
Hari yang ditunggu pun tiba, Fahmi sudah siap dengan baju batik yang senada yang akan dikenakan Aryana nantinya. Pukul delapan malam Fahmi dan rombongan sudah di sampai di kediaman Yudha. Rombongan Fahmi langsung dipersilahkan masuk di ruang tengah yang sudah di tambah beberapa kursi. Para owner dua kerajaan bisnis saling bertegur sapa dengan ramah.
"Apa kabar tuan Pratama?" tanya papa Dimas.
"Kabar pak tuan Dimas, tak menyangka putra tunggalku menolak menikah dengan wanita manapun karena sudah jatuh cinta pada cucumu sejak lahir," ucap tuan Pratama dengan terkekeh.
"Iya, yang namanya jodoh tidak bisa di tebak, berarti Aryana adalah cucuku yang pertama menikah dengan usia yang masih sangat muda, kami para sesepuh hanya bisa mendoakan semoga perjalanan cinta mereka abadi meski banyak perbedaan dan halangan nantinya," ucap papa Dimas dengan penuh harap.
Keasyikan dua owner perusahaan besar itupun terhenti ketika Yasmin meminta mereka duduk di tempat yang sudah disediakan untuk melangsungkan acara lamaran.
"Tuan Pratama, Papa, mari silahkan duduk di sana acaranya akan segera dimulai!" pinta Yasmin.
Semua orang sudah duduk di tempatnya, kecuali sang calon pengantin perempuan yang belum keluar. Namun tak lama seorang gadis cantik dengan pakaian senada dengan Fahmi berjalan anggun di dampingi sang tante yaitu Mitha adik dari Yudha.
"Nah ini bintangnya sudah keluar," canda oma Dewi.
Melihat penampilan Aryana yang tampak berbeda dari biasanya membuat Fahmi tak berkedib memandangnya membuat Yudha berdehem agak keras.
"Ekhemm, belum halal tolong pandangan di kondisikan dokter Fahmi!" pinta Yudha.
"Halah sok sokan suruh mengkondisikan kaya situ dulu waktu lamaran sama Yasmin nggak," seloroh papa Dimas yang membongkar kartu putranya sendiri.
"Uhuk, uhuk...," Yudha tiba-tiba tersedak mendengar perkataan papanya yang tak tahu tempat itu.
"Oh, benarkah itu Yas?" tanya Fahmi dengan nada mengejek.
"Iya," jawab Yasmin sambil terkekeh.
"Sudah-sudah kalau bicara terus kapan acaranya dimulai!" potong oma Dewi.
Acara lamaran pun segera dimulai, yang pertam bicara adalah tuan Pratama, papi dari Fahmi.
"Selamat malam, semuanya semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, malam hari ini saya selaku orang tua dari Fahmi ingin menyampaikan maksud kedatangan kami kesini untuk melamar putri Pak Yudha yang bernama Aryana untuk menjadi istri dari putra tunggal kami yaitu Fahmi Arya Pratama, kami berharap kedatangan kami kemari akan mendapatkan kabar baik dari keluarga pak Yudha," ucap tuan Pratama.
"Baiklah tuan Pratama, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kedatangan Tuan Pratama sekeluarga ke rumah saya, dan untuk niat baik tuan Pratama melamar putri saya Aryana untuk Fahmi, kami sambut baik, saya dan istri saya sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan berharap yang terbaik untuk putri kami, yang akan menjalani bahtera rumah tangga adalah mereka, jadi diterima atau tidak lamaran ini tergantung Aryana," ucap Yudha tegas dan berwibawa.
"Bagaimana, Aryana apa kamu menerima lamaran Fahmi?" tanya Yasmin pada Aryana yang kebetulan duduk di sebelahnya.
Semua orang tegang menunggu jawaban dari Aryana, terutama Fahmi, detak jantungnya berdetak tak karuan mungkin jika di rekam dengan rekam jantung, jantung Fahmi akan nampak seperti benang kusut.
"Ayo, Na jawab, kamu menerima lamaran ini atau tidak?" tanya nenek Ratna yang duduk tak jauh dari Aryana karena sedari tadi Aryana hanya diam dan menunduk belum menjawab sepatah kata pun.
