Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 102


__ADS_3

Kemarin setelah menerima flash disk dari Jimy, sampai di rumahnya Mirza langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Ia mengeluarkan lap top dari lemarinya. Setelah menghidupkan laptopnya, Mirza langsung memasang flash disk, ada beberapa file yang yang ada di sana, Jimy sudah menandai dengan tanggal pengambilan rekaman, mungkin dengan tujuan lebih memudahkan Mirza untuk melihatnya.


"Ada beberapa folder, aku urutkan dari atas saja," gumam Mirza dalam hati.


Mirza mulai membuka satu folder dengan urutan paling atas, lima folder sudah ia buka namun belum ada tanda-tanda mencurigakan dari kegiatan istri sang bos, baik di dalam rumah atau di luar rumah. Namun saat Mirza membuka folder ke enam terlihat video nyonya Galuh keluar rumah tanpa menggunakan supir, ia menaiki transportasi on line, kemudian nyonya Galuh turun di sebuah restoran, nyonya Galuh memakai baju serba hitam, memakai masker dan kaca mata hitam, mirip kostum menghadiri sebuah acara pemakaman. Di restoran itu nyonya Galuh menuju sebuah privat room.


Sebuah pembicaraan mulai berlangsung antara nyonya Galuh dan pria tersebut. Entah bagaiman Jimy bisa mendapatkan rekaman wajah dan suara yang cukup jelas, otak sahabatnya itu benar-benar di atas rata-rata, mungkin di atas para ilmuwan.


"Ya Tuhan, kenapa pak Kombes bisa kecolongan gini sih, kenapa pas di paksa nikah dengan nyonya Galuh, nggak di selidiki dulu sih, runyam kalau begini, bisa malu tujuh turunan ini mah, kepriben iki, oalah Gusti," batin Mirza miris sambil mengusap wajahnya kasar setelah melihat video rekaman di folder ke enam.


Mirza lanjut memeriksa file-file rekaman berikutnya, dan yang ini lebih mencengangkan.


"Astaga ternyata, separuh kekayaan pak Kombes Mahendra adalah milik almarhumah nyonya Intan dan sudah di atas namakan nona Nayla, waduh gawat kalau begitu bisa jadi nona Nayla dalam bahaya ini," gumam Mirza setelah melihat rekaman percakapan nyonya Galuh dengan seseorang.


.


Di tempat lain Nayla memandangi foto almarhumah mamanya dengan tatapan sendu.


"Kenapa laki-laki yang kaya dan punya jabatan selalu saja mudah pindah ke lain hati, kenapa mereka banyak yang tak setia, berbeda dengan seorang wanita meski di tinggal mati suaminya mereka lebih memilih survive dengan kesendiriannya menjadi single parent untuk anak-anaknya. Aku takut jatuh cinta, Ma, apalagi dengan laki-laki yang punya segalanya, katakan aku harus bagaimana, Ma. Apa jika aku mengatakan semua hal yang di lakukan mama Galuh, papa akan percaya padaku, Ma?" gumam Nayla sambil mengusap foto cantik mendiang sang mama, beberapa bulir bening lolos begitu saja dari mata Indahnya.


"Aku harus segera bertindak, aku sudah punya cukup bukti untuk mengirim ibu tiriku yang tercinta itu ke hotel prodeo tanpa harus melibatkan papa atau siapapun, tapi aku ingun bermain-main sebentar dengan ibu sambungku tersayang, mama sebentar lagi kau akan tenang di alam sana, mama Galuh akan membayar semuanya lunas bersama bunganya," tekad Nayla dalam hati sambil tersenyum licik.


.


Keesokan harinya Mirza aka melaporkan hasil penyeledikannya selama satu minggu lebih, namun ia lebih memilih menenemui atasanya itu setelah lepas dinas karena yang di bicarakan adalah masalah pribadi. Kini Mirza dan pak Mahendra sudah berada di privat room sebuah restoran. Pak Mahendralah yang meminta berbicara di tempat yang tenang dan privacy.


"Sekarang katakan apa hasil penyelidikanmu mengenai istiriku!" pinta pak Mahendra tenang tapi aura dinginya sangat kuat.


