
Setelah di rawat selama satu minggu untuk pemulihan pasca melahirkan dan transplantasi jantung, Aryana sudah di perbolehkan pulang.
"Sayang..., aku bahagia sekali hari ini kamu bisa pulang, sungguh ini seperti mimpi," ucap Fahmi sambil membantu memasukkan barang Aryana ke dalam tas.
"Aku juga bahagia, Honey, aku tidak menyangka akan ada keajaiban di dalam hidupku, by the way kamu beri nama siapa anak kembar kita?"
"Aku belum kasih nama, aku nunggu kamu sadar, Sayang."
"Kenapa harus nunggu aku sih, Honey."
"Karena mereka anak kita, aku ingin kamu ikut memikirkan nama yang bagus untuk ketiga anak kita."
"Sayang, aku sudah memikirkan nama untuk ketiga anak kita, tapi aku menunggu persetujuan mu."
"Siapa, namanya, Honey?"
"Untuk putri sulung kita namanya Alya Hafizah Pratama, yang artinya untuk Alya itu mulia, Hafizah yang artinya penjaga atau penghafal Al-Quran, kata itu kan yang kamu request, Pratama adalah nama keluargaku. Sedangkan untuk anak kembar kita yang laki-laki kita beri nama, Arnan Hafidz Pratama dan Arsen Hafidz Pratama, Arnan artinya menyenangkan dan Asher artinya kuat bagaiman kamu suka, Sayang?" tanya Fahmi meminta persetujuan sang istri.
Aryana tersenyum dan berkata," aku setuju, Honey, nama yang kamu berikan sangat bagus, seharusnya kau segera memberi dia nama setelah lahir atau waktu tujuh hari setelah lahir, dan mengadakan aqiqah untuk ketiga anak kita."
"Aku tak tega, Sayang, melihatmu terkulai lemas saat mengalami pendarahan lalu koma, membuatku tak bisa berfikir apapun lagi selain nyawa kamu, jadi aku menangguhkan memberi nama anak-anak kita."
"Bagaimana kalau aku tak segera sadar atau meninggal, apa Honey nggak bakal kasih anak-anak kita nama?"
Mendengar perkataan istrinya, Fahmi langsung mendekat ke sisi Aryana, menempelkan jari telunjuknya ke bibir mungil sang istri lalu berkata," sstt...jangan bicara seperti itu, aku tak suka, kata meninggal seolah jadi kata keramat untukku?"
Aryana memegang jari telunjuk sang suami yang menempel di bibirnya, sedikit ada rasa bersalah dari dalam dirinya, tapi apa yang barusan ia katakan adalah benar, kematian bisa menghampiri siapapun orangnya, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan bayi sekalipun, semua kategori itu hanya menunggu antrian dari Allah untuk di panggil kembali kepada-Nya.
"Maafkan aku jika perkataan ku terdengar tidak nyaman untukmu, Honey, tapi bagi wanita yang memiliki kelainan jantung sejak lahir, aku selalu mengajarkan pada hatiku untuk ikhlas menerima resiko yang paling buruk atas penyakitku."
"Tapi aku mohon jangan bilang begitu lagi, kita akan merawat keempat anak kita bersama-sama, sampai kematian lah yang memisahkan kita, stay with me my wife, apa kau tak ingin seperti ayah dan bundamu, oma dan opamu, membesarkan buah hati bersama, menua bersama dalam suka dan duka, melihat anak-anak kita menikah dan kita di pangil oma dan opa, itu sangat menyenangkan, Sayang."
"Iya, Honey, maaf," ucap Aryana lalu langsung memeluk sang suami yang sekarang duduk di sebelahnya.
Fahmi dengan senang hati memeluk tubih istrinya, mengusap punggung istrinya penuh sayang, seolah ia sedang berusaha menenangkan dan memberi kekuatan pada istri tercintanya.
"Lalu, bagaimana dengan anak dari wanita yang mendonorkan jantungnya untukku, apa sudah di beri nama?" tanya Aryana setelah mengurai pelukannya.
"Sudah, nyonya Pamela sudah memberinya nama."
__ADS_1
"Nyonya, Pamela?"
