Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 191. Bertemu


__ADS_3

The Royal Wedding ngunduh mantu dua putra kembar salah satu raja bisnis di tanah air berlangsung sangat meriah. Perpaduan hidangan western dan menu makanan khas Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi tamu dari luar negeri yang merupakan kolega bisnis Dewantara group. Mereka bahkan rela meluangkan waktu untuk terbang ke Indonesia memenuhi undangan rekan bisnis mereka, dan salah satu rekan bisnis Dewantara group adalah laki-laki tampan berusia sekitar tiga puluh tahun sedang menikmati hidangan khas Indonesia sambil memperhatikan seorang wanita yang sedang mengendong anak perempuan yang sangat lucu dan cantik.


Brukk


"Oh kamu tak apa-apa, Nak?" ucap seorang laki-laki yang mencoba membantu seorang anak perempuan berusia empat tahun untuk berdiri.


" I am fine," jawab anak perempuan itu sambil membersihkan bajunya yang kotor karena terjatuh.


Dari kejauhan Aryana tergopoh-gopoh menghampiri putrinya yang sedikit bandel sehingga lepas dari pengawasannya.


"Alesya, jangan lari-lari, jatuh kan, disini banyak orang!" ucap Aryana sambil memeriksa tubuh Alesya


"Maaf saya yang kurang hati-hati sehingga tak sengaja menabrak putri anda Nyonya, jadi jangan memarahi putri anda!" ucap laki-laki itu entah kenapa ia seakan tak rela anak perempuan di depannya ini dimarahi seseorang.


Aryana baru menyadari bahwa ada seseorang laki-laki yang ternyata berdiri di dekat putrinya setelah mendengat suara laki-laki itu. Sontak Aryana mendongakkan wajahnya karena sedari tadi ia sibuk mengurus Alesya yang terjatuh.


Deg


Tiba-tiba jantung Aryanta berdetak cukup kencang, hatinya merasa pernah mendengar suara pria ini dan seperti pernah mengenal laki-laki di depannya tapi dimana.


"Nyonya-nyonya!" laki-laki itu memanggil Aryana sampai berulang karena Aryana terlihat melamun.


" Ah iya, seharusnya saya yang minta maaf putri saya yang lari sembarangan dan menabrak anda," ucap Aryana setelah sadar dari lamunannya.


"Sayang...kalian tak apa-apa?" suara bariton yang tiba-tiba terdengar.


"Aku tak apa-apa, Honey, hanya Alesya tadi terjatuh karena berlarian di tempat ramai," jawab Aryana.


"Papa!" panggil Alesya.


"Hei princess papa kenapa lari-larian di dalam ruangan ini? bahaya sayang," ucap Fahmi sambil meraih tubuh mungil Alesya ke dalam gendongannya.


"Tuan Fahmi!" ucap laki-laki yang tadi di tabrak Alesya.


Laki-laki itu cukup terkejut melihat Fahmi di pesta keluarga Yudhatama Dewantara. Ia mencoba mengingat sesuatu tapi lupa.


"Hai, Tuan Nikko apa kabar, senang melihat anda disini, ternyata anda juga mendapat undangan dari mertuaku," ucap Fahmi sambil tersenyum.


"Iya, perusahaan saya baru saja menjalin kerjasama dengan DW group enam bulan yang lalu," ucap Nikko.

__ADS_1


"Apa anda lupa bahwa anda pernah bertemu dengan keluargaku saat tasyakuran kelahiran anak-anakku di Singapura, bahkan anda membantu menenangkan Alesya yang menangis kencang waktu masih bayi."


"Ah iya saya ingat sekarang, saya pernah bertemu keluarga anda, tapi saat itu hanya sekilas saja, jadi saya tidak terlalu ingat, apa Alesya ini bayi yang pernah saya gendong dulu?" tanya Nikko sambil memandang Alesya dengan intens karena mata Alesya mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya.


"Iya, ini putri keempat ku yang dulu pernah anda gendong," jawab Fahmi.


"Tidak saya sangka, sekarang putri anda sudah besar dan cantik," ucap Nikko sambil tersenyum pada Alesya


Disela-sela pembicaraan, Alesya mengutarakan permintaan maafnya pada Nikko.


"Maafkan Lesya, Om, tadi Lesya tak sengaja nablak Om," ucap Alesya sambil mengangsurkan tangan mungilnya pada Nikko


Nikko langsung menjabat tangan mungil itu dengan tersenyum, seolah ia sudah kenal dekat dengan balita cantik itu.


