Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 123


__ADS_3

Acara aqiqahan di lanjut pengajian yang di gelar di rumah Fahmi dan Aryana. Tenda bernuansa putih telah di gelar di halaman, catering terbaik sudah di siapkan. Semua anggota keluarga mengenakan seragam muslim bernuansa putih. Tak lama acara segera di mulai, Aryana sangat terkejut melihat ustad N yang ia idolakan hadir di acara aqiqahan putra putrinya, tak ada seorangpun yang mengatakan perihal kehadiran ustad N ini.


"Honey, apa ustadz N yang akan mengisi acara pengajiannya?" tanya Aryana setelah tadi sempat melihat sebentar tamu-tamu yang sudah datang.


"Iya, Sayang, kejutan untukmu," jawab Fahmi sambil tersenyum melihat raut wajah sang istri yang masih tampak bingung.


Mendengar jawaban suaminya, Aryana sangat terharu, bagaimana tidak demi membahagiakan nya sanga suami mengundang ustadz N yang terkenal dan juga sangat sibuk, bisa hadir di acara aqiqahan putra-putrinya.


"Terima kasih, Honey, mengundang ustadz sangat sulit, tapi kamu bisa menghadirkan beliau di sini, aku rasanya tak percaya," ucao Aryana sambil menyeka air mata bahagianya.


"Anything for you, my wife, my love, bidadari surgaku, apa yang aku lakukan belum seberapa dibandingkan dengan perjuanganmu mengandung dan melahirkan anak-anak kita, berjuang antara hidup dan mati demi menghadirkan kehidupan baru," ucap Fahmi sambil mengusap air mata istrinya.


"One again thank you very much my husband," ucap Aryana yang langsung memeluk Fahmi, Fahmi pun membalas pelukan sang istri dengan penuh sayang tak lupa ia juga berulang kali mendaratkan ciuman di kening sang istri tercinta.


"Woiy...dicari kemana-mana malah enak-enakan pelukan di sini, tamu udah penuh tuh!, mau segera di mulai acaranya, bukannya ikut jadi among tamu, tapi malah mesra-mesraan disini, ntar kalau semua acara dah kelar dan kita semua dah balik ke negara tercinta kita Indonesia, pelukin tuh si Aryana sampai yaumul kiyamah nggak apa-apa," tegur Dika sambil mengomel tak henti seperti emak-emak arisan.


Fahmi dan Aryana kepergok Dika, langsung melepas pelukan dan salah tingkah.


"Maaf, pakde, sekarang kita akan segera kesana menemui para tamu, ayo Honey!" ajak Aryana mengandeng tangan Fahmi untuk segera pergi menemui para tamu.


"Dasar dokter pedofil, si Aryana sih mau-maunya nikah sama om om, tapi nggak apa-apa juga sih, kan tajir, dari pada dapat daun muda tapi kere," umpat Dika dalam hatu setelah Aryana dan Fahmi pergi dari hadapannya.


Fahmi dan Aryana segera ke bagian depan ruangan yang menampung para tamu undangan untuk menyambut dan mengucapkan selamat datang pada mereka. Tamu yang di undang Fahmi cukup terbatas hanya beberapa rekan bisnis yang akrab dan beberapa petinggi perusahaan.


Diantara para rekan bisnis Fahmi yang ikut di undang adalah Niko, tanpa Niko tahu ia sedang menghadiri aqiqahan putrinya sendiri, dan Niko merasa ada sesuatu yang berbeda di hatinya saat ia tak sengaja melihat Aryana.


"Kenapa aku merasa sudah mengenal istri tuan Fahmi ya, tapi diman?" batin Niko dalam hati.


