Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 94


__ADS_3

"Aryana!"


Mendengar ada yang memanggil namanya, Aryana menoleh ke asal suara.


"Mami!" sebentar lagi aku selesai membuatkan minuman lemon tea nya, maaf aku yang buat karena tadi aku mencari bibi Mey tidak ada," ucap Aryana sambil bersikap setenang mungkin.


Mami Miranda mendekati Aryana yang sedang memasukkan potongan lemon ke dalam cangkir berisi teh hangat.


"Aryana, mami minta maaf," ucap mami Miranda.


"Untuk?" tanya Aryana sambil menata empat cangkir teh di atas nampan.


"Untuk sikap mami padamu, yang memintamu mengizinkan Fahmi menikah lagi, dan memaksamu meninggalkan Fahmi jika dalam waktu enam bulan kamu tidak bisa hamil," jawab mami Miranda.


Mendengar permintaan maaf mami mertuanya, Aryana merasa senang karena mami mertuanya bisa menyadari kesalahannya tapi di sisi lain ia merasa belum bisa percaya sepenuhnya pada sikap mami Miranda.


"Sudahlah mami, yang sudah berlalu jangan di pikirkan, sekarang aku sudah hamil, jadi aku mohon dengan sangat mami jangan pernah meragukan apapun tentang diriku, meskipun usiaku masih sangat muda tapi aku tahu bagaimana membahagiakan suami juga keluargaku. Sekarang doakan saja kehamilanku lancar tanpa halangan yang berarti, agar bisa melahirkan tiga cucu mami dengan selamat," ucap Aryana, kemudian Aryana berlalu begitu saja dari hadapan sang mami sambil membawa nampan berisi empat cangkir teh untuk di bawa ke gazebo. Melihat istrinya sendirian membawa nampan berisi minuman, Fahmi langsung berlari kecil menghampiri sang istri.


"Ya Allah, Sayang, kenapa bawa minuman sebanyak ini sendiri?, bibi Mey dan maid yang lain mana?" tanya Fahmi sambil mengambil.alih nampan yang berisi empat cangkir teh dari tangan istrinya.


"Mereka sedang sibuk, Honey, hanya membuat empat cangkir teh tidak akan membuatku kecapean, aku hanya hamil bukan mengindap penyakit yang parah," ucap Aryana sambil berjalan di samping suaminya.


"Iya, tapi aku sangat khawatir," ucap Fahmi.


Setelah sampai di gazebo, Fahmi meletakkan minumannya di dalam gazebo, di sana duduk papi Pratama yang memperhatikan interaksi putranya dan menantunya yang tampak begitu harmonis.


"Ini, Pi lemon teanya, mudah-mudahan papi suka," ucap Aryana mengambilkan cangkir teh untuk papi mertuanya.


"Terima kasih, Nak, kamu mau repot-repot membuatkan lemon tea untuk kami," ucap papi Pratama.


Sedang asyik mereka mengobrol , mami Miranda menghampiri suaminya yang masih ada di gazebo.


"Eh, mami, ini mi lemon tea buatan Aryana enak lho, mami harus coba!" pinta papi Pratama ketika istrinya mendekat padanya di gazebo.


"Iya, makasih ya Aryana," ucap mami Miranda tersenyum canggung.


"Sama-sama, Mi, semoga setelah minum ini, mami badan mami lebih enakkan," ucap Aryana.

__ADS_1


Setelah berbincang di gazebo, Aryana dan Fahmi pamit untuk ke kamar karena Aryana masih ada tugas dari kampus yang harus ia selesaikan sedangkan Fahmi menuju ruang kerjanya untuk mengecek laporan dari Juan. Papi dan mami Miranda juga pamit ke kamar untuk beristirahat. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Fahmi belum kembali ke kamar sedangkan Aryana sudah menyelesaikan tugasnya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga tugasku, tapi kenapa Honey belum kembali ke kamar, apa ia benar-benar sibuk, ah dari pada bete nungguin dokter bucin itu mending aku witir dulu," ucap Aryana dalam hati kemudian ia mengambil wudhu lalu menunaikan shalat witir tiga rekaat, setelah shalat witir Aryana mengambil mushaf Al-Quran, Aryana mulai membaca surat Al-Mulk sampai selesai.


