
Begitu Tuan Pratama di beri tahu Fahmi bahwa menantu kesayangannya sudah mendapatkan donor jantung, ia dan istri langsung terbang ke Singapura saat itu juga, begitu juga dengan Yudha ia langsung terbang ke Singapura saat Yasmin mengabarkan bahwa putri mereka sudah mendapat donor jantung dan akan segera menjalani operasi.
Sekitar pukul tujuh malam baik tuan Pratama maupun Yudha sudah sampai di Singapura, mereka pun hampir datang bersamaan namun tuan Pratama dan nyonya Miranda yang datang lebih dulu.
"Bagaimana operasinya?" tanya papi Pratama ketika sampai di rumah sakit.
"Sebentar lagi sepertinya selesai, Pi operasinya," jawab Fahmi.
"Assalamualaikum tuan dan nyonya Pratama!" sapa Yasmin yang kehadirannya di sana tak terlalu di perhatikan tuan Pratama karena terlalu panik.
"Waalaikumsalam, oh maaf nyonya Yasmin, saya kurang memperhatikan anda karena saya panik dengan kondisi Aryana.
"Tidak apa-apa, tuan, saya mengerti keadaan anda."
Ketika tuan Pratama sedang bertegur sapa dengan sang besan, dokter Nick keluar dari ruang operasi.
Ceklek,
"Dokter bagaimana operasinya?" tanya Fahmi langsung mendekat pada dokter Nick
"Operasinya berjalan lancar, tapi untuk sementara nyonya Aryana akan kami rawat di ruang ICU guna observasi perkembangan pasca operasi.
"Terima kasih, Dok," ucap Fahmi.
Tak lama setelah Fahmi berbicara dengan dokter Nick, Yudha datang dan langsung menuju ruang tunggu dimana putrinya menjalani operasi.
"Bagaimana keadaan Aryana?" tanya Yudha tiba-tiba ada di antara mereka.
"Ayah mertua," sapa Fahmi.
"Bagaimana operasinya dan siapa yang mendonorkan jantungnya pada putriku?" tanya Yudha lagi dengan rentetan pertanyaan.
"Mas, ayo duduk dulu, tenangkan pikiranmu, kau kan baru saja datang!" ajak Yasmin sambil menarik tangan Yudha agar duduk.
Akhirnya mereka semua duduk di kursi tunggu rumah sakit, Fahmi lalu membuka pembicaraan menceritakan kronologi saat dokter Nick memberitahu bahwa ada seorang wanita yang bersedia mendonorkan jantungnya untuk Aryana. Fahmi juga menceritakan bahwa ia akan memberikan dua puluh persen saham pratama group untuk Alesya putri pendonor tersebut, juga sebuah apartemen mewah di Singapura.
"Aku harap kalian tidak keberatan dengan keputusanku ini, Kak Rendy punya tiga puluh lima persen saham, yang empat puluh lima akan aku berikan pada kedua putraku kelak, sedangkan, my princess akan aku berikan sahamku di rumah sakit ME ini dan aset yang lain," ucap Fahmi saat mengakhiri ceritanya.
"Papi tidak keberatan dengan keputusanmu, tapi menurut papi terlalu berlebihan kalau kamu memberikan dua puluh persen saham Pratama group padanya, benar bahwa ibunya Alesya mendonorkan jantungnya pada Aryana tetapi tetap Alesya bukan anak kandungmu, bagaimana perasaan putri kandungmu nanti saat dia tahu dia tidak mewarisi saham Pratama group dan malah Alesya, pikirkan itu juga. Maka dari itu, papi menyarankan saham Pratama group tetap akan menjadi milik keturunan sah dari kamu dan sebagai gantinya kamu beri Alesya saham rumah sakit ME dan di tambah apartemen dan usaha kamu yang lain untuk ia kelola," ucap papi Pratama.
"Saya setuju dengan pemikiran tuan Pratama, dari keluarga Dewantara juga akan memberikan usaha untuk Alesya kelak," ucap Yudha menimpali.
"Aku dan nyonya Yasmin setuju dengan saran suamiku dan tuan Yudha, meski ibu Alesya sudah menyelamatkan Aryana bukan berarti ia berhak mewarisi saham Pratama group maupun DW group karena dia bukan darah daging kamu dan Aryana, kita bisa memberikan dia aset yang lain untuk menjamin masa depannya," ucap mama Miranda mendukung saran suaminya dan sang besan.
