Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 205. Keberangkatan Satgas


__ADS_3

Tepat delapan pagi semua pasukan yang akan di kirim Satgas ke Papua sudah berada di dermaga untuk upacara pelepasan dan acara pemberangkatan. Banyak keluarga yang mengantar suami, kekasih atau kakak mereka untuk pergi menjalankan tugas negara. Para komandan militer cukup terkejut melihat kehadiran Yudha, anggota pasukan khusus yang memilih pensiun dini karena harus mengantikan papanya memegang perusahaan. Mereka menyapa Yudha dan Yasmin dengan hangat, sepak terjang Yudha di karir militernya dulu tak bisa dianggap remeh, selain itu Yudha juga putra seorang petinggi militer di masanya.


Kirana berdiri di dekat dermaga di dampingi Yasmin dan Yudha, setelah upacara pelepasan anggota keluarga di perbolehkan menemui para prajurit Satgas yang akan berangakat. Afwa sedikit berjongkok di depan Kirana sambil membisikkan sesuatu di perut sang istri.


"Papa pergi tugas dulu ya sayang, papa akan berusaha agar bisa kembali ke rumah dan bertemu kamu, jangan buat mama sedih dan susah ya, cup," ucap Afwa lembut kemudian membelai perut Kirana yang masih rata lalu di akhiri dengan kecupan.


Kirana yang merasa perutnya di belai sang suami, hanya menunduk sambil menahan air matanya agar tak jatuh. Yasmin yang melihat keadaan ini merangkul pundak Kirana guna memberikan kekuatan agar sang menantu bisa tabah dan sabar dalam penantian


Selesai berbicara dengan calon buah hatinya, Afwa berdiri lalu menakupkan tangannya ke wajah Kirana, ibu jarinya mengusap lembut air mata di wajah sang istri.


"Sayangku, jangan nangis lagi, Mas jadi berat buat berangkat tugas, aku tak bisa menjanjikan untuk bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja, tapi di sana selain aku berjuang untuk negaraku, Mas juga akan berjuang agar bisa kembali ke sisimu dan anak kita dengan keadaan baik-baik saja," ucap Afwa yang justru membuat Kirana makin terisak.


Afwa lalu melepaskan takupan tangannya di wajah Kirana, berganti dengan di rengkuhnya bidadarinya itu ke dalam pelukannya, ia cium pucuk kepala sang istri berkali-kali. Sungguh sebagai seorang suami sekaligus calon ayah, ia tak tega meninggalkan sang istri yang sedang mengandung buah hatinya, namun penggilan ibu pertiwi tak bisa ia tolak dengan alasan apapun apalagi dengan alasan istri yang sedang hamil.


"Saat Mas tak bisa dalam jangkauanmu, berdoalah agar Allah selalu menjaga Mas, dan Mas juga akan melakukan hal yang sama, akan aku titipkan segala rinduku padamu pada Sang Pemilik kehidupan. Jangan lupa juga selalu berdoa untuk calon anak kita agar menjadi anak yang akhlaknya dan keberaniannya seperti Baginda Rasulullah SAW, Mas juga akan berdoa untuk anak kita, tetapi yang paling ampuh adalah doa seorang ibu!" ucap Afwa setelah mengurai pelukkannya pada istrinya.


"InsyaAllah, Kiran akan lakukan semua hal yang Mas minta, dan tanpa Mas meminta pun, Kiran selalu melakukan semua itu," ucap Kirana dengan suara parau karena habis menangis.


"Kamu adalah istri prajurit, Sayang, jadi kamu juga harus kuat demi Mas dan calon anak kita!" ucap Afwa yang di balas angukan oleh Kiran disertai senyuman yang dipaksakan karena hatinya masih bersedih namun ia tak boleh membuat suaminya berat menjalankan tugas negara.


Saat sepasang suami istri itu masih berbicara untuk menabung rindu, terdengar perintah dari pengeras suara agar semua prajurit anggota Satgas segera memasuki kapal.


"Sudah saatnya, percayakan Kiran pada kami, InsyaAllah istri dan calon anak kalian akan baik-baik saja, dan ingat jaga mata dan jaga hati di sana, sekarang kau sudah punya tanggung jawab besar, bagaimanapun yang halal itu akan lebih nikmat dan berkah!" ucap Yudha pada putra sulungnya lalu Afwa langsung memeluk ayahnya dengan perasaan haru, ia rasanya ingin menangis tapi tak bisa, sungguh ucapan sang ayah cukup mengena di hatinya.


"Baik ayah, aku akan selalu ingat pesan ayah," ucap Afwa kemudian memeluk sang bunda.


Sebelum Afwa melangkahkan kaki menuju kapal, sekali lagi ia memeluk istrinya, dan lagi-lagi Kirana menumpahkan air matanya namun ia tak punya pilihan lain selain harus ikhlas melepas kepergian sang suami ke tempat tugas.


Afwa perlahan melepaskan pelukannya pada sang istri, ia lalu mencium kening dan pipi Kirana dan terakhir ia mendaratkan ciuman di perut Kirana yang masih rata.

__ADS_1


"Baik-baik di perut mama ya, Sayang, tunggu papa pulang, papa cinta kalian!" ucap Afwa pada calon buah hatinya.


