Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 26


__ADS_3

Liburan semester gasal pun telah usai kini semua siswa sudah harus kembali masuk ke sekolah tak terkecuali anak-anak Yudha. Afwa sudah kembali ke asrama di Yogyakarta sebelum liburan usai, meski ia kembali ke sekolah dengan urusan hatinya yang belum selesai namun semua itu tak memundurkan semangatnya untuk meneruskan pendidikan di SMA Taruna, masih ada satu tahun untuk memutuskannya. Afwi, Aryana dan Azka juga sudah kembali ke sekolah masing-masing untuk menjalani semester genap.


Hari ini hari kedua para siswa di SMA Negeri xx memulai pembelajaran untuk semester dua. Pada saat jam istirahat Aryana menuju kelas sang kakak dengan maksud meminjam buku Fisika karena buku milik Aryana tertinggal di rumah kebetulan hari itu kelas Afwi juga ada pelajaran Fisika hanya beda jam. Kelas Afwi sudah jam pertama tadi. Saat ia masuk ke kelas sang kakak ia tak menemukan Afwi, Aryana lalu bertanya pada teman Afwi yang ada di kelas, salah seorang teman Afwi mengatakan bahwa tadi ia sempat melihat Afwi di taman dekat lapangan basket dengan Haris.


Setelah mendapat informasi Aryana segera mencari keberadaan sang kakak, dan ternyata benar kakaknya sedang berbincang dengan Haris di bangku taman dibawah pohon. Aryana mendekat ke arah sang kakak namun langkahnya terhenti ketika mendengar namanya disebut sebut, Aryana yang kepo menajamkan pendengarannya untuk mengetahui apa yang dibicarakan sang kakak dengan Haris sampai namanya disebut-sebut.


"Gila lu, Fi!, lu udah berkorban banyak demi kakak lu, demi adik lu, sekarang kamu mau berkorban lagi demi mereka. Aku nggak rela kamu terus mengorbankan dirimu, cita-citamu demi saudara-saudaramu, kamu berhak bahagia Afwi Shakta!" ucap Haris kesal mendengar sahabatnya akan mengorbankan cita-citanya lagi untuk saudara kembarnya.


"Aku nggak tega kalau kakakku Afwa mengubur cita-citanya jadi tentara untuk membantu ayah di perusahaan, aku juga nggak tega kalau Aryana mengorbankan cita-citanya jadi dokter dan membebaninya untuk kuliah di bisnis membantu ayah apalagi kondisi kesehatannya kurang bagus," ucap Afwi sendu.


"Heh dengar ya!, selama dua tahun ini aku lihat Aryana baik-baik saja, lagipula dari kalian bertiga otak adik kembar lu itu yang paling cespleng, gue yakin seyakin gue nanti akan mati, Aryana pasti mampu membantu ayah lu di perusahaan, nggak usah sok-sokan jadi dokter dah, anak sultan juga, adik lu nggak kerja aja pasti nggak bakal kekurangan apalagi kalau ntar dia punya suami kaya raya, ngapain jadi dokter cari susah sendiri, itu tuh kalau mbahku bilang "Lelegan golek momongan," ucap Haris sewot tingkat Dewa, Haris gregetan sama jalan pikiran sahabatnya ini.


Mendengar omongan sahabatnya sekaligus teman sebangkunya itu Afwi terdiam, ia mencoba mencerna apa yang di katakan sahabatnya Haris. Apa yang dikatakan Haris ada benarnya juga, meski Haris rada dodol kalau pelajaran Kimia namun omongannya kali benar-benar banyak benarnya dan sepertinya Haris salah masuk jurusan, Haris lebih cocok masuk jurusan IPS dari pada jurusan IPA. Afwi berfikir apakah dirinya harus egois kali ini?.


Sedangkan Aryana yang mencuri dengar pembicaraan kakaknya dan sahabatnya Haris, terhenyak kebelakang hampir saja keberadaannya diketahui. Aryana sedikit shock mendengar bahwa selama ini kakaknya Afwi sudah berkorban banyak untuk dirinya, dengan perlahan ia meninggalkan tempat itu, ia menuju ruang kelas Afwi untuk meminjam buku fisika milik sang kakak dengan mengambilnya sendiri dengan sepengatahuan ketua kelas Afwi. Setelah memperoleh buku Afwi, Aryana segera kembali ke kelas karena sebentar lagi bel masuk berbunyi.


Waktu terus berjalan tiba saatnya bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa begitu senang dan berhamburan keluar kelas. Namun Aryana masih duduk di dalam kelasnya membuat dua sahabatnya Franda dan Niken heran.


"Na, kamu nggak pulang?" tanya Franda yang sudah menenteng tasnya bersiap untuk pulang.


"Bentar lagi, gue mau ngadem disini," jawab Aryana.


"Ngadem apanya, kelas panas gini, memang lu mau ngademin apaan?" tanya Niken.


"Ngademin hati gue," jawab Aryana membuat Franda dan Niken saling pandang.


"Mikirin Ghavin lagi?" tebak Franda asal.


"Ih, nggak ada ya, gue mikirin kak Ghavin, gue cuma pingin sendiri aja dulu, kalau kalian mau pulang duluan pulang aja, aku nggak apa-apa kok disini," jawab Aryana.


"Yakin, lu?" tanya Niken.


"Yes, I am sure Niken Damayanti," jawab Aryana dengan penuh penekanan.