Niko kemudian duduk di deretan kursi nomor satu bersama rekanan bisnis Fahmi yang lain, para tamu ternyata tak hanya rekan bisnis dan teman-teman Fahmi dan Aryana tetapi juga rekan bisnis DW group. Tak lama kemudian acara pengajian dimulai, diawali dengan sambutan tuan rumah yaitu Fahmi kemudian pembacaan ayat suci Al-Quran lalu dilanjut pemberian ceramah oleh ustad N. Sekitar enam puluh menit ustad N memberi ceramah dengan tema aqiqahan, hak dan kewajiban anak terhadap orang tua dan hak dan kewajiban orang tua terhadap anak. Saat Niko mendengarkan ceramah ustad N, hatinya serasa di tampar berkali-kali, mengingat sikap tidak hormatnya dengan orang tuanya ditambah sikapnya yang tidak mau bertanggung jawab dengan Pamela.


"Ya Tuhan, aku merasa sangat berdosa dengan papad dan mendiang mama, aku juga bersalah pada Pamela, jika di hitung dari perkataan Pamela tentang kehamilannya, kemungkinan bayi kami sudah lahir sama dengan bayi tuan Fahmi," batin Niko merasakan sesak di dadanya.


Acara berikutnya setelah ceramah adalah pemotongan rambut oleh anggota keluarga, dan ustad N pun juga di minta untuk memotong rambut ke empat anak-anak Fahmi. Acara-demi acara sudah di lewati di acara ditutup dengan doa, lalu satu persatu para tammu pamit pulang, saat para tamu hampir habis hanya tinggal beberapa saja sedang berbincang dengan Fahmi dan papi Pratamaz termasuk Niko masih ikut berbincang dengan Fahmi, namun tiba-tiba Alesya menangis sangat kencang, Aryana dan keluarga yang lain tak dapat menenangkannya.


Oek oek oek

__ADS_1


"Ya Allah ini Alesya kenapa, Ana kok nangis kenceng banget nggak biasanya begini, popoknya masih kering, di kasih susu juga nggak mau," ucap Yasmin yang sedang mendnangkan Alesya dalam gendongannya.


"Aku juga nggak tahu, Bunda, Om Andre tolong panggilkan mas Fahmi kesini!" pinta Aryana yang di iyakan oleh Andre.


Fahmi datang dengan rasa panik setelah di beri tahu Andre kalau Alesya menanggis kejer, dan pandangan itu tak lepas dari Niko yang masih berbincang dengan papi Pratama.


"Kenapa tuan Fahmi terlihat panik, apa terjadi sesuatu?" tanya Niko yang entah kenapa ia merasa penasaran.


"Oh itu tadi salah satu anak kembarnya nangis kejer padahal tidak pernah seperti itu, Alesya yang paling kalem," jawab papi Pratama.


Tangis Alesya semakin lama justrus semakin keras hingga terdengar keluar, sehingga benerapa tamu yang masih tinggal termasuk Niko mendengar tangisan Alesya.


"Tuan Pratama apa boleh saya melihat cucu anda Alesya, barangkali ada yang bisa saya bantu," tawar Niko yang rasanya begitu ingin melihat baby Alesya.


"Silahkan, mari saya antar," ucap tuan Pratama kemudian megantar Niko masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, terlihat baby Alesya tengah menangis di gendongan Fahmi, entah kenapa rasanya ia tak rela melihat Fahmi mengendong baby Alesya. Perlahan Niko dan papi Pratana mendekat.


"Maaf, tuan Fahmi jika saya lancang, apa boleh saya mengendong Alesya, mungkin bisa sedikir membantu," tawar Niko yang langsung membuat Fahmi dan anggota keluarga yang lain memandang heran.


"Saya coba saja," jawab Niko.


Akhirnya meski ragu Fahmi menyerahkan baby Alesya pada Niko, dan anehnya baby Alesya langsung diam begitu berada di gendongan Niko, bahkan bayi cantik itu langsung tersenyum dan mengarahkan tangan mungilnya membelai wajah tampan Niko. Fahmi dan Aryana juga anggota keluarga yang lain menatap tak percaya kejadian di depan mata mereka.


"Sayang, kenapa nangis sih?, kasihan papa dan mama kamu," ucap Niko sambil menimang baby Alesya sambil mengajak bayi cantik itu mengobrol seakan si bayi mengerti apa yang ia katakan.


Fahmi mengernyit heran, karena Setahunya Niko belum menikah apalagi punya anak tapi kenapa ia terlihat begitu luwes saat mengendong Alesya, dan seakan baby Alesya sangat nyaman di gendongannya.


