Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 172


__ADS_3

Waktu makan malam pun tiba, semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan tak terkecuali Afwi. Untuk Afwi Aryana menyiapkan menu berbeda yang tentu saja ata arahan Fahmi karena Afwi baru saja sembuh dari sakit.


"Besok kita berangkat, jam delapan pagi," ucap Yudha memberitahu jam keberangkatan mereka kembali pulang ke Indonesia.


Mendengar ucapan ayahnya, wajah Aryana langsung mendung, ia masih rindu dengan keluarganya terutama sang kakak yang jarang sekali bisa bertemu.


"Padahal aku masih kangen sama kak Afwi," sahut Aryana sendu.


"Kakak juga masih kangen sama kamu, Dek, tapi masih banyak tanggung jawab yang harus kakak kerjakan," ucap Afwi yang sebenarnya juga masih rindu dengan Aryana dan anak-anaknya.


"Nanti kita akan scedul kapan kamu punya waktu, kita akan jenguk kelurga ke Indonesia.


Aryana tersenyum ketika mendengar ucapan sang suami, sungguh ia sangat bahagia mendapatkan suami yang begitu pengertian seperti Fahmi. Makan malam pun akhirnya selesai, di lanjutkan perbincangan di ruang tengah sambil menunggui ke empat anak Aryana yang sedang menonton film kartun edukasi.


Setelah lama berbincang Afwi segera kembali ke kamar untuk beristirahat, begitu juga dengan anggota keluarga yang lain termasuk Nayla.


Pagi harinya semua sudah bersiap mengantar Afwi, Yudha, Yasmin dan Nayla ke bandara, tentu saja mereka tak naik pesawat komersil seperti kebanyakan orang. Satu buah jet pribadi milik DW group sudah menunggu di sana, jika naik jetpri adalah hal yang biasa untuk Yudha, Yasmin dan Afwi tapi bagi Nayla, ini adalah pertama kalinya ia menaiki jetpri dengan fasilitas yang wow. Saat di sudah duduk di dalam pesawat, Nayla justru terlihat lebih banyak diam dan hal itu membuat Afwi yang duduk di sampingnya merasa heran.


"Dek, sejak masuk ke pesawat, kamu lebih banyak diam, ada apa?" tanya Afwi sambil memandang wajah Nayla.


"Nggak apa-apa, Bang, hanya pingin diam aja," jawab Nayla seadanya.


"Kamu bohong, hati kecilku kau memikirkan sesuatu yang sangat menganggu perasaanmu."


Nayla menghela nafas panjang, sungguh ia tak menyangka dirinya seolah tak bisa menyembunyikan sesuatu dari sang kekasih, benar-benar mengerikan. Apa di Akpol juga di ajari cara menebak hati orang dengan tepat dan akurat.


"Apa aku pantas, Bang?" tanya Nayla ambigu.


"Pantas untuk apa maksudmu?" tanya Afwi bingung.


"Keluarga abang kaya sekali sedangkan aku han---."


Kalimat yang di ucapkan Nayla terpotong saat jari telunjuk Afwi langsung menempel di bibirnya, seolah Afwi tahu apa lanjutan dari kalimat Nayla tersebut.


"Jangan pernah katakan hal seperti itu sekarang, besok dan selamanya, mengerti!"


Setelah mengatakan hal itu, Afwi menurunkan jari telunjuknya yang menempel di bibir Nayla.


"Besok-besok abang tak mau dengar kamu merasa inscure pada dirimu sendiri karena keluargaku atau apapun. Asal kamu tahu, kamu adalah putri tunggal seorang Kombes polisi yang pastinya punya jabatan penting di kepolisian, boleh di katakan papamu seorang pejabat, sedangkan bundaku saat menikah dengan ayah hanya seorang seorang guru di sebuah SMP swasta dengan gaji yang sangat menyedihkan. Orang tuaku bundaku adalah pegawai negeri sipil biasa. Kakek Danuarta PNS di kantor pemerintah dan nenek Ratna seorang guru PNS biasa nggak punya jabatan apapun, dari segi background keluarga orang tua kamu jauh lebih punya prestise di masyarakat dari pada background keluarga bundaku."

__ADS_1


"Apa tante Yasmin pernah merasa inscure juga seperti diriku saat mengetahui keluarga om Yudha?"


"Tentu saja bunda merasa nggak pantas bersanding dengan ayah, bahkan saat pertama kali di pertemukan dengan ayah, bundaku langsung memberi kebebasan pada ayahku untuk menolak dirinya."


"Maksudmu om Yudha dan tante Yasmin di jodohkan?"


"Dijodohkan seratus persen sih tidak, hanya dipertemukan saja jika saling cocok dan mau menerima ya lanjut kalau tidak ya tidak masalah."


"Terus bagaimana om Yudha dan tante Yasmin saling menerima?" tanya Nayla dengan raut wajah sangat kepo.


Sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih, Afwi mengulas senyum, pikirannya memflash back saat dimana sang ayah menceritakan bagaimana senangnya dia saat wanita yang di kenalkan padanya adalah wanita yang selama ini dia cari.


"Kenapa abang malah senyum?"


"Abang ingat bagaimana ayah bercerita tentang pertemuannya dengan bunda dulu. Sebenarnya ayah sudah menyukai bunda sejak dahulu tapi bunda tak menyadari dan ayah juga tak tahu identitas bunda yang sebenarnya. Ayah jatuh cinta pada bunda pada pandangan pertama, namun sebelum ayah belum sempat berkenalan dengan bunda, beliau di tugaskan ke provinsi P untuk menangani pemberontakan di sana, mereka terpisah cukup lama, namun jika jodoh tak akan lari kemana, akhirnya mereka di pertemukan dengan indah dan di saat yang tepat tanpa tahu bagaimana skenario Allah dalam mempersatukan hamba-Nya dalam satu ikatan suci pernikahan."


