Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 200. Menjelang Keberangkatan Satgas


__ADS_3

Waktu keberangkatan Afwa ke Papua sudah semakin dekat, kurang satu minggu lagi Afwa harus berangkat satgas ke sana. Pagi itu Kirana sudah mengenakan seragam persit karena akan ada pertemuan anggota persit menjelang keberangkatan satgas ke Papua, dua hari lagi pasukan Satgas akan diberangkatkan. Di pertemuan Persit tersebut akan ada beberapa pengarahan dari ibu Danyon, namun saat akan memakai hijab kepala Kirana terasa pusing.


"Ya Allah kenapa kepalaku pusing sekali, biasanya nggak seperti ini," ucap Kirana sambil memegangi kepalanya yang sakit tak terkira, tiba-tiba pandangannya menjadi buram.


Sebelum tubuh Kirana jatuh menyentuh lantai, sepasang tangan kekar menangkap tubuh Kirana yang sudah lemas tak berdaya. Ya, Afwa lah yang menangkap tubuh Kirana, karena sang istri tak kunjung keluar kamar, maka Afwa berinisiatif menyusul ke kamar, bersamaan ia membuka pintu kamar, Kirana hampir jatuh luruh ke lantai, dengan sigap Afwa berlari menangkap tubuh istrinya.


"Kirannnn!" pekik Afwa sambil berlari menangkap tubuh sang istri.


"Sayang...!, kamu kenapa?" ucap Afwa panik.


Melihat wajah istrinya yang pucat dengan mata terpejam membuat Afwa segera mengendong istrinya dan membaringkannya ke tempat tidur. Ia berusaha bersikap tenang agar masih bisa berfikir waras. Afwa mengambil minyak angin dan mengoleskannya sedikit di dekat hidung Kirana. Tak lama Kirana mulai sadar dari pingsannya, meski berat Kirana berusaha membuka matanya.


"Sayang kamu sudah sadar mana yang sakit?" tanya Afwa khawatir.


"Aku kenapa, Mas? kepalaku rasanya masih pusing," jawab Kirana memegangi kepalanya.


"Kamu pingsan tadi, sebentar aku mau minta tolong bu Sigit buat periksa kamu," ucap Afwa kemudian segera keluar menuju tetangganya, Lettu Sigit yang memiliki istri yang berprofesi sebagai seorang dokter.


"Assalamualaikum," ucap Afwa


"Waalaikumsalam," jawab Lettu Sigit yang sudah berpakaian dinas seperti Afwa.


"Maaf Lettu Sigit, apa bisa saya minta tolong istri anda memeriksa istri saya?"


"Memang istri Letda Afwa kenapa?"


"Istri saya tiba-tiba pingsan, tapi sekarang sudah sadar hanya saja masih merasa pusing."


"Oh baiklah sebentar saya panggilkan istri saya, kebetulan istri saya masih di rumah."


Tak lama munculah Lettu Sigit bersama istrinya.


"Eh Om Afwa kenapa istrinya?"


"Istri saya tiba-tiba pingsan, tolong ibu lihat dulu, kalau parah saya akan bawa ke rumah sakit."


"Baiklah tunggu sebentar saya ambil peralatan dulu," ucap bu Widya istri dari Lettu Sigit.


Setelah mengambil peralatan medisnya, bu Widya di temani sang suami berjalan menuju rumah Afwa yang berada di depan rumah Lettu Sigit.


"Mari bu, istri saya ada di kamar!" ajak Afwa mempersilahkan bu Widya memasuki kamar tidurnya sedangkan Lettu Sigit menunggu di ruang tamu.


"Bu Afwa, apa yang ibu rasakan?" tanya bu Widya.


"Kepala saya rasanya berat banget dan terasa pusing."


"Sekarang saya periksa dulu ya, rileks saja!"


Bu Widya memeriksa Kirana dengan seksama mengunakan stetoskop, kemudian bu Widya mengukur tekanan darah Kirana.

__ADS_1


Bu Widya tersenyum setelah selesai memeriksa Kirana, dan hal itu membuat Kirana heran.


"Kenapa ibu Sigit tersenyum setelah memeriksa saya?"


"Bu Afwa sudah telat berapa hari?"


