
Selesai shalat magrib berjamaah, Fahmi dan Aryana makan malam bersama, seperti biasa, Aryana melayani suaminya dengan telaten, namun hanya kalimat pertanyaan soal makanan yang terlontar dari mulut istrinya.
"Segini cukup, Honey nasinya?" tanya Aryana saat mengambilkan nasi ke piring Fahmi.
"Cukup, Sayang," jawab Fahmi.
"Lauknya mau pakai apa?" tanya Aryana lagi karena ada satu jenis sayur dan tiga jenis lauk.
"Pakai sayur sama ayam goreng," jawab Fahmi dan Aryana mengambilkannya.
Setelah mengambilkan makanan ke piring suaminya, Aryana mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Pasangan suami istri itu makan dalam diam, dan Fahmi benar-benar tak menyukai keheningan yang menyesakkan dadanya ini. Selesai makan Aryana akan membereskan bekas makan mereka, namun Fahmi memegang tangan Aryana lalu menariknya sehingga Aryana jatuh terduduk di pangkuan Fahmi.
"Biar bibi Mey yang bereskan, tugasmu mengurusku dan membereskan punyaku," ucap Fahmi setelah berhasil menarik Aryana ke dalam pangkuannya, membuat Aryana mencebikkan bibirnya tanpa bicara sepatah kata.
"Sayang, kau jangan tak adil padaku, mamiku yang salah kenapa aku yang kena hukumannya," ucap Fahmi tak terima.
"Aku tidak sedang menghukumu, aku hanya sedang ingin sendiri dulu, kalau tidak ingat aku sudah punya suami, mungkin aku sudah terbang ke belahan dunia lain," ucap Aryana yang sukses membuat suaminya terkejut.
"Kamu mau kabur dariku lagi, Yang?" tanya Fahmi dengan nada tak terima.
"Sebenarnya iya, aku ingin kabur, tapi aku takut," ucap Aryana.
"Ya kamu memang harus takut, karena aku akan menemukanmu di manapun kau bersembunyi," ucap Fahmi sambil mengeratkan pelukannya di pinggang sang istri yang duduk di pangkuannya.
"Kau salah, Honey, aku bukan takut kau akan menemukanku jika aku bersembunyi, tapi aku takut dimarahi oleh Allah, karena pergi keluar rumah tanpa ijin suami," jawab Aryana yang membuat hati Fahmi terharu. Sang istri yang masih belia tapi pikirannya lebih dewasa dari umur yang sebenarnya, memang Aryana tak pernah keluar rumah tanpa seijin suaminya, setelah pulang kuliah, Aryana langsung pulang ke rumah, kalaupun ia punya acara lain, Aryana pasti meminta ijin pada Fahmi.
"Duh, manisnya bidadariku," ucap Fahmi sambil menghujani wajah istrinya dengan ciuman.
"Ih, geli, Honey," ucap Aryana sambil bergerak menahan serangan ciuman dari sang suami.
"Sayang, jangan gerak-gerak, nanti adik kecilku bangun!" ucap Fahmi dengan nada suara yang menahan hasrat membuat Aryana menghentikan gerakkannya.
"Honey, kenapa kau selalu saja mesum jika dekat denganku?"
"Karena kamu adalah canduku, Sayang, ayo lanjut di kamar, ada tender yang harus aku bahas denganmu," ucap Fahmi kemudian tanpa aba-aba mengendong Aryana ala bridal style membuat bidadarinya kaget.
"Honey, turunkan aku!, aku bisa jalan sendiri lagian tender apa sih yang harus di bahas denganku?" tanya Aryana dengan muka kesal tapi sang suami tak menghiraukan semua protesnya, ia tetap mengendong Aryana sampai kamar.
Sampai kamar, Fahmi menurunkan sang istri ke atas tempat tidur dengan hati-hati lalu ia membisikan sesuatu pada sang istri sehingga membuat Aryana meremang.
"Tender bikin anak, harus bisa kembar lho ya seperti kamu," ucap Fahmi menggoda.
__ADS_1
"Memangnya buat anak itu seperti adonan roti apa, pingin berapa buah bisa langsung jadi," ucap Aryana membuat Fahmi tergelak.
"Aku cuma bercanda, sayang, tapi kalau punya gen kembar biasanya anaknya bisa kembar juga," ucap Fahmi sambil memeluk tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Fahmi dan Aryana tidur saling berhadapan, tangan mungil Aryana membelai wajah tampan suaminya, kulit putih, hidung mancung, bibir yang tak tebal, alis yang tak terlalu tebal, sungguh wajah Fahmi sangat tampan, dan Aryana patut bersyukur laki-laki di hadapannya ini hanya bucin terhadapnya.