"Selama satu minggu lebih saya menyelediki nyonya Galuh, sebelumnya saya minta maaf, karena saya hanya bisa memantau nyonya Galuh jika sudah lepas dinas, tapi saya sudah memasang cctv dan alat pelacak pada nyonya Galuh dengan bantuan saudara angkat saya yang ahli dibidang IT, dan dia bisa dipercaya."


"Lalu apa yang kau dapat?"


"Silahlakan buka file yang saya kirim ke email, Komandan!"


Mahendra segera membuka file yang di kirim Mirza ke ponselnya, begitu melihat video dan beberapa foto yang baru ia buka, Mahendra menjadi geram, rasa bersalah menyeruak ke dalam hatinya. Ia merasa bodoh, kenapa ia bisa tertipu dengan kelembutan dan kebaikan Galuh dan juga latar belakang wanita pilihan ibunya.


"Ijin bicara, Ndan, apa anda baik-baik saja?" tanya Mirza sedikit khawatir karena melihat atasannya diam agak lama setelah melihat file yang ia kirimkan.


"Fisiku baik-baik saja, Mirza, tapi hatiku yang tidak baik-baik saja."


"Apa yang akan Komandan lakukan setelah mengetahui semua itu?"


"Aku belum tahu, aku masih ingin mencari bukti lebih banyak lagi, dan kau jangan memanggilku komandan karena kita sedang tidak di kantor."


"Siap!,

__ADS_1


"Aku ingin kau menyelidiki lebih banyak lagi, terutama laki-laki yang dia ajak kerjasama dengan istriku itu!"


"Baik, Pak, tapi saya menyarankan agar Bapak lebih memberikan penjagaan pada nona Nayla, karena akan ada kemungkinan nyonya Galuh juga mengincar nyawa nona Nayla."


"Aku mengerti, aku juga memikirkan hal itu, terima kasih Mirza, kamu benar-benar bisa aku percaya, aku harap kau bisa menjaga kepercayaanku," ucap pak Mahendra sambil menepuk bahu Mirza kemudian keluar dari privat room restoran.


Mirza hanya bisa diam mendengar pak Mahendra yang langsung pergi meninggalkan dimana mereka berbincang.


"Anda bisa mengandalkan aku, pak," ucap Mirza dalam hati sambil memandang pintu privat room yang sudah tertutup.


Setelah pertemuan Mirza dan pak Mahendra, Mirza melanjutkan penyelidikannya terhadap Galuh tentu saja dengan bantuan sahabatnya Jimy. Sedangkan di sebuah rumah kecil seorang gadis sedang mempersiapkan dirinya yang sudah ia tunggu selama lebih dari dua tahun.


"Kita akan bermain-main dulu sebentar, sebelum aku mengirimu ke tempat yang seharusnya," ucap gadis itu sambil tersenyum mengerikan. Penampilannya sudah mirip ketua mafia yang siap menerkam musuh-musuhnya.


Gadis tersebut tak lain adalah Nayla, berbekal semua informasi yang sudah ia dapatkan tentang mama sambungnya, hari ini ia akan mengeksekusi sang mama sambung dengan tangannya sendiri.


Nayla mendatangi rumah sang papa, dengan penuh percaya diri dia melengang masuk ke rumah yang pernah ia huni dulu. Nayla pulang ke rumah untuk bertemu dengan mama sambungnya. Sampai di depan pintu Nayla memencet bel, tak lama keluar seorang paruh baya yang tak lain adalah bi Ranti yang mengabdi pada keluarga Mahendra sejak ia masih kecil.


"Apa kabar bik?" tanya Nayla setelah tahu sang bibi pengasuhnya dulu yang membukakan pintu.


"Cari siapa ya Non?" tanya bi Ranti karena pangling dengan penampilan Nayla yang persis gadis urakan.


"Bibi tak mengenaliku lagi?" tanya Nayla sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Ya Allah, ini bener non Nay, bibi pangling non pakai pakaian seperti ini," ucap bik Ranti sambil membolak-balikan badan Nayla ke kanan dan ke kiri.


"Ngomong-ngomong mama Galuh ada bi?"


"Ada non, mari masuk dulu, bibi pangilkan nyonya."


Nayka kemudian masuk ke dalam rumah yang membesarkan dirinya, pandangannya menyapu seluruh rumah, menyapu ke penjuru ruangan tersebut. Tak lama muncul mama Galuh dari dalam latai atas.