__ADS_1
Aryana mendongakan kepapanya, ia melihat wajah orang-orang yang ada di depanya satu persatu, termasuk Fahmi yang sudah tegang dari tadi, dengan suara sedikit gemetar Aryana menjawab pertanyaan sang ayah tentang lamaran Fahmi kepada dirinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Maaf---,"
Mendengar satu kata itu Fahmi langsung lemas, ia tak menyangka kisah cintanya akan berakhir seperti ini, tuan Pratama dan nyonya Miranda tak kalah sedih.
"Tunggu jangan pada baper dulu, adikku belum menyelesaikan ucapannya?" seloroh Afwa.
Mendengar perkataan Afwa barusan, Fahmi yang mulanya menduduk kembali mengangkat kepalanya.
"Teruskan, Dek!" pinta Afwa pada Aryana.
"Ma-maaf sa-saya ti-tidak bisa menolak Om Fahmi menjadi ca-calon suami saya," ucap Aryana dengan terbata-bata menjawab pertanyaan tentang lamaran dirinya.
Mendengar jawaban Aryana semua orang menghembuskan nafas lega, terutama Fahmi yang jantungnya sudah mau lepas dari tubuhnya.
"Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin," ucap semua orang di ruangan tersebut setelah mendengar jawaban Aryana.
"Awas kamu sayang berani sekali kau membuatku jantungan, kamu harus di hukum!" batin Fahmi dalam hati karena sedikit kesal dengan jawaban Aryana yang pertama yang sempat membuatnya hilang arah.
"Aryana, kamu membuat kami semua hampir jantungan!" tegur oma Dewi.
"Nah, karena Aryana sudah menerima lamaran kami, maka kita tentukan saja tanggal pernikahannya!" pinta tuan Pratama.
"Baiklah, saya rasa tiga bulan cukup untuk mempersiapkan pernikahan Aryana dan Fahmi, dan perlu kami beritahukan juga bahwa setelah berkas kelulusan Aryana selesai disini kami akan kembali ke kota S ke kota lama kami, di sanalah tanah kelahiran keluarga kami, lagi pula kartu keluarga kami masih tercatat warga kota S. Seenak enaknya kota orang masih enak di kota sendiri dan rencananya ijab qobul dan resepsi akan di gelar di kota S, menginggat keluarga saya dan keluarga Yasmin banyak yang tinggal disana," ucap Yudha menjelaskan tentang acara pernikahan putrinya.
"Kami mengerti, kami dari pihak laki-laki menurut saja, karena sesuai adat istiadat kalian, keluarga mempelai perempuan lah yang menentukan harinya, begitu kan Pak Yudha?" ucap tuan Pratama seolah memahami pemikiran Yudha.
"Iya, Tuan Pratama, terima kasih atas pengertiannya, setelah mereka menikah terserah Fahmi mau membawa Aryana kemana, yang jelas jangan pernah sakiti putri saya. Saya dan istri tak pernah memarahinya berlebihan apalagi membentaknya, apalagi main tangan, jadi jika Fahmi sudah tak mencintai putri saya lagi tolong jangan berbuat kasar, jangan main belakang, tolong kembalikan Aryana pada kami, atau beri tahu kami agar kami bisa menjemputnya pulang, karena kalian meminta Aryana dengan baik-baik seperti saat ini maka jika Fahmi sudah tak menginginkan Aryana lagi tolong kembalikan Aryana secara baik-baik juga kepada kami," ucap Yudha dengan suara yang berat seolah tak rela melepas putrinya, dan apa yang dikatakan Yudha membuat hampir semua wanita yang hadir di acara lamaran tersebut menjadi terharu bahkan menitikkan air matanya.
"Pak Yudha, aku bisa janjikan bahwa apa yang anda katakan tak akan pernah terjadi dalam rumah tangga saya kelak bersama Aryana, saya akan jadikan Aryana satu-satunya ratu dalam kehidupan saya," ucap Fahmi dengan mimik wajah serius.
"Baik, aku pegang janjimu sebagai seorang laki-laki!" ucap Yudha tegas.
