Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 180. Surga Dunia


__ADS_3

Suasana haru masih menyelimuti acara pernikahan Afwa dan Kirana karena lagu Yang Terbaik Untukmu mengalun indah dan merdu. Raka dan Yudha sudah mengurai pelukan putra putri mereka. Yudha menepuk pundak Afwa sambil tersenyum sedangkan, Raka menakup wajah Kirana dengan kedua tangannya yang masih kokoh sambil tersenyum.


"Selamanya ayah akan mencintai dan menyayangimu, putri Sulung ayah, buah cinta pertama ayah dan ibu. Ingatlah meski kau sudah punya Afwa dada ayah masih bisa menjadi sandaranmu yang hangat, pundak ayah masih sanggup membantumu memikul semua masalahmu, berbahagialah putriku Kirana, doa ayah dan ibu selalu menyertaimu," ucap Raka lalu mencium kening sang putri tanda cinta, kasih sayang dan ketenangan.


"Dan jangan banyak nangis di hari bahagiamu, eman-eman make-up kamu nanti luntur, itu MUA mahal," sambung Raka membuat Kirana tertawa meski air matanya masih keluar.


Mitha lalu membimbing Kirana agar kembali ke pelaminan dan Afwi merangkul sang kakak untuk kembali ke tempatnya.


Acara terus berlanjut dengan berfoto bersama dari keluarga Raka dan Yudha, tak ketinggalan calon pengantin yaitu Afwi dan Nayla. Kombes Mahendra juga bunda Nana juga ikut hadir dan berfoto bersama kedua mempelai.


"Selamat ya kak Afwa dan Kak Kirana semoga samawa," ucap Nayla memberi selamat pada kedua mempelai, tak lupa Nayla menautkan pipinya di pipi Kirana, Nayla juga berfoto selfi berdua dengan Kirana.


"Ayo sudah foto-fotonya, ntar kalau kita yang nikah kau boleh foto sepuasnya!" ajak Afwi sambil mengandeng tangan Nayla agar segera turun dari pelaminan.


"Iya-iya, abang gak bisa ya lihat orang senang," ucap Nayla menggerutu namun Afwi tak menanggapinya.


Prosesi resepsi pernikahan Afwa akhirnya selesai, meski lelah ada kebahagiaan yang membuncah, apalagi dua minggu lagi acara pernikahan Afwi dan Nayka akan di langsungkan.


"Kalian menginap saja di hotel DW group, semua sudah di siapkan," ucap Yudha.


"Tapi di rumah ayah Raka pasti masih banyak tamu, Yah," ucap Afwa yang sepertinya kurang setuju dengan ucapan ayahnya.


"Kau tak perlu khawatir, ayah sudah bicara dengan ayah mertuamu dan ia setuju, dari kemarin kalian sudah cukup ikut membantu di rumah ayah Raka. Sekarang saatnya kalian istirahat, keluarga besar Kirana pasti mengerti," ucap Yudha menenangkan.


"Apa yang di katakan ayahmu benar, kalian pulanglah ke hotel DW group semua sudah di siapkan, nanti Refanda akan menyambut kalian di sana," ucap Yasmin menimpali.


"Terima kasih, ayah, bunda atas semuanya, Kiran nggak tahu lagi harus berkata apa, kalian sangat baik," ucap Kirana.


"Jangan berterima kasih, semua ini adalah kewajiban kami sebagai orang tua memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meski mungkin bagi seorang anak hal itu bukan yang terbaik," ucap Yudha membuat Afwa dan Kirana merasa sedih.


"Terima kasih ayah bunda, tanpa kalian aku bukanlah apa-apa," ucap Afwa kemudian memeluk ayah dan bundanya bergantian, sedangkan Kirana hanya memeluk Yasmin saja. Yudha hanya menepuk lembut kepala Kirana sebagai bentuk rasa sayang sebagai seorang ayah.


"Titip anak ayah ya, maklumi kalau dia nanti sedikit menyebalkan, kau putri seorang prajurit, ayah rasa kamu pasti tahu apa yang harus kau lakukan dalam menjalani rumah tanggamu. Yang jelas entah itu menikah dengan seorang prajurit atau tidak, ujian pernikahan pasti akan selalu ada dan ayah harap kalian bisa bijak dalam menyelesaikan semua masalah yang akan kalian hadapi nanti," pesan Yudha pada anak dan menantunya yang baru saja meniti satu tangga dalam pernikahan.


"Iya, ayah, doakan kami, semoga kami bisa menjalani kehidupan rumah tangga kami dengan bahagia," ucap Kirana.


