Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 146


__ADS_3

Pak Mahendra memandang lekat Afwi, berusaha melihat kesungguhan dari pria yang begitu terang-terangan mengatakan mencintai putrinya empat tahun yang lalu.


"Apa kau benar-benar yakin bisa menaklukan putriku, Ipda Afwi?" tanya pak Mahendra.


"Iya, saya yakin, saya hanya perlu doa dari anda," jawab Afwi tanpa rasa ragu sedikitpun, aura kepemimpinan dan ketegasan turunan Yudha menurun padanya.


"Saya percaya padamu, dan saya pun juga menaruh harapan besar padamu bisa menaklukan hati putriku juga merubah pemikiran tentang profesi kita ini, saya akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian. pak Yudha adalah salah satu prajurit terbaik, selama bertugas, saya tak pernah mendengar hal negatif tentangnya, jadi saya yakin kamu bisa menjadi imam yang baik untuk putriku," harap pak Mahendra pada Afwi.


Merasa sudah selesai saling berbincang dan memberi penjelasan, Kedua pria beda generasi yang sama-sama berprofesi sebagai polisi meninggalkan taman tersebut, Afwi kembali ke kantor setelah meminta salah seorang anak buahnya untuk menjemput karen sewaktu pergi mereka menggunakan mobil pak Mahendra, sedangkan pak Mahendra langsung pulang ke rumah. Afwi meminta pak Mahendra untuk sementara waktu merahasiakan profesinya sebagai seorang polisi.


Sampai di kantor, Afwi langsung menuju ruangannya, pikirannya sedikit kacau, sekarang pak Mahendra sudah mengetahui siapa sebenarnya dirinya, untung sang calon papa mertua mengeri dirinya. Afwi mengambil ponsel berniat menghubungi sang bunda, pada saat seperti inilah suara lembut dan nasehat sang bunda bisa menenangkan hatinya.


Afwi


"Hallo, Assalamualaikum, Bunda!"


Yasmin


"Waalaikumsalam, Nak, bagaimana kabarmu, kapan kau bawa calon mantu buat bunda?"


Afwi


"Doakan bunda, ini mantu bunda sedang otw proses"


Yasmin


"Alhamdulillah, cewek mana?, apa masih Nayla putri pak Kombes atau dah move on?"


Afwi


"Masih Nayla, Bunda, tapi baru PDKT tanpa dia tahu aku seorang polisi."


Yasmin


"Ya Allah..., ini sudah tahun berapa masih juga Nayla tak suka punya suami polisi, padahal ayahnya poilisi juga, bunda malah bingung."


Afwi


"Nah itu dia bunda, bagaimana caranya melukuhkan hati Nay dan memberi pengertian agar menerimaku dan profesiku."


Yasmin


"Pelan-pelan memberi tahunya, tapi jangan secara langsung, ya sambil ngobrol ringan singunglah profesi polisi, cerita yang baik-baik dan jangan lupa berdoa pada Allah agar melembutkan hati Nayla agar bisa berdamai dengan hatinya, bisa menerima jika mungkin suaminya nanti seorang anggota polisi, perbanyak igstifar dan shalawat. Mintalah pada Sang Pemilik Hati, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Minta jodoh yang terbaik menurut versinya Allah, jangan menurut versimu!"


Afwi


"Ya Bundaku sayang, aku akan melakukan saran bunda, tapi by the way, bunda dan ayah masih di Singapura atau sudah pulang?"


Yasmin


"Belum, bunda masih di Singapura seminggu lagi, masih kangen sama cucu-cucu bunda, kalau om Raka sudah di ijinkan pulang ke tanah air kemarin."


Afwi


"Oh begitu, syukurlah kalau om Raka sudah sembuh dan bisa pulang."

__ADS_1


Yasmin


"Sampai sini dulu ya, itu Alya agak rewel, Assalamualikum."


Afwi


"Ya, Bunda Waalaikumsalam"


Setelah menutup telponya Afwi menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya terpejam sebentar untuk menetralisir hatinya yang sudah seperti tim penjinak bom di kesatuanya yaitu gegana. Afwi lalu menelpon Jefri, general manager Aryana Hotel untuk mengatakan rencananya, di telpon Jefri mengerti semua maksud Afwi. Jefri adalah salah satu kepercayaan sang adik ipar yang kece badai meski sudah tak muda lagi dan ingat plus tajir, putra mahkota Pratama group, siapa lagi jika bukan Fahmi Arya Pratama.


