Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 107


__ADS_3

Sudah satu hari Yudha dan Yasmin menginap di rumah Fahmi dan Aryana. Sebenarnya Yudha ingin tinggal di apartemennya sendiri yang ada di Singapura tapi Aryana melarangnya jadi terpaksa Yudha dan Yasmin menuruti keinginan putri mereka satu-satunya. Pagi ini setelah shalat subuh Yudha berjalan-jalan keluar rumah bersama sang menantu jalan-jalan di area kompleks rumah Fahmi, sedangkan para istri sedang asyik berkutat di dapur.


"Bagaimana bisnismu di sini?" tanya Yudha sambil berjalan berdampingan dengan Fahmi.


"Baik, semuanya lancar," jawab Fahmi tenang.


"Fahmi, selama ini pasti kamu mengira aku belum bisa menerimamu."


"Iya, aku selama ini memang berfikir seperti itu, tapi aku tidak menyalahkan mu atas semua itu, aku bisa mengerti, akulah yang salah terlalu dini mengambil putrimu, apalagi perbedaan umur kami yang terlampau jauh."


"Apa yang kau katakan benar, tapi ada satu hal lagi yang membuatku khawatir sejak Aryana lahir, yaitu kelainan jantung yang ia miliki, aku takut terjadi apa-apa saat ia melahirkan nanti, dan aku takut jika sampai itu terjadi kau akan melupakan putriku dan cucu-cucuku di asuh oleh wanita lain jika kau menikah lagi," ucap Yudha dengan suara yang terdengar parau dan hal itu membuat Fahmi terkejut.


Ayah mertuanya yang selalu terlihat keras dan tegas kini berubah melow, Fahmi juga sangat terkejut dengan pemikiran dan kekhawatiran ayah mertuanya yang terlampau jauh.


"Maaf, Yudha aku tak mengira pemikiranmu sampai sejauh itu, tapi aku mohon percayalah padaku, dan jangan pernah berfikir Aryana akan meninggalkan aku, jangankan kamu, aku saja tak sanggup membayangkan jika Aryana harus pergi meninggalkan aku. Percayalah tak ada wanita lain yang bisa mengantikan Aryana di hatiku sampai kapanpun," ucap Fahmi berusaha meyakinkan Yudha.


"Kau bisa bilang begitu karena Aryana masih hidup, bagaimana kalau Allah mengingkan putriku lebih dahulu, pasti kau akan berubah pikiran, apa lagi mami kamu yang selalu ikut campur urusan percintaanmu, jangan kau pikir aku tak tahu apa yang sudah di lakukan mamimu pada putri kesayanganku. Aryana belum kunjung hamil saja, dia meminta Aryana untuk mau dipoligami atau mundur menjadi istrimu apa lagi jika Aryana sudah kembali kepada Allah," ujar Yudha yang membuat Fahmi shock lalu menghentikan langkahnya.


Yudha yang menyadari Fahmi tak lagi berjalan di sampingnya, langsung menoleh ke belakang, ia mengernyitkan dahinya melihat menantunya berdiri mematung. Yudha kemudian berbalik berjalan menghampiri Fahmi yang berdiri melamun.


"Ada apa denganmu, kenapa berhenti?"


"Aku tak apa-apa hanya terkejut saja," ucap Fahmi dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Ayo kita duduk di situ!" ajak Yudha pada Fahmi untuk duduk di sebuah bangku taman yang kebetulan ada di dekat lokasi mereka berjalam-jalan.


"Apa maksudmu dengan mamiku menyuruh Aryana melakukan hal itu?" tanya Fahmi yang rasanya tak percaya sang mami tega melakukan itu pada Aryana.


"Akan kuberi tahu kau sesuatu tapi berjanjilah setelah kau mengetahuinya, jangan benci mamimu karena bagaimanapun dia adalah wanita yang melahirkanmu ke dunia ini, cukup dengarkan dan jaga putriku dengan segenap jiwa dan ragamu!" pinta Yudha lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


Yudha lalu mencari sebuah folder rekaman dan memberikannya pada Fahmi. Fahmi mendengatkan rekaman suara perbincangan antara Aryana dan sang mami. Setelah Fahmi mendengar rekaman itu, dadanya bergemuruh, wajahnya terlihat memerah menahan amarah.


