
Tak terasa ujian akhir sekolah tingkat SMA/SMK dan sederajat sudah selesai dilaksanakan, para siswa tinggal menunggu hasil pengumuman kelulusan dari sekolah. Namun para siswa tetap diwajibkan masuk ke sekolah meski cuma sebentar. Afwi mulai binsik untuk seleksi masuk Akpol, juga belajar soal-soal untuk masuk sekolah kepolisian yang cukup bergengsi di tanah air itu. Sedangkan Aryana sibuk dengan membantu Om kece kesayangannya itu dalam pembangunan hotel. Hari itu sepulang sekolah Aryana tidak langsung pulang, ia meminta sang kakak langsung mengantar ke perusahaan Om Fahmi. Aryana dan Fahmi hanya masuk sekolah untuk mengumpulkan berkas siswa yang diminta oleh wali kelas mereka, jadi para siswa kelas 12 bisa pulang cepat.
"Kamu yakin Dek, kakak turunin disini, nggak mau diantar ke dalam?" tanya Afwi ketika sudah sampai di depan perusahaan Pratama group cabang Bandung.
"Nggak usah, kakak 'kan mau latihan binsik sama teman kakak, lagi pula aku sudah janjian sama Om Fahmi, jawab Aryana meyakinkan.
"Baiklah, hati-hati ya, kalau ada apa-apa telpon kakak!" pinta Afwi.
Aryana lalu segera melangkah ke bangunan megah milik Pratama group, sampai di lobby Aryana menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan dimana ruang ceo karena baru pertama kali ini Aryana datang ke perusahaan om kecenya itu.
"Permisi mbak, saya Aryana, mau tanya kalau ruang ceo dimana ya?" tanya Aryana sopan.
Sang resepsionis yang ditanya Aryana tidak segera menjawab, ia memindai penampilan Aryana dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuh Aryana.
"Ngapain anak sekolahan cari pak Fahmi, paling cuma mau minta bantuan dana buat sekokahannya," batin sang resepsionis yang bername tag Windi.
"Maaf ya, Dek apa adek sudah ada janji dengan ceo kami?" tanya Windi.
"Sudah, dan saya di suruh langsung ke ruangannya, karena ini pertama kali saya kesini jadi saya tidak tahu ruang ceo yang mana," jawab Aryana.
"Tapi maaf ya Dek, pak Fahmi sedang ada meeting mungkin lama, karena saya tidak ada konfirmasi langsung dari asisten pak Fahmi tentang kedatangan adek, maka adek tunggu saja di sana sampai pak Fahmi selesai meeting!" pinta Windi dengan menunjuk sofa yang ada di lobby.
"Baiklah, saya akan tunggu," ucap Aryana kemudian dia segera berlalu dan pergi menuju sofa yang ditunjukkan resepsionis tadi.
Aryana berusaha menghubungi Fahmi namun tak diangkat, lalu Aryana mengirimkan chat yang berisi bahwa dia menunggu di lobby karena tak diijinkan masuk ke ruang ceo. Dua jam berlalu namun Fahmi tak kunjung menghubunginya sampai akhirnya Aryana tertidur di sofa lobby saking ngantuk dan capek yang dirasakannya.
Fahmi baru saja keluar dari ruang meeting bersama asisten Joan, Ia langsung ke ruangannya karena mengira Aryana pasti sudah menunggu di ruangannya namun sampai di ruangannya ia tak melihat siapapun.
"Kok, Aryana belum datang sih, tadi sebelum masuk ruang meeting dia chat aku sudah otw dari sekolahan," gumam Fahmi, lalu Fahmi membuka ponselnya, alangkah terkejutnya ia mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Aryana, dan yang lebih membuat ia terkejut ternyata Aryana tertahan tak bisa masuk sehingga menunggu di lobby.
"Joaaan!" teriak Fahmi memanggil sang asisten.
Joan yang pada saat itu sedang memeriksa berkas hasil meeting terjengkit kaget, dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke ruang ceo
"Ma-maaf, Pak ada apa memanggil saya?" tanya asisten Joan dengan lutut yang masih gemetar karena ia melihat kilatan kemarahan di muka sang ceo.
"Apa kau tidak memberi tahu resepsionis jika ada gadis bernama Aryana Maira kesini langsung suruh masuk ke ruanganku?" tanya Fahmi penuh kekesalan.
"Ma-maaf saya lupa, Pak, karena tadi saya segera mempersiapkan meeting karena klien sudah datang," jawab Joan gugup.
__ADS_1
"Dasar, bodoh, bulan ini kupotong gajimu lima puluh persen," ucap Fahmi.
"Kenapa dipotong pak, jangan pak saya sangat membutuhkan gaji saya untuk biaya sekolah adik saya, Pak!" pinta Joan memohon.
"Masih untung gajimu yang dipotong, bukan kepalamu yang akan di bom sama calon mertuaku!" ucap Fahmi kemudian segera berlalu dari ruangannya meninggalkan sang asisten yang masih gagal paham dengan kesalahannya sampai-sampai gajinya dipotong.
Fahmi setengah berlari menuju lift untuk turun ke bawah menjemput Aryana, sampai di lobby Fahmi mengedarkan pandangan sampai akhirnya pandangannya tertuju pada seorang gadis yang masih memakai seragam SMA tertidur di sofa lobby perusahaan, ia langsung berlari mendekati sofa tersebut membuat para karyawan yang sedang berada di lobby terperangah kaget termasuk sang resepsionis, dia sudah gemetaran, salahkan dirinya tak mempercayai kata-kata gadis SMA tersebut, habislah dia kali ini.
