
Happy Reading
Waktu pun terus bergulir, tak terasa waktu ulangan semester satu tiba juga. Semua siswa dihimbau untuk lebih rajin belajar.
"Na, kamu sudah belajar belum buat jadwal test hari ini?" tanya Franda.
"Sudah dong," jawab Aryana.
"Kalau di mah jangan ditanya, Nda, bawaan dari orok pinter ya pinter, nggak masuk seminggu aja Ana pasti masih bisa ngerjain tuh rumus kimia yang bikin pusing," seloroh Niken yang ada di samping Franda sambil memegang buku PPKn, jadwal hari pertama ulangan semester 1 ini adalah Bahasa Indonesia dan PPkn.
Tak lama kemudian bel berbunyi, para siswa berbaris rapi menunggu guru pengawas ruangan datang. Setelah pengawas ruang datang para siswa baru diperbolehkan untuk masuk ruang tes. Ulangan hari ini dilalui dengan baik oleh para siswa, dan mereka bisa pulang lebih awal. Saat keluar ruangan menuju parkiran ponsel Aryana berbunyi ada panggilan vc dari om dokter tersayangnya. Aryana duduk di bangku taman sekolah lalu menggeser tombol hijau di ponselnya dengan senyuman.
Aryana
"Assalamualaikum, Om ku yang ganteng."
Dokter Fahmi
"Waalaikumsalam, apa kabar baik cantiknya Om, hari ini UAS kan?, bisa mengerjakan nggak?"
Aryana
"Alhamdulillah, bisa dong Om."
Dokter Fahmi
"Kamu harus belajar yang rajin, nanti kalau dapat nilai bagus masuk tiga besar lagi nanti Om kasih hadiah."
Aryana
"Halah paling cuma boneka dan jam tangan doang kaya kemarin."
Diseberang telepon Fahmi terkekeh geli, mendengar gerutuan Aryana, meskipun jam tangan hadiahnya harganya hampir sama dengan satu mobil baru, memang bagi Fahmi untuk seorang Aryana uang tak jadi masalah.
Dokter Fahmi
"Lalu Aryana mintanya hadiah apa?"
Aryana
"Aku mau liburan ke Maldives, Om kan kaya."
Dokter Fahmi
"Kamu mau bulan madu?, kok pilihnya Maldives?"
Aryana
"Ana lihat di internet tempatnya sangat bagus dan tenang.
Dokter Fahmi
"Memang kamu mau liburan kesana sama siapa hemm?"
Aryana
"Sama Om lah, kalau sama kak Afwi bosen."
Dokter Fahmi
"Apapun untukmu cantik, kalau nanti kamu dapat juara, nanti kita ke Maldives asal ayah bunda mu mengizinkan."
__ADS_1
Aryana
"Oke, Om siap-siap aja, Om aku rampok sampai miskin."
Dokter Fahmi
"Ha...ha..., silahkan sayang kalau mau rampok Om, Om siap lahir batin jika yang rampok kamu."
Aryana
"Sudah dulu ya Om, kak Afwi sudah nunggu.
Dokter Fahmi
"Iya, Sayang hati-hati, Assalamualaikum."
Aryana
"Waalaikumsalam."
Saat Aryana mematikan panggilan vc nya
kedua sahabatnya sudah berada di belakangnya dengan mata tak berkedip.
"Woiy, kalian sejak kapan disini?" tanya Aryana menyelidik.
"Na, kamu dapat darimana cowok secakep itu, lebih cakep dari si Ghavin?" tanya balik Franda yang tadi sempat melihat wajah dokter Fahmi yang masih kelihatan muda dan tampan.
"Iya, Na kenalin dong," ucap Niken.
"Dia tuh Om aku, temannya ortuku tapi sudah seperti keluarga sendiri," ucap Aryana.
"Tapi sumpah Na, dia masih cakep banget, kalau om kamu dah nikah aku mau kok jadi yang kedua," ucap Franda ngaco.
Franda dan Niken cemberut dan kesal karena Aryana meninggalkan mereka begitu saja.
"Hai, Kak!" panggil Yasmin sambil menepuk pundak Afwi yang duduk diparkiran sejak tadi sambil menggerutu tidak jelas.
"Masih ingat Kakak?!" ucap Afwi kesal karena sudah hampir setengah jam diparkiran dan saat ditelpon tak diangkat.
"Maaf dech Kakakku sayang," ucap Aryana lalu bergelayut manja di lengan sang kakak sambil merayu Afwi agar tak marah.
"Kamu tadi kemana aja sih?" tanya Afwi dengan masih mode kesal dengan Aryana.
"Maaf, tadi aku terima panggilan vc dari om Fahmi," jawab Aryana membuat Afwi mendengus kesal.
"Kamu tuh ya kalau sudah ngobrol sama om Fahmi lewat telpon sampai lupa waktu kayak orang bucin sama pacarnya saja," omel Afwi.
Mendengar omelan kakaknya Aryana terdiam, entah kenapa kalimat terakhir kakaknya membuat sesuatu dalam hatinya merasa ada suatu rasa yang aneh tapi ia tak tahu apa.
"Kakak ngomongnya ngaco kaya Franda, sudah ah ayo pulang aku lapar!" ajak Aryana sambil menarik tangan sang kakak.
Mereka pun berjalan menghampiri dimana motor Afwi diparkirkan. Afwi langsung melajukan motornya dengan Aryana yang membonceng di belakangnya, namun kali ini Aryana tak dijemput sopir seperti biasa, ia membonceng sang kakak sampai rumah. Aryana ingin makan berdua dengan sang kakak di sebuh cafe yang selama ini ingin ia kunjungi.
