
Jantung Nayla berdebar kencang mendengar ucapan Afwi tadi, meski hanya candaan tapi bagi putri sang Kombes, rasanya ucapan Afwi tadi seperti anak panah yang menembus jantungnya. Meski perasaannya jadi kacau karena ucapan Afwi barusan namun ia berusaha bersikap netral.
"Hish, abang ini bercandanya nggak lucu, kalau orang dengar bisa salah faham sama kita," ucap Nayla dengan sedikit kesal.
"Salah faham bagaimana maksudnya?" tanya Afwi bingung.
"Ya orang akan mengira kita ini sepasang kekaksih," jawab Nayla yang membuat Afwi mengulum senyum.
"Ya nggak apa-apa kalau orang mengangap begitu, justru aku akan mengaminkan, memang kenapa sih kamu kelihatan takut banget di gosipkan pacaran sama aku? apa aku nggak keren dan hanya seorang karyawan hotel?" tanya Afwi yang membuat Nayla gelagapan karena ia tak menyangka kalau Afwi malah berfikir demikian.
"Bu-bukan begitu maksud aku, Bang, a-aku hanya takut nanti pacar abang marah terus nglabrak aku seperti di tv-tv itu," jawab Nayla yang membuat Afwi membulatkan matanya.
"Astaga, Dek, kenapa bisa berfikir seperti itu? aku tidak punya pacar, sungguh, Dek Nayla jangan kebanyakan nonton film tidak jelas seperti itu," ucap Afwi memberikan klarifikasi.
"Bener, abang nggak punya pacar?" tanya Nayla yang rasanya belum percaya laki-laki seganteng Afwi belum punya pacar.
"Beneran, Dek aku tuh nggak punya pacar aku murni masih jomblo," jawab Afwi gemas.
"Masa sih?, abang kan ganteng, ganteng paripurna malah, dan nggak mungkin orang yang ganteng, keren, punya pekerjaan bagus nggak punya pacar," ucap Nayla yang tak sengaja mengandung pujian pada Afwi membuat putra kedua Yudhatama Dewantara itu ingin rasanya berjingkrak-jingkrak.
"Ah, Dek Nay bisa aja, aku tuh biasa aja, ucapan adek berlebihan dalam mengambarkan saya. Walaupun banyak yang bilang gitu juga sih, namun justru itu yang membuat saya cukup selektif mencari calon pendamping soalnya jaman sekaraang cari cewek yang tulus itu susah, Dek, Kata bundaku kalau aku sudah sreg sama seorang wanita harus cepat di halalin takut setan mengoda."
"Aku juga gitu, Bang, cari cowok pendamping hidup yang benar-benar tulus juga susah, apa lagi papaku seorang Kombes, bisa jadi cowok yang pingin sama aku ada maunya, ntar kalau sudah nikah baru ketahuan belangnya, apalagi sampai selingkuh di belakang aku, jadi takut buat nikah."
'Hadeh jangan berpikir gitu juga, Dek nggak semua seperti itu, contohnya opaku, perwira tinggi, beliau juga kaya dari orok tapi selalu setia sama oma, ayahku juga meski dulu ada kesalah pahaman sama bunda tapi akhirnya langeng sampai sekarang."
"Tapi aku tetap aja takut, Bang"
"Sudahlah, Dek, jangan terlalu dipikirkan, positif thinking aja. Kata bundaku, jodoh itu adalah cerminan dari diri kita, kalau kita ingin jodoh kita baik maka kita harus berusaha lebih baik dalam segala hal biar dapatnya juga hal yang baik, seperti yang tertulis di Al-Quran surat An-Nur ayat 26 yang berbunyi : wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji pula, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)," ucap Afwi membuat Nayla tertegun, ia semakin kagum dengan sosok Afwi.
__ADS_1
"Ya Allah, suami idaman banget, tapi mana mungkin dia suka sama aku, aku belum berhijab meski pakaianku sopan dan tertutup, pasti bang Afwi pinginnya istri yang cantik, anggun dan berhaijab, nggak seperti aku ini," batin Nayla minder.
"Dek! hallo Dek Nay!" panggil Afwi berulang sambil mengoyangkan tangannya di depan Nayla karena gadis itu malah melamun.
"Eh iya, Bang, ada apa?" ucap Nayla kaget.
"Kamu dengerin aku bicara nggak sih, kenapa malah melamun?"
"Maaf, Bang, aku cuma kaget abang pengetahuan agamanya cukup bagus."
"Biasa aja, Dek, meski dulu aku tidak sekolah yang berbasis agama seperti madrasah tapi seminggu sekali bunda mengajak kami bertiga ikut pengajian dan waktu TK dan SD, bunda mengundang guru mengaji untuk kami. Bunda juga banyak memberi pengetahuan agama pada kami, orang tuaku sangat mementingkan agama, apalagi aku, kak Afwa dan Azka adalah laki-laki yang kelak akan menjadi imam dalam keluarga, sedangkan wanita adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Bundaku mewanti-wanti kami jangan sampai hamilin anak gadis orang sebelum nikah, kalau sampai itu terjadi bunda ngancam, nggak akan mengangap kami anaknya lagi."
"Waduh serem benar ancaman bundanya abang, apa bundanya abang galak ya?"
"Bundaku nggak galak, beliau baik dan lemah lembut, cantik dan baik hatinya, makanya ayah sampai klepek-klepek, hanya kalau nemu kami bandel pas di suruh shalat bunda bisa berubah jadi galak," jawab Afwi sambil tersenyum.