"Ya Tuhan, Sayang, siapa yang membuatmu sampai tidur disini, kalau ayahmu sampai tahu kau begini bisa-bisa dia membatalkan restunya pada kita," gumam Fahmi dalam hati sambil membelai lembut kepala Aryana lalu mendaratkan ciuman di kening Aryana, dan sontak pemandangan itu membuat para karyawan yan menyaksikan adegan ini membelalakkan mata tak percaya. Ceo mereka membelai dan mencium seorang gadis berseragam SMA dengan begitu mesra. para karyawan penasaran siapakah gadis SMA itu bagi ceo mereka.
Fahmi kemudian mengendong tubuh Aryana ala bridal style, sehingga membuat para karyawan tambah melongo termasuk Windi sang resepsionis. Sewaktu Fahmi melewati meja resepsionis sambil mengendong Aryana, ia berhenti sebentar.
"Kamu yang menyuruh gadis ini untuk menunggu di sofa?" tanya Fahmi dengan sorot mata tajam membuat Windi gugup.
"I--iya Pak," jawab Windi.
"Mulai hari ini, bereskan barang-barangmu dan angkat kaki dari perusahaan ini!" perintah Fahmi dengan mata yang dipenuhi kilatan amarah.
Selesai mengatakan itu pada resepsionis perusahaannya tersebut Fahmi melanjutkan langkahnya menuju lift sambil mengendong Aryana. Setelah sampai di ruangannya Fahmi membaringkan Aryana di kamar khusus yang ada di ruang kerjanya.
"Tidurlah Sayang kamu pasti capek menunggu di lobby cukup lama, Om janji hal seperti ini tak akan terjadi lagi," ucap Fahmi sambil membelai lembut kepala Aryana kemudian ia menyelimuti Aryana dan tak lupa satu ciuman mendarat di kening Aryana yang masih tertidur pulas. Fahmi kemudian melanjutkan perkerjaanya lagi.
"Apa cewek tadi adiknya bos ya?, ah mana mungkin, bos kan anak tunggal, apa tadi anaknya ya, tapi anak dari mana si bos nikah aja belum, atau jangan-jangan dia tunangan si bos?, ah nyesel kemarin nggak bisa datang di acara pertunangan si bos gara-gara ibu aku sakit, jadi nggak tau deh wajah tunangannya si bos" gumam Joan bermonolog.
Setelah satu jam, Aryana terbangun dari tidurnya, ia mengerjab-ngerjabkan matanya, ia melihat sekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
"Perasaan tadi aku nunggu om Fahmi di lobby kok sekarang aku di kamar, apa aku ketiduran terus berjalan sambil tidur ya?" ucap Aryana bermonolog.
Kemudian ia menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, ia meraih gagang pintu kamar lalu membukanya.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka membuat Fahmi menoleh pada asal suara, begitu melihat gadisnya keluar dari kamar, Fahmi memasang senyum termanisnya.
"Sudah, bangun Sayang, gimana enak tidurnya?" tanya Fahmi sambil bangun dari duduknya dan menghampiri Aryana.
"Jadi kamu honey yang bawa aku kemari?" ucap Aryana yang balik bertanya.
"Tentu saja, memang siapa yang berani menggendongmu dari lobby sampai menidurkanmu di kamar," jawab Fahmi.
__ADS_1
"Tubuhku nggak berat ya honey digendong sampai kesini?" tanya Aryana
"Nggak berat kok, tubuh kamu ringan malah, kamu di kasih makan nggak sih sama bunda kamu, tubuh sampai ringan begitu?" goda Fahmi.
"Kamu aneh, honey, tentu saja aku di kasih makan sama bunda setiap hari," jawab Aryana sambil duduk di sofa ruang kerja Fahmi, sedangkan Fahmi jangan ditanya dia pasti duduk di samping Aryana seperti perangko.
"Sayang maafin Om, ya, sudah membuatmu ketiduran di lobby perusahaan," ucap Fahmi menyesal sambil merapikan anak rambut Aryana.
"Nggak apa-apa honey, mereka 'kan belum tahu aku siapa, tapi by the way hal penting apa yang ingin bicarakan denganku honey, sampai-sampai aku di suruh kesini?" tanya Aryana.
"Oh itu, sebentar," ucap Fahmi lalu bangun dari duduknya mengambil berkas kerjasama dari PT. Makmur Sejahtera.
"Ini Sayang bacalah!" pinta Fahmi dengan menyodorkan sebuah berkas pada Aryana.
Aryana membuka berkas tersebut dan sedikit terkejut namun ia berusaha menyembunyikannya.
"Ini berkas, kerjasama tentang pembelian furniture hotel, tapi kenapa aku disuruh baca, honey?" tanya Aryana
"Hotel itu yang sudah om bangun di dekat kebun teh itu yang Amdalnya kamu revisi," jawab Fahmi.
"Lalu maksudnya berkas ini suruh aku baca buat apa?" tanya Aryana
"Hotel itu akan berkonsep sunda, dan aku minta kamu yang pilih furniturnya, Sayang," jawab Fahmi.
"Kenapa harus aku, kamu kan punya desainer interior sendiri, honey?" tanya Aryana.
"Karena hotel itu akan aku persembahkan untuk gadis yang paling kucintai, pendamping hidupku, calon ibu dari anak-anakku, jadi aku ingin kamu yang memilih furniturnya, honey," ucap Fahmi dengan pandangan penuh cinta pada Aryana.
"Apa!"
____________________________________________
Terima kasih untuk kesabaran para readers buat nunggu up nya
Please Like, Vote, Coment, Rate and Favorit
Thank You
Bersambung...
__ADS_1