"Hai, Nayla, apa kabar sayang, kenapa kamu baru pulang ke rumah, mama merindukanmu?" ucap mama Galuh sambil memeluk Nayla.


"Maaf, aku sibuk aku baru bisa mengunjungi mama Galuh sekarang."


"Kenapa kau harus pergi dari rumah, Nay, kalau mama punya salah, kamu bisa bilang, semenjak kamu pergi dari rumah, papamu jarang pulang, Nay, mama jadi kesepian," ucap mama Galuh dengan sikap manisnya, namun Nayla tahu kalau sikap manis mama Galuh hanya sandiwara belaka.


"Maaf, kalau Nay membuat hubungan mama Galuh dan papa jadi rengang."


"Tidak apa-apa, Nay, itu bukan salah, kamu tapi salah mama karena sudah masuk ke dalam kehidupan kalian, padahal mama tahu papamu masih sangat mencintai mendiang mamamu," ucap mama Galuh terlihat sedih namun itu hanya kamuflase.


"Tidak apa, Ma, makanya sekarang Nay ingin mengajak mama Galuh jalan-jalan, mungkin kita perlu mengakrabkan diri agar aku bisa mengenal mama lebih baik lagi!" ajak Nayla dengan aktingnya yang tak kalah hebat dengan mama Galuh.


"Sungguhkah, Nay, kamu mau mengajak mama jalan-jalan," ucap mama Galuh senang meski terbersit di hatinya rasa penasaran kenapa anak tirinya yang sudah lama pergi dari rumah tiba-tiba pulang ke rumah dan mengajaknya jalan-jalan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu mama ambil tas dulu," ucap mama Galuh.


Setelah mengambil tas, maka mama Galuh segera turun dari dan menemui Nayla.


"Ayo, Sayang kita pergi, tapi kita akan pergi kemana dan kenapa pakaian kamu seperti ini?"


"Mama tidak perlu tahu, ini akan jadi kejutan untuk mama, angap saja sebagai permintaaan maafku pada mama, dan untuk pakaianku ini, aku sedang ingin memakai baju seperti ini saja."


Mendengar penjelasan Nayla, mama Galuh meganguk mengerti, meskipun di hatinya masih banyak tanda tanya besar kenapa tiba-tiba anak tirinya mengunjunginya dan mengajaknya jalan-jalan.


"Ayo, Ma naik!" ajak Nayla pada mama Galuh untuk naik mobil yang ia bawa.


"Kamu beli mobil, Nay?"


"Tidak, ini pinjam teman, aku mana ada uang segitu banyak untuk beli mobil," bohong Nayla.


"Kenapa mesti pinjam sih, kan kamu bisa minta papa buat belikan kamu mobil baru, " ucap mama Galuh sewaktu sudah berada di mobil Nayla


"Nggak lah, Ma, aku nggak mau menyusahkan papa."


Nayla mengendarai mobilnya dengan tenang, tapi tidak dengan mama Galuh yang semakin binggung, karena jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju ke arah kota yang banyak pusat perbelanjaan dan restoran melainkan jalan yang sepi di kanan kirinya berjajar


rumah tapi tak berpenghuni.


"Nay, kita ini mau kemana sih, kok makin lama jalannya makin sepi, sebenarnya kamu mau mama kemana?" tanya mama Galuh sedikit takut.


"Kita akan pergi ke tempat yang akan membuat mama tenang dan damai, aku sangat menyukai tempat itu, aku yakin mama pasti suka," jawab Nayla dengan tersenyum.


Mendengar penjelasan Nayla mama Galuh sedikit tenang meskipun ada rasa was-was dalam hatinya dan hal itu terlihat oleh Nayla.


"Dasar uler kelas teri, baru gini aja takut, berani-beraninya membuatku menjadi yatim," geram Nayla dalam hati.


Tak lama kemudian Nayla menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang sederhana namun dengan halaman yang cukuo luas, namun terlihat rumah tersebut seperti tak berpenghuni dan tak terurus.


"Kita sudah sampai, Ma."


"Ini rumah siapa, Nay?"


"Rumah ini tempat kita akan bersenang-senang, Ma, Mama suka?"


____________________________________


Penasaran dengan apa yang akan di lakukan Nayla?


Kasih Like, Vote, Coment, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


Bersambung...


__ADS_2