"Ah, akhirnya aku bisa makan di cafe ini, kata teman-teman disini makanannya enak-enak," ucap Aryana merasa senang bisa nongkrong makan layaknya rakyat biasa.
"Kamu ini, Dek, seperti nggak pernah makan enak aja, kita kan sudah sering makan di resto hotel atau restoran milik ayah," ucap Afwi sambil membuka-buka menu masakan di cafe tersebut.
"Ih, beda tau, kadang makanan di cafe seperti ini atau di pinggir jalan itu lebih enak dari pada makanan di restoran mewah," ucap Aryana.
"Ayo kamu mau pesan apa, ntar kalau kita kelamaan dicariin bunda!" pinta Afwi.
__ADS_1
Aryana dan Afwi pun segera memesan makanan dan minuman, Aryana terlihat sangat menikmati makanannya. Afwi memandang adik kembarnya itu dengan bahagia, sepertinya sang adik sudah bisa move on dari cowok bernama Ghavin.
"Semoga kamu selalu bahagia, Dek dan diberi umur panjang dan mendapatkan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus," doa Afwi dalam hati.
"Kakak makanan disini enak ya, besok-besok kita kesini lagi, kalau bisa ajak kak Afwa juga, aku kangen sama kak Afwa," ucap Aryana setelah menyelesaikan makannya.
"Iya kapan-kapan kita ke sini lagi sama kak Afwa," ucap Afwi.
Setelah menyelesaikan makannya kakak beradik itu menuju kasir untuk membayar, dan ketika mereka akan keluar cafe Aryana melihat Ghavin memasuki cafe bersama seorang wanita cantik bergelayut manja. Aryana hanya pasang muka datar ketika matanya tak sengaja bertemu dengan tatapan mata Ghavin. Afwi yang melihat kejadian itu langsung merangkul sang adik mesra lalu berjalan keluar cafe melewati meja dimana Ghavin dan cewek itu duduk.
"Eh bukannya itu Afwi yang menjuarai lomba karate tingkat karisidenan anak kelas XI IPA 3?" ucap Selvi.
"Oh, ya memang kenapa?, kamu naksir?" tanya Ghavin kesal Selvi menanyakan cowok lain saat bersamanya.
"Eh, nggak lah Yang, aku cuma heran kenapa ia bisa mesra sama cewek model kaya gitu, lihat penampilannya biasa aja, padahal Afwi terlihat sangat keren, banyak cewek-cewek yang naksir sama dia meski dia dingin," ucap Selvi.
"Sudah ah, nggak usah bahas dia, kita kan kesini mau makan," ucap Ghavin kesal.
"Aduh Sayang gitu aja kok marah, nanti hilang lho cakepnya, iya-iya kita makan," ucap Selvi lalu mencium pipi Ghavin sekilas membuat si empunya tersenyum.
"Kamu cemburu, Dek?" tanya Afwi saat mereka sudah di parkiran cafe.
"Nggak, ngapain cemburu, memangnya aku siapanya dia, kakak jangan ngaco, lama-lama kakak jadi kaya Franda," jawab Aryana sewot.
"Bener nih sudah move on?" tanya Afwi memastikan perasaan adiknya pada Ghavin.
"Sudah, ayo pulang ntar bunda khawatir!" ajak Aryana.
Afwi lalu mengambil motornya setelah Aryana duduk dengan benar dibelakangnya, ia segera melajukan motornya untuk pulang ke rumah.
Sampai di rumah benar saja sang bunda sudah gelisah menunggu Aryana dan Afwi yang belum pulang sekolah padahal kalau UAS mereka akan pulang lebih awal. Tadi pak Yanto bilang kalau nonanya tak mau pulang bersamanya, sang nona ingin membonceng Afwi.
"Assalamualaikum," ucap Afwi dan Aryana bersamaan saat memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab sang bunda.
"Kalian kemana saja kenapa baru pulang?" tanya Yasmin khawatir.
"Maaf, bunda tadi Ana ngajak kak Afwi makan dulu di cafe yang di bilang teman-teman menunya banyak dan rasanya enak, jadi Ana penasaran, mumpung pulang lebih awal Ana pingin kesana," jawab Aryana.
"Ya ampun Ana, tapi kamu nggak makan yang nggak boleh makan dan minum kan?" tanya bunda khawatir.
"Tenang, Bunda 'kan ada Afwi, nggak mungkin Ana melanggar pantangannya, dia kan masih pingin nikah dan memberi bunda cucu, jadi harus berusaha selalu sehat," ucap Afwi yang sukses membuat Aryana melayangkan pukulan di lengannya.
"Auww, sakit, Dek," ucap Afwi .
"Habis kakak ngaco lagi," ucap Aryana yang langsung berlalu meninggalkan Afwi dan bundanya di ruang tamu.
"Afwi kamu sekali menggoda adikmu," ucap bunda.
"Memang kenyataannya begitu kok, salah satu cita-citanya adalah ia bisa menikah dengan laki-laki yang mencintainya dan ia cintai sebelum waktunya habis," ucap Afwi yang juga langsung berlalu dari hadapan sang bunda berjalan menuju kamarnya.
Yasmin yang mendengar penuturan Afwi berubah sedih mengingat masa depan putri satu-satunya itu.
"Semoga kamu diberi umur panjang dan selalu sehat, Ana, semoga Allah mengabulkan semua doamu sayang," ucap Yasmin dalam hati sambil menyeka bulir bening yang keluar dari sudut matanya.
___________________________________________
Please Like, Vote, Coment, Rate 5 star and favorit.
Thank You
__ADS_1
Bersambung...