampai ke tindakan ekstrim yang ia lakukan pada Aryana.


"Makanya mami jangan banyak bergaul dengan para teman sosialita mami yang suka berbicara tak penting, bergosip, shopping dan menghabiskan uang suami untuk hal-hal tak penting. Kau tahu berapa uang yang di habiskan Aryana untuk kebutuhannya sendiri selama dia menikah dengan Fahmi?, nggak sampai puluhan Milyar, Mi, dan apa mami tahu kalau Aryana menolak di daftarkan di kelas khusus anak-anak orang kaya di universitas xxx, bukan karena Aryana minder atau bersikap kampungan tetapi ia ingin menemukan teman sejati yang menerima dia bukan karena kekayaan atau jabatan tapi karena hati yang tulus dan juga agar lebih bisa mensyukuri apa yang telah di dapat dari pada kehidupan orang-orang lain yang di bawahnya," jelas papi Pratama menceritakan sosok menantu perempuannya yang masih sangat muda tetapi tak hanya memiliki kecantikan fisik tetapi kecantikan hati yang luar biasa.


"Maaf," hanya kata itu yang lebih sering di ucapkan mami Miranda setiap suaminya menceritakan siapa dan bagaimana Aryana.


"Jangan hanya berkata maaf, dan maaf, itu tidak pas jika kau ucapkan padaku, seharusnya kata maaf itu kamu tujukan pada Aryana dan putra kita Fahmi, apalagi Aryana, dulu dia sudah menyelamatkan nyawamu padahal kau sudah menyakiti hatinya agar ia meninggalkan Fahmi, dan itu membuat Yudhatama Dewantara marah lalu membawa pergi Aryana yang masih dalam keadaan belum sadarkan diri, karena takut kamu akan menyakiti putrinya lagi. Dan kau tahu sendiri kepergian Aryana membuat putra kita hampir gila, saham perusahaan kita mengalami penurunan cukup signifikan karena Fahmi tak fokus dalam menjalankan perusahaan, dan sekarang mami akan mengulang sejarah yang sama?" ucap papi Pratama dengan nada kesalnya.


Mendengar semua perkataan suaminya, mami Miranda tak bisa berkutik lagi, dia selama ini yang bodoh hanya menuruti omongan-omonhan berbau provokasi terhadap dirinya dan keluarganya.


"Minggu depan jadwal papi tak padat, kita akan ke Singapura mengunjungi menantu kita, sekalian mami minta maaf pada mereka, kita sudah tua, anak-anak sudah berumah tangga, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga, tidak baik untuk kelangsungan rumah tangga anak-anak kita, dan satu lagi kurangi pergaulan mami dengan teman-teman mami para sosialita itu jika ujung-ujungnya tidak banyak bermanfaat untuk kemajuan diri sendiri dan orang lain. Coba lihatlah keluarga besan kita, nyonya Yasmin dan nyonya Dewi, mereka juga kaya seperti kita namun sikap mereka rendah hati, sederhana dan sholehah, jarang mereka bergaul dengan orang-orang yang hanya suka bersenang-senang, mereka lebih memilih kegiatan yang banyak berguna bagi orang lain," ucap papi Pratama pada Istrinya, mami Miranda hanya bisa mengiyakan ajakan suaminya itu, tak ada jalan lain selain berdamai dengan keadaan jika tak ingin keluarganya hancur karena keegoisannya.


Di Singapura, Fahmi dan Aryana bersiap untuk pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore waktu Singapura.


"Sayang, ayo kita pulang, sudah sore!" ajak Fahmi.


"Ayo, aku juga sudah capek nunguin kamu seharian di kantor," ucap Aryana sambil mencebikan bibirnya dan bergelayut manja di lengan suaminya.


"Mau aku gendong sampai ke mobil?" tawar Fahmi yang mendapatkan penolakan keras dari Aryana


"Tidak, Honey, meski aku capek aku tak selemah itu, aku masih kuat jalan sendiri," tolak Aryana dengan muka cemberut dan itu justru membuat wajah Aryana terlihat mengemaskan di mata sang suami.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang tuan putri!" ajak Fahmi sambil memegang tangan sang istri yang melingkar di lengannya. Kenudian pasangan pasutri yang terpaut usia cukup jauh itu melangkah pergi meninggalkan ruangan ceo untuk turun ke lobby perusahaan.


Sampai di depan lobby sang supir sudah mengunggu kedatangan big bosnya, melihat sang bos sudah berada dekat dengan pintu lobby, sang supir segera membukakan pintu mobil untuk Fahmi dan Aryana, setelah sang bos dan istrinya masuk ke mobil, sang supir segera melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan Pratama Group.


____________________________________________


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2