
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Fahmi menyusul istrinya yang tengah beristirahat di kamar pribadinya. Terlihat sang istri masih tertidur pulas, meski tak tega Fahmi harus membangunkan sang istri untuk makan siang.
"Sayang, ayo bangun makan dulu!" ajak Fahmi sambil mengusap lembut wajah istri kecilnya.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, Aryana menggeliat bangun, dan berusaha membuka matanya yang rasanya engan membuka.
"Honey"
"Ayo, kita makan dulu, ingat ada tiga nyawa dalam perutmu!" ajak Fahmi.
Mendengar ucapan sang suami yang menyinggung soal anak, Aryana berusaha untuk segera bangun, hampir saja dia lupa kalau ada tiga janin yang di kandungnya.
"Mau makan di luar atau makan di kantorku saja, nanti aku suruh Juan memesankan untuk kita?" tanya Fahmi.
"Makan di kantormu saja, Honey aku malas keluar, rasanya badanku masih lemas," jawab Aryana.
"Baiklah, kamu mau makan apa, hemm?"
"Ehm, aku mau makan gudeg Yogya sama ayam goreng kampung, kelihatannya enak banget, Honey," jawab Aryana sambil tersenyum membayangkan enaknya gudeg Yogya dan ayam goreng kampung, dan permintaannya itu membuat bola mata Fahmi membulat sempurna, ia menyesal kenapa harus menanyakan menu makanan pada bumilnya ini.
"Sayang..., ini Singapura bukan Indonesia, dimana harua membeli menu masakan Yogya itu, yang lain saja menu yang ada di Singapura," tawar Fahmi mencoba bernegosiasi dengan sang bumil kesayangannya ini.
"Kamu ini bagaimana sih, Honey, tadi tanya aku sedang pingin makan apa, setelah aku jawab malah suruh pilih yang lain, kamu pelit, pergi sana aku nggak mau makan!" ucap Aryana kesal karena sang suami minta request menu makan siang yang ia inginkan di ganti.
Mendengar ucapan kesal istrinya Fahmi hampir pingsan karena frustasi, maksud hati menyenangkan hati istri malah kekesalan sang istri yang ia dapatkan.
"Sayang, bukannya pelit, tapi aku bingung mencari menu itu beli dimana," ucap Fahmi memberi pengertian.
"Search di internet dong, di Singapura ini tempat mana yang menjual menu itu!" pinta Aryana cemberut.
Mendengar saran istrinya, Fahmi mengeluarkan ponselnya dan mencari restoran Indonesia yang mempunyai menu yang di inginkan istrinya. Setelah beberapa saat ia menemukan beberapa restoran yang menyajikan menu masakan khas Indonesia tapi tak ada menu yang di inginkan istrinya
"Sayang, gudegnya nggak ada tapi kalau ayam gorengnya ada, nih lihat sendiri!" pinta Fahmi menyodorkan ponselnya pada Aryana agar sang istri bisa memilih sendiri menu masakan Indonesia yang ada di Singapura.
Aryana mengambil ponsel sang suami dan melihat menu masakan Indonesia apa saja yang ada Singapura. Mata Aryana berbinar ketika melihat masakan cumi bali, air liurnya bahkan hampir saja menetes.
"Honey, aku ingin ini saja kelihatannya enak banget, dan aku nggak jadi makan di kantormu, kita ke restoran ini saja!" pinta Aryana sambil menunjuk satu nama restoran yang menyajikan menu masakan Indonesia yang di sertai gambar makanan yang mengiurkan.
Fahmi melihat apa yang di tunjuk sang istri di layar ponselnya, Fahmi lalu tersenyum, ia tahu tempat itu.
__ADS_1
"Oke, bumilku sayang, kita kesana sekarang!" ajak Fahmi lalu membantu istrinya untuk bangun di dari duduknya, kemudian mereka berdua keluar dari kamar pribadi Fahmi untuk makan siang di restoran request si bumil. Tak lupa sebelum meninggalkan kantor Fahmi berpamitan dengan Juan juga memberikan sedikit arahan pada sang asisten. Setelah itu Fahmi mengandeng tangan Aryana keluar perusahaan untuk makan siang bersama.
Jika Fahmi sedang mengantar si bumil cantiknya berburu kuliner khas tanah air di negara Singapura, maka di tanah air seorang laki-laki yang umurnya sudah tak muda lagu namun juga tak terlalu tua, dengan langkah tegap memasuki rumah, langkahnya masih sama persis seperti saat ia berdinas di militer dulu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam," jawab seorang wanita yang usianya terlihat hampir sama dengan laki-laki itu namun masih tampak cantik dan segar.
"Mas, sudah pulang!" tanya wanita tersebut.
"Iya, maaf tadi kita tidak jadi makan siang bersama, tadi papa tiba-tiba kurang sehat jadi aku yang menggantikannya meeting dengan investor dari Turki," jawab laki-laki itu sambil mencium kening wanita yang sudah menjadi ibu dari ke empat anaknya.
"Apa nanti, Mas akan balik ke kantor lagi, ini sudah hampir jam tiga sore?"
"Ah, rasanya tidak, setelah ini jadwalku free hanya menandatangani beberapa berkas, entah kenapa perasaanku menyuruhku untuk segera pulang."
"Apa mas Yudha bisa merasakan kalau putrinya sedang mengandung ya?" tanya Yasmin dalam hati.