"Sama-sama sayang, tapi lain kali Alesya tidak boleh lari-lari di keramaian seperti ini, selain bisa membahayakan Alesya juga membahayakan orang lain, untung tadi om yang kamu tabrak coba tadi kakak-kakak pelayan yang sedang membawa minuman bisa tumpah nanti minumannya," ucap Nikko dengan suara lembut membuat Alesya bisa mengerti tanpa merasa dimarahi.


Entah kenapa Nikko merasa sangat dekat dengan Alesya, mata hazel Alesya mengingatkannya pada sosok wanita yang telah ia lukai, dan sampai sekarang ia belum bisa menemukan dimana wanita itu berada. Apalagi vonis dokter jika ia sudah tak akan bisa memiliki keturunan lagi. Dia sangat berharap ia bisa menemukan wanita yang telah ia rengut kesuciannya dan ia usir saat mengaku mengandung bayinya.


"Maaf tuan Nikko kami harus pergi, silahkan lanjutkan menikmati hidangan," ucap Fahmi karena Azka mengirim pesan agar segera bergabung dengan keluarga untuk sesi foto bersama.


"Oh iya silahkan, dan Alesya jangan lari-lari lagi ya, Nak," ucap Nikko.


Sedangkan Aryana hanya tersenyum kaku pada Nikko, entah kenapa ia merasa lama mengenal sosok Nikko tapi dimana, namun Aryana tak berani mengungkapkan apa yang ia pikirkan pada suaminya.


Nikko hanya menatap kepergian Fahmi, Aryana dan putrinya Alesya, entah kenapa Nikko seolah tak rela berpisah dari bocah perempuan yang cantik itu.


"Ya Tuhan kenapa aku begitu tak ingin berpisah dengan Alesya, sebenarnya ada apa dengan diriku?, Pamela andai kita bisa bertemu lagi, aku ingin minta maaf, aku akan bertanggung jawab, dan mungkin jika anak kita perempuan pasti akan cantik seperti putri tuan Fahmi, matanya seperti matamu, Pamela," batin Nikko menangis mengingat betapa brengseknya dulu ia pada Pamela.


Fahmi, Aryana dan Alesya sudah bergabung dengan keluarga besar, mereka melakukan pengambilan foto bersama. Setelah sei foto bersama selesai, MC langsung menutup acara. Dua pasang pengantin putra Yudhatama beserta orang tua mereka berjalan menuju pintu utama ballroom untuk menyalami tamu yang hadir di situ. Semua keluarga dan pihak Wo mengucap syukur karena acara the royal wedding putra kembar pewaris DW group berjalan dengan lancar tanpa halangan yang berarti. Lagi pula siapa yang berani merusuh di di hari bahagia seorang Yudhatama Dewantara. Tak hanya bodyguard dari keluarga Yudha, namun tim IT dan beberapa hecker kepercayaan Felix dikerahkan untuk ikut mengamankan jalannya acara. Felix adalah ketua tim IT di DW group yang di percaya melindungi data perusahaan dan mencaritahu bagaimana orang-orang yang mengajukan kerjasama dengan DW group.


Seusai acara semua kembali ke kamar masing-masing, karena acara dilaksanakan malam hari maka semua anggota keluarga menginap di hotel sampai besok pagi. Satu lantai hotel sudah di boking oleh Yudha untuk menginap keluarga dan besan mereka.


Afwa dan Afwi beserta istri mereka juga segera memasuki kamar hotel untuk beristirahat.


"Capek, Sayang?" tanya Afwi.


"Iya, Abang, tapi aku senang, tadi banyak baget tamunya apalagi ada beberapa selebriti, nggak nyangka bisa ketemu sama artis," ucap Nayla sambil terkekeh.


"Abang juga senang kalau kamu senang, sebenarnya abang pingin biasa aja tapi nggak boleh sama oma dan opa, mas Afwa dan abang adalah putra sulung ayah Yudha jadi nggak bisa kalau pernikahan kami biasa saja. Nanti kamu harus terbiasa dengan pesta-pesta seperti ini, karena bukan tidak mungkin bunda akan meminta bantuan kamu dan Kirana untuk membantu bisnis bunda, oma sudah tua, beliau akan segera istirahat, di rumah saja mengurus keluarga dan cucu," ucap Afwi.