Mendengar pertanyaan bu Sigit, Kirana langsung terkejut, ia baru ingat hampir satu bulan ini ia tak mendapatkan tamu bulanannya.


"Maksud bu Sigit?"


"Iya, diaknosa saya sementara bu Afwa sedang mengandung, untuk lebih jelasnya ibu bisa memeriksakan diri ke dokter kandungan."


Afwa yang mendengar pembicaraan istri seniornya dan Kirana merasa sangat senang, ia langsung menghambur memeluk sang istri yang masih berbaring. Afwa mendaratkan ciuman di kening Kirana, ia bahkan sampai lupa bahwa bu Sigit masih berada di kamar mereka.


"Ekhemm."


Afwa langsung melepas pelukannya ketika mendengar suara deheman, ia sangat malu dengan tingkahnya, ia benar-benar melupakan jika bu Sigit masih bersama mereka.


"Maaf, Ibu, saya begitu bahagia mendengar kabar ini," ucap Afwa tak enak hati karen sikapnya.


"Tidak apa-apa, Om Afwa, saya mengerti kehamilan anak pertama memang sangat di nantikan semua pasangan, suami saya dulu juga sangat eksaited saat saya hamil anak pertama," ucap bu Sigit.


"Mari saya antar ke depan bu!"


"Terima kasih, baik-baik ya bu Afwa, nanti atau besok segera periksa ke dokter kandungan."


"Tak apa, saya senang bisa membantu bu Afwa," ucap bu Sigit kemudian meninggalkan kamar Kirana di temani Afwa.


Bu Sigit dan suaminya pamit pulang, setelah selesai membantu Afwa, setelah tamunya pulang, Afwa kembali ke kamar. Ia mendekati istrinya yang masih terkulai lemas di atas ranjang.


"Sayang, Mas senang sekali kita diberi kepercayaan secepat ini," ucap Afwa sambil menggenggam tangan Kirana.


"Aku juga senang, Mas, tapi bagaimana aku menghadapi kehamilanku di hari-hari berikutnya?"


Mendengar ucapan sang istri, senyum yang menghiasi wajahnya pun langsung surut, mengingat dua hari lagi dia harus berangkat Satgas ke Papua. Hal ini mengingatkannya pada kisah ibu mertuanya saat mengandung Kirana yang saat itu harus ditinggal ayah Raka bertugas ke Lebanon hampir satu tahun. Kisah sedih itulah yang membuat ibu mertuanya trauma dan tak ingin anaknya berjodoh dengan orang militer sehingga ibu Dinda menentang hubungannya dengan Kirana, dan sekarang kisah sedih ibu mertuanya akan terulang kembali. Akankah ibu mertuanya akan marah padanya, Afwa benar-benar tak ingin berada di situasi seperti ini.


"Kita periksa ke dokter kandungan nanti sore ya, nanti aku akan bilang bunda biar mencarikan seseorang yang bisa menemani kamu di sini, Mas nggak mau terjadi apa-apa sama kamu selama mas tinggal."


"Apa itu tidak berlebihan, Mas?"


"Nggak, Sayang, Mas pingin memberi kamu yang terbaik Mas nggak mau ibu Dinda marah karena hal ini, karena apa yang kamu alami persis seperti pengalaman ibu Dinda."


"Terserah Mas Afwa saja, aku percaya Mas tahu apa yang terbaik untuk aku," ucap Kirana sambil berusaha tersenyum.


"Sayang, Mas sudah hampir terlambat, kamu tidak usah hadir di pertemuan persit hari ini, Mas akan pamitkan kamu sama bu Danyon, jam makan siang nanti Mas akan pulang lihat kondisi kamu," ucap Afwa kemudian berpamitan dengan sang istri, tak lupa ciuman sayang ia daratkan di kening dan perut Kirana.


Sepeninggal Afwa, Kirana memejamkan matanya karena kepalanya masih terasa pusing, akhirnya Kirana kembali tertidur. Tepat jam dua belas siang Afwa pulang ke rumah sesuai perkataannya tadi pagi. Ia membawa lauk yang ia beli dari luar karena dengan keadaan sang istri yang masih lemah tak mungkin memasak. Afwa juga membeli jus jambu merah dan cake kesukaan Kirana.


