Pilihan Hati Aryana

Pilihan Hati Aryana
Episode. 161


__ADS_3

Tak terasa besok adalah hari persidangan tersangka pembunuhan pengusaha Batu Bara yang melibatkan Medina sebagai saksi kunci semakin dekat. Afwi semakin memperketat penjagaan di rumah Adiguna.


"Kalian harus bersiap, malam ini jaga bergantian, tak mungkin kita semua harus begadang semalaman. Untuk kasus besar ini kita harus punya tubuh yang fit dan kewaspadaan yang tinggi!" pinta Afwi pada ketiga anggotanya.


"Siap!" jawab Samsul, Denis dan Kikan bersamaan.


Di kamar Medina sangat gelisah menjelang persidangan, ia seperti merasa sesuatu yang buruk akan terjadi besok. Medina hanya mondar-mandir di dalam kamarnya, ia benar-benar sangat gelisah, gerakkannya terhenti ketika terdengar ketukan dari luar pintu.


Tok tok


"Siapa?" tanya Medina dari dalam kamar


"Nona ini aku Anan!" jawab Anan.


Setelah mendengar suara Anan, Medina buru-buru membukakan pintu kamarnya dengan hati yang bahagia.


Ceklek


"Mas Anan, ada apa?" tanya Medina dengan senyum manis meskipun ia masih sedikit gelisah karena pikirannya yang galau menjelang persidangan.


"Apa kau gugup menjelang persidangan?" tanya Anan.


"Iya, Mas, aku gugup dan gelisah, perasaanku tak enak, sepertinya akan ada kejadian yang buruk besok?" jawab Medina dengan raut wajah yang cemas.


"Mau ke taman belakang sambil memberi makan ikan-ikan koi mu?" tawar Anan.


"Boleh, aku senang ada yang menemaniku ngobrol.


Anan dan Medina kemudian berjalan menuju taman, di taman belakang rumah Adiguna ada taman yang tak terlalu luas namun sangat sejuk, di sana ada kolam ikan koi milik Medina dan beberapa burung kesayangan pak Adiguna dengan harga fantastis. Satu ekor burung bahkan bisa setara dengan satu unit mobil baru, sedangkan Medina menginginkan memelihara ikan koi dan beberapa jenis anggrek. Di taman tersebut juga ada kursi taman yang terta rapi.


Sampai di taman, Medina langsung memberi makan ikan koinya, sambil duduk di tepi kolam ikan buatan yang indah.


"Kenapa Nona suka memelihara ikan koi?" tanya Anan sambil dengan posisi berdiri di dekat Medina.


"Pertama aku suka warna dan bentuknya, yang kedua ikan koi adalah simbol keberuntungan, kekuatan, keberanian dan juga umur panjang. Intinya ikan koi adalah simbol dari kesuksesan dan hal-hal yang baik," jawab Medina.


"Nona suka hal seperti itu?" tanya Anan alias Afwi.


"Suka banget sih tidak, sebenarnya aku memilih memelihara ikan di kolam buatan yang terbuka seperti ini hanya untuk hiburan saja, kata orang lihat ikan berenang di akuarium atau di kolam bisa menghilangkan stress," jawab Medina sambil melihat ikan-ikan koi dengan posisi masih seperti tadi, namun ia sudah tak memegang pakan ikan lagi.


"Tenangkan dirimu untuk persidangan besok, jika Nona sedang galau ambilah wudhu dan shalatlah agar hati Nona menjadi tenang, berfikir lah yang positif tentang besok, serahkan semua pada Allah!" ucap Afwi menasehati Medina.


Meski ia tak suka dengan sikap dan perangai Medina, namun sebagai manusia sekaligus penegak hukum, ia merasa berkewajiban secara moral untuk memberi rasa nyaman pada saksi seperti Medina.


"Mas Anan apa begitu menyukai pekerjaan sebagai polisi, penuh dengan bahaya dan gaji yang tak begitu besar?" tanya Medina sambil menatap wajah Anan yang menawan.

__ADS_1


"Iya, aku menyukainya, mulanya aku ingin masuk Akmil, sama seperti kakak kembarku, tapi entah kenapa aku berubah pikiran jadi pingin masuk Akpol saja. Soal gaji aku sebenarnya tak terlalu perduli, yang penting aku nyaman dan suka menjadi seorang polisi," jawab Anan dengan raut datar.


"Kau kembar!" pekik Medina kaget mendengar Anan alias Afwi adalah anak kembar.


"Iya, kami kembar tiga, tapi adik kembarku perempuan, dia satu-satu princess kami, karena setelah melahirkan kami, bunda mengandung lagi dan melahirkan anak laki-laki," jawab Anan.


"Ya Tuhan, ternyata mas anak kembar tiga, lalu dimana adik perempuan, mas Anan?"


"Ia sudah menikah dan tinggal di Singapura bersama suaminya."


"Menikah?" beo Medina heran adik Anan sudah menikah.


"Adik perempuanku menikah setelah lulus SMA."


"What!" pekik Medina lagi karena kaget adik Anan menikah di usia yang sangat muda.


"Tunggu, eh maaf, apa adik mas Anan MBA, kenapa menikah semuda itu?" tanya Medina hati-hati takut menyingung Anan.


"Tidak, calon suaminya yang kebelet nikah," jawab Anan datar.


"Maksudnya?" tanya Medina makin bingung dengan cerita Anan.


Afwi lalu menceritakan garis besar kisah cinta Aryana pada Medina, biasanya Afwi jarang mau bercerita pada orang asing namun entah kenapa malam ini Afwi dengan lugas menceritakan kisah cinta adik perempuannya yang sedikit aneh. Medina membekap mulutnya sendiri karena ia hampir tak percaya dengan cerita Afwi tentang kisah cinta Aryana, tapi Afwi tak cerita jika suami Aryana adalah seorang ceo.


"Ya Tuhan, adikmu benar-benar hebat berani mengambil keputusan sebesar itu, aku sangat ingin bisa berkenalan dengan adik kamu, Mas," ucap Medina kagum setelah mendengar cerita dari Afwi.


Kemudian Afwi mengantar Medina sampai ke depan kamar, Medina kemudian masuk ke dalam kamarnya namun sebelum itu ia tersenyum pada Afwi yang di balas anggukan dan senyum tipis dari putra kedua Yudhatama Dewantara itu.


Afwi kembali ke kamarnya, seperti biasa ia mengambil wudhu, shalat witir dan membaca surat Al-Mulk sebelum tidur. Setelah selesai melaksanakan ibadah sebelum tidur, tak lupa Afwi mengecek semua kamera CCTV. Afwi membaringkan tubuhnya ke tempat tidur setelah memastikan keadaan rumah Adiguna dalam keadaan aman. Menjelang sidang esok hari Afwi meminta tambahan personil untuk menjaga rumah Adiguna, tapi para anggota polisi tersebut di haruskan memakai pakaian biasa agar tak mencolok.


Sekitar pukul setengah tiga malam Afwi bangun untuk melaksanakan qiyamul lail, namun saat ia hendak mulai shalat ia mendengar sesuatu dari luar kamar. Ia membuka sedikit tirai jendela kamarnya, dan benar saja ada sekelabat bayangan ada di antara pohon di dalam rumah. Afwi tak jadi melaksanakan qiyamul lail. Ia keluar dari kamar sambil membawa senjata dan alat yang terhubung dengan semua anggotanya, Afwi memberi tahu bahwa sepertinya ada penyusup yang masuk di dalam rumah papa dari Medina.


"Bapak yakin ada penyusup?" tanya Denis yabg sudah ada di dapur.


Ya, Afwi memerintahkan ketiga anak buahnya untuk ke dapur menyusun rencana, namun mereka dilarang menyalakan lampu agar tak ketahuan oleh penyusup bahwa kehadiran tamu tak di undang sudah tercium oleh sang polisi ganteng.


"Berani sekali mereka datang ke wilayah kita!" geram Samsul.


Saat mereka sedang mengatur strategi terdengar bunyi alarm di jam tangan Afwi yang tersambung dengan liontin yang dipakai Medina.


"Medina!" ucap Afwi kemudian ia segera melesat pergi ke arah kamar Medina, sedangkan ketiga anggotanya mengikuti Afwi yang terlihat panik menuju kamar Medina.


"Nona Medina apa anda baik-baik saja?" tanya Afwi sedikit berteriak sambil mengetuk pintu kamar Medina, namun tak ada sahutan sama sekali.


Sedangkan di dalam kamar seseorang telah membekap mulut Medina, laki-laki itu menatap tajam Medina agar ia diam. Medina berusaha memberontak tapi apalah daya kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki yang membekapnya, dalam hati Medina hanya bisa berharap dan berdoa agar Afwi segera mengetahui keadaannya dan menyelematkan nya.

__ADS_1


Di luar kamar, Afwi terus memanggil Medina namun tak ada jawaban, ia lalu berhenti memanggil Medina. Afwi memasang pendengarannya baik-baik, ia berusaha mengunakan instingnya untuk memprediksi sesuatu yang kemungkinan terjadi. Afwi memberi kode agar ketiga anggotanya diam.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Medina," gumam Afwi dalam hati.


