Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode 225. Kepulangan Afwa


__ADS_3

Enam bulan sudah terlewati hari ini adalah hari dimana para prajurit yang di kirim ke Papua akan kembali untuk bersua lagi dengan keluarga yang sudah ditinggalkan. Termasuk juga Afwa yang akan ikut pulang. Di pelabuhan KRI yang membawa pasukan Satgas sudah berlabuh, satu persatu para prajurit turun dari kapal, sebelum bertemu dengan keluarga, para prajurit melakukan ceremony penyambutan dari sang komandan. Para ibu-ibu persit sudah bersiap juga menyambut kedatangan suami tercinta, mereka mengenakan seragam persit sama seperti saat acara pelepasan Satgas. Kirana yang kandungannya sudah menginjak tujuh bulan mengenakan seragam persit dengan model baju hamil, seragam lamanya sudah tak bisa menampung perutnya yang membuncit. Kali ini Kirana hanya di temani bi Nani menyambut kedatangan sang suami.


Upacara penyambutan telah selesai, sekarang saatnya para prajurit melepas rindu dengan keluarga mereka tercinta, tak terkecuali Afwa. Di temani bi Nani, Kirana mencari keberadaan sang suami.


"Mas Afwa mana ya Bi nggak kelihatan dari tadi?" tanya Kirana sambil matanya berusaha mencari dimana sang suami.


"Sabar, Bu, hati-hati jalannya kasihan adek bayinya," ucap Bi Nani sambil mengandeng tangan Kirana agar tak jatuh.


Dari jarak yang tak terlalu jauh, seorang laki-laki melihat sang istri dengan perutnya yang sudah membuncit sedang mencari dirinya. Ya ia adalah Afwa, tadi setelah acara upacara penyambutan selesai, sang komandan mengajaknya bicara sebentar sehingga ia tidak bisa langsung menemui sang istri seperti yang lain.


"Sayang!


Sebuah suara yang begitu Kirana rindukan terdengar di telinganya, perlahan Kirana membalikan tubuhnya. Saat tubuhnya berbalik pandangan kedua suami istri itu bertemu, tanpa kata seolah mata kedua insan itu menyiratkan banyak kerinduan yang tak akan muat di hitung dengan kalkulator.


"Mas Afwa," ucap Kirana dengan suara serak menahan tangis.


Afwa merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum, sebuah kode untuk sang istri. Kirana perlahan mendekat pada Afwa, lalu Kirana tanpa kata langsung masuk ke pelukan sang suami tercinta disertai isakan tangis bahagia. Rindu yang ia tahan selama enam bulan terbayar sudah, doa-doa yang ia panjatkan hampir di setiap waktu dikabulkan oleh Allah, membawa sang suami dengan selamat meski sempat dua kali terkena luka tembak.


"Kenapa nangis, hem?" tanya Afwa lembut dengan posisi masih memeluk sang istri.


Perlahan Kirana mengurai pelukannya, ia menatap sang suami lekat, wajah Afwa sedikit bertambah gelap namun tak mengurangi kadar ketampanannya sebagai putra Yudhatama Dewantara. Mendengar pertanyaan sang suami, Kirana mengurai pelukannya. Kirana memandang lekat wajah sang suami yang ketampanannya makin bertambah menurutnya.


"Aku kangen sama, Mas," jawab Kirana dengan mata yang sembab.


"Mas juga kangen sama kamu juga anak kita," ucap Afwa sambil mengelus perut Kirana yang membuncit.


"Gimana luka Mas, masih sakit?"


"Alhamdulillah sudah tak sakit, semua berkat doamu dan semuanya, Mas bisa selamat dari musibah."

__ADS_1


"Aku selalu berdoa untuk Mas, selama Mas Afwa pergi aku selalu berusaha bersedekah lebih banyak terutama di hari Jum'at dengan teriring doa mas selalu diberi keselamatan dan kesehatan. Bunda juga menyarankan aku agar memperbanyak shalawat paling tidak seratus kali sehari lebih banyak lebih bagus."


"Terima kasih, Sayang, mungkin karena doa-doa yang kau panjatkan dan sedekah yang kau berikan membuatku terhindar dari marabahaya," ucap Afwa lalu membelai lembut kepala Kirana yang tertutup hijab.


"Kata Bunda, sedekah itu bisa menolak tujuh puluh bencana, dan juga memperbanyak shalawat agar doa-doa kita segera di kabulkan selain itu shalawat adalah salah bentuk dari birul walidaini. Pantas saja ayah sangat bucin sama bunda, selain cantik bunda juga sholehah dan sederhana juga low profile," puji Kirana pada sang ibu mertua.


"Dan kau tau, sifat dan ilmu bunda menurun pada Aryana, itulah yang membuat dokter pedofil itu habis-habisan berjuang untuk memperistri adik perempuanku satu-satunya."


