
Pagi itu di kediaman Fahmi di Singapura, anak-anak sarapan seperti biasa, namun setelah anak-anak menyelesaikan sarapannya, Aryana memberi tahu bahwa pagi ini mereka akan pergi ke sekolah dengan diantar papa dan mama mereka.
"Asyiik..., hari ini kita akan diantar sekolah sama papa dan mama," sorak keempat anak Fahmi dan Alesya.
Namun salah satu dari anak itu tiba-tiba cemberut, membuat Fahmi dan Aryana memandang heran anak sulungnya itu.
"Arsen, kenapa muka kamu jadi cemberut begitu?" tanya Aryana.
"Tidak apa-apa, hanya saja kalau papa ikut mengantar nanti mama-mama teman kita banyak yang lihatin papa," jawab Arsen membuat Fahmi membulatkan matanya.
Usia Fahmi empat puluh tahun lebih namun jangan di tanya begitu tetap mempesonanya ceo Pratama group itu. Bahkan wajahnya yang mirip aktor korea Bae Yong Jun, bisa lebih menarik daripada anak kuliahan. Ya memang benar kata orang, wajah orang kaya mah beda, nggak terlalu cantik atau tampan tapi kalau rajin perawatan, punya banyak uang tetap saja awet muda. Beda cerita dengan rakyat biasa, meski wajah tampan dan cantik seperti selebritis tapi kalau nggak punya duit tetap saja wajahnya terlihat biasa saja.
"Arsen, papa ke sekolah hanya mengantarmu dan ada hal yang ingin papa bicarakan dengan kepala sekolah, kalau mama-mama teman kalian melihat papa ya biarkan saja, kan itu mata mereka, yang penting papa kan menangapi, di mata papa wanita cantik hanya empat orang, oma Miranda, mama kalian, Alya dan Alesya," ucap Fahmi memberikan nasehat pada Arsen.
Mendengar pembicaraan ayah dan anak itu, Aryