Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 93


__ADS_3

"Sayang," ucap Fahmi sedikit terkejut karena ada yang membuka pintu ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.


"Honey, kenapa kamu tak bilang padaku kalau hari ini papi dan mami kesini?" tanya Aryana dengan nada kesal.


Melihat sang istri dengan mode dua tanduk di kepalanya, Fahmi bergegas menghampiri di mana istrinya masih berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Pelan-pelan ia berusaha menenangkan istrinya, Fahmi merangkul pundak sang istri dan menuntunnya duduk di kursi tamu yang ada di ruang kerjanya.


"Sayang, duduk dulu, akan aku jelaskan!" pinta Fahmi dengan lembut.


Setelah membawa Aryana duduk di kursi, Fahmi menggenggam tangan Aryana dan mengecupnya lembut. Sedangkan Aryana hanya memasang muka datar dari tadi seolah ia tak perduli dengan perlakuan suaminya.


"Sayang, aku sebenarnya juga tidak tahu kalau papi dan mami akan datang kesini, katanya sih mereka akan memberikan kejutan untuk kita. Papi dan mami hanya ingin memberikan selamat untuk kita, Sayang. Percayalah mami tidak akan berani berkata macam-macam lagi padamu," ucap Fahmi memberi penjelasan.


"Tapi, 'kan kamu bisa meneleponku, Honey untuk memberi tahu," ucap Aryana yang masih mode marah.


"Sebenarnya tadi aku akan meneleponmu tapi karena Juan meneleponku untuk bersiap zoom meeting dengan para manager aku jadi lupa" ucap Fahmi memberi tahu kenapa ia sampai lupa memberi kabar pada istrinya kalau papi dan maminya datang tiba-tiba ke Singapura.


Mendengar penjelasan sang suami, Aryana hanya bisa diam, dia tak tahu harus berkata apa, namun yang jelas ia masih merasakan perasaan kesal dan sakit di dalam hatinya.


"Berapa hari, papi dan mami akan tinggal di sini, Mas?" tanya Aryana setelah beberapa menit terdiam.


"Kenapa, kamu bertanya begitu?, kamu nggak senang papi dan mami menginap di sini?" tanya Fahmi sedikit heran.


"Tidak, tidak apa-apa, ini 'kan rumah kamu, papi dan mami orang tua kamu, jadi aku tidak berhak melarang orang tua kamu menginap di rumah anaknya sendiri. Sudah ya aku mau ke kamar istirahat dulu capek," ucap Aryana kemudian langsung beranjak dari duduknya dan langsung keluar ruang kerja suaminya.


Fahmi hanya menghembuskan nafas kasar melihat perilaku istrinya yang tampak berbeda. Biasanya Aryana sangat menghormati orang tua tapi dari tatapan mata istrinya saat membicarakan papi dan maminya seolah sang istri sedang mengibarkan bendera perang dingin.


"Sebenarnya apa yang di ucapkan mami dengan Aryana sehingga istriku seperti memendam luka yang begitu dalam," batin Fahmi yang tak habis pikir dengan perubahan sikap sang istri yang begitu kentara, apa hanya karena hormon kehamilan ataukah ada hal yang lainnya.


Fahmi segera menyusul sang istri ke kamar dan benar saja, terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi yang menandakan sang istri berada di kamar mandi. Fahmi duduk di sofa kamar sambil melihat ponselnya, memeriksa beberapa email yang masuk sembari menunggu sang istri keluar dari kamar mandi. Sekitar lima belas menit Aryana akhirnya menyelesaikan ritual mandinya. Saat keluar kamar mandi, Aryana melihat sang suami sedang duduk sambil melihat ponselnya, Aryana tak berniat bertanya atau menyapa, ia hanya memilih diam, sedangkan Fahmi yang menyadari istrinya sudah selesai mandi mendongakkan kepalanya dan melemparkan senyum termanisnya.


"Sayang, kamu sudah selesai mandi?" tanya Fahmi sambil berjalan menuju ke arah istrinya berdiri."


