Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 181. Makan Di Restoran


__ADS_3

Pukul setengah enam sore, Kirana baru bangun, matanya serasa berat saat ingin di buka, namun ia harus bangun karena merasakan tubuhnya terasa lengket.


"Sudah bangun, Sayang?" ucap Afwa menyapa sang istri yang baru bangun.


"Aku sudah bangun masih tanya, semu ini gara--gara kakak, badanku sakit semua," ucap Kirana dengan bibir mengerucut sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang naked.


Mendengar istrinya yang menggerutu, Afwa menghampiri ranjang dan langsung mengendong sang istri ala bridal style.


"Auww!" pekik Kirana terkejut.


"Akan aku antar kamu ke kamar mandi, aku sudah menyiapkan air mandi untukmu," ucap Afwa .


"Tapi aku malu, Kak."


"Ck, pakai malu segala, tadi aku sudah melihat semuanya."


Akhirnya Kirana hanya pasrah saat sang suami menggendongnya ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi Afwa mengambil selimut yang menutupi tubuh Kirana yang naked, Afwa lalu menurunkan Kirana ke bath-up yang sudah ia isi dengan air hangat dan aroma Terapy.


"Kau mandilah, berendam di air hangat akan meredakan rasa tak nyaman di area sensitifmu, aku keluar dulu," ucap Afwa lalu mencium pucuk kepala sang istri sebelum meninggalkan kamar mandi.


Sekitar dua puluh menit Kirana keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono, bertepatan dengan terdengar suara adzan magrib. Kirana segera berganti pakaian dan akan langsung shalat.


"Kamu sudah selesai mandi, Sayang?" tanya Afwa.


"Sudah, aku juga sudah wudhu, kita shalat.magrib sekalian ya, setelah itu kita cari makan!" ajak Kirana.


"Kalau begitu ayo kita shalat dulu baru makan," ucap Afwa mengiyakan ajakan sang istri.


Setelah menunaikan shalat magrib secara berjamaah dengan istrinya, Afwa mengajak Kirana makan malam di restoran hotel agar sang istri tak bosan.


"Jangan dandan cantik-cantik, cantikmu hanya boleh aku yang lihat!" pinta Afwa saat melihat istrinya memoleskan bedak tipis di wajahnya.


Mendengar permintaan suaminya, Kirana mengentikan aktivitas tangannya yang sedang memoleskan bedak di wajahnya.


"Hanya, bedak tipis, Kak, biar nggak kelihatan kusam aja, memang kakak nggak malu jalan berdua sama aku sedangkan penampilanku ala kadarnya. Bisa-bisa orang-orang mengira aku artnya kakak, ini kan hotel orang tua kamu, kalau penampilanku mirip art, semua bisa kena getahnya," ucap Kirana panjang lebar memberi pengertian pada suaminya yang mulai posesif seperti yang ada di novel-novel itu.


Afwa menghembuskan nafas kasar, ia menyesali perkataannya, ia mungkin berlebihan, apa yang di katakan Kirana benar, dia dan Kirana harus bisa menjaga penampilan karena sekarang mereka berada di hotel milik orang tuanya.


"Maafkan aku, Sayang, aku terlalu berlebihan, aku hanya nggak ingin jika kau berdandan terlalu cantik, di luar sana akan ada banyak laki-laki menatapmu dengan tatapan memuja, karena tanpa kamu beriaspun kamu sudah cantik," ucap Afwa sambil merapatkan tubuhnya dengan Kirana dan tangannya membelai pipi Kirana dengan lembut.


"Kak, aku sudah kenal dengan keluarga kakak sudah lama, jadi aku tahu bagaimana penampilan bunda Yasmin, Aryana, dan oma Dewi jika sedang keluar rumah, entah itu acara sendiri ataupun saat jalan dengan suami, aku sedikit banyak juga sudah bertanya pada bunda Yasmin, bagaimana penampilanku saat di luar rumah, apalagi saat jalan denganmu," ucap Kirana membuat Afwa terkejut.


"Sejak kapan kau belajar tentang semua itu sama bunda?"


"Sejak kak Afwa melamar aku secara resmi, selain itu aku juga memperhatikan bagaimana penampilan dan sikap bunda Yasmin, meski aku harus tetap jadi diriku sendiri."


"Masyaallah, pintar banget, istri siapa sih" ucap Afwa sambil.sedikit mencubit pipi Kirana gemas.

