
Setelah melepas kepulangan keluarganya ke Jakarta, Fahmi dan Aryana bersiap untuk kembali ke rumah Yudha mertua Fahmi. Aryana dan Fahmi kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang mereka yang akan mereka bawa ke rumah Aryana.
"Sayang, periksa yang benar jangan ada barang yang ketinggalan ya!" pinta Fahmi.
" Iya, Honey, barangku cuma ini aja kok, yang banyak kan malah barang-barangmu, sini aku bantu," ucap Aryana yang dengan sigap langsung membantu melipat dan merapikan baju-baju sang suami.
"Makasih, Sayang," ucap Fahmi sambil mendaratkan ciuman di pipi sang istri.
Selesai berkemas mereka langsung pulang ke rumah Aryana yang berarti rumah Yudha. Keduanya sampai di rumah Yudha pukul tiga sore. Tenda pernikahan sudah tidak terpasang lagi di rumah Yudha karena sudah dilepas oleh pihak Wo, namun beberapa mobil masih terlihat keluar masuk rumah putra Dimas Aji Dewantara itu.
"Sayang, kok halaman rumahmu banyak mobil sih, apa ini mobil tamu?" tanya Fahmi heran sewaktu mobilnya kesulitan memasuki halaman rumah mertuanya.
"Ya mungkin tamu ayah dan bunda yang tidak sempat hadir di hari pernikahan kita, udahlah yuk masuk!" ajak Aryana, dan Fahmi pun merangkul pinggang sang istri posesif saat memasuki rumah.
"Assalamualaikum," ucap Fahmi dan Aryana bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab beberapa orang yang berada di dalam rumah.
Waktu Aryana dan Fahmi masuk rumah ada tiga pasang paruh baya dan satu orang pemuda seusia Aryana.
"Lha ini pengantinnya, ayo kasih salam sama teman-teman ayah!" pinta Yasmin sang bunda.
Fahmi melepaskan pelukannya di pinggang Aryana, ia dan Aryana berjabat tangan dengan teman-teman ayah mertuanya sedangkan Aryana hanya menjabat tangan para wanita paruh baya dan dengan pria paruh baya teman-teman sang ayah, ia hanya menakupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum, termasuk dengan pemuda yang mungkin anak dari salah satu teman-teman ayahnya. Sewaktu ia beradu pandang dengan pemuda tadi Aryana agak terkejut.
"Kak Ghavin," lirih Aryana tapi masih terdengar oleh Fahmi dan Yasmin yang berada dekat dengan Aryana.
"Kamu kenal anaknya Om Herlambang?" tanya Yasmin yang membuat mata semua orang fokus pada Aryana termasuk.sang ayah.
"Kenal, Bunda, tapi aku cuma tahu kak Ghavin kakak kelasku waktu aku sekolah di SMAN xx," jawab Aryana.
"Wah nggak nyangka putri pak Yudha ternyata pernah satu sekolah dengan anak saya," ucap nyonya Herlambang.
"Masih muda sudah memutuskan menikah, itu keputusan yang besar," sela salah satu nyonya istri teman Yudha.
Ghavin yang menjadi salah satu topik pembicaraan hanya menundukkan wajahnya namun sesekali ia mencuri pandang ke arah Aryana.
"Gila, kenapa dia bisa bertransformasi menjadi gadis secantik itu dan sialnya aku tak mengetahui bahwa dia adalah tuan putri Dewantara group, andai aku tahu, akulah yang akan bersanding dengannya sekarang," batin Ghavin mengumpat kesal pada dirinya sendiri karena terlambat menyadari bahwa salah satu gadis yang pernah dia abaikan adalah seorang tuan putri kerajaan bisnis Dewantara group.
Menyadari ada yang mencuri pandang pada istrinya, Fahmi meminta ijin untuk undur.diri ke kamar bersama Aryana.
"Maaf, semuanya kami mau ke kamar, kami belum shalat ashar," ucap Fahmi beralasan, namun ia dan Aryana benar-benar belum shalat ashar.
"O ya silahkan, tidak apa-apa," ucap salah satu pria paruh baya salah satu teman Yudha.
Fahmi lalu mengajak Aryana naik ke atas menuju kamar Aryana dan sepeninggal Fahmi dan Aryana, teman-teman Yudha meneruskan perbincangan mereka lagi.
__ADS_1
"Pak Yudha, apa tidak kasihan menikahkan putri bapak di usia yang sangat muda?" tanya pak Herlambang ayah Ghavin.
