Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode.208. Nayla Sakit


__ADS_3

Waktu terus bergulir, tak terasa sudah empat bulan berlalu, Afwa masih berada di Papua menjalankan tugas negara, meski beberapa kali sempat baku tembak dengan para pemberontak, namun Afwa masih bisa selamat meski lengannya sempat terserempet peluru, tetapi insiden tertembaknya Afwa tak di sampaikan ke istrinya. Atas permintaan Afwa, kesatuan hanya memberi tahu ayahnya, karena istri Afwa sedang hamil.


Yudha sudah berbicara dengan Raka tentang Dinda beberapa bulan yang lalu, dan Raka menerima saran Yudha agar menasehati Dinda tentang sikapnya pada Kirana. Raka benar-benar malu dengan sahabatnya sekaligus besannya itu yang justru memberikan perhatian penuh pada putrinya. Raka sedikit marah pada Dinda karena sikapnya yang tak mencerminkan ibu yang bijaksana, ia sangat malu dengan Yasmin, sebagai istri pengusaha yang sangat sibuk tetapi bersedia memberi semangat dan meluangkan waktunya menemani Kirana di masa tersulitnya.


Sedangkan Afwi sudah hampir menyelesaikan kasus tentang penculikan anak di bawah umur, ekonomi yang semakin sulit membuat orang lupa akan kuasa Tuhan, sehingga tidak sabar dan mengambil jalan pintas mencari nafkah dengan melakukan kejahatan. Nayla berusaha bersabar dan mengerti tentang pekerjaan suaminya terkadang saat kesepian ia meminta emaknya Dudung menemaninya di rumah. Seperti malam ini Afwi justru pulang sangat malam hampir pukul satu dini hari membuat emaknya Dudung yang bernama bi Jumi harus menginap menemani Nayla, apalagi Nayla dalam keadaan kurang sehat.


Ceklek, Afwi membuka pintu utama, saat masuk ia menemukan bik Jumi tertidur di ruang tamu, namun kemudian langsung terbangun begitu mendengar seperti pintu di buka.


"Aden!" ucap bik Jumi setengah terkejut.


"Bibi?


"Iya, Den, maaf bibi terpaksa tidur di rumah aden, soalnya nggak tega lihat non Nayla nggak enak badan sejak sore tadi, tadi sempat demam, tapi nggak mau ke dokter," ucap bi Jumi membuat Afwi terhenyak, tanpa bicara lagi ia setengah berlari menuju kamarnya.


Sampai depan pintu kamar, ia membuka berlahan, ruangan kamar hanya diterangi lampu nakas yang temaram. Terlihat sang istri sedang tidur terbungkus selimut tebal, ada rasa nyeri di hatinya ketika melihat belahan jiwanya sakit seperti ini, perlahan ia berjalan mendekati ranjang. Afwi menyentuh dahi sang istri, ia dapat merasakan kulit Nayla terasa hangat, dan wajahnya terlihat pucat, hati Afwi makin tak karuan.


"Kenapa tak telepon Abang kalau kamu sakit, Dek? Abang jadi merasa suami tak berguna kalau begini," gumam Afwi dengan perasaan sedih.


Afwi segera beranjak dari sisi istrinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berganti pakaian, kemudia ia langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur Afwi memeluk tubuh istrinya setelah mendaratkan ciuman di seluruh wajah Nayla, Afwi sangat takut jika terjadi sesuatu pada sang istri, apa yang harus ia katakan pada pak Mahendra, ia akan diangap laki-laki tak becus karena gagal menjaga istrinya yang merupakan putri tunggal Mahendra Bagaskara.


Pagi harinya Afwi bangun lebih dulu, ia langsung mengecek suhu tubuh Nayla, masih hangat tapi tidak seperti tadi malam. Afwi turun dari tempat tidur lalu keluar kamar, ia baru ingat jika bibi Jumi menginap di rumahnya. Sampai lantai bawah ia sudah tak melihat bibik Jumi tetapi ia mendengar suara dari arah dapur.


"Bibi sedang apa?" tanya Afwi


"Eh Aden, maaf lancang, bibik cuma masak air saja," jawab bibi Jumi tak enak.


"Tidak apa-apa, saya justru yang minta maaf karena membuat Dudung tidur sendiri di rumah."


"Dudung mah sudah terbiasa tidur sendiri kalau saya ada pekerjaan bantuin orang hajatan."


"Airnya biar saya yang tunguin, Bibi pulang saja kasihan Dudung, sebentar lagi subuh!" pinta Afwi.


"Tapi, Den--."


"Sudah tak apa-apa, nanti Nayla akan saya bawa ke dokter, bibi tenang saja."


"Baiklah kalau begitu, saya pulang dulu ya, Den."


"Tunggu sebentar, Bi!" pinta Afwi lalu naik menuju lantai dua.


Tak lama, Afwi kembali menemui bibi Jumi yang sudah duduk di ruang tamu.