"Ya, nyonya Pamela adalah nama pendonor jantung untukmu dan sebelum meninggal ia memberikan namanya untuk putrinya. Namaya putri keempat kita adalah Alesya Denia Farras."
"Alesya Denia Farras, nama yang cantik," ucap Aryana sambil tersenyum.
"Iya dia anak yang cantik, kita akan panggil dia Alesya, baby Alesya.
"Tapi, Honey kenapa kamu tidak menambahkan nama Pratama di belakangnya, aku takut saat dia besar merasa namannya berbeda dengan saudaranya, Alesya akan tahu siapa dia sebenarnya dan dia akan merasa terpukul"
"InsyaAllah tidak, Sayang, kalau Alesya sudah cukup umur kita akan mengatakan yang sebenarnya, lagipula almarhumah Pamela sudah menyiapkan satu video lagi khusus untuk Alesya, jika usia Alesya sudah delapan belas tahun maka Alesya baru boleh melihatnya. Mungkin isinya tentang identitas siapa sebenarnya Alesya," ucap Fahmi memberi penjelasan agar istrinya tak terlalu khawatir.
Lalu akta lahir Alesya bagaimana?"
"Akta lahir Alesya akan di urus oleh Juan, dan nama orang tua Alesya tetap akan di tulis nama Ibunya, jika dugaanku benar, maka langkah yang aku ambil sudah tepat."
"Apa maksud kamu, Honey?"
"Juan sudah memeriksa apartemen yang di tinggali Pamela, namun tak ada surat-surat yang mengarah pada sebuah pernikahan, tim IT Pratama group juga tidak menemukan Pamela menikah dengan seseorang, jadi ada kemungkinan Pamela hamil di luar nikah. Jadi untuk sementara akta lahir Alesya akan memakai nama Pamela Vanesa Andara. Aku sudah berkonsultasi masalah nasab Alesya pada tokoh agama teman sahabatku, beliau menerangkan tentang kepada siapa anak yang lahir di luar nikah harus di nasabkan, dan seandainya Pamela masih hidup dan menikah dengan ayah biologis Alesya, sedangkan Alesya lahir sebelum terjadi ijab qobul, ayah biologis Alesya tidak bisa menjadi wali nikahnya nanti, dan Alesya tetap akan di nasabkan pada Pamela. Memang kenyataan seperti ini akan menyakitkan bagi si anak, tapi itulah ketentuan syariat agama kita."
Mendengar penuturan sang suami, Aryana jadi tertegun sejenak, namun setelah itu, bibirnya menyugingkan senyuman untuk suami tercintanya.
"MasyaAllah, pintar banget sih suamiku, sepertinya lebih baik kamu ganti profesi jadi ustad saja," Aryana terkekeh geli, bagaimana kalau suaminya menjadi seorang ustad, caranya menerangkan tentang nasab cukup bisa dimengerti.
"Ya, udah, nggak usah cemberut gitu, sudah selesai beresin barangnya?, kalau sudah ayo kita segera pulang, aku nggak sabar ketemu sama anak-anak!" ajak Aryana dengan tidak sabarannya.
"Sudah, Sayang, sebentar tunggu Juan menyelesaikan administrasi dan mengambil obatmu!"
Tak lama orang yang ditunggu tiba, Juan datang dengan membawa obat Aryana dan seorang perawat dengan membawa kursi roda.
"Permisi, Tuan Fahmi, maaf anda menunggu lama, ini obat yang harus nyonya minum, dan ini perawat yang akan membantu nyonya," ucap asisten Juan menyerahkan paper bag berisi obat dan menunjukkan perawat yang berdiri di belakangnya dengan membawa kursi roda.
"Terima kasih Juan, ayo sekarang kita pulang, Istriku tak sabar bertemu anak-anak kami!" ajak Fahmi.
Juan segera membantu membawakan barang-barang sang nyonya, sedangkan Aryana duduk di kursi roda dibantu oleh perawat wanita untuk keluar menuju lobby rumah sakit. Sampai di lobby, supir sudah menunggu kedatangan mereka.