"Sebenarnya saya ingin Aryana kuliah dulu tapi calon suaminya ngebet banget, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan makanya saya setujui saja. Suami Aryana berjanji akan mengijinkan Aryana kuliah setelah menikah dan bertanggung jawab atas masa depan putri saya, bahkan hotel bintang di Bandung menjadi mahar pernikahannya, dan hotel tersebut dinamai Aryana Hotel, sistem Amdal dan semua interior hotel Aryana dan Fahmi sendiri yang merancangnya, selain itu satu buah mobil sport dan satu rumah mewah juga menjadi mahar pernikahannya" ujar Yudha pada teman-temannya yang kepo maksimal, bukannya Yudha ingin pamer namun nada bicara salah satu rekan bisnisnya seolah meremehkan anaknya yang menikah muda
"Wow, sebuah hotel, mobil sport dan rumah mewah sebagai mahar?, memang apa pekerjaan menantu pak Yudha?" tanya salah seorang istri teman Yudha.
"Menantuku adalah seorang dokter spesialis jantung, sekaligus pemilik rumah sakit Permata dan juga menantuku adalah ceo dari Pratama group," jawab Yudha tenang namun terkesan tegas dan ucapan Yudha barusan membuat teman sekaligus rekan bisnis Yudha terkejut, mereka tak menyangka gadis muda yang baru saja lulus SMA menikah dengan seorang ceo pemilik salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Bahkan salah satu rekan bisnis Yudha, perusahaannya masih dibawah Pratama group dan Baru kali ini mereka tahu wajah ceo Pratama group karena selama ini hanya orang-orang kepercayaan Pratama yang mewakili meeting, jika tidak penting sekali Fahmi engan untuk mengikuti meeting.
"Maaf, apa putri anda dijodohkan?" tanya salah seorang istri teman Yudha lagi.
"Tidak, Fahmi sudah menyukai putriku sejak lama, karena putriku juga mencintainya mau bagaimana lagi, Fahmi bahkan sempat di jodohkan oleh orang tuanya dengan beberapa wanita yang lebih dewasa, namun ia menolak mentah-mentah semua wanita yang di jodohkan dengannya, kalau kalian pikir putriku menikah dengan Fahmi karena harta atau bisnis kalian salah. Putriku dan kedua kakak kembarnya sangat menyukai kehidupan sederhana bergaul dengan kalangan menengah kebawah. Kedua kakak kembarnya bahkan lebih memilih menjadi militer dari pada duduk di kursi kebesaran Dewantara group," ujar Yudha yang membuat pikiran negatif yang sempat mampir di kepala mereka hilang.
Yudha masih berbincang dengan rekan-rekannya, Ghavin hanya menyimak obrolan orang tuanya dengan orang tua Aryana dan teman-teman bisnis Yudha. Dalam hati ia sangat menyesal kenapa selama ini dia hanya melihat wanita dari casingnya saja, andai waktu bisa diputar ia akan mengejar Aryana bagaimanapun caranya, namun sekarang terlambat adik kelasnya itu sudah menikah dengan pria hebat, meski orang tua Ghavin juga seorang pembisnis tapi tak ada apa-apanya di bandingkan Fahmi. Bahkan usaha papanya sempat bangkrut sehingga ia harus sekolah di sekolah negeri dan karena bantuan dari Dewantara group usaha papanya bisa bangkit lagi.
Sedangkan di kamar Aryana, Fahmi menyapukan pandangannya di kamar bernuansa pink dan biru muda. Ia membuka sebuah lemari yang setengah pintunya kaca. Fahmi tercengang ketika membuka lemari tersebut, pasalnya isi lemari tersebut adalah semua hadiah yang pernah ia berikan pada Aryana.
"Sayang, ini semua hadiah dariku?" tanya Fahmi.
"Iya, itu semua hadiah darimu, Honey, ada yang sudah aku pakai ada juga yang aku sumbangkan waktu pengalangan dana untuk bencana alam, kamu tak marah kan?"
Mendengar itu Fahmi tersenyum lalu mendekati sang istri, ia mendaratkan kecupan lembut di kening Aryana.
"Aku tak mungkin marah, apa yang sudah kuberikan padamu adalah hakmu, terserah kau mau mengunakannya untuk apa, dan aku salut hadiah pemberianku padamu bisa berguna untuk menolong orang lain," ucap Fahmi lembut sambil membelai kepala Aryana.
"Sudah ku bilang kan tadi, apa yang aku berikan sudah menjadi hakmu, jadi jangan khawatir kalau aku marah," ucap Fahmi.
"Sayang, apa pemuda bernama Ghavin tadi kakak kelasmu yang dulu pernah kamu sukai?" tanya Fahmi setelah selesai membahas hadiah-hadiah yang dulu pernah ia berikan pada Aryana.