__ADS_1
Fahmi merenung sejenak, apa yang di katakan orang tuanya dan mertuanya ada benarnya, saat di ruangan tadi dia tak bisa berfikir jernih ia sangat senang akhirnya sang istri mendapat kan pendonor tanpa memikirkan perasaan anaknya yang lain.
"Baiklah aku setuju dengan saran papi dan ayah mertua, besok aku akan membicarakan hal inj dengan pengacaraku sekaligus mengurus berkas adopsi Alesya dan sekarang aku mau melihat nyonya Pamela untuk terakhir kalinya setelah itu aku akan mengurus pemakamannya," ucap Fahmi.
"Terima kasih kamu sudah mau mendengarkan kami, percayalah kami semua juga akan menyayangi Alesya seperti cucu kami sendiri, dia tidak akan kekurangan cinta dan kasih sayang dari kami, juga ia tidak akan kekurangan materi meski ia tak mewarisi saham Pratama group maupun DW group," ucap papi Pratama.
Sekarang dua keluarga sultan itu sedang berada di ruang jenazah, Fahmi mendekat ke sebuah brangkar yang di atasnya terbujur jenazah wanita yang bagaikan malaikat tak bersayap dalam hidupnya. Perlahan ia membuka kain putih yang menutupi wajahnya. Mata Fahmi berkaca-kaca melihat wanita yang menyelematkan hidup istrinya.
"Nyonya Pamela, aku berjanji akan menjaga putrimu dengan baik, dia tidak akan kekurangan apapun, cinta, kasih sayang dan harta," ucap Fahmi dengan suara parau menahan tangis.
Kini giliran Yasmin mendekat pada jenazah Pamela, tangan Yasmin menyentuh tangan Pamela yang terasa dingin.
"Terima kasih, sudah menjadi perantara Allah memberi kehidupan baru untuk putri kami, aku juga berjanji akan mencintai dan menyayangi putrimu seperti cucuku sendiri," ucap Yasmin sambil mengusap air mata di pipinya.
"Kami akan menepati janji kami, semoga kau tenang di surga," ucap Yudha menimpali sambil merengkuh tubuh Yasmin yang bergetar kedalam pelukannya.
Selesai melihat jenazah Pamela, Fahmi dan keluarganya meninggalkan ruang pemulasaraan Jenazah. Fahmi meminta Juan mengurus tempat pemakaman untuk Pamela. Pukul delapan pagi jenazah Pamela di makamkan di sebuah pemakaman elite di Singapura. Selesai pemakaman Fahmi dan keluarga kembali ke rumah sakit, mereka pergi ke ruang bayi untuk melihat bayi Pamela yang di beri nama Alesya.
"Mana bayi nyonya Pamela?" tanya Fahmi pada salah seorang perawat.
"Yang ini Tuan," tunjuk perawat pada sebuah box bayi dengan identitas nama Pamela.
Berlahan Fahmi mengambil bayi tersebut dan menggendongnya, dia mencium baby Alesya dan mengucapkan salam lalu mengadzani baby Alesya seperti ia mengadzani ketiga anak kembarnya. Selesai mengadzani baby Alesya ia mencium sang bayi dengan penuh kasih sayang, kemudian ia meletakkan bayi itu kembali ke dalam box bayi.
"Dokter Steven, Tuan," jawab perawat tersebut.
"Kalau begitu katakan saya ingin bertemu!"
"Baik saya akan sampaikan pada dokter Steven," ucap perawat tersebut.
Selesai melihat baby Alesya, mereka kembali ke ruang tunggu di mana Aryana masih mendapat perawatan.
"Papi, mami, bunda Yasmin dan ayah mertua juga Azka sebaiknya kalian pulang dulu ke rumahku sekalian kalian bisa melihat cucu kalian, aku sudah menugaskan dua orang perawat dan tiga baby sister untuk menjaga si kembar selama Aryana masih di rawat!" pinta Fahmi.
"Itu ide yang bagus aku sudah rindu dengan cucu-cucuku," ucap papi Pratama.
"Iya aku juga," sahut Yudha.
Akhirnya para oma dan opa meninggalkan rumah sakit menuju ke rumah Fahmi untuk istirahat sekalian melihat dan ikut menjaga cucu-cucu mereka.