"Oh ya Tuhan beginikah rasanya punya calon mertua seorang militer, jawab lamaran nadanya kaya ngajak bernegosiasi dengan musuh," batin Fahmi dalam hati.
"Sepertinya pembicaraan sudah selesai, kalau sudah selesai mari kita makan malam dulu!" ajak Yasmin.
"Iya sebaiknya kita makan malam dulu, kasihan calon manten perempuan saking gugupnya nggak selera makan dari tadi sore," goda oma Dewi.
Mendengar ucapan oma Dewi, Fahmi menatap Aryana dengan tatapan menyelidik, rasanya ia ingin mendengar sendiri dari mulut calon istrinya itu apa yang dikatakan oma Dewi benar. Aryana yang merasa ditatap intesns oleh Fahmi jadi salah tingkah pasalnya apa yang dikatakan oma Dewi itu benar dari sore ia memang kehilangan ***** makannya, ia hanya mampu menelan sepotong roti tawar dan susu coklat itupun harus dipaksa oleh neneknya Ratna.
__ADS_1
Setelah mendapat permintaan dari sang tuan rumah untuk makan malam, semua keluarga Fahmi lantas berdiri menuju ruang makan yang sudah di pindah di belakang rumah yang sudah ditata meja panjang dengan jumlah kursi cukup banyak, suasana makan malam yang di konsep dengan tema garden party agar suasana lebih santai dan fresh. Tuan dan nyonya Miranda cukup takjub dengan pemandangan di kebun belakang rumah Yudha yang di kelilingi tanaman sayuran hidroponik juga tanaman bunga juga kolam alam buatan yang diisi oleh beberapa ikan mas koi.
"Wah, nyonya Yasmin suka berkebun juga rupanya," ucap nyonya Miranda saat memasuki ruang makan berkonsep garden party tersebut.
"Ah itu hanya buat mengisi waktu luang saja nyonya, saat anak-anak sekolah dan suami saya sedang tugas, itung-itung menpraktekan ilmu saat saya kuliah dulu, mubadzir kalau tidak digunakan.
"Memang nyonya Yasmin dulu kuliah apa?" tanya nyonya Miranda.
"Dulu kulia ekonomi umum lalu transer ke pendidikan geografi karena profesi saya sebagai guru pada waktu itu mengharuskan saya agar menempuh jurusan pendidika agar bisa linier dengan mata pelajaran yang saya ajar waktu itu," jawab Yasmin.
"Sekarang masih mengajar?" tanya nyonya Miranda lagi.
"Sudah tidak nyonya, sejak saya hamil si kembar dan kadang harus menemani suami dinas, juga membantu mama di usaha fashionnya, jadi nggak sempat mengajar lagi akhirnya saya resign jadi guru," jawab Yasmin
"Ayo Yasmin ajak tamunya segera makan kok malah diajak ngobrol!" ajak oma Dewi.
"Oh ya mari nyonya kita makan dulu, maaf malah mengajak anda mengobrol!" ajak Yasmin tak enak.
"Tak apa nyonya Yasmin, kan saya yang nagajak ngobrol duluan tadi," ucap nyonya Miranda.
Akhirnya dua keluarga yang akan berbesanan itu segera menududuki kursi masing-.masing yang sudah disediakan. Diatas meja sudah terhidang banyak menu yang mengugah selera ada masakan western sampai masakan tradisional kota S yang sengaja di kenalkan sang tuan rumah pada tamunya.
Setelah makan malam mereka saling mengibrol ringan, dan situasi itu tak disia-siakan oleh Fahmi untuk mendekati Aryana.
"Apa benar apa yang dikatakan oma Dewi, kamu dari sore tak selera makan karena acara lamaran ini, hemm?" tanya Fahmi yang tiba-tiba muncul di sebelah Aryana yang sedang berdiri sendirian melihat kolam ikan mas koi.
"Ah, honey ngangetin aja," ucap Aryana.
"Maaf mengagetkanmu, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi, aku benar-benar khawatir denganmu," ucap Fahmi serius sambil menatap lekat manik mata indah milik Aryana.
________________________________________
Makasih buat semua readers sudah sabar tunggu upnya, doakan Fahmi dan Aryana semoga lancar menuju halal.
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
.
__ADS_1