Afwa dan Kirana kemudian masuk ke dalam mobil pengantin yang akan membawa mereka ke hotel, satu buah mobil yang berisi para bodyguard keluarga Dewantara mengikuti dati belakang mobil yang di tumpangi Afwa dan Kirana.


Setelah sekitar lima belas menit, mobil pengantin sampai di hotel DW group, dan benar saja Refanda dan beberapa staf hotel berjajar menyambut kedatangannya.


"Selamat datang, mas Afwa, mbak Kirana,semoga selalu bahagia," ucap Refanda disusul seorang staf perempuan memberikan sebuket bunga pada Kirana sebagai ucapan selamat.

__ADS_1


"Terima kasih, Refanda kau memang copas nya Om Devan, aku banga padamu, dan sekali lagi terima kasih sudah banyak membantu opa dan ayah dalam mengelola perusahaan," ucap Afwa lalu menepuk pundak Refanda.


Refanda hanya tersenyum simpul menangapi ucapan Afwa, dalam hati ia merasa bangga dan bahagia memiliki atasan seperti Yudha dan kini anak Yudha begitu menghormatinya.


Afwa dan Kiran kemudian masuk ke kamar hotel yang sudah di siapkan untuknya, kamar yang sudah di setting menjadi kamar pengantin, suasana romantis mewarnai kamar tersebut, apalagi ranjang yang sudah di hias dengan bunga, lampu yang bisa diatur menjadi temaram dan lilin aroma terapi, yang tentu membuat Afwa tak sabar mengarungi surga dunia yan indah dengan sang istri tercinta untuk pertama kalinya.


Afwa dan Kirana, saling berpandangan dengan posisi Afwa memeluk pinggang Kirana.


"Kamu cantik sekali, Sayang, semoga kita selalu bersatu selamanya," ucap Afwa lalu meraup bibir Kirana dengan lembut.


Keduanya menikmati ciuman yang sangat romantis itu, membuat ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya, Afwa ingin segera melakukan ibadah paling indah menikmati surga dunia bagi pasangan suami istri.


"Kak, kita harus ganti baju, dulu, aku gerah sekali, sekalian kita shalat dzuhur dulu!" ajak Kirana setelah Afwa melepaskan pagutannya.


"Oke, mau mandi sama-sama?" tawar Afwa sambil tersenyum menggoda.


"Sendiri-sendiri saja, tapi kakak bantu aku lepas hijab dan baju pengantin ini dulu!" pinta Kirana memelas membuat Afwa kasihan, karena memang gaun pengantin yang dipakai Kirana cukup berat apalagi hijabnya yang pasti penuh dengan jarum pentul.


Afwa melepas jasnya, lalu menggulung kemejanya hinga ke siku, kemudian mulai membantu sang istri melepas hijab dan gaun pengantin. Setelah itu Kirana masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu, sedangkan Afwa duduk di sofa kamar sambil memainkan ponselnya, banyak chat yang masuk dari teman, sahabat dan kerabat memberikan ucapan selamat atas pernikhannya.


Setelah sekitar lima belas menit, Kirana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi.


Afwa langsung mengangkat kepalanya ketika sang istri memanggil namanya. Afwa tersenyum lalu meletakkan ponselnya di sofa dan berdiri dari duduknya berjalan ke arah Kirana.


"Baiklah, Sayangku, aku mandi dulu sekalian kita shalat dzuhur berjamaah," ucap Afwa kemudian masuk ke kamar mandi.


Afwa keluar kamar mandi sudah memakai celana pendek dan kaos pres body warna putih hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar dan bagus. Kirana juga sudah berganti pakaian dengan dress selutut, kemudian keduanya melaksanakan shalat dzuhur berjamaah. Setelah melakukan kewajiban shalat, pasangan suami istri itu merebahkan tubuh di ranjang, dengan posisi saling berhadapan.


"Apa kau lelah, Kiran?" tanya Afwa sambil merapikan rambut Kirana.


"Lelah?, tentu saja, tamunya banyak sekali," jawab Kirana dengan bibir mengerucut.


"Itu belum seberapa, nanti kalau ayah Yudha ngunduh mantu aku dan Afwi, tamunya bisa dua kali lipat tamu ayah Raka," ucap Afwa.


"Hah? sungguhkah?, oh ya Allah aku tak bisa membayangkan pesta ngunduh mantu keluarga Kakak.


"Nggak usah di bayangin, masih sekitar tiga minggu lagi, sekarang lebih baik baik bayangin bagaimana buat nyenengin suami, terutama pas di atas ranjang begini," ucap Afwa sambil menaik turunkan alisnya genit.


"Iiiihh, kak Afwa apaan sih, mesum aja pikirannya," ucap Kirana kesal bercampur malu karena Afwa menggodanya.