Saat Fahmi akan masuk ke kamarnya langkahnya tertahan karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran, namun ada yang membuatnya heran adalah setiap malam menjelang tidur sang istri selalu membaca surat yang sama, ia ingin menanyakan namun selalu lupa. Saat membuka hendel pintu ia mendapati sang istri membaca shalawat Asnawiyah dengan sangat merdu.


Ya Robbisholli 'ala Rasuu li Muhammadin sirril 'ulaa


Wal anbiyaa' wal mursaliin al ghurri khot man awwalaa


Ya Robbi nawwir qolbanaa binuri quraanin jala


Waftah lanaa bidarsin aw qiroatin turottalaa


Warzuq bifahmil anbiyaa lanaa wa ayya mantalaa


Tsabit bihi iimananaa dunya wa ukhron kamila.


Selesai bershalawat, Aryana melepas mukena yang di pakainya kemudian meletakan Al-Quran di laci nakas, pada saat Aryana selesai menaruh mushaf, Fahmi baru berani masuk ke dalam kamar.


"Kalau tiap hari lihat dan dengar kaya gini, hati aku jadi adem, Yang," ucap Fahmi sambil masuk ke dalam kamar dan langsung memeluk istrinya.


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu nggak?" tanya Fahmi.


"Tanya apa?"


"Setiap malam, terutama waktu menjelang tidur kamu selalu membaca surat yang sama, surat itu namanya apa dan kenapa kamu hampir membacanya setiap malam?"


"Oh, itu namanya surat Al-Mulk yang artinya kerajaan, banyak faedah yang bisa di dapatkan seorang muslim jika ia rajin membaca atau bahkan menghafal surat Al-Mulk," jawab Aryana.


"Memangnya faedah apa saja yang bisa di dapatkan dari membaca surat Al-Mulk itu kelihatannya surat ini sangat istimewa?" tanya Fahmi lagi.


"Faedah dari membaca surat Al-Mulk itu pertama, mendapatkan syafaat dan diampuni dosanya karena dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya di dalam Alquran terdapat suatu surat berisikan tiga puluh ayat dapat memberi syafaat bagi pembacanya hingga ia mendapat ampunan, yaitu Tabarakal Lazi Biyadihil Mulku (surat Al-Mulk)". Kedua, rajin membaca surat Al-Mulk dapat menyelamatkan kita dari siksa kubur, ketiga, dapat menaikan derajat dan menghapus kejelekan. Keempat, kita bisa mendapatkan pertolongan di hari kiamat jika kita rajin membaca surat Al-Mulk ini. Ke lima kita bisa di sayang oleh Baginda Rasulullah SAW, keenam, Diberikan pahala berkali-kali lipat dan ke tujuh, bisa menjauhkan diri kita dari perbuatan maksiat. Aku dulu juga pernah mendengat seorang wanita yang setelah meninggal dan di kebumikan, kuburannya selalu tercium bau yang sangat wangi. Setelah di tanyakan pada keluarganya kenapa kuburan wanita itu sangat wangi, maka salah seorang dari kerabatnya mengatakan bahwa setiap menjelang tidur wanita tersebut selalu membaca surat Al-Mulk," jawab Aryana menerangkan panjang lebat tentang surat faedah membaca surat Al Mulk.


"Masyaallah, pintarnya istriku, jadi makin cinta deh sama kamu, Yang, nggak sia-sia aku tunggu kamu selam tujuh belas tahun, kujaga hatiku selama itu agar selalu hanya ada namamu," ucap Fahmi sambil memberi beberapa kali kecupan di kening dan wajah Aryana.


"Iih, geli Honey," ucap Aryana berusaha menghindar dari serangan ciuman dari sang suami yang merasa gemas padanya.

__ADS_1


"Habisnya, aku gemas sama kamu," ucap Fahmi setelah melepas pelukannya dan mengehentikan serangannya pada Aryana.


"Kamu ini, nih ya, udah ah aku mau tidur, ngantuk," ucap Aryana kemudian mulai naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, sedangkan Fahmi ke kamar mandi sebentar lalu berganti piyama, baru setelah itu ia menyusul berbaring di samping istrinya.