__ADS_1


"InsyaAllah semoga aku nggak mengecewakan keluarga, Abang, tolong bimbing aku ya Bang agar bisa menjadi istri yang baik, katakan dengan jujur jika ada yang abang tak suka dariku, atau servicku kurang memuaskan, sebisa mungkin aku akan perbaiki," ucap Nayla dengan tatapan sedikit menyendu.


Mendengar perkataan istrinya, Afwi segera menekat lalu duduk berhadapan dengan Nayla di tepi ranjang.


"Abang juga masih banyak kekurangan, kita akan saling melengkapi dan menguatkan, kita sudah saling berjanji di hadapan Allah maka kita harus sekuat tenaga menunaikan janji itu. Hidup ini adalah tempat belajar dan berjuang tanpa batas, semua itu karena Allah ingin tahu siapa dari hamba-hambanya yang paling bertaqwa, dan pernikahan adalah ibadah yang paling panjang sekaligus paling banyak ujiannya. Jadi jangan pernah merasa inscure pada diri sendiri, bunda adalah sosok yang lembut dan bijaksana, ayah sosok yang tegas, keras dan disiplin tapi hatinya hellokitty," ucap Afwi lalu merengkuh Nayla dalam pelukannya.


Dalam pelukan sang suami, Nayla tersenyum sambil menitikan air mata, bukan air mata kesesdihan tapi air mata kebahagiaan, tapi apa tadi kalimat terakhir sang suami, berhati hellokity? oh manis sekali ungkapan yang menggambarkan hati ayah mertuanya.


Sedangkan di kamar hotel lainnya, Afwa sedang membantu Kirana melepas pernak pernik di kepala. Mungkin karena kembar topik pembicaraan merekapun juga sama seputar pesta pernikahan mereka.


"Aku jadi seperi cinderella, Mas," ucap Kirana membuat Afwa yang sedang melepas jarum pentul di hijab Kirana menghentikan gerakkannya.


"Cinderella gimana maksudnya?" tanya Afwa bingung.


"Ya pesta ini mewah banget, Mas, hampir sama dengan pestanya Aryana, aku tadi sampai merinding lho waktu masuk ruangan, apalagi ada artisnya juga penyanyi terkenal," ucap Kirana sambil tersenyum.


"Tapi kamu nggak naksir para foto model laki-laki yang menjadi foto model brand DW group?"


"Iih, Mas Afwa nih ya, mana ada begitu, orang dianya cuma kasih selamat sama kita terus turun dan entah kemana, gimana mau naksir."


"Ya kali aja."


"Aku sudah dapat anak sultan yang tampan dan gagah jadi buat apa ngelirik yang lain, ada-ada saja"


"Syukurlah, aku hanya khawatir, kalau aku tugas jauh."


"Justru aku yang khawatir sama, Mas, apalagi setelah baca berita on line kemarin tentang rekan-rekan seprofesi sama mas melakukan tindakan hal pekangagaran norma, aku jadi gak rela kalau mas tugas jauh," ucap Kirana lalu menatap manik mata sang suami.


Wajah tampan, gagah, karir bagus, sang suami yang bukan hanya good looking tapi juga good rekening, membuat tindakan khilaf mungkin saja terjadi seperti di cerita-cerita novel yang berisi sang suami dijebak seorang wanita agar mau menikah dengannya karena si laki-laki tampan dan kaya raya, atau si laki-laki bersama wanita lain karena tak tahan dengan LDR.


"Kamu tuh, ya sukannya cari susah sendiri, punya smart phone itu buat sesuatu yang positif, buat promosi barang produksi kita, buat dakwah, atau bisa nulis cerita on line yang mengajak ke dalam kebaikan, bukan malah buat lihat berita yang seperti itu, ujung-ujungnya khawatir yang nggak jelas."


"Ya maaf, Mas, tapi boleh kan aku khawatir?"


"Khawatir boleh, cemburu boleh asal jangan berlebihan dan berhusnudzon, tanamkan pikiran postitif dan jangan pernah lelah melangitkan doa untuk keselamatan keluarga kita dunia dan akhirat.


Mendengar ucapan sang suami, hati Kirana jadi meleleh, setelah ini dia akan banyak belajar dari ibu mertuanya bagaimana bisa punya anak yang nggak hanya good loking dan good rekening tapi punya ahklak yang baik.


_____________________________________

__ADS_1


__ADS_2