Seusai magrib Afwi pulang ke rumahnya sendiri, bangunan minimalis dua lantai yang ia beli dengan tabungannya sendiri. Afwi memang ingin tampil sederhana, ia tak mau rusak citra profesinya. Apa kata orang jika baru jadi perwira kurang dari satu tahun sudah bisa beli rumah mewah.


Afwi langsung membersihkan diri setelah itu ia sekaliam berwudhu dan melaksanakan shalat isya, setelah melaksanakan ibadahnya ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Hari ini benar-benar melelahkan untuknya..


Pagi harinya Afwi sudah rapi dengan seragamnya, ia menuju meja makan, sepiring nasi goreng dan telur ceplok adalah menunya hari ini. Siapa yang masak?, tentu saja Afwi sendiri, sedari remaja ia dan kedua saudara kembarnya sudah di training oleh sang bunda untuk bisa memasak meski hanya menu yang sederhana.


"Andai kamu ada di sini, Dek, menjadi kekasih halalku, maka pagiku pasti akan cerah," batin Afwi sebelum ia menyendokkan nasi ke mulutnya.


Selesai sarapan ia mengirimkan pesan pada Nayla agar mereka bertemu hari Sabtu di Aryana Hotel untuk membicarakan kerjasana yang akan mereka jalin. Afwi melajukan mobilnya menuju kantor polisi tempat ia bertugas, sampai di kantor ia langsung menuju ruangannya. Tak lama Afwi masuk ruangannya Ipda Fikri salah satu rekannya masuk ke dalam.


"Boleh masuk Ipda Afwi?"


"Ipda Fikri silahkan masuk?"


"Aku hanya mau minta tanda tanganmu saja, kemarin aku ke ruanganmu tapi kata polisi yag lain kamu sedang keluar dengan Kombes Mahendra, kalau boleh tahu ada kasus baru yang aku belum tahu?" tanya Ipda Fikri.


"Maaf kemarin, kepalaku agak pusing, jadi setelah magrib aku pulang, dan soal Kombes Mahedra dia hanya meminta tolong sesuatu bersifat pribadi," jawab Afwi tenang.


"Apa jangan-jangan, Kombes Mahendra mau menjadikanmu menantunya," tebak Ipda Fikri sambil tersenyum.


"Jadi beneran kamu ada hubungan khusus dengan putri tunggalnya pak Mahendra?" tanya Ipda Fikri menyelidik.


"Sedang otw kesana, putri pak Kombes bukan sembarang wanita yang bisa ditaklukan dengan kekayaan, ketampanan, pangkat maupun jabatan," ucap Afwi.


"Sungguhkah?" tanya ipda Fikri tak percaya.


"Iya, sudahlah, kembali sana, ini sudah kutanda tangani, dan awas kalau nyebarin gosip nggak jelas, kutembak kepalamu!" ucap Afwi sambil menyodorkan sebuah map berwarna merah pada rekan kerjanya yang selalu kepo dengan urusannya itu.


"Iya-iya aku keluar, nggak usah pakai ngancam, seperi cewek pms saja," sungut Ipda Fikri yang langsung keluar dari ruangan Afwi setelah menerima map dari Afwi.


Sepeninggal Ipda Fikri, Afwi melihat ponselnya, bibirnya yang miskin senyum itu tengah menyungingkan senyuman tipis ketika melihat balasan chat dari Nayla yang isinya sang pujaan hati mengiyakan pertemuan mereka di hotel Aryana. Setelah puas tersenyum sendiri melihat ponselnya mirip orang tidak waras, Afwi meneruskan pekerjaannya.


Waktu terus berjalan, hari Sabtu yang dinantikan Afwi tiba, sore itu ia sudah berdandan rapi dengan tampilan semi formal. Celana berbahan kain dengan atasan kaos dan jas potongan semi formal. Afwi sudah memberi perinah pada Jefri agar mengkondisikan semua pekerja hotel yang mengeatahui profesi Afwi sebenarnya untuk menutup mulut jika Nayla sedang berada di hotel.