"Mesum sama istri sah nggak apa-apa, lagian kalo suami nggak mesum nggak akan jadi bayi," ucap Afwa sambil terkekeh melihat wajah Kirana yang cemberut.

__ADS_1


"Kiran sayang, apa boleh mas ambil hak mas sekarang?" tanya Afwa sambil jemarinya membelai lembut pipi Kirana.


"Tapi ini masih siang, Kak, bentar lagi ashar ini hampir jam tiga loh," ucap Kirana minta pending acara ML.


Afwa lalu melihat ponselnya dan benar saja jam malah sudah menunjukkan pukul tiga sore dan kemudian terdengar suara adzan. Afwa mengerti apa maksud sang istri, ia pun tersenyum dan mengiyakan keinginan sang istri.


"Baiklah, tapi habis ashar nggak boleh pending lagi lho!" ucap Afwa lalu ia turun dari ranjang untuk melaksanakan shalat ashar dengan Kirana.


Seperti janjinya setelah menunaikan shalat ashar berjamaah, Kirana memberikan haknya pada sang suami.


"Kak, kalau begini berarti bukan malam pertama tapi sore pertama," ucap Kirana membuat Afwa tertawa dan menghentikan cumbuannya sejenak.


"Memang harus ya ritual ML perdana pengantin baru?, kalau bisa siang atau sore kenapa harus nunggu malam, lagian ini di hotel, kalau di rumah orang tua ya mungkin akan terganggu karena pasti akan masih banyak tamu."


"Ehm iya juga ya, tapi yakin mau minta sekarang?" tanya Kirana


"Of course, honey," jawab Afwa kemudian langsung mengangkat sang istri ala bridal style ke atas tempat tidur.


"Afwa memulai aksinya dengan mencium kening Kirana sambil memanjatkan doa ketika akan ber jima dengan istrinya, Kirana juga melantunkan doa dalam hatinya semoga jika nanti dari ML mereka di karuniai seorang anak maka anak tersebut menjadi anak yang diberkati oleh Allah.


Setelah menlancarkan aksinya pada sang istri untuk pemanasan, sekarang tibalah saat yang paling dinanti. Afwa dan Kirana sudah tanpa sehelai benangpun, sentuhan Afwa pada titik-titik sensitifnya, juga bagian intimnya membuat Kirana menegang.


"Sayang jangan tegang begitu! kita akan memulai perang yang penuh kenikmatan, jika kau capek diam saja biar aku yang bekerja, kau cukup mendesah dan sebut namaku!" ucap Afwa sambil tangannya bekerja di atas tubuh Kirana.


Setelah bagian leher kini, Afwa mulut Afwa turun ke dua aset gunung kembar milik istrinya, rasanya sungguh luar biasa, inikah salah satu sebab Yudha dan Yasmin melarang keras putra putrinya, agar saat melakukan ML dalam ikatan yang sah, nikmatnya akan terasa berkali-kali lipat dan tak perlu takut dosa menyentuh yang belum halal.


Erangan dan ******* akhirnya lolos dari mulut kirana saat Afwa memainkan dua aset paling sensitif di dadanga. Mendengar suara merdu dari istrinya perlahan Afwa memulai aksinya, masuk ke dalam gua kenikmatan milik istrinya. Afwa semakin mempercepat temponya sehingga membuat Kirana mengeluarkan suara yang semakin indah ditelinga Afwa, dan akhirnya pelepasan pun terjadi. Benih Afwa sudah masuk ke rahim Kirana.


"Terima kasih, Sayang, kau menjaga hal paling berhargamu untukku dan perlua kau tahu ini juga pertama kali untukku. Semoga malaikat kecil segera hadir di dalam sini, kau hebat dan nikmat, Sayang, terima kasih," ucap Afwa lalu mencium Kirana, lalu menyeka peluh di wajah Kirana.


Kirana yang sudah lemas karena harus menerima gencatan senjata suaminya hanya bisa mengangguk. Tubuhnya rasanya remuk redam, hasrat sang suami benar-benar kuat ,mungkin karena rajin berolahraga dan menahan diri sampai bertahun-tahun, dan kini hasrat itu tersalurkan pada seseorang yang benar.


"Huft, ternyata kak Afwa benar-benar kuat, tubuhku sampai seperti ini, apa laki-laki berprofesi seperti kak Afwa semua sekuat ini jika masalah ranjang," batin Kirana dengan mata terpejam karena merasa lelah.


_______________________________________


Maaf jika MP nya Afwa dan Kirana tidak sesuai ekspektaksi kalian, nanti kalau terlalu hot gak lolos review editor.


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


__ADS_2