Sepeninggal keluarganya, Fahmi kembali menatap jendela kaca dimana sang istri di rawat.
"Sayang cepatlah bangun, kita dapat satu amanah lagi dari Allah dan aku yakin kamu pasti bahagia," ucap Fahmi dalam hati.
__ADS_1
.
Sedangkan suasana gaduh terjadi di rumah Fahmi, betapa tidak para oma di dengan tidak sabarnya ingin mengendong cucu kembar mereka yang saat ini sedang di pangku oleh ketiga baby sister mereka.
"Oh cantiknya cucu Oma, sayang nya kamu belum di kasih nama, ah Oma panggil Fiza saja dulu ya," ucap Yasmin sambil mengendong cucu perempuannya.
"Eleh-eleh ini juga ganteng banget, persis sama Fahmi waktu bayi," ucap mami Miranda yang mengendong cucu laki-lakinya yang nomor dua, sedangkan cucu laki-laki paling bontot di gendong oleh papi Pratama.
"Perpaduan yang sempurna wajah Aryana dan Fahmi," seloroh Yudha yang secara tidak langsung mengakui ketampanan menantunya, andai Fahmi mendengar perkataan ayah mertuanya pasti akan keluar banyak bintang dari kepalanya.
"Berarti secara tidak langsung pak Yudha mengatakan saya ini tampan, kan saya opanya," sahut papi Pratama.
"Ish, papi narsis ah, sudah punya cucu juga," tegur mami Miranda.
"Nggak apa-apalah, Mi, narsis, biar awet muda," ucap papi Pratama membela diri.
Yasmin yang melihat kelakuan besannya itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Bund, ayah hanya bisa tiga hari di sini, banyak kerjaan ayah yang harus ayah selesaikan, jadi sebaiknya bunda di sini sama Azka ya," ucap Yudha.
"Iya,Yah, nggak apa-apa, lagian kondisi Aryana sudah membaik hanya tinggal tunggu dia sadar," ucap Yasmin
"Papi juga harus kembali ke Indonesia dua hari, lagi, sebaiknya para Oma kita tinggal disini dulu biar bisa membantu mengawasi si kembar dan bayinya Pamela sampai kondisi Aryana membaik," saran papi Pratama.
"Ya, saya setuju dengan ide tuan Pratama, aku lebih tenang jika ada anggota keluarga yang membantu mengawasi dan merawat cucu-cucu kita," ucap Yudha.
"Bagaimana, Mi, nyonya Yasmin?" tanya papi Pratama
"Baiklah itu usul yang bagus, lagi pula akhir-akhir ini aku tak terlalu sibuk," ucap mami Miranda sambil menimang cucunya.
"Oke, kalau kita sepakat seperti itu, nanti tinggal bilang pada Fahmi saja," ucap Yudha.
Kata sepakat sudah terucap dari dua keluarga sultan itu, mereka begitu bahagia bisa mendong cucu-cucu mereka secara bergantian. Bagi Yasmin adalah hal biasa karena dia sudah lebih dulu melahirkan dan merawat bayi kembar yang tak lain adalah Afwa, Afwi dan Aryana, sedangkan bagi nyonya Miranda memiliki cucu kembar sekaligus adalah merupakan hal yang baru untuknya dan merasa sedikit aneh, tiba-tiba punya cucu kembar. Meski waktu Aryana mengandung, ia sudah di beri tahu kalau calon cucunya kembar, namun ketika melihat dan menggendongnya, membuat merasakan hal berbeda, mami Miranda merasa surprise di dalam hidupnya.
Jika di Singapura dua keluarga sangat bahagia dengan bertambahnya anggota baru di keluarga di Pratama maupun keluarga Dewantara, di belahan dunia lain seorang laki-laki sedang berdiri menatap keluar dari jendela lantai atas kantornya. Semenjak ia mendengarkan penjelasan sang ayah, rasanya hidupnya sudah hancur, namun ia harus bertahan karena ia masih berharap di beri kesempatan bertemu dengan darah dagingnya sendiri. Ia sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan mantan sekretarisnya itu namun hasilnya selalu nihil.
____________________________________
Ada ide ndak untuk kasih nama panjang buat triplet dengan kata Hafidz dan Hafidzah?
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
__ADS_1
Bersambung...