__ADS_1


"Iiihhh, kakak apaan sih? sakit tau," ucap Kirana sambil mengelus pipinya yang barusan dicubit sang suami.


"Habis kamu lama-lama gemesin tau, pingin aku kurung aja deh di kamar."


"Kakak..., aku lapar banget nih, kalau begini terus kapan makannya."


"Maaf, Sayang, ayo kita segera ke restoran sekarang!" ajak Afwa lalu mengandeng tangan sang istri keluar kamar menuju restoran yang berada di lantai satu.


Sampai di restoran Afwa mengajak Kirana duduk di tempat yang sudah ia reservasi, begitu melihat Afwa dan istrinya sampai di meja yang sudah di pesan seorang pelayan langsung menghampiri. Pelayanan terbaik harus diberikan karena semua pegawai hotel sudah tahu siapa Afwa, wajah dan sikap sebelas dua belas dengan sang ayah.


"Selamat sore, Pak Afwa, Ibu, ini daftar menunya, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan ramah.


"Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanya Afwa pada Kirana.


Kirana lalu membolak-balik menu, saking banyaknya menu Kirana justru malah bingung.


"Kak Afwa tahu menu yang paling enak dan spesial di sini?"


"Tahu, meski jarang ke restoran tapi aku tahu beberapa menu andan di restoran DW group. Sop iga sapi, iga bakar, beef steak, dan masih ada beberapa."


"Aku pesan ig bakar saja, kelihatannya sangat enak," ucap Kirana dengan mata berbinar.


"Baiklah, kami pesan iga sapi bakar, sop iga minumnya lemon tea panas, disert nya puding jeruk, oh ya dan satu lagi empat buah lumpia cinta," ucap Afwa pada pelayan yang mencatat pesanannya satu persatu.


"Baik, Pak, tunggu sebentar," ucap pelayan kemudian segera berlalu dari hadapan Afwa dan Kirana.


"Kakak pesan lumpia cinta, apa itu juga menu spesial di sini?"


"Wah..., Nayla so sweet juga, aku kuliah di Semarang, kenapa tak pernah mendengar tentang nama lumpia cinta ini," ucap Kirana kagum dengan sosok calon istri adik iparnya itu.


"Iya, pertemuan mereka waktu pertama kali itu lucu, adikku yang dingin, datar dan cuek jatuh cinta pada pandangan pertama pada saat Nayla sedang berjualan lumpia dengan kedua adik pantinya."


"Loh kok bisa sih Nayla jualan lumpia, dia 'kan anak komisaris polisi."


"Ceritanya panjang, sama panjangnya dengan kisah kita," ucap Afwa.


Pembicaraan terhenti karena pelayan sudah mengantar pesanan ke meja mereka, Afwa dan Kirana kemudian mulai menyantap hidangan pesanan mereka yang sudah tersedia di meja.


"Ehmm Masyaallah, Kak, sungguh ini iga sapi bakar ini sangat enak, bumbunya pas, dagingnya lembut dan bau amisnya tak terlalu kentara," ucap Kirana kagum dengan cita rasa restoran milik ayah mertuanya itu.


"Enakkan? makanya aku merekomendasi menu ini, karena rasanya juara, teknik memasak iga bakar ini masih memakai sentuhan tradisional dengan bumbu rempah asli Indonesia, dan bumbu dan sambal di beberapa menu dihaluskan dengan ulekan lemper yang terbuat dari batu, itu semua agar taste masakannya bisa enak dengan rasa yang khas.


"Oh begitu ya, pantas rasa iga bakarnya enaknya khas."


"Nanti, rencananya, oma Dewi dan opa Dimas ingin istirahat dan menyerahkan semua pengelolaan DW group pada ayah, bunda, tante Mitha dan anak-anaknya, nah yang bantu oma Dewi kelola butik kan bunda dan tante Mitha, jadi besok biar bunda nggak kerepotan mengurus beberapa usaha DW group, bunda akan minta kamu dan Nayla pegang yang usaha kuliner, pertimbangannya adalah kalian sudah punya basic kuliner, jadi bunda merasa hal ini keputusan yang tepat."