"Dina, nanti jika ada wanita bernama Nayla datang kesini, langsung suruh ke ruanganku, dan ingat perlakukan dia dengan baik!, kau sudah di beri tahu pak Jefri kan?" ucap Afwi yang berupa perintah dan sebuah pertanyaan untuk mematiskan mulut sang resepsionis bisa amanah.


"I-iya, Pak," jawab Dina sedikit gugup karena pandangan Afwi sungguh tajam dan sangat mengitimidasi.


Afwi segera berjalan mwnuju lift yang akan menuju ke ruangannya yang sudah di siapkan sang adik yang bersebelahan dengan ruang kerja Aryana yang jarang ditempati, namun sesekali Afwi menggunakan ruang kerja Aryana untuk beristirahat karena ruang kerja sang adik sangat lengkap fasilitasnta termasuk kamar tidur pribadi. Fahmi benar-benar memanjakan Aryana.


Tak lama Nayla datang sendiri ke Aryana Hotel, karena Dio sedang megurus kedai lumpianya. Nayla berjalan anggun menuju meja resepsionis.


"Selamat siang, mbak, apa bisa saya bertemu dengan pak Afwi?" tanya Nayla.


"Apa nona sudah ada janji?" tanya Dina si resepsionis.

__ADS_1


"Sudah, nama saya Nayla," jawab Nayla.


"Oh nona Nayla, mari saya antar ke ruangan pak Afwi."


"Terima kasih."


Dina mengantar Nayla hingga sampai ke ruangan Afwi.


Tok tok


"Siapa?"


"Saya pak, Dina, ini nona Nayla sudah datang."


"Suruh masuk!"


"Silahkan masuk nona, pak Afwi sudah menunggu!" ucap Dina kemudian meninggalkan Nayla di depan pintu ruangan Afwi.


Ceklek, Nayla masuk ke dalam ruangan dan tentu saja kedatangannya di sambut senyum manis dan langka dari polisi yang miskin senyum dan dingin.


"Dek, Nay, silahkan duduk?, mau minum apa?" tawar Afwi sambil berjalan menuju sofa tamu di ruangannya.


"Nanti saja , Bang minumnya saya masih kenyang."


"Baiklah, kalau begitu, sebentar ya aku ambilkan berkas kerjasamanya!" pinta Afwi kemudian menuju meja kerjanya lalu mengambil sebuah map, kemudian meenyerahkan map tersebut pada Nayla.


"Ini berkasnya bisa kamu pelajari dulu," ucap Afwi.


Nayla kemudian membaca berkas kerjasama itu dengan seksama dan hati-hati.


"Abang serius dengan semua ini?" tanya Nayka pada Afwi untk memantapkan hatinya menerima kerjasama ini.


"Serius, aku percaya pada lumpia buatanmu, pasti akan banyak peminat di sini, tapi untuk hari pertama tak usah banyak-banyak dulu karena ini menu baru, kamu buat lima puluh biji dulu, lalu kita lihat perkembangannua, untuk jumlah lumpia berikutnya kamu bisa yanya pada bu Melinda," saran Afwi.


"Baik, Bang, kira-kira kapan aku bisa mulai?, dan nanti aku menemui siapa sini?" tanya Nayla.


"Setelah kau tanda tangan kerjasama, kau bida memulai kirim barangnya dan kau bisa menyerahkannya pada bu Melinda yang ada di restoran lantai bawah," jawab Afwi.


"Kalau begitu aku akan tanda tangan dulu," ucap Nayla lalu mendandatangani perjanjian kerjasama dengan Aryana Hotel.


"Ya silahkan!"


"Apa adik abang tahu tentang kerjasama kita ini?" tanya Nayla setelah membubuhkan tanda tangannyan lembar kerjasama.


"Aryana tahu, bahkan dia sangat menyetujuinya, rencananya calon istri kakak kembarku nantinya juga akan bergabung di Aryana Hotel."


"Oh Ya, itu bagus sekali jika usaha bisa di tangani keluarga sendiri," ucap Nayla sambil tersenyum.


"Dan sebentar lagi kamu juga akan bergabung menjadi keluargaku, Dek," batin Afwi.


________________________________________


Maaf baru up karena ada kesibukan menjelang UKK dan lagi dampingi si sulung belajar untuk ujian akhir madrasah 🙏


Please like, vote, komentar, rate and favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2