
Kombes Mahendra berusaha tenang meskipun ia cukup terkejut dengan pengakuan Nayla.
"Nay, kecurigaan mu itu memang benar, Afwi bukan karyawan Aryana Hotel, dia hanya membantu usaha adiknya, terutama soal keamanan Hotel dan manajemennya," ucap Pak Mahendra.
"Maksud papa apa?" tanya Nayla bingung.
Pak Mahendra terlihat menghembuskan nafas kasar, seolah dia berat harus menjelaskan masalah ini.
"Sebenarnya bukan hak papa mengatakan hal ini, namun jika menunggu Afwi itu sepertinya tak mungkin."
Mendengar ucapan papanya Nayla semakin bingung arah tujuan pembicaraan papanya.
"Nay, sebenarnya pekerjaan Afwi sama dengan papa."
Deg
Jantung Nayla rasanya hampir berhenti berdetak, ia sama sekali tak menyangka kalau sang kekasih membohonginya tentang pekerjaannya yang sebenarnya.
"Kenapa abang membohongi, Nay, Pa? kenapa tak berterus terang tentang pekerjaannya sama Nay?" tanya Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Memangnya jika Afwi mengatakan apa pekerjaannya yang sebenarnya kamu menerima cintanya?" tanya pak Mahendra yang langsung menohok hatinya.
"Kau tak suka punya pendamping yang berprofesi sebagai seorang polisi, dia tahu itu, maka dari itu melakukan segala cara agar bisa dekat denganmu dan Afwi ingin membuatmu tahu bahwa menjadi istri polisi tak seburuk yang kau pikirkan. Afwi juga sudah meminta ijin pada papa untuk mendekatimu."
"Tapi kenapa dia tak segera mengatakannya pada Nayla, Pa? kenapa justru papa yang mengatakannya.
"Afwi sedang menjalankan tugas penting, setelah tugas itu selesai ia akan menjelaskannya padamu, tapi--"
"Tapi apa apa, Pa?"
"Afwi tertembak sewaktu bertugas melakukan pengamanan sandra."
Duarrr
"Bang Afwi," lirih Nayla sendu, air mata pun tanpa permisi.
Melihat putrinya terlihat shock, pak Mahendra merengkuh pundak putrinya lalu mengajaknya duduk di sofa ruang kerjanya agar lebih rileks.
"Ba-bagaimana keadaan abang Afwi, Pa?" tanya Nayla dengan masih terisak.
"Menurut kabar yang papa dengar, Afwi terluka cukup dalam dan belum sadarkan diri," jawab pak Mahendra.
"Hiks...hiks...., abang..."
Tangis Nayla akhirnya pecah, lama sekali ia tak bertemu sang kekasih, berkomunikasi lewat ponselpun jarang karena ponsel Afwi lebih banyak tidak aktif dan sekarang Nayla langsung mendapat kabar bahwa sang pujaan hati tertembak dalam melaksanakan tugas.
"Kamu mau lihat Afwi?" tanya pak Mahendra
"Memang boleh, Pa?"
__ADS_1
"Akan papa usahakan, karena tak sembarang orang boleh menjeguknya," jawab pak Mahendra.
Di rumah sakit Yudha dan Yasmin masih setia menunggui Afwi yang sedang di rawat. Refanda memesankan hotel yang dekat dengan rumah sakit dimana Afwi di rawat.
"Papa sudah telepon Fahmi?" tanya Yasmin
"Sudah, katanta dia mau ke sini lihat keadaan Afwi," jawab Yudha.
"Apa Fahmi ke sini bersama Aryan?"
"Tidak, kasihan anak-anaknya kalau Fahmi kesini bersama Aryana, bunda tahu kan bagaimana repotnya mengurus anak kembar. Jadi Fahmi akan memastikan sendiri bagaimana keadaan Afwi, baru setelah itu kita akan mengambil langkah selanjutnya."
Mendengar apa yang dikatakan suaminya, Yasmin mengerti, saking paniknya melihat keadaan Afwi, ia sampai lupa jika putri ketiganya memiliki empat balita yang tak bisa di tinggalkan atau di ajak begitu saja. Lagi pula Aryana masih harus menyelesaikan kuliahnya yang tertunda satu tahun pasca melahirkan.
Saat Yudha dan Yasmin sedang berbincang sembari menunggu di depan ruang ICU tempat Afwi dirawat, Komandan Ardan kembali datang, kali ini ia bersama Pak Adiguna dan Medina.