Ya, sepasang pasutri itu adalah Yudha dan Yasmin, setelah Aryana menikah Yasmin kembali memangil Yudha dengan kata mas, rasanya sepi tanpa tiga anak kembarnya, rasanya Yasmin ingin kembali memanggil suaminya dengan sebutan mas. Hari ini Yudha mengantikan papa Dimas meeting dengan investor, tapi entah kenapa pikirannya tiba-tiba tertuju pada putrinya. Yudha ingin menelepon sang putri, tapi karena sedang sibuk maka Yudha mengurungkan niatnya dan pikirannya berubah ingin segera pulang ke rumah setelah meeting. Selain karena perasaannya tak enak ia juga sudah membatalkan janji makan siang dengan istrinya.
"Mas, duduklah dulu aku buatkan lemon tea hangat ya!" pinta Yasmin.
Yasmin segera ke dapur untuk membuatkan Yudha lemon tea hangat, agar suaminya bisa lebih rileks saat ia memberitahukan tentang kehamilan sang putri pada suaminya yang kelewat protektif itu.
"Ini, Mas di minum dulu tehnya!" pinta Yasmin.
"Terima kasih, Sayang," ucap Yudha.
Setelah Yudha meminum tehnya dan terlihat lebih tenang dan santai, Yasmin mulai membuka pembicaraan tentang Aryana.
"Mas, ada yang ingin aku sampaikan, tapi mas jangan kaget ya!" pinta Yasmin dengan nada serius.
"Tentang apa, kelihatannya serius sekali?" tanya Yudha setelah meletakkan cangkir teh di meja.
"Tadi Aryana meneleponku, dia memberitahukan kalau dirinya sedang mengandung," ucap Yasmin yang membuat Yudha terkejut.
"Apa!, Aryana hamil?" tanya Yudha tak percaya.
"Iya, putri kita hamil, Mas, sebentar lagi kita akan jadi kakek dan nenek, lagian Mas Yudha kenapa kaget begitu, anak kita 'kan sudah menikah wajar dong kalau bisa hamil," jawab Yasmin sambil geleng-geleng kepala karena tingkah konyol suaminya.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan usia kandungannya?" tanya Yudha yang sudah mulai tenang.
"Baru lima minggu, tadi Ana juga menanyakan Mas, tapi aku bilang Mas sudah pergi ke perusahaan membantu opa, dan ia terlihat kecewa saat tidak bisa bicara denganmu," jawab Yasmin.
"Kenapa Ana tak menghubungiku kalau memang ingin memberitahu hal bahagia ini?" tanya Yudha.
"Mungkin Aryana tidak ingin mengangumu, Mas," jawab Yasmin.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada Mas tentang kehamilan Aryana," ucap Yasmin lagi.
"Apa itu?" tanya Yudha.
"Aryana mengandung anak kembar tiga," jawab Yasmin membuat Yudha yang sedang meminum teh nya kembali menjadi tersedak.
Uhuk uhuk
"Apa kamu bilang, Aryana mengandung anak kembar?" tanya Yudha lagi memastikan telinganya masih sehat dan tidak salah dengar.
"Iya, Mas anak kembar, kembar tiga," jawab Yasmin sambil menunjukkan jari tangannya simbol jumlah tiga agar suaminya bisa memahami arti kata kembar tiga.
"Dasar, dokter pedofil dia apakan putriku sampai hamil kembar tiga," ucap Yudha yang malah mengumpat setelah ia benar-benar tidak salah dengar kalau dia akan langsung punya tiga cucu sekaligus.
Mendengar ucapan suaminya yang aneh itu Yasmin hanya terkekeh, sebenarnya apa yang sedang merasuki pikiran suaminya ini.
"Mas itu aneh yang namanya suami istri wajarlah kalau punya anak, soal apa metode yang diaplikasikan dalam prosesnya, orang lain tidak perlu tahu, lagi pula Aryana juga anak kembar, wajar kalau dia mewarisi gen anak kembar" ucap Yasmin.
"Aku hanya khawatir saja dengan kondisi kesehatan Aryana, jantungnya saja sampai sekarang belum dapat pendonor, sekarang dia dengan tubuh ringkihnya itu harus membawa tiga bayi di dalam perutnya selama sembilan bulan, aku tak bisa membayangkannya, Sayang. Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa pada putriku dan ketiga calon cucuku, dokter pedofil itu tidak akan aku kasih ampun, akan aku bawa putri dan ketiga cucuku ke tempat yang jauh dan tak akan aku biarkan dokter pedofil itu tahu keberadaan Aryana dan anak-anaknya!" ucap Yudha agak sedikit geram.
"Mas, Ighstifar!, seharusnya mas bersyukur dengan kehamilan putri kita, hampir dua tahun Fahmi dan Aryana menantikan hal ini, kita ini sebagai orang tua hanya bisa berharap dan berdoa yang terbaik, dan aku yakin kalau Fahmi akan benar-benar menjaga putri kita dan ketiga calon cucu kita dengan sangat baik," ucap Yasmin memberi pengertian pada Yudha sambil mengusap-usap punggung laki-laki yang menjadi ayah keempat anaknya.
"Entah kenapa mendengar Aryana hamil bahkan hamil anak kembar perasaanku sangat khawatir, seolah akan ada sesuatu yang kurang baik akan menimpa putriku, " ucap Yudha sendiri.
"Mas jangan berfikir yang bukan-bukan, mas hanya terlalu memikirkan kehamilan Aryana, percayah semua akan baik-baik saja, kapan-kapan kita bisa mengunjungi Aryana," ucap Yasmin beruaaha menenangkan suamnya yang terlampau mengkhwatirkan putri mereka berlebihan.
__________________________________________
Jangan lupa Like, Vote, Coment, Rate and Favorit.
Thank You 💐
__ADS_1
Bersambung....