Afwi mengeluarkan pistol dari balik bajunya, ia melafalkan doa kemudian bersiap mendobrak pintu kamar Medina.


"Bismilahirrahmannirrahiim, Ya Allah lindungilah hamba."


Brakk


Sekali tendang pintu kamar Medina terbuka, terlihat seorang laki-laki akan membawa Medina pergi.


"Hei lepaskan Nona Medina!" teriak Afwi sambil menodongkan pistolnya.


Laki-laki yang menyandra Medina tersenyum sinis, ia tak menghiraukan peringatan Afwi, dan tak lama terdengar kegaduhan di lantai bawah yang ternyata rumah Adiguna diserang sekitar dua puluh orang tak di kenal. Kikan, Denis dan Samsul tak bisa membantu Afwi karena mereka harus membantu rekan-rekan mereka yang lain. Afwi harus hati-hati karena laki-laki yang menyandra Medina menggunakan pistol juga. Penjahat laki-laki itu menodongkan pistol ke kepala Medina dan Afwi juga dengan posisi mengarahkan pistolnya ke arah penajahat tersebut.


"Lepaskan, Nona Medina, atau kamu tak akan keluar dengan selamat dari rumah ini!" ancam Afwi pada penjahat yang menyandra Medina.


"Tidak!, wanita ini harus mati!" ucap penjahat itu dengan garangnya.


"Kenapa Nona Medina harus mati, dia tak salah apapun padamu?" ucap Afwi sambil menunggu si penjahat lengah.


"Ha...ha..., wanita sialan ini memang tidak salah apapun pada kami tapi, dia sudah berada di waktu dan tempat yang salah, jadi ia harus terima nasib mati menyedihkan, ha...ha....!"


"Baiklah, kalau kau ingin membawa atau membunuhnya bawa saja, angap aku tak melihat, wanita ini sebenarnya sudah membuatku susah tapi aku harus menjalankan tugas," ucap Afwi kemudian perlahan menurunkan pistolnya dan tentu saja hal itu membuat Medina terkejut, ia tak mengira bahwa Afwi akan merelakan dirinya dibunuh oleh para penjahat itu.


"Jangan main-main, memangnya kau bisa membodohi kami," ucap penjahat itu tak percaya.


"Buat apa aku bohong, dia hanya anak manja yang tak bisa apa-apa kecuali menghabiskan uang papanya," ucap Afwi kemudian melempar pistolnya ke tempat tidur Medina yang letaknya tepat di sebelahnya.


Si penjahat melepaskan bekapannya yang menutup mulut Medina, tentu saja Medina bisa kembali bernafas normal namun juga mengeluarkan kata-kata makian untuk Afwi. Hatinya benar-benar sakit mendengar penghinaan Afwi padanya


"Mas Afwi aku tak percaya kau tega berkata seperti itu padaku dan kau jiga tega mengkhianati negaramu, aku benci kamu, Mas ku kira kau seorang polisi yang berbeda dari yang lain, tapi kau sama saja seperti mereka tak lebih dari seorang penjahat berseragam!" hardik Medina pada Afwi yang ternyata membiarkan penjahat tersebut akan membunuhnya.


"Sayang sekali nona manis, ternyata orang yang kau percayai tidak sebaik yang kau pikirkan, lebih baik kau ikut kami, bos kami akan menjadikanmu ratu," ucap si penjahat dengan senyum menyeringai.


Saat si penjahat sedikit lengah, Afwi dengan cekatakan melempar pisau lipat mengarah ke tangan si penjahat tersebut hingga pistol yang di pegang penjahat tersebut terlepas. Afwi lalu menghajar si penjahat tersebut tanpa ampun, terjadilah perkelahian sengit antara Afwi dan penjahat tersebut. Ternyata kekuatan laki-laki penjahat yang mencoba mencelakai Medina tersebut tak dapat di remehkan, sepertinya ia adalah penjahat yang sangat terlatih, sefangkan Medina hanya bisa melihat kejadian tersebut dengan ketakutan. Penjahat tersebut berhasil meraih pistolnya kembali, namun Afwi tak membiarkannya, Afwi berusaha menahan tangan si penjahat itu karena pistol mengarah padanya. Dua pria berbeda profesi itu tengah bergelut dengan pistol yang berusaha diarahkan pada salah satunya, hingga tak lama perkelahian tersebut terjadi terdengar bunyi tembakan.


Dor


_________________________________________


Siapa yang ke tembak ya?


Please Like, Vote, Komentar, Rate and Favorit

__ADS_1


Thank You


__ADS_2