"Ehm, Iya, tapi dulu, bahkan sebelum kak Ghavin lulus dan kita masih satu sekolah, aku sudah tak memiliki perasaan apapun lagi padanya," jawab Aryana jujur.
"Beneran kamu sudah move on?" tanya Fahmi memastikan.
"Ya iyalah, apalagi kak Afwi nggak suka sama dia, kalau dimata kak Afwi saja dia dinilai minus apalagi dimata ayah, bisa dicincang sama ayah," ucap Aryana.
"Apa hanya karena Afwi tak suka kamu jadi melupakan dia?" tanya Fahmi menyelidik, ia harus memastikan perasaaan istrinya pada sang kakak kelas sudah selesai.
"Ya, karena aku pernah memergoki kak Ghavin berbuat mesum dengan salah satu siswa perempuan di sekolah, siswa perempuan sudah lama suka sama kak Ghavin, jadi mungkin itulah yang membuat siswa perempuan tadi bersedia begituan sama kak Ghavin," jawab Aryana.
"Syukurlah kamu sudah bisa move on," ucap Fahmi.
"Eh, tapi tunggu, darimana kamu tahu, Honey kalau aku pernah menyukai kak Ghavin?" tanya Aryana menyelidik.
"Kau pikir aku akan membiarkan calon istriku memiliki perasaan pada pria lain, meski aku sering jauh, aku selalu mengawasi mu agar kau tetap aman, apalagi dari laki-laki yang dekat denganmu meski hanya sekedar teman," jawab Fahmi.
"Berarti selama ini kamu tahu apa saja yang aku lakukan?" tanya Aryana tak percaya suaminya bisa sampai sebucin dan selebay itu padanya.
__ADS_1
"Yap benar aku selalu mengawasi mu Aryana Maira Yudhatama," jawab Fahmi.
Mendengar penjelasan suaminya Aryana memijit pelipisnya, dia benar-benar tak menyangka suaminya ternyata selalu mengawasinya dari dulu. Daripada pusing, ia segera mengajak suaminya untuk segera shalat, tak usah bahas Ghavin lagi toh itu adalah masa lalunya yang tak berarti.
"Yuk, kita shalat dulu, kan tadi kita bilang sama ayah bunda mau shalat ashar dulu!" ajak Aryana yang diangguki sang suami disertai seulas senyuman yang sangat manis.
Setelah menunaikan shalat ashar mereka turun ke bawah untuk menemui ayah dan bunda, membantu menyambut beberapa tamu yang masih ada yang datang ke rumah, mereka juag ingin menyapa Afwa, Afwi dan Azka yang sedari tadi belum mereka lihat.
"Sampai di bawah, ternyata tamu-tamu sang ayah sudah pulang, tapi tak lama kemudian ada tamu lagi yang ternyata pak Heri bersama istri dan dua anaknya yaitu Reno dan Salsa.
"Assalamualaikum," ucap pak Heri dan keluarganya
"Waalaikumsalam," jawab orang dari dalam rumah.
"Heri!" panggil Yudha.
"Iya, maaf tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan putrimu karena ada acara di Kodam, jadi baru bisa hari ini sekalian nengok saudara istriku yang ada di kota S ini," ucap Heri menjelaskan ketidak hadirannya di resepsi pernikahan Aryana.
"Tidak apa-apa, Her aku mengerti," ucap Yudha.
"Pak Heri apa kabar, mari duduk dulu!" ajak Yasmin.
"Terima kasih," ucap pak Heri
Kelurga pak Heri pun duduk di kursi yang sudah disediakan, Aryana Pun keluar sambil membawa minuman untuk tamu di susul Fahmi yang mengekor di belakangnya.
"Ini Om, Tante, Mas Reno, Mbak Salsa, silahkan diminum!" pinta Aryana yang kemudian mengambil tempat duduk di sebelah suaminya.
"Wah penggantinya yang buatin minumannya," ucap pak Heri.
"Nggak apa-apa Om, hitung-hitung belajar jadi istri yang baik," ucap Aryana.
"Nak Aryana hebat, masih muda sudah memutuskan untuk menikah," ucap bu Heri.
Mendengar pujian bu Heri Aryana tersipu malu sedangkan Fahmi mengulas senyumnya, dalam hati ia merasa bangga dengan istri kecilnya.
______________________________________
Hai readers doakan author semoga selalu sehat dan bisa selalu up buat kalian tercinta.
Jangan lupa Like, Vote, Komentar, dan rate bintang lima ya
Thank You
Bersambung...
__ADS_1