"Assalamualaikum," ucap Afwa saat memasuki rumah, namun tak ada jawaban.

__ADS_1


Afwa masuk ke dalam rumah dengan beberapa kantong kresek di tangannya, setelah meletakkan barang-barangnya di meja makan, tempat yang di tuju Afwa kamar tidurnya. Di dalam sana ia melihat istrinya tidur dengan nyenyak hanya saja Kirana sudah berganti pakaian rumahan. Afwa lalu membuka sepatu dan menuju ke kamar mandi, setelah itu barulah ia mendekati istrinya yang masih terlelap.


"Sayang...bangun! shalat dulu yuk!" ucap Afwa sambil membelai kepala Kirana dengan lembut.


Merasa ada yang mengusik tidurnya, Kirana menggeliat dan mencoba membuka matanya. Meski masih mengantuk, Kirana tersenyum ketika melihat siapa yang sudah membangunkannya.


"Bangun dulu, shalat lalu makan siang, Mas sudah beli lauk tadi!"


Kirana mengangguk dan Afwa langsung membantu istrinya untuk bangun, dengan telaten ia membimbing Kirana sampai ke kamar mandi, Kirana lalu menunaikan shalat dzuhur dengan posisi duduk karena tubuhnya masih terasa lemas. Selesai shalat Kirana makan siang ditemani Afwa, mungkin karena efek kehamilan, Kirana merasa perutnya tak nyaman sehingga ia hanya makan sedikit.


"Sayang, ayo tambah beberapa suap lagi ya, kasihan dedeknya kalau makan kamu cuma sedikit!" bujuk Afwa setelah mengambil alih sendok makan sang istri.


"Perutku agak mual, Mas, rasanya sudah nggak sanggup telan makanan lagi," tolak Kirana sambil menggelengkan kepalanya lemas.


Afwi yang sudah menyendok nasi dari piring Kirana mengurungkan niatnya untuk menyuapi istrinya.


"Kalau begitu, minum jus jambunya ya, biar ada tambahan tenaga!" pinta Afwa sambil menyodorkan segelas jus jambu merah.


Kirana meraih gelas jus jambu, sedikit demi sedikit ia meminumnya dengan memakai sedotan hingga tinggal setengah gelas. Afwa dengan telaten mengelap sudut bibir Kirana dengan tisue.


"Sudah kenyang?" tanya Afwa.


"Sudah, Mas, sisa jusnya taruh di kulkas saja!" jawab Kirana.


Afwa lalu menyimpan sisa jus jambu ke dalam kulkas, ia juga membereskan bekas makan siang mereka berdua. Setelah semua rapi, Afwa membimbing istrinya ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Kamu duduk disini, biar makanannya turun dulu, baru nanti kamu rebahan!" pinta Afwi yang mendudukkan Kirana di tepi ranjang dekat dengan head board agar sang istri bisa bersandar.


Afwa duduk di tepi ranjang tepat di depan Kirana, tangannya terulur membelai lembut wajah istrinya yang masih terlihat cantik meski sedikit pucat.


"Apa yang kamu rasakan, Yang?"


"Sudah agak enakkan, Mas tapi perutku masih nggak nyaman."


"Kepalanya masih pusing?"


"Sedikit."


"Ya, sudah kamu istirahat dulu, Mas mau balik kerja lagi, nanti sore kita ke dokter kandungan, mas sudah buatkan janji dengan dokter kandungan teman Fahmi."


"Jadi mas Fahmi sudah tahu aku hamil?"


"Iya, tapi tenang saja, Mas sudah minta Fahmi merahasiakannya dari Aryana dan keluarga."


Mendengar penjelasan suaminya Kirana merasa lega, karena ia takut hasil pemeriksaannya nanti tak seperti yang di harapkan. Afwa kemudian memakai kembali sepatunya lalu pamit pada sang istri untuk kembali ke kantor.


Setelah Afwa pergi Kirana pelan-pelan merebahkan tubuhnya di ranjang, sebelah tangannya mengelus perutnya dengan sayang berharap malaikat kecil buah cintanya dengan sang suami benar-benar sudah berada di dalam rahimnya.


________________________________________

__ADS_1


__ADS_2