"Sudah tahu aku selesai mandi masih saja bertanya," jawab Aryana dengan nada datar membuat Fahmi semakin heran.


"Sayang, kamu masih marah soal kedatangan orang tuaku yang tanpa pemberitahuan itu?" tanya Fahmi ketika sudah berdiri di hadapan sang istri.

__ADS_1


Aryana mengembuskan nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan suaminya.


"Jujur, ya aku masih kesal, jadi jangan bertanya apapun lagi padaku, aku ingin istirahat sebentar!" jawab Aryana kemudian pergi ke ruang wardrobe untuk berganti pakaian.


Fahmi memandang sendu melihat istrinya yang berjalan ke ruang wardrobe, ia seorang dokter, ia juga tahu bahwa mood ibu hamil sering berubah-ubah dan cenderung sensitif tapi ia tidak menggira jika ibu hamil akan begitu menyeramkan saat bad mood.


"Ya Tuhan ternyata mood ibu hamil yang buruk bisa semenyeramkan ini," batin Fahmi dalam hati setelah Aryana masuk ke ruang wardrobe.


Malam pun mulai menjelang, menu makan malam sudah di hidangkan oleh bibi Mey, tuan dan nyonya Pratama sudah menunggu di meja makan, namun putra dan menantunya tak kunjung turun. Sejak pulang tadi siang Aryana tak mau keluar kamar setelah drama ngambeknya dengan sang suami tak kunjung usai.


"Sayang, ayo turun makan malam sama papi, mami, dari tadi kan kamu juga belum menemui mereka!" pinta Aryana.


Mendengar permintaan sang suami, Aryana langsung menyambar jilbab instannya, dan langsung pergi ke luar kamar tanpa bicara apapun pada suaminya. Fahmi hanya bisa menghembuskan nafas kasar sambil mengikuti istrinya dari belakang. Sampai di ruang makan dengan senyum yang di paksakan, Aryana berusaha membuka mulutnya untuk menyapa kedua mertuanya.


"Selamat malam, Pi, Mi, maaf membuat kalian menunggu," ucap Aryana sambil menarik kursi makan yang akan di dudukinya, biasanya Fahmi yang menarikan kursi untuknya namun kali ini Aryana melakukannya sendiri.


"Malam, Nak, maaf kedatangan kami yang mendadak membuatmu terkejut dan repot," ucap papi Pratama merasa tak enak dengan menantunya, karena meskipun ia laki-laki ia bisa merasakan ketidaknyamanan menantu perempuannya ini, sedangkan mami Miranda memilih diam tak ingin ikut bicara.


"Tidak apa-apa, Pi, ini kan rumah Om Fahmi, jadi rumah kalian juga jadi papi dan mami bisa datang ke sini kapan saja, bukan kah begitu Om?" ucap Aryana membuat papi Pratama terharu namun tidak dengan Fahmi, ia membulatkan matanya ketika mendengar kata om di sematkan padanya, benar-benar kode keras.


"Terima kasih, atas pujian papi untuk istri dan wanita yang tak sempurna seperti aku ini, pujian papi sangat berarti bagiku," ucap Aryana santai tapi ada sedikit bendera perang yang di kibarkan, mami Miranda dan Fahmi sangat bisa merasakan itu.


"Ayo, Pi, Mi kita mulai makan jangan di lihat terus!" pinta Aryana.


"Om Fahmi mau makan lauk apa, aku ambilkan?" tawar Aryana dengan suara dan mimik wajah semanis mungkin tapi kata om begitu sangat menusuk.


"Aku ayam dan ca sayur saja, Sayang," jawab Fahmi dengan menambahkan pangilan sayang di belakangnya.


Mereka ber empat pun menikmati makan malam dalam keheningan, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar. Setelah acara makan malam bersama selesai baru papi Pratama membuka pembicaraan.


"Bagaimana kuliahmu, Nak?" tanya papi Pratama.


"Alhamdulillah, Pi semua lancar," jawab Aryana sambil tersenyum pada papi mertuanya.


"Apa kehamilanmu tidak menganggu aktivitas kuliahmu?" tanya papi Pratama lagi.