Setelah itu Afwa memantapkan langkahnya meninggalkan keluarganya menuju kapal yang akan membawa pasukan Satgas untuk berangkat ke Papua. Sedangkan Kirana menatap nanar kepergian sang suami, Yasmin merangkul kedua bahu menantunya dari samping dan Yudha berdiri di samping Yasmin. Ketiganya menatap kapal perang milik Angkatan Laut yang mengangkut para prajurit Satgas perlahan meninggalkan pelabuhan menuju Papuan. Lambaian tangan di sertai isak tangis keluarga mewarnai kepergian para prajurit ke tempat tugas. Setelah kapal benar-benar sudah menjauh, Yasmin membimbing Kirana untuk pergi meninggalkan pelabuhan. Yudha meminta ijin sebentar pada Yasmin untuk menemui beberapa petinggi militer yang ikut dalam pelepasan Satgas.


Yasmin membawa Kirana ke parkiran, Yasmin mengajak Kirana untuk duduk di kursi yang ada di area itu.


"Minum dulu Kiran!" pinta Yasmin sambil mengulurkan satu botol air mineral.


"Terima kasih, Bunda," ucap Kirana lalu meminum sedikit air mineral tersebut.


"Sudah lebih baik?" tanya Yasmin yang di jawab angukan oleh Kirana.


"Kiran sudah sering berada di situasi seperti ini sejak kecil, namun entah kenapa kali ini rasanya beda, aku jadi sangat melow dan sangat rapuh," ucap Kirana sendu.


"Itu mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuatmu perasaanmu lebih sensitif," ucap Yasmin.


"Mungkin juga, Bunda, tapi aku berharap ini bukan pertanda yang buruk."


"Bukan hanya kepergian Mas Afwa unt.k tugas yang membuatku sedih, tapi kenapa ibu kandungku tak bisa menjadi sandaran terhangatku, apalagi di saat seperti ini," ucap Kirana yang kembali meneteskan air matanya.


"Entah kenapa Kiran merasa sejak dulu, ayah lah yang lebih hangat dengan Kiran meski ayah sering pergi lama untuk tugas," sambung Kirana lagi.


"Tenangkan hatimu, Nak, ibumu adalah sahabat bunda, mungkin itu hanya perasaanmu saja, bunda yakin kasih sayang bundamu juga sangat besar padamu, sikapnya yang dulu menentang hubunganmu dengan Afwa semata-mata agar kamu tak mengalami hal yang tak mengenakkan seperti yang ibumu alami, termasuk keadaan seperti ini, Afwa tugas lama di pulau lain sedangkan kamu sedang mengandung. Meskipun hal seperi ini adalah hal yang biasa di alami oleh hampir istri prajurit," ucap Yasmin memberi pengertian.


"Tapi tetap saja nyeksek, Bund."


"Sudahlah tak usah terlalu dipikirkan, hari ini bunda masih menginap di rumah dinas Afwa, tapi ayah akan langsung ke Jakarta ada meeting dengan kantor pusat."


"Makasih, Bunda, tapu kalau Bunda ingin temani ayah Yudha ke Jakarta nggak apa-apa, Kiran berani sendiri di rumah."

__ADS_1


"Nggak, Sayang, Bunda bakal menemani kamu dulu sampai besok keponakannya bik Imah kesini menemani kamu selama Afwa pergi."


"Bunda...hiks...hiks..."


"Lho kok nangis lagi? Afwa akan sedih kalau tahu kamu nangis terus kasihan dedeknya."


"Hiks...hiks..., Kiran nangis bukan karena mas Afwa pergi tugas ke Papua, tetapi Kiran terharu sekaligus miris, Bunda yang bukan ibu kandung Kiran sebegitu perhatian dengan Kiran tapi Ibu kandung Kiran sendiri malah bersikap tak perduli," ucap Kirana sambil terisak.


Yasmin segera memeluk Kirana untuk menenangkan hati sang menantu, bukan hanya kepergian Afwa yang membuat Kirana sedih namun juga sikap ibu kandung Kirana yang seolah mengabaikan kesedihan yang dialami Kirana dalam rumah tangganya.


Yudha yang menyusul istri dan menantunya pun terkejut melihat Yasmin dan Kirana saling berpelukan dan terlihat bahu Kirana terguncang sambil menangis.


"Hei ada apa ini?" tanya Yudha.


Mendengar suara bariton yang sangat mereka kenal, dua wanita beda generasi itupun mengurai pelukannya.


"Ayah!" ucap Yasmin sambil menoleh ke asal suara sedangkan Kirana berusaha menghentikan tangisannya sambil mengusap air matanya.


"Kenapa Kirana nangis lagi sih?" tanya Yudha dengan nada sedikit kesal.


"Ayah tenang dulu, Kiran nangis karena terharu dengan sikap kita yang begitu memperhatikannya," bela Yasmin.


"Oh ayah kira masih menangisi si Afwa."


"Makanya jangan ngomel dulu. Ayah sudah selesai ngobrolnya?" tanya Yasmin.


"Sudah."


"Kalau begitu kita langsung ajak Kirana pulang, dia harus banyak istirahat!" pinta Yasmin yang di iyakan oleh Yudha.

__ADS_1


Kemudian mereka naik ke dalam mobil yang di sopiri salah seorang bodyguard DW group. Tak lupa sebelum pulang mereka mampir ke hotel tempat Yudha dan Yasmin menginap untuk mengambil barang-barang mereka karena dari hotel Yudha akan langsung ke Jakarta sedangkan Yasmin akan menemani Kirana di rumah Dinas.


_______________________________________


__ADS_2