Ya, persidangan pembunuhan dengan agenda mendengarkan saksi kunci dan pembacaan keputusan hukuman pada terdakwa sudah selesai. Bukti yang sudah kuat ditambah kesaksian Medina makin memberatkan terdakwa. Sehingga terdakwa yang ternyata rival bisnis korban mendapatkan hukumannya dan yang lebih mengangetkan lagi ternyata kejadian tersebut juga di latar belakangi dendam keluarga.
Ketika sampai di ruang ICU pak Adiguna terperanjat kaget karena melihat ceo DW group ada di depan ruang ICU, banyak tanda tanya besar dalam benaknya.
"Selamat sore Pak Yudha, bagaimana kondisi Ipda Afwi apa ada perkembangan?" tanya Komandan Ardan.
"Belum, Pak Ardan," jawab Yudha sendu.
Mendengar cara Komandan Ardan memanggil Pak Yudha, pak Adiguna makin bingung tentang hubungan ceo DW group dengan Afwi.
"Terima kasih, Pak Ardan, rencananya jika Afwi tidak ada kemajuan yang signifikan, kami akan membawa Afwi berobat ke Singapura, tapi kami masih menunggu menantu kami dokter Fahmi yang akan kesini melihat keadaan Afwi. Saya berharap Pak Ardan bisa membantu proses pemberankatan Afwi ke Singapura jika nanti benar-benar Afwi harus kami bawa ke sana," ucap Yudha pada Komandan Ardan.
"Tentu saja, saya akan membantu sebisa saya demi kesembuhan Ipda Afwi, oh ya Pak Yudha, ini Pak Adiguna dan putrinya yang dilindungi oleh Afwi dan tim sebagai saksi kunci," ucap Komandan Ardan.
"Saya Adiguna, Pak Yudha, saya turut sedih dengan kejadian yang menimpa Ipda Afwi. Ipda Afwi sampai terluka karena melindungi dan menyelamatkan putri saya," ucap pak Adiguna.
"Tidak apa-apa, hal ini sudah menjadi resiko yang harus ditanggung putra saya ketika dia memilih menjadi polisi," ucap Yudha bijaksana dan tentu saja hal itu membuat pak Adiguna terkejut bukan kepalang. Ia tak mengira bahwa Afwi adalah putra dari ceo ternama DW group. Medina tampak heran melihat papanya terlihat takut dan segan dengan orang tua Afwi. Medina juga sesekali mencuri pandang memperhatikan Yudha dan Yasmin yang duduk berdampingan sambil berpegangan tangan seolah saling menguatkan.
"Ternyata ini orang tua mas Afwi, ayahnya masih terlihat gagah dan tampan meski sudah seumuran papa, ibunya juga masih terlihat cantik dan awet muda, pantas mas Afwi bisa ganteng banget," batin Medina
"Oh ya, ini putri saya pak Yudha, dia yang dilindungi pak pak Afwi, kami benar-benar menyesalkan kejadian terlukanya Afwi.
"Iya, apa kabar, Nak, bagaimana keadaanmu?" tanya Yudha ramah, tak ada tersirat kemarahan apapun di wajahnya, Yasmin juga menunjukkan hal yang sama.
"Maaf, Om, Tante, gara-gara menjaga saya, mas Afwi jadi seperti ini," ucap Medin sedih.
"Tidak apa-apa, itu sudah resiko tugasnya tak ada yang perlu dimaafkan," ucap Yudha.
"Om, Tante, mohon maaf sebelumnya, jika di ijinkan saya akan ikut merawat mas Afwi di sini, saya merasa sangat bersalah sama mas Afwi, jadi saya ingin ikut andil merawatnya sampai mas Afwi sembuh!" pinta Medina yang membuat Yudha dan Yasmin terkejut, mereka menangkap maksud lain dari perkataan Medina, ceo DW group itu bukan orang tua yang bodoh, untuk apa seorang anak pengusaha mau menungui seorang pria lajang yang baru saja ia kenal jika tak punya perasaan lain.
"Nak Medina, Om dan Tante sangat berterima kasih atas niat baikmu, tapi seperti yang saya bilang tadi, bahwa apa yang menimpa Afwi adalah resiko dari pekerjaannya, jadi jika ada yang harus bertanggung jawab dengan proses kesembuhannya itu adalah saya dan istri saya selaku orang tuanya, lagipula Afwi sudah memiliki kekasih jadi kalau sampai nak Medina ikut merawat Afwi, saya khawatir akan terjadi salah paham," ujar Yudha memberi pengertian.