"Senang ya, Bang, kalau masih punya orang tua lengkap, apalagi seorang ibu, bisa mendampingi sampai anak-anaknya menikah dan menimang cucu," ucap Nayla sendu ketika tiba-tiba mengingat almarhum mamanya yang telah berpulang saat ia masih SMA.
"Maksud abang berbuat baik atas dasar ajaran mamaku?"
"Maksudnya begini, misal semasa hidup mamamu sering bersedekah pada fakir miskin, anak yatim, mengajarimu untuk berbagi dengan sesama, mengajarimu selalu membaca Al-Quran selesai shalat, dan setelah mamamu meninggal kamu melakukan semua hal baik tersebut, maka pahalanya tidak hanya di berikan Allah untukmu tetapi juga pada almarhum mamamu karena semasa hidup mamamu sudah mengajarimu hal yang baik," jawab Afwi.
Mendengarkan penjelasan dari Afwi, entah kenapa air mata Nayla menetes, ucapan Afwi membuat ia terharu, pria di depannya ini benar-benar membuka mata hatinya agar tak selalu bersedih ketika mengingat almarhumah mamanya.
"Lho kok malah nangis?"
'Aku jadi ingat semua kebaikan almarhumah mamaku, hiks...hiks..., aku belum sempat bikin mama bahagia selama masih hidup."
"Kalau Dek Nay merasa belum sempat membahagiakan mamanya, Dek Nay, Dek Nay lakukan apa yang saya katakan tadi, di tambah jaga, hormati dan sayangi papa Dek Nay, mamanya Dek Nay pasti bahagia ada bidadari yang mengantikan beliau menjaga papa Dek Nay, dan juga tetap hormati dan hargai saudara dari pihak mama dan papa Dek Nay, entah itu orang tuan Dek Nay sudah tiada atau masih hidup, jalin silaturahmi yang baik dengan mereka, karena jika kita menghormati, menghargai, menyayangi adik atau kakak dari orang tua kita, juga sahabat dari orang tua kita, maka suatu saat di masa tua kita Allah akan mengirimkan seseorang yang akan ganti menyayangi dan membantu kita. Kalau kita ingin masa tua kita bahagia tanam kebaikan pada orang-orang di sekitar kita terutama saudara dan sahabat orang tua kita," ucap Afwi yang membuat Nayla rasanya ingin sekali peluk mahkluk tampan di depannya ini, sungguh perfect, laki-laki idaman.
__ADS_1
"Hiks...hiks..., abang pintar banget ngomongnya, siapapun yang akan jadi istri abang dia akan menjadi wanita yang paling bahagia.
"Aamiin, makasih doanya, Dek."
"Maksih ya, Bang sudah mengajakku makan siang dan mau mendengarkan curhatanku, terima kasih juga abang memberikan aku nasehat dan motivasi."
"Sama-sama, Dek, sudah tugas kita sebagai sesama muslim saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran," ucap Afwi bijak, setelah ini Afwi harus berterima kasih pada bunda dan adik perempuannya yang selalu memaksanya ikut pengajian dan menyaksikan live streaming kajian di majelis jika mereka berhalangan hadir.
"Ternyata benar ya kata Aryana dulu, apapun yang kita pelajari asal itu hal yang baik suatu saat akan berguna, seperti sekarang ini sangat-sangat berguna sekali, untung otakku pentium sepuluh, masih nyimpan ceramahnya ustad N empat tahun yang lalu tentang birul walidaini," batin Afwi dalam hati.
"Bang, aku pulang dulu ya, makasih buat makan siangnya, sekalian aku mau pamit karena besok aku akan kembali ke Semarang buat selesaikan skripsi aku, nanti untuk lumpianya akan di urus oleh Dio, dia sudah tahu caranya karena dia juga di ajari oleh bunda Nana," ucap Nayla membuat Afwi terkejut.
"Kenapa baru bilang sekarang sih, Dek?" tanya Afwi dengan nada seakan tak terima.
"Sebenarnya dua hari yang lalu aku mau bilang sama abang, tapi waktu aku char abang, abang bilang masih sibuk, jadi aku nggak jadi bilang, kebetulan hari ini abang ajak aku ketemu, maka sekalian bilang, nanti kalau sudah kelar skripsinya aku balik lagi ke sini, Dio bisa di andalkan kok Bang," jelas Nayla membuat Afwi frustasi dan menyesal kenapa dia harus bilang sibuk kemarin.
"Baiklah, tidak apa-apa, semoga skripsinya sukses dan kamu segera balik ke sini, jangan lupa sering hubungi aku ya!" pinta Afwi membuat Nayla mengernyitkan dahinya heran.
"What! apa tadi kata bang Afwi, suruh sering hubungi dia? kaya aku ini pacarnya aja, aneh, tapi seneng juga sih," batin Nayla.
"Iya, Bang, InsyaAllah aku akan selalu hubungi abang, sekalian mengecek bisnis lumpiaku di Aryana Hotel and Resto," ucap Nayla yang kemudian meninggalkan Afwi.
Afwi memandang punggung gadis pujaannya yang sudah berjalan jauh darinya, kemudian ia mengeluarkan benda pipih dari sakunya dan mendial nomor seseorang.
"Nayla akan pulang ke Semarang besok, awasi semua aktifitas dia selama di sana, pastikan dia aman dan pastikan tidak ada laki-laki yang dekat dengannya!"
__________________________________________
Posesif amat, Bang Afwi?
__ADS_1
Please Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah
Thank You