"Kau sangat tampan, Honey," ucap Aryana sambil tangannya menyusuri setiap lekuk wajah suaminya.
"Apa setelah sembilan belas tahun kau baru menyadarinya, Sayang?" tanya Fahmi sambil tangannya juga menyusuri wajah mungil istrinya.
"Aku menyadarinya, tapi setelah aku SMA, entah kenapa setiap bertemu denganmu, hatiku selalu berdebar, mulanya aku tak tahu apa arti rasa itu, namun semakin lama, aku semakin tahu apa arti rasa itu. Apa aku sanggup harus berbagi wajah ini dengan wanita lain?" ucap Aryana yang sukses membuat Fahmi menghentikan tangannya yang sedang membelai wajah Aryana.
"Sayang, kau tak akan berbagi wajahku dan tubuhku dengan wanita lain, hanya kamu yang aku mau, hanya kamu yang berhak menyentuh setiap jengkal tubuhku, kapanpun kau mau, bahkan sekarang aku siap melayanimu," ucap Fahmi kemudian mendaratkan ciuman di kening dan di bibir Aryana.
"Honey, kita belum shalat isya," ucap Aryana mengingatkan setelah Fahmi melepaskan pagutannya.
"Baiklah, kita shalat dulu, setelah itu kita lanjut melaksanakan tender besar kita," ucap Fahmi kemudian bangun dari tidurnya lalu membantu Aryana untuk bangun.
Akhirnya mereka melaksanakan shalat isya sebelum melalukan kerjasama dalam pembuatan tender besar yang tak ternilai harganya. Setelah selesai shalat isya berjamaah, Fahmi benar-benar melakukan tendernya dengan sang istri. Sebelum membahas tender besar itu, Aryana menganti pakainya dengan baju tidur yang cukup seksi, ia melihat pantulan tubuhnya di cermin dengan baju yang cukup menggoda meskipun ia juga akan menyayangkan nasib baju seksinya itu di tangan sang suami.
"Huh aku jadi seperi wanita penggoda kalau memakai pakaian seperti ini, tapi aku harus membuat suamiku senang dan puas, waktuku hanya enam bulan dari sekarang, semoga sebelum waktu itu habis Allah bersedia menitipkan malaikat kecil di dalam sini," ucap Aryana bermonolog di depan cermin sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Begitu Aryana keluar dari walk in closet, Fahmi langsung membulatkan matanya, apalagi dengan gaya Aryana yang genit bak wanita penggoda. Aryana mendekati suaminya yang masih duduk disisi tempat tidur, Aryana langsung duduk di pangkuan Fahmi dan mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki yang sudah halal untuknya.
"Sampai tender kita gol jadi anak, Sayang, tapi apa ini benar-benar kamu?" jawab Fahmi.
"Baiklah, aku akan memuaskan mu malam ini dan malam-malam berikutnya sampai tender kita di acc oleh yang Maha Kuasa, dan ini benar-benar aku, istrimu bukan mbak kunti genit yang masuk ke tubuhku," ucap Aryana yang sontak membuat Fahmi tertawa.
"Ok, Sayang, aku juga akan memuaskanmu," ucap Fahmi lalu ia membuka pakainya satu per satu memulai menggarap tender besar mereka. Suhu AC di kamar itu sudah maksimal namun terasa panas karena proses pembuatan tender oleh pasangan pasutri yang usiannya berbeda jauh, meski begitu Fahmi sangat kuat bekerjasama dengan sang istri mengerjakan tender besar mereka, entah sampai berapa ronde pasangan itu menyelesaikan pengharapan tender besarnya, dan benar perkiraan Aryana nasib baju tidur seksinya yang harganya puluhan dollar bernasib mengenaskan karena sudah tak berbentuk karena ulah suaminya yang tidak sabaran untuk membuat tender bersama dirinya.
Di saat Fahmi dan Aryana sedang bekerjasama menggarap tender besar untuk hadirnya seorang anak, di tanah air seorang pria sedang mengerang marah, tangannya mengepal kuat setelah menerima rekaman dari alat penyadap yang di pasang anak buahnya di meja resto tempat putrinya dan besannya berbincang-bincang.