"Tuan Niko, apa anda sudah memiliki anak, anda terlihat sangat pandai mengendong dan menenangkan anak?" tanya Aryana yang penasaran dengan sikap Niko yang terlihat kebapakan.


Mendengar pertanyaan Aryana, Niko tersemyum getir mengingat kebodohan yang ia lakukan di masa lalu membuat ia harus memgalami penyesalan seumur hidup.


"Maaf, Nyonya Fahmi, saya tidak seberuntung itu," jawab Niko sambil sesekali tersenyum pada baby Alesya.


"Sayang, tuan Niko ini belum menikah, jadi tentu saja beliau belum punya anak," ucap Fahmi.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak segera menikah, saya rasa anda sudah sangat siap untuk menikah," ucap Aryana .


"Hati saya sudah saya berikan pada seseorang dan tidak akan ada yang bisa mengantikannya," ucap Niko dengan nada sendu mengingat sekretarisnya yang ia sia-siakann dan ia usir karena mengandung anaknya.


"Aku tak akan menikah seumur hidupku, kaena siapa yang akan mau menikah dengan laki-laki mandul seperti aku ini, inilah cara Tuhan menghukumku karena aku menyia-nyiakan anugerahnya lewat Pamela. Bahkan aku mengusirnya tanpa perasaan. Pamela sayang dimana kamu, dan bagaimana keadaan anak kita sekarang, kembalilah, aku ingin menebus semua kesalahanku padamu. Kita besarkaj anak kita bersama-sama," batin Niko menangis pilu dengan nasib cintanya.


"Sepertinya Alesya sudah tidur, berikan pada, saya tuan Niko, anda pasti lelah!" pinta Aryana.


"Sebentar lagi nyonya sepertinya si cantik ini belum sepenuhnya terlelap, takutnya dia bangun," ucap Niko yang sepertinya engan melepas baby cantik itu, entah kenapa ia merasa sangat dekat dengan baby Alesya.


Fahmi dan Aryana saling pandang mendengar ucapan Niko, pria itu seolah tak mau melepas baby Alesya, namun Fahmi dan Aryana tidak bisa berbuat apapun. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya baby Alesya benar-benar sudah tertidur lelap, lalu Niko pelan-pelan menyerahkan baby Alesya pada Aryana dengan sangat hati-hati, dan pada saat Niko menyerahkan baby Alesya pada Aryana jantung Niko tiba-tiba berdetak kencang dan Aryanapun juga merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya.


"Kenapa aku merasa pernah mengenal tuan Niko sebelumnya ya, tapi di mana ya?" batin Aryana.


"Kenapa aku merasa dekat dengan nyonya Aryana, perasaan apa ini?" tanya Niko dalam hati yang merasakan sesuatu debaran yang aneh dalam hatinya.


Alesya sudah berpindah ke gendongan Aryana tanpa terganggu tidurnya, bayi Alesya sudah benar-benar lelap.


"Tuan dan Nyonya Fahmi, karena hari sudah larut malam, saya mohon pamit, semoga anda sekeluarga selalu sehat dan berbahagia," ucap tuan Niko.


"Terima kasih, tuan Niko dan maaf putri kami Alesya merepotkan anda," ucap Fahmi.


"Tidak apa-apa, Tuan Fahmi, saya dengan senang hati membantu anda," ucap Niko kemudian segera meninggalkan kediaman Fahmi.


Dalam perjalanan pulang, Niko terus berfikir tentang perasaannya pada baby Alesya dan Aryana. Memory saat Pamela memberitahunya tentang kehamilannya, rasa bersalah dan penyesalan bercampur menjadi satu menjadikan hidupnya penuh rasa bersalah. Apalagi Tuhan sudah menghukumnya tak bisa memiliki keturunan, satu-satunya harapannya adalah bisa menemukan Pamela dan anak mereka.


________________________________________


Maaf ya Readers baru up, bab ini aja aku kerjakan dalam perjalanan ke tugas ke Semarang🙏🙏



Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2