"Jadi mami memaksa Aryana meninggalkan aku seandainya ia tak kunjung hamil selama enam bulan, ya Tuhan mami, kenapa mami tega melakukan itu," batin Fahmi, dan tak sadar bulir bening keluar dari sudut mata Fahmi.


"Jujur Fahmi, jika sampai apa yang aku takutkan terjadi, kau boleh menikah lagi, tapi hak asuh si kembar akan akan aku ambil karena aku tak sudi wanita lain mengasuh keturunanku!" ucap Yudha tegas membuat jantung Fahmi berdetak lebih cepat, sebegitu posesifnya sang ayah mertua sampai ia ingin mengambil hak asuh anaknya jika ia sampai menikah lagi."


Ucapan ayah mertuanya itu benar-benar membuat jantung Fahmi rasanya ingin meloncat keluar, ia tak mengira akan mendapatkan ultimatum seperti ini padahal bayinya saja masih anteng di dalam rahim sang istri.

__ADS_1


"Ayah mertua aku mohon jangan bicara seperti itu lagi, aku tidak akan punya pikiran seperi itu, kalau aku seperti apa yang ayah mertua takutkan, kenapa aku harus menunggu putrimu selama tujuh belas tahun, dengan rentang waktu selama itu aku bisa dapatkan wanita manapun yang aku ingin, aku punya segalanya yang di damba wanita, tapi ayah lihat aku kan?, aku lebih memilih menunggu putrimu, aku nenerima Aryana dengan segala kekurangannya, bahkan aku yang selalu memantau kesehatan jantungnya sejak ia masih bayi. Apa itu belum cukup membuktikan betapa berharganya putri ayah untukku?" ucap Fahmi tulus dan bersungguh-sungguh.


Pikiran ayah mertuanya sudah terlalu jauh, ia harus pandai meyakinkan ayah mertuanya tentang perasaannya pada Aryana.


"Maaf kalau pikiranku terlalu berlebihan, tapi kau akan bisa merasakan apa yang aku rasakan kalau suatu hari kau menjadi seorang ayah dari anak perempuan," ucap Yudha dengan suara berat.


"Aku mengerti, tapi untuk saat ini ku mohon percayalah padaku, Aryana bukan hanya hidup ayah tapi juga hidupku."


Setelah berbincang di taman Fahmi dan Yudha kembali ke rumah, Fahmi berusaha bersikap wajar saat sampai di rumah meski hatinya merasa gelisah atas semua fakta yang diungkap ayah mertuanya tenyang maminya dan ultimatum yang mengerikan dari Yudha.


"Hai kalian dari mana sih dicariin dari tadi?" omel Yasmin ketika Yudha dan Fahmi memasuki rumah.


"Aku menemai ayah Yudha jalan-jalan sekitar komplek rumah ini" jawan Fahmi.


"Oh aku kira kemana, ini sudah jam tujuh, kamu tidak ke kantor, Fahmi?" tanya Yasmin.


"Aku ke kantor, kalau begitu aku siap-siap dulu," ucap Fahmi kemudian bergegas menuju kamarnya.


Sampai di kamar ia melihat sang istri sudah rapi dan wangi, di atas tempat tidur Aryana sudah menyiapkan baju kerja untuk Fahmi. Melihat suaminya memasuki kamar, Aryana menyugingkan senyuman.


"Dari mana sih pagi-pagi sudah ngilang?"


"Tumben akur."


"Memang kenapa, kamu suka ya kalau aku dan ayahmu selalu jadi anjing dan kucing?"


"Ya nggak lah, aku senang kalau kamu dan ayah rukun."


"Iya, Sayang, dari dulu aku selalu berusaha rukun dengan ayahmu tapi beliau terlalu sentimen sama aku, tapi tak apa, itu berarti ayah sangat sayang padamu," ucap Fahmi sambil merengkuh pinggang Aryana dan mendaratkan ciuman di kening sang istri.