"Dasar wanita tak tahu diri, dulu putriku menyelamatkan nyawanya hingga nyawa putriku hampir kehilangan nyawanya, putranya memaksa putriku menikah muda dan membawanya jauh dari keluarga dan sekarang hanya karena putriku tak kunjung hamil, dia meminta hal bodoh seperti itu pada putriku, nyonya Miranda Pratama, akan kubuat kau menyesal telah melakukan ini pada putriku!" ucap Yudha penuh dengan amarah.
Pria yang terjatuh di dekat nyonya Miranda adalah orang suruhan Yudha merangkap pengawal bayangan yang di tugaskan menjaga Aryana dari kejauhan. Profesinya dulu sebagai seorang tentara benar-benar berguna meski ia sudah memutuskan mundur dari militer beberapa bulan setelah pernikahan Aryana. Yudha memutuskan mengundurkan diri dari militer membantu sang papa mengelola Dewantara group, kondisi papanya yang semakin tua tak memungkinkan menangani semua bisnis Dewantara group yang tersebar di hampir seluruh tanah air dan beberapa negara asia maupun eropa. Feelingnya yang sangat terlatih sewaktu bergabung dengan kesatuan elite di matra Angkatan Darat, menjadi personil pasukan garuda di tugaskan di Lebanon membuatnya sangat peka dengan semua gerak-gerik orang-orang yang berniat tidak baik.
"Felix, perintahkan anak buahmu mengawasi putriku, dan nenek lampir itu!" perintah Yudha pada Felix seorang hacker dan ahli IT yang ia pekerjakan untuk memback up semua data di Dewantara group.
"Siap, laksanakan perintah," ucap Felix dari seberang telepon.
*****
__ADS_1
Pagi mulai menjelang, hampir pukul lima pagi, namun pasangan pasutri ini rasanya engan untuk meninggalkan peraduannya.
"Ya Allah jam berapa ini?" gumam Aryana yang berusaha membuka matanya yang terasa berat, ia ingin bangun tapi sepertinya ada benda berat yang menindih tubuhnya, setelah Aryana berhasil membuka matanya, terlihat tangan kekar suaminya memeluknya erat seperti guling dan kakinya terasa kebas karena kaki sang suami juga menindih kakinya. Mau tak mau Aryana harus membangunkan suaminya.
"Honey, ayo bangun!, tubuh kamu berat aku tidak bisa gerak!" pinta Aryana sambil berusaha menyingkirkan lengan kekar sang suami dari tubuhnya.
Fahmi berusaha membuka matanya karena merasa ada yang mengusik tidurnya.
"Sayang, ada apa?" tanya Fahmi dengan suara serak khas orang bangun tidur namun justru terdengar seksi.
"Aku mau bangun, tubuhmu berat," ucap Aryana dengan nada lemas.
Mendengar ucapan istrinya, Fahmi perlahan bangun dari tidurnya, benar saja tangan dan kakinya menindih tubuh mungil sang istri.
"Maaf Sayang, aku menindih kakimu, apa sakit?" tanya Fahmi khawatir.
"Tidak sakit, hanya terasa kebas, rasanya susah di gerakkan," jawab Aryana.
Fahmi kemudian bangun dan memijit kaki istrinya sebentar untuk menghilangkan rasa kebas yang di rasakan Aryana.
"Mau mandi?" tanya Fahmi yang di jawab anggukan oleh Aryana.
"Kalau begitu, aku bantu ya?" tawar Fahmi.
"Nggak ah, nanti mandinya malah lama minta nambah lagi," jawab Aryana yang membuat Fahmi tersenyum.
"Aku janji, Sayang hanya mandi, lagian ini sudah hampir jam lima pagi, nanti kita bisa makin telat subuh.
Akhirnya Aryana menerima tawaran sang suami membantunya ke kamar mandi dan membantunya mandi. Fahmi benar-benar menepati janjinya hanya membantu Aryana mandi tidak lebih. Setelah mandi wajib dan berwudhu, pasangan suami istri melaksanakan shalat subuh secara berjamaah.
___________________________________________
Hallo readers, maaf kalau author tidak bisa setiap hari up apalagi doubel up, dikarenakan keadaan author yang di dunia nyata cukup sibuk dan author juga sedang mengerjakan novel untuk lomba YAAW Sesion 6 di NT yang juga masih on going. Kalau ada yang tanya kenapa novel yang PHA tidak di selesaikan dulu baru buat novel baru?, itu karena Cinta Yudha dan Pilihan Hati Aryana sudah terkontrak jadi tidak bisa di ikutkan lomba
Mohon dukungannya juga buat novel terbaru saya "Catatan Hati Maharani".
Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung....
__ADS_1