Medina yang mendengar penuturan Yudha, hatinya menjadi luluh lantah tak berkeping, ia tak pernah tau dan juga tak pernah menanyakan apa Afwi memiliki kekasih atau tidak, Medina merasa dirinya bodoh dan terlalu percaya diri bisa mengaet seorang Afwi yang ternyata putra seorang ceo perusahaan besar. Bahkan perusahaan papanya masih kalah besar di bandingkan DW group. Pupus sudah harapan akan merayu Afwi dengan uang dan jabatan karena ternyata keluarga Afwi lebih kaya darinya. Pada saat Pak Adiguna dan Komandan Arman berbincang dengan Yudha, datanglah Kombes Mahendra dan Nayla, tentu saja hal itu sangat membahagiakan bagi Yasmin karena kekasih sang putra bersedia menjenguk Afwi. Meskipun Yasmin dan Nayla belum pernah bertemu tapi Afwi sudah bercerita banyak pada sang bunda tentang sosok Nayla.
__ADS_1
"Selamat sore Komandan Ardan, Pak Yudha, Ibu!" sapa Kombes Mahendra.
"Sore."
"Bagaimana kondisi Ipda Afwi?" tanya Kombes Mahendra.
"Belum ada perkembangan," jawab Yudha.
Pada saat para orang tua saling sapa, Nayla memberanikan diri menyapa orang tua Afwi
"Apa kabar, Om, Tante?, kenalkan saya Nayla," ucap Nayla lembut sambil menyalami Yudha dan Yasmin.
"Alhamdulillah kabar kami baik, Sayang kemarilah!" ucap Yasmin.
Nayla sedikit canggung dengan permintaan Yasmin pasalnya, ia belum pernah bertemu dengan orang tua Afwi.
"Tan-Tante tahu tentang saya?" tanya Nayla setelah mendekat pada Yasmin.
"Kita memang baru bertemu kali ini, tapi Afwi sudah banyak cerita tentang kamu," jawab Yasmin.
"Oh, begitu ya, Tante, maaf belum sempat mengunjungi Om dan Tante," ucap Nayla tak enak.
"Tidak apa-apa, kamu kan harus kuliah sambil kerja, Afwi sendiri juga masih sibuk," ucap Yasmin sambil mengusap kepala Nayla penuh sayang seoalah Yasmin sudah kenal lama dengan Nayla dan pemandangan tersebut membuat Medina sesak. Dari sikap Yasmin ia tahu siapa gadis muda yang sedang berbincang dengan ibu Afwi.
"Apakah ini kekasih mas Afwi, dia memang sangat cantik meski penampilannya sederhana, pantas saja jika mas Afwi jatuh cinta padanya," batin Medina ngilu.
Pada saat Yudha dan Yasmin berbincang-bincang dengan para tamunya, petugas ruang ICU membuka pintu ruangan tersebut tanda waktu membesuk sudah tiba.
"Komandan Ardan, Kombes Mahendra, pak Adiguna, sekarang waktunya bisa menjenguk Afwi di ICU, saya dan istri saya ingin melihatnya dulu setelah itu bapak-bapak bisa menjenguknya setelah kami!" pamit Yudha.
"Iya pak Yudha, Ibu silahkan kami belakangan saja," ucap Komandan Ardan, kemudian Yudha dan Yasmin segera masuk ke dalam ruang ICU karena waktu mereka tak lama.
Sampai di dalam ruang ICU, dada Yasmin kembali sesak matanya berkaca-kaca, melihat tubuh putra keduanya yang bisanya gagah dan tampan sekarang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat penunjang kehidupan. Beberapa luka dan memar terlihat di wajah putranya.
"Afwi Sayang, bangun Nak, apa kamu nggak kangen sama bunda dan ayah, juga kekasihmu Nayla, dia menunggumu," ucap Yasmin parau.
Yudha yang mendengar perkataan yang istrinya hanya diam namun tangannya langsung merengkuh tubuh sang istri untuk memberi kekuatan. Sebagai mantan prajurit pasukan khusus ia sangat sering melihat hal seperti ini, jadi ia tampak bisa lebih tabah dan kuat dibandingkan istrinya.
"Sudahlah lah, Bunda, kita berdoa saja semoga Afwi segera sadar dan sembuh, besok Fahmi sudah sampai di sini, dia pasti akan membantu proses kesembuhan Afwi, ayo kita keluar dulu gantian sama yang lain, kasihan calon menantu kita jika terlalu menunggu lama!" pinta Yudha dengan masih memeluk Yasmin dari samping lalu mengajaknya keluar.
Yasmin hanya bisa menuruti permintaan suaminya untuk segera keluar dari ruang ICU meski hatinya tak rela harus meninggalkan Afwi, sebagai ibu, Yasmin ingin lebih lama di sisi putranya yang terbaring lemah.
_______________________________________
Bentar lagi ketemu dokter Fahmi
Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Hadiah
Thank You
__ADS_1