"Iya, aku juga jadi saksi bagaimana perjuangan cinta mereka, eh kok malah ngomongin bunda sama Aryana sih? ayo pulang!" ucap Kirana.


"Kamu sendiri jemput aku, Sayang?" tanya Afwa ketika menyadari tak ada keluarganya yang ikut menjemputnya.


"Aku nggak sendiri, ada bi Nani yang menemani dan supir yang dikirim ayah Yudha buat antar jemput aku. Maaf ya Mas, hanya aku dan bi Nani yang jemput Mas, yang lainnya pada sibuk," ucap Kirana khawatir jika suaminya bersedih.


"Tidak apa-apa yang lain nggak bisa ikut jemput yang penting adalah kamu dan adek bayi yang di dalam sini," ucap Afwa tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya, mereka sampai di rumah dinas. Afwa turun terlebih dahulu lalu membantu sang istri turun dari mobil. Bi Nani membantu menurunkan barang Afwa dan memasukannya ke dalam rumah, sedangkan sang supir masih menunggu untuk berjaga-jaga jika Afwa atau Kirana membutuhkan sesuatu dan hal itu sesuai dengan perintah Yudha.


"Mas mandi dulu ya, aku siapkan makanan dulu!" pinta Kirana setelah masuk ke dalam kamar bersama Afwa.


"Kamu jangan capek-capek, Yang kasihan dedeknya!"


"Nggak capek kok, Mas, tinggal nyiapin sama manasin aja, tadi aku sempat masak masakan kesukaan Mas, dan juga ada kiriman makanan dari Bunda," ucap Kirana sambil membantu Afwa membuka kancing seragamnya.


"Bunda kirim makanan apa?"


"Ada ayam bakar, sup iga sapi, salad buah sama puding juga beberapa kue kering."


"Ya ampun bunda banyak amat kirimnya apalagi kamu sudah masak, siapa yang mau menghabiskan?"

__ADS_1


"Kan ada bi Nani sama pak supir, nanti sisanya bisa diangetin buat makan malam kan irit, Mas."


Mendengar jawaban istrinya, Afwa tertawa, sungguh prinsip ekonomi para emak-emak memang patut diacungi jempol semangat mereka untuk hidup hemat namun tetap bisa makan enak kadang bisa mengalahkan semangat para jomblo untuk mendapatkan jodoh. Bahasa kerennya the power or emak-emak, termasuk juga sang istri yang masuk komunitas emak-emak hemat.


"Duh pintarnya istriku, kalau seperti ini Mas bisa cepat kaya," ucap Afwa sambil mencapit ujung hidung Kirana gemas.


"Iih apaan sih? Mas tuh nggak usah aku berhemat, Mas tuh sudah kaya dari orok," protes Kirana.


"Mas cuma tentara berpangkat Letda, mau kaya dari mananya sih, Sayang, si merah putih saja kamu yang bawa."


"Ya kan Mas Afwa pewaris DW group, mas aja yang malah milih jadi tentara padahal mas bisa kerja bantuan ayah di perusahaan."


"Namanya juga pilihan, Yang, jadi kamu nyesel nih nikah sama aku yang malah memilih jadi tentara dari pada pengusaha?"


"Ya nggak gitu maksud aku, Mas jangan gagal paham, sudah ah sana cepat mandi keramas itu kepala biar hatinya juga ikutan adem!" ucap Kirana kemuadian keluar kamar untuk mempersiapkan makanan untuk suaminya.


Selesai mandi Afwa langsung keluar kamar mencari keberadaan sang istri. Afwa nampak lebih segar setelah mandi, ia memakai celana pendek selutut dan kaos warna putih.


"Mas, sini ayo makan!" ajak Kirana yang melihat sang suami mendekat ke arahnya.


"Makanannya banyak amat, Yang?" komentar Afwa ketikam melihat berbagi menu masakan di meja.


"Aku juga nggak tahu kalau bunda mau kirim makanan, aku sudah terlanjur masak, lalu bunda telepon kalau mau kirimin aku makanan, aku sudah nolak tapi bunda maksa jadi ya wislah terima saja, daripada menyingung perasaan orang tua."


"Ya sudah kalau begitu, suruh bi Nani dan pak supir makan sekalian disini!


Kirana lalu meminta bi Nani dan pak supir yang bernama Priyono atau biasa di kantor di panggil pak Pri untuk ikut makan bersama. Namu karena canggung pak Pri memilih makan di ruang tamu setelah mengambil makanan dan minuman, begitu juga bi Nani, yang hanya mengambil makanan lalu menuju ke dapur. Bi Nani dan pak Pri meski tak kencan namun mereka satu server yaitu memberikan ruang pada majikan mereka agar lebih menikmati makan siang berdua.


___________________________________

__ADS_1


__ADS_2