"Wah...kisah cinta om Yudha dan tante Yasmin sangat so sweet," ucap Nayla sambil tersenyum.


Afwi melanjutkan cerita cinta kedua orang tuanya sampai akhirnya sang bunda melahirkan dirinya dan dua saudara kembarnya. Nayla yang mendengar lanjutan cerita Afwi tentang kisah cinta kedua orang tuanya, membelalakkan matanya, sungguh ia tak menyangkan kisah cinta calon mertuanya itu mirip cerita novel on line yang kadang ia baca. Mugkin jika kisah cinta orang tua sang kekasih di buat novel dan diadaptasi menjadi sebuh film atau sinetron pasti cukup menarik.


Saking asyiknya bercerita, tak terasa jetpri yang mereka tumpangi sudah landing di bandara.


Di bandara sudah meunggu orang suruhan Yudha untuk menjemput demi menjaga Afwi, Yudha meminta Afwi memakai kursi roda, awalnya Afwi sempat menolak namun setelah di bujuk sang bunda dan Naya, akhirnya Afwi mau memakai kursi roda menuju tempat lobby bandara. Ternyata di bandara Kombes Mahendra ikut menjemput rombongan Yudha, ia juga sudah sangat rindu dengan putrinya yang sudah seminggu lebih berada di Singapura.


"Papa...!" pekik Nayla ketika mengetahui papanya ikut menjemputnya di bandara tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya pak Mahendra.


"Alhamdulillah kabar, Nay baik, kenapa papa tak memberitahu kalau mau jemput, Nay?"


"Kalau di kasih tahu nanti nggak surprise."


Yudha sambil mendorong kursi roda Afwi mendekati pak Mahendra dan Nayla sedangkan Yasmin berjalan di samping sang suami.


"Apa kabar pak Mahendra?" tanya Yudha.


"Kabar saya baik, pak Yudha dan kau Afwi bagaimana kedaanmu sudah baikkan?"


"Alhamdulillah, baik pak meski masih pemulihan."

__ADS_1


"Syukurlah, kamu harus semangat agar cepat sembuh dan bertugas kembali seperti biasa."


"Terima kasih, Pak, dan maaf saya jadi merepotkan Dek Nayla."


"Tidak apa-apa, Nayla senang hati membantumu."


Kemudian Afwi diantar ke rumahnya di Bandung, di sana Yasmin sudah menempatkan art paruh baya dan seorang perawat laki-laki untuk membantu merawat sang putra sampai sembuh. Yasmin melakukan itu karena ia dan Yudha tak bisa menemani Afwi sampai sembuh, banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Afwi tidak keberatan sama sekali dengan keputusan sang bunda, ia tahu bagaimana kesibukan ayah dan bundanya. Afwi bahkan sering merasa bersalah tak bisa membantu banyak mengelola bisnis keluarganya karena statusnya sebagai abdi negara.


"Afwi, kamu nggak apa-apa kan bunda cari art buat nemenin kamu?" tanya Yasmin saat sudah sampai di rumah Afwi yang sederhana.


"Tidak, Bunda, Afwi justru sangat berterima kasih bunda sampai memikirkan siapa yang yang akan merawat Afwi selama pemulihan, Afwi jadi merasa tak enak sama bunda dan ayah," ucap Afwi.


"Kamu ini bilang apa sih?, bunda melakukan ini dengan tulus ikhlas karena bunda ingin kamu cepat sembuh dan beraktivitas seperti biasa," ucap Yasmin kemudian memeluk Afwi yang masih duduk di kursi roda.


Yudha, pak Mahendra dan Nayla yang melihat pemandangan itu merasa hati mereka menghangat. Nayla bahkan sampai meneteskan air matanya, perlahan Nayla mendekat pada Yasmin dan Afwi.


"Abang, apa yang di katakan tante Yasmin benar, abang butuh orang yang menemani dan membantu abang di sini, karena Nay juga nggak bisa dua puluh empat jam menemani abang karena kita belum menikah."


Mendengar kalimat terakhir Nayla barusan membuat Afwi ingin sekali mengodanya, ia seolah lupa dengan rasa tak enaknya pada sang bunda karena harus selalu merepotkannya.


"Kalau begitu kita menikah sekarang saja ya, Dek mumpung papamu ada," ucap Afwi sambil tersenyum pada Nayla.


"Abang, apaan sih bikin malu saja!" kesal Nayla bercampur malu.


Pak Mahendra yang ternyata mendengar ucapan Afwi hanya tersenyum, sedangkan Yudha mengeleng-gelengkn kepalanya, ia merasa putra keduanya itu sepertinya mengalami perubahan besar setelah kenal dengan Nayla. Putri seorang perwira polisi yang sangat sederhana jauh dari kata mewah, rela ikut berjualan lumpia untuk membantu adik-adik pantinya.


"Boleh, asal pak Mahendra setuju," seloroh Yudha sambil berjalan bersama pak Mahendra mendekati Afwi.


"Saya setuju, tapi Afwi harus datang melamar resmi Nayla terlebih dahulu, baru saya kasih persetujuan," ucap pak Mahendra yang membuat Afwi dan Nayla terkejut, Afwi tak mengira candaannya terdengar papa Nayla dan papa Nayla langsung meminta Afwi melamar Nayla secara resmi.


_________________________________________


Nah lo abang Afwi


Kira-kira ada yang tau nggak ya berapa gaji bunda Yasmin yang menyedihkan saat kerja jadi guru di SMP Swasta ?


Maaf juga upnya lama 🙏


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2