Fahmi menghadapkan tubuhnya ke Aryana, Fahmi merapikan anak rambut Aryana dengan lembut sambil berbicara sesuatu pada sang istri yang masih membuka matanya.


"Sayang, sebenarnya apa yang mami katakan padamu selain menyuruhku menikah lagi, kenapa sepertinya kamu nggak mau dekat dengan mami, sikap kamu sama papi dan mami sangat berbeda, ayo katakan ada apa sebenarnya!" pinta Fahmi sambil tangannya membelai sayang wajah Aryana.


Mendengar permintaan suaminya Aryana menghembuskan nafas kasar, Aryana ragu apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya pada sang suami. Dalam hati Aryana memang masih merasa kesal dengan sikap mami mertuanya yang memaksanya untuk segera hamil dan membuatnya menyetujui kesepakatan konyol dengannya, namun di sisi lain ia juga tak ingin hubungan suaminya dengan mami Miranda malah kembali merenggang.


"Untuk apa kau ingin tahu hal itu, Honey?" tanya Aryana mencoba menghindar untuk menjawab pertanyaan sang suami.


"Aku merasa mami mengatakan sesuatu padamu yang membuatmu sepertinya sangat marah pada mami sampai-sampai aku juga kena dampaknya, padahal aku kan juga sudah menolak mentah-mentah permintaan mami," ucap Fahmi yang sepertinya merasa tidak terima ia terkena dampak dari sikap maminya.


"Aku rasa kau tak perlu tahu, yang penting sekarang Allah sudah mempercayaiku untuk hamil dan akan menjadi seorang ibu. Jadi mami tidak akan mengusik aku lagi, dan aku akan berusaha berdamai dengan keadaan juga melupakan semua sikap mami padaku yang kurang baik padaku, meski rasanya tak mudah


Bagaimanapun mami adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan kamu, dan sekarang kamu adalah suamiku, jadi mau tidak mau, bisa tidak bisa, harus bisa memaafkan mami dan tetap menghormatinya sebagai orang tuaku juga," ucap Aryana yang membuat Fahmi memeluk erat tubuh sang istri yang terbaring di sampingnya.


"Terima kasih banyak, Sayang, kamu memang wanita sholeh, aku percaya kamu pasti bisa mendidik anak-anak kita dengan baik, kita akan selalu bersama mendidik dan menjaga anak-anak kita, melihat tumbuh kembang mereka, melihat mereka tumbuh menjadi remaja, dewasa lalu menikah. Alangkah bahagianya bila Allah masih memberi waktu pada kita untuk melihat semua itu," ucap Fahmi sambil mengeratkan pekukannya pada Aryana.


Aryana yang mendengar perkataan tak terasa meneteskan air matanya, ia terharu mendengar penuturan suaminya tentang harapan dan cita-citanya untuk bisa melihat anak-anak mereka sampai menikah dan memiliki anak yang akan menjadi cucu mereka, padahal bayi yang di kandungnya baru berusia tujuh minggu sudah berhalu menjadi oma dan opa.


"Lho kok malah nangis sih?" tanya Fahmi yang melihat Aryana malah menitikan air mata mendengar kata-katanya barusan, dan ia pun dengan lembut mengusap air mata sang istri dengan jemarinya.


"Aku menanggis bahagia mendengar impian mu, Honey, terdengar sederhana namun bagiku impianmu itu sangat indah dan berarti, semoga Allah memberi kita kesempatan itu," ucap Aryana yang di amini oleh Fahmi.


Sepasasang pasutri itu tidur sambil memeluk, saling menyalurkan cinta dan kasih sayang, wajah Fahmi dan wajah Aryana saling berhadapan, Fahmi dengan penuh sayang, mengusap kepala istrinya.


"Tidurlah Sayang, aku akan selalu menjagamu dan anak-anak kita," ucap Fahmi sambil menarik lembut kepala Aryana ke dalam pelukannya, sedangka Aryana merasa sangar bahagia dengan semua perlakuan lembut suaminya, mengirup aroma tubuh suaminya benar-benar membuatnya merasa tenang dan damai.


________________________________________


Yang rindu dedek Azka sabar ya bentar lagu muncul


Please, Like, Vote, Coment, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2