"Ini buat beli sarapan Bibi dan Dudung, terima kasih sudah menemani istri saya" ucap Afwi sambil memberikan tiga lembar uang warna merah.


"Den, tak usah, saya ikhlas temenin non Nayla, Aden sama Non sudah banyak bantu bibi dan Dudung," tolak Bibi Jumi.


"Bil, jangan ditolak ini rezeki, ayo terima!" pinta Afwi sedikit memaksa, meskipun sedikit takut akhirnya bibi Jumi menerima uang pemberian Afwi.


"Sekali lagi terima kasih, Den Afwi, semoga rezekinya banyak dan cepat di kasih momongan biar Non Nay ada temannya," doa bibi Jumi tulus.


"Aamiin, terima kasih doanya," ucap Afwi sambil tersenyum.


"Saya, pamit, Aden, Assalamualikum."


"Waalaikumsalam," balas Afwi sambil membuka pintu utama.


Selesai mengantar bi Jumi ke depan, Afwi mematikan kompor yang tadi dipakai untuk merebus air, kemudian Afwi kembali ke kamar untuk persiapan shalat subuh. Sampai di kamar Afwi melihat sang istri masih tertidur pulas, Afwi langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu bersamaan dengan adzan subuh berkumandang. Afwi memilih shalat subuh di rumah karena sang istri sedang sakit, selesai shalat subuh ia membangunkan Nayla dengan pelan.

__ADS_1


"Dek, bangun yuk sudah subuh, shalat dulu!" ucap Afwi sambil membelai lembut kepala sang istri.


Merasa ada yang mengusik tidurnya, Nayla mengeliat dan berusaha membuka matanya yang terasa berat.


"A-Abang?"


"Iya, ini abang, suami kamu yang paling ganteng," ucap Afwi narsis sambil tersenyum.


"Ini jam berapa? kapan abang pulang?" tanya Nayla dengan suara serak.


"Ini sudah subuh, semalam abang pulang jam satu dini hari," jawab Afwi.


"Oh, bi Jumi gimana?"


"Bi Jumi sudah pulang baru saja, sekarang kamu bangun ya, shalat dulu, nanti bisa tidur lagi!"


"Iya, Bang, bantu Nay bangun!" pinta Nayla lemas.


Afwi dengan sigap membantu sang istri bangun dan menuju kamar mandi. Selesai ke kamar mandi dan mengambil wudhu kemudian shalat subuh sambil duduk karena tubuhnya masih lemas, selesai shalat, Nayla kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan Afwi duduk di tepi ranjang dekat dengan sang istri.


"Kenapa sakit nggak bilang ke, Abang, hem?" tanya Afwi sambil mengenggam tangan Nayla.


Nayla mengulas senyum lalu berkata, " Nay, nggak ingin membuat Abang kepikiran, nanti Abang jadi nggak konsen kerjanya."


"Lain kali jangan begitu, sesibuk sibuknya Abang, kalau kamu sakit harus kasih tahu, jangan meremehkan penyakit!"


"Iya, suamiku sayang."


"Sekarang mau sarapan apa?"


"Oke, tapi kamu nggak.apa-apa, abang tinggal sebentar? soalnya bi Jumi sudah pulang.


"InsyaAllah, nggak apa-apa, Bang."


"Kalau begitu abang pergi dulu, kamu tidur saja di kamar jangan kemana-mana!" pinta Afwi yang diangguki oleh Nayla.


Afwi kemudian turun ke lantai bawah kemudian segera keluar untuk membeli bubur ayam pesanan sang istri. Setelah lima belas menit Afwi sudah kembali ke rumah. Afwi menaruh bubur ayam mangkuk lalu membawanya ke kamar.


Ceklek


"Sayang makan dulu!" pinta Afwi setelah membuka pintu kamar.


Nayla yang sedang tiduran berusaha bangun, lalu bersandar di kepala ranjang, melihat sang suami membawakan sarapannya, ia jadi terharu sekaligus merasa bersalah.


"Maaf, Nay malah jadi merepotkan Abang, seharusnya Nay yang melayani abang, tapi ini malah sebaliknya," ucap Nayla sendu.


"Sayang..., kamu sedang sakit, Allah Maha Tahu, tak selamanya seorang istri yang harus melayani suaminya ada kalanya di saat tertentu si suami mengambil peran istri, apalagi kamu sedang sakit," ucap Afwi sembari menyendok bubur ayam untuk di suapkan ke istrinya.


"Nay, bisa makan sendiri, Bang," tolak Nayla.


"Kali ini nggak boleh nolak, biar abang yang suapin!" ucap Afwi memaksa dan akhirnya Nayla terpaksa menerima perlakuan manis dari suaminya.


Tak lama Afwi selesai menyuapi sang istri, lalu memberikan segelas air putih hangat.


"Dek, nanti ke dokter ya," ucap Afwi membuat Nayla mengernyitkan dahinya.