"Ya sudah, kalau begitu kita duluan ya, hati-hati jangan banyak melamun ntar kesambet penunggu kelas ini," ucap Franda, kemudian ia segera keluar kelas bersama Niken.


Di dalam kelas Aryana menaruh kepalanya di meja, ia masih memikirkan kata-kata Haris dan kakaknya tadi siang. Dalam keadaan galau seperti ini hanya satu orang yang terlintas dalam hatinya. Aryana lalu mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.

__ADS_1


Di negeri sebrang, seseorang yang ditelpon Aryana tersenyum bahagia kemudian menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Assalamualaikum, cantik, ada apa telpon Om, kangen ya hemm?"


Aryana


"Waalaikumsalam Om, apa om Fahmi sibuk? kalau sibuk aku tutup saja dulu telponnya."


Om Fahmi


"Eh jangan sayang, om nggak sibuk kok, beneran."


Aryana


"Ehm..., om aku mau tanya, kalau kuliah kedokteran itu bisa disambi kuliah bisnis nggak?"


Om Fahmi


"Lho kok tiba-tiba nanya gitu, ada apa?"


Aryana


Mendengar Aryana malah menanggis Fahmi menjadi binggung dan cemas dengan gadis kecilnya ini.


Om Fahmi


"Ana..., please jangan nangis om jadi bingung, sebenarnya ada apa, bicara pelan-pelan sama om!"


Aryana


"Aku nggak bisa bicara lewat telpon om, hiks...hiks...


Tut...tut...


Aryana langsung memutus sambungan telponya secara sepihak, ia tak sanggup meneruskan curahan hatinya pada om Fahmi dan hal itu membuat orang yang berada di seberang telpon menjadi bingung dan panik. Pada saat yang hampir bersamaan Afwi masuk ke kelas Arayana dengan raut muka kesal.


"Dek, kakak nunguin di parkiran sampai jamuran kamu malah melamun di kelas!" ucap Afwi kesal, ia belum menyadari kalau Aryana habis menanggis.

__ADS_1


"Ma..maaf, Kak, ayo pulang," ucap Aryana lalu berdiri dari duduknya menyambar tasnya dan berjalan keluar kelas, namun sebelum Aryana keluar Afwi tiba-tiba mencekal tangan sang adik karena menyadari ssesuatu.


"Tunggu!, kau habis menangis?" tanya Afwi menyelidik sambil memperhatikan wajah Aryana.


"Tidak," jawab Aryana.


"Kau tak pandai berbohong, Dek, katakan kenapa!" pinta Afwi.


"Aku tak apa-apa, aku bisa jaga diriku sendiri, mulai sekarang kakak tak perlu mencemaskan apapu tentang diriku, aku memang punya kelanainan jantung tapi aku tidak akan secepat itu mati!" ucap Aryana lalu melepas paksa cekalan tangan sang kakak dan berlalu begitu saja keluar dari kelasnya. Afwu yang mendengar perkataan sang adik hanya tertegun berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi dengab Aryana tanpa ia sadari Aryana sudah keluar kelas dari tadi.


"Dek...dek..., tunggu!" ucap Afwi berteriak memanggil sang adik yang sudah berjalan menjauh.


Aryana terus berjalan tanpa mempedulikan panggilan kakaknya, dia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang. Namun sang kakak bisa menyusul langkah Aryana.


"Na, tunggu!" pinta Afwi pada Aryana yang langsung memegang tangan sang adik.


"Kak, aku mohon, hari ini aku ingin pulang sendiri," ucap Aryana.


"Kenapa sih Dek, sikap kamu jadi aneh gini, perasaan tadi kita baik-baik saja, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" desak Afwi pada Aryana.


"Aku hanya ingin belajar mandiri saja agar kedrpannya aku tak menyusahkan siapapun dan tidak membuat siapapun harus mengobankan dirinya atau bahkan masa depannya hanya untuk menjaga gadis seperti aku, dan sekalipun besok aku harus mati, aku ingin mati menjadi wanita yang kuat dan berguna bagi orang lain agar aku tidak berakhir menyedihkan," ucap Aryana tegas dengan sorot mata yang lebih memancarkan kekecawaan dan amarah.


"Dek, dengerin kakak!, kamu tidak pernah menyusahkan siapapun dan tidak ada yang merasa harus berkorban untuk kamu, dimata kakak, kak Afwa, ayah, bunda bahkan om Fahmi kesayanganmu itu, kamu adalah wanita yang hebat, jadi berhenti bersikap seperti ini!" pinta Afwi penuh penekanan, untung saja sekolah sudah sepi karena semua murid sudah pulang jadi tidak ada yang mendengar perdebatan kakak beradik itu.


"Baik, kalau begitu, setelah lulus SMA kak Afwi harus berjanji masuk Akmil sesuai impian kakak!" pinta Aryana yang membuat Afwi terhenyak, Afwi cukup terkejut dengan permintaan adik kembarnya.


"Apa maksud kamu?, kenapa minta hal seperti itu?" tanya Afwi bingung.


"Kak Afwi jangan pura-pura bodoh atau amnesia, jangan membuatku menjadi orang yang paling bodoh dan tidak berguna, jika kak Afwi masih sayang aku, turuti permintaanku, raih impian kakak, siapa yang akan membantu ayah di perusahaan nanti biar jadi urusanku. Benar kata Haris, kak Afwi berhak bahagia," ucap Aryana.


Duarr


___________________________________________


He...he...sorry baru up


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Faforit juga hadiah seiklhasnya.

__ADS_1


Thank You


Bersambung....


__ADS_2