"Baiklah, aku senang hubunganmu dengan ayah semakin baik, dan sekarang saatnya kamu segera mandi dan berangkat ke kantor!" pinta Aryana sambil berusaha melepaskan pelukan sang suami yang melilit pinggangnya.


"Oke, Sayang, cup," satu kecupan menyambar bibir mungil milik istrinya kemudian Fahmi segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


"Dasar mesum."


Selesai bersiap Fahmi dan Aryana turun untuk sarapan bersama Yudha dan Yasmin. Hari ini Aryana akan masuk kuliah karena kemarin ia sudah ijin tidak masuk, sedangkan Yudha dan Yasmin berencana untuk pergi melihat perkembangan salah satu perusahaan fashion di Singapura yang bermitra dengan DW group.

__ADS_1


"Wah kelihatanya masakannya sangat enak, siapa yang masak?" tanya Yudha saat melihat menu sarapan pagi yang mengugah selera.


"Aku dan bunda yang masak, cobain, Yah!" pinta Aryana sambil mengambilkan nasi dan lauk pada sang ayah dengan antusias.


"Makasih, Sayang, tapi jangan lupakan suamimu aku tak tahan lihat wajah cemberutnya," goda Yudha pada menantunya yang menatapnya aneh.


"Iya, ayah, aku tak akan melupakan suamiku yang tampan sejagat raya ini," ucap Aryana sambil mencium pipi Fahmi tanpa malu di depan orang tuanya karena Fahmi duduk berdampingan dengan Aryana.


Yudha dan Yasmin tampak bahagia melihat kemesraan anak dan menantunya, mereka selalu berharap anak-anaknya berumur panjang dan bisa memberikan cucu-cucu yang lucu di masa tua mereka.


"Semoga kalian selalu sehat dan di beri umur panjang juga kebahagiaan dunia dan akhirat," batin Yudha dalam hati


****


Jika Yudha sedang menikmati masa liburannya di Si ngapura sambil mengunjungi putri kesayangannya yang tengah mengandung, maka di tanah air, Kombes Bagaskara sedang menyipkan gugatan cerai pada Galuh, juga mengurus persidangan pembunuhan atas istri pertamanya, sedangkan Nayla tetap tinggal di panti, ia ingin mengahabiskan waktu dengan bunda Nana dan anak-anak panti, karena setelah masalah persidangan mama Galuh dan sidang perceraian selesai, Nayla akan pindah ke daerah lain mengikuti papanya.


"Nay, kau sedang memikirkan apa?" tanya bunda Nana saat melihat Nayla duduk sambil duduk melamun di halaman belakang panti


"Aku sedang memikirkan apa aku sanggup pisah dari bunda dan adik-adik," jawab Nayla.


"Bunda yakin kamu bisa, papamu membutuhkan dirimu, jika nanti kamu menikah maka kamu sudah tidak bisa lagi bersama dengan papamu," ucap bunda Nana memberikan nasehat dan dukungan moral pada Nayla.


"Iya, bunda, aku akan belajar, pasti aku akan merindukan berjualan dan membuat lumpia dengan bunda juga adik-adik panti."


"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"


"Nah itu bunda yang aku pikirkan, kuliah di bidang kuliner itu jarang kampus yang ada, kalau harus pindah kuliah sayang banget kan?"


"Begini saja, kamu bicarakan dengan papamu, kan belum ada putusan ayahmu akan di pindahkan ke daerah mana," usul bunda Nana.


"Baiklah nanti aku bicarakan lagi dengan papa," ucap Nayla sambil menyandarkan kepalanya ke pundak bunda Nana.


Nayla merasa bahagia, meski ibu kandungnya sudah tiada tetapi dia mendapatka keluarga baru yang penuh dengan kehangatan.


_________________________________________


Jangan lupa selalu Like, Vote, dan Komentarnya ya

__ADS_1


Thank You


Bersambung....


__ADS_2