__ADS_1


"Tidak, Pi, sepertinya ketiga calon anakku tahu kesibukan mamanya, jadi dia tidak rewel, papi tenang saja, aku akan berjuang agar cucu papi dan mami lahir dengan selamat sehat jiwa dan sehat fisik, agar mereka atau salah satu dari bayi-bayi yang ku kandung tidak sampai mengalami nasib sepertiku, apapun akan aku pertaruhkan termasuk dengan nyawaku sendiri agar bayi-bayiku menjadi anak-anak yang sehat dan kuat," ucap Aryana penuh semangat dan keyakinan namun bagi Fahmi kata-kata sang istri barusan benar-benar membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.


Melihat isrinya hanya diam saja sedari tadi, papi Pratama menegur istrinya karena merasa tak enak dengan menantunya


"Mi!, dari tadi kenapa mami diam saja?, apa mami masih pusing?" tanya papi Pratama.


"Tidak, Pi, mami sudah tidak pusing," jawab mami Miranda.


"Syukurlah kalau mami sudah tidak pusing, tapi ngomong dong dari tadi cuma diam saja," ucap papi Pratama.


"Kalau mami masih kurang enak badan, mami istirahat dulu saja, nanti aku minta bibi Mey buatkan mami lemon tea hangat, bisa meredakan sakit kepala dan juga bisa merilekskan pikirian. Jika ayah pulang kerja bunda selalu buatkan lemon tea hangat untuk ayah, bahkan sampai sekarang aku masih suka iri melihat kebucinan ayah terhadap bunda, mereka tak segan menunjukkan kemesraannya di depan anak-anaknya sampi membuatku sakit mata," ucap Aryana yang memberi saran pada ibu mertuanya.


"Terima kasih Aryana, mami baik-baik saja," jawab mami Miranda.


"Kalau begitu kita mengobrol di taman belakang, ada gazebo dekat kolam ikan di sana!" ajak Fahmi pada orang tuanya juga istrinya.


Mereka berempat pun meninggalkan ruang makan menuju taman belakang rumah ada gazebo yang sebelahnya adalah kolam ikan koi yang indah, beberapa tanaman bunga dan tabula pot yang tertata rapi di sana.


"Ini seperti rumah tuan Yudha yang di kota S," ucap mami Miranda spontan ketika melihat design taman belakang rumah putranya, hanya yang membedakan gazebo rumah Yudha sebagian terbuat dari bambu sedangkan gazebo rumah Fahmi dibangun dengan pasir dan semen, karena di Singapura agak sulit menemukan bambu.


"Iya, aku memang mendesign halaman belakang hampir sama dengan punya ayah Yudha di kota S, untuk mengobati rasa rindu Aryana pada keluarganya dan juga untuk kegiatan berkebun istriku jika dia sedang bosan dengan tugas kuliahnya," ucap Fahmi yang membuat dua orang paruh baya di depannya terharu dengan sikap putranya dalam usahannya membahagiakan istrinya secara total.


Mereka berempar asyik berbincang di gazebo meski mami Miranda lebih banyak diam, Aryana tiba-tiba teringat ia akan menyuruh bibi Mey membuatkan lemon tea untuk ibu mertuanya.


"Om, aku ke dalam dulu, mau cari bibi Mey sebentar," pamit Aryana yang langsung pergi meninggalkan gazebo menuju ke dalam rumah.


Melihat Aryana pergi sendirian ke dalam rumah, mami Miranda juga pamit ingin ke kamar mandi, meski sebenarnya ia berbohong, mami Miranda ingin bicara secara pribadi dengan Aryana. Sampai di dalam rumah mami Miranda mencari keberadaan Aryana, mami Miranda mengedarkan pandangannya ke dalam rumah, sekilas ia melihat siluet seseorang berada di pantry dapur. Mami Miranda melangkahkan kakinya menuju area dapur, dan benar saja Aryana sedang berada di dapur sedang membuat lemon tea hangat.


"Aryana!"


__________________________________________


Please, Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit


Thank You

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2