"Maksud Abang, Nay yang periksa?" tanya Nayla memastikan.

__ADS_1


"Iya, Sayangku."


"Tapi, Nay hanya masuk angin dan demam biasa, tak usah lebay, Bang."


"Nayla Sayang, jangan meremehkan suatu penyakit, Abang tak mau kamu kenapa-napa, kamu sangat berharga buat Abang, jadi nggak ada penolakan!"


"Abang antar aku ke dokter, berarti abang nggak kerja?"


"Abang sudah ijin, hari ini khusus Abang ngurusi kamu."


Mendengar ucapan suaminya yang begitu penuh perhatian membuat hati Nayla menghangat, rasa kesal yang beberapa bulan ini di pendamnya sedikit berkurang. Ya Nayla sebenarnya merasa sedih, kesal, kecewa pada suaminya yang sering pulang di atas jam lima bahka sampai malam, namun Nayla tak bisa menunjukkannya di depan suaminya yang akhirnya rasa sesak itu membuatnya tumbang hari ini.


Afwi sudah membuat janji dengan dokter Dewantara group yang berada di Bandung, Afwi akan mendatangi dokter tersebut di rumah sakit tempat ia bekerja. Pukul sembilan pagi Afwi berangkat ke rumah sakit bersama Nayla. Sekitar setengah jam Afwi dan Nayla sampai di rumah sakit, ia langsung diarahkan menuju ruanga praktik dokter Shiren.


"Selamat pagi, Dokter!" ucap Afwi ketika memasuki ruang dokter Shiren, dokter paruh baya itu langsung berdiri sambil tersenyum ramah.


"Pagi Pak Afwi, suatu kehormatan bisa di datangi putra Yudhatama Dewantara.


"Dokter jangan berlebihan, biasa saja," ucap Afwi tak enak.


"Seharusnya pak Afwi bisa meminta saya datang ke rumah, jadi anda tak perlu repot-reoot ke sini," ucap dokter Shiren.


"Tak apa, Dok, sekalian istri saya mau jalan-jalan, sumpek di rumah terus."


"Oh begitu, ini istri anda?"


"Iya, kenalkan ini istri saya, Nayla," ucap Afwi mengenalkan sang istri.


"Nayla, Dok," ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya yang di sambut ramah oleh dokter shiren.


"Cantiknya, pantas saja pak Afwi terlihat bucin," goda dokter Shiren.


Nayla yang mendengar pujian dokter Shiren tersenyum malu, bisa-bisanya sang dokter mengatakan dia cantik, padahal Nayla merasa wajahnya biasa saja.


"Apa yang ada rasakan Nyonya Nayla?" tanya doktet Shiren.


"Tiga hari ini saya tak enak badan, malas makan, dan akhirnya kemarin kepala saya pusing sekali dan demam," jawab Nayla yang membuat sang suami membulatkan matanya.


"Ya Tuhan bisa-bisanya istriku menyembunyikan sakitnya selama tiga hari, kau harus dapat hukuman Sayang," batin Afwi kesal.


"Kalau begitu silahkan berbaring, saya periksa dulu!" pinta dokter Shiren.


Dokter Shiren memeriksa dengan seksama keadaan Nayla, setelah memeriksa Nayla doktet memberi penjelasan tentang kondisi kesehatan Nayla.


"Pak Afwi, keadaan istri anda tak ada yang perli di khawatirkan, beliau sepertinya banyak pikiran sehingga mengakibatkan nafsu makan berkurang yang secara otomatis membuat kondisi tubuh menurun. Sebenarnya sumber penyakit yang paling signifikan adalah pikiran, makanan hanya menempati porsi sekitar dua puluh persen. Jika seorang pasien di larang memakan makanan atau minuman tertentu mereka bisa tetapi jika meminta pasien untuk tidak memikirkan sesuatu yang akhirnya membuat mereka sakit, kebanyakan tidak bisa karena untuk pikiran hanya orang tersebut yang bisa mengontrolnya," jelas dokter Shiren.


Mendengar penjelasan dokter Shiren, baik Afwi maupun Nayla cukup mengerti, namun hati Nayla tak akan baik-baik saja karena setelah ini dia akan di introgasi oleh pak polisi ganteng kesayangannya.


"Ini saya resepkan obat, dan vitamin, sekali lagi jaga kesehatan ya Nyonya Nayla, jangan banyak pikiran, sharing dengan suami tentang apapun yang menjadi pemikiran Nyonya, jika kita selalu merasa senang maka kesehatan kita bisa ikut terjaga," ucap dokter Shiren.


"Terima kasih dokter," ucap Afwi dan Nayla bersamaan kemudian mereka keluar dari ruang periksa dokter Shiren.


Setelah keluar dari ruangan dokter Shiren, Afwi langsung memandang istrinya seolah menuntut banyak penjelasan.


"Ada yang ingin kau jelaskan padaku, Sayang?"


__________________________________________

__ADS_1


__ADS_2