'Terima kasih asisten Juan, terima kasih suster," ucap Aryana ramah ketika akan memasuki mobil.
"Sama-sama, Nyonya," ucap asisten Juan dan perawat itu bersamaan.
__ADS_1
"Juan, kembalilah ke kantor, kemungkinan baru besok aku akan ke kantor!" pinta Fahmi pada Asisten Juan sebelum pergi.
" Baik, Tuan," ucap asisten Juan .
Setelah mengatakan perintah pada Juan, Fahmi segera memasuki mobil di mana sang istri sudah duduk di dalamnya. Mobil yang di tumpangi Aryana dan Fahmi langsung meninggalkan lobby rumah sakit menuju kediaman sang bos.
Sampai di rumah, Aryana merasa heran karena suasana rumah tampak begitu sepi seperti tak berpenghuni dan hal itu membuat Aryana tak tahan untuk bertanya pada suaminya.
"Honey, kenapa rumah kita terlihat sepi sekali, biasanya dengar mobil kita, salah satu art pasti sudah membukakan pintu, dan tadi di rumah sakit hanya kamu yang menjemput ku dan asisten Juan padahal katamu mami, papi dan bunda sudah di Singapura?"
"Mereka mungkin sibuk, Sayang bantu jagain anak kita, dan papi ada urusan di perusahaan yang disini ada meeting penting yang seharusnya aku hadiri tapi papi yang menggantikannya."
"Apa karena, Honey jemput aku, papi mengantikan kamu meeting?"
"Iya."
"Seharusnya nggak gitu, kalau bunda di sini kenapa nggak bunda aja, kasihan papi, aku jadi berasa istri nggak berguna kalau begini," ucap Aryana dengan mata berkaca-kaca dan tentu saja hal itu membuat Fahmi mejadi panik.
"Sayang..., jangan bicara seperti itu, aku sakit mendengarnya, bagiku kau adalah segalanya, kau seperti mentari dalam hidupku, papi mengantikan aku meeting adalah hal yang biasa, bahkan papi senang di usianya yang lanjut ia masih bisa membantu anak-anaknya, apalagi ini demi cucunya, sudah ya jangan berkata seperi itu lagi!, yuk sekarang keluar mobil"
Fahmi dengan telaten membantu Aryana keluar dari dalam mobil, sedangkan barang-barang mereka di bereskan oleh sang supir.
Ceklek
"Surprize...!"
Begitu Fahmi membuka hendel pintu, rumahnya sudah penuh dengan semua anggota keluarganya dari Indonesia. Ada ayah dan bundanya, opa Dimas dan oma Dewi, tantenya Mitha sekeluarga, kakek Danu dan nenek Ratna, Dika dan Andre sekeluarga, Azka, juga Rendy sekeluarga, hanya Afwa dan Afwi yang tak bisa hadir karena harus memempuh pendidikan militer. Mereka di usung dengan jet pribadi keluarga Pratama dan keluarga Dewantara. Demi pesta kejutan inilah kenapa hanya Fahmi yang menjemput Aryana di rumah sakit. Tentu saja hal ini membuat Aryana sangat terkejut, namun juga bahagia, semua keluarga besarnya mengunjunginya di Singapura, biasanya omnya Dika atau Andre yang berkunjung itupun jika mereka mendapat tugas ke Singapura juga kakak iparnya Rendy.
"Ho-Honey, i-ini?" ucap Aryana terbata karena kaget dan bahagia.
"Iya, Sayang, mereka datang khusus untukmu, itulah sebabnya hanya aku yang menjemputmu di rumah sakit," ucap Fahmi sambil merangkul istrinya yang sedang menangis haru.
"Selamat datang kembali, Sayang, sekarang statusmu sudah bertambah yaitu menjadi seorang ibu," ucap Yasmin lalu memeluk putrinya penuh haru.
Lalu Fahmi membawa Aryana duduk di sofa ruang keluarga, setelah itu barulah semua anggota keluarga, satu persatu memberinya selamat. Kemudian Aryana di pertemukan dengan ke tiga anak kembarnya dan satu anak angkatnya.
_______________________________________
Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
__ADS_1
Thank You
Bersambung..