"Segitunya bunda percaya aku sama Nayla, aku merasa belum pantas terjun di kuliner miliki DW group yang sudah sangat besar, kakak 'kan tahu sendiri aku cuma usaha kecil-kecilan, aku belum tahu cara mengelola usaha kuliner DW group," ucap Kirana terkejut karena dia akan diserahi membantu bunda Yasmin mengurus usaha kuliner milik DW group yang berupa restoran, cafe, dan perusahaan DW group yang memproduksi makanan dan minuman.

__ADS_1


"Kau tenang saja, nanti bunda dan tim manajemen DW group akan mengajarimu," ucap Afwi santai sambil menyuapkan sop iga sapi ke mulutnya.


Melihat ekspresi suaminya yang begitu santai saat mengatakan hal itu, Kirana hanya diam namun otaknya berfikir, bagaimana bisa suaminya sesantai itu mengatakan hal yang bagi Kirana adalah suatu hal yang berat.


"Sudah tak usah dipikirkan, lagi pula nggak mungkin dalam waktu dekat bunda meminta hal itu darimu, masih banyak yang harus di urus bunda," ucap Afwa menenangkan sang istri, seolah Afwa tahu kegundahan sang istri.


Kirana menghembuskan nafas lega setelah mendengar penuturan suaminya, ia pun kembali menikmati iga sapi bakar yang sempat terhenti karena terkejut mendengar rencana ibu mertuanya. Selesai makan malam, Afwa mengajak Kirana jalan-jalan di sekitar hotel menikmati suasana malam yang cukup romantis.


.


Di tempat lain, Nayla sedang mempersiapkan hari pernikahannya yang akan di gelas dua minggu lagi. Di bantu bunda Nana dan beberapa orang dari tim WO, Nayla memilah-milah undangan yang akan ia bagi tak banyak yang ia undang, hanya beberapa teman kuliah dan temannya di club' karate.


"Semua undangan sudah siap di bagi, Nay?" tanya bunda Nana.


"Sudah, bunda, besok ada temanku yang ke sini ambil undangan, sedangkan punya papa akan di serahkan sama om Anton," jawab Nayla.


"Om Anton ajudan papamu yang baru, yang mengantikan Mirza?"


"Iya, padahal aku sudah sreg lho sama Mas Mirza, eh malah dia di pindah," ucap Nayla sedikit kesal.


Bunda Nana memandang Nayla dengan tatapan sendu saat membahas Mirza, karena bunda Nana tahu alasan kepindahan Mirza.


"Andai kamu tahu, Nay, Mirza pindah demi melupakan perasaannya sama kamu," batin bunda Nana.


"Bunda...bunda...!" panggil Nayla sambil menepuk tangan bunda Nana.


"Eh iya ada apa, Nay?" tanya bunda Nana terkejut karena ia sempat melamunkan Mirza.


"Bunda kenapa sih malah jadi melamun saat aku bahas mas Mirza?"


"Ah tidak, hanya keingat betapa Mirza begitu sangat baik selama menjadi ajudan papamu selama tiga tahun, bagaimana kabar anak itu sekarang," ucap bunda Nana.


"Nah itu juga yang jadi pemikiran, Nay, sejak nggak jadi ajudan papa lagi, nomor hp mas Mirza susah aku hubungi."


"Sudahlah, Nay, dimanapun sekarang Mirza berada semoga dia selalu sehat dalam lindungan Allah. Kau mau menikah pamali atuh ngomongin laki-laki lain, nanti kalau Afwi sampai tahu, dia bisa cemburu berat," ucap bunda Nana sembari tersenyum.


"Iya juga ya, tapi aku kan sudah angap mas Mirza seperti kakaku sendiri."


"Tapi tetap saja, Nay, ada kemungkinan bisa membuat Afwi cemburu, apalagi bunda lihat Afwi bucin banget sama kamu."


"Abang mah emang begitu, jangankan sama cowok, kemarin aku ngobrol agak lama dengan mbak Kirana saja di minta udahan."


"Itu tandanya, Afwi cinta mati sama kamu, Nay, persis papamu saat mencintai mendiang mamamu. Sudah ah susun lagi yang bener undangannya, bunda mau ke dapur dulu," ucap bunda Nana kemudian keluar dari kamar Nayla.


Mendengar nama mendiang mamanya di sebut, tiba-tiba mata Nayla mengembun, andai mamanya masih hidup, ia pasti akan sangat bahagia melihatnya menikah dengan lak-laki baik yang sangat mencintainya dan ia cintai.


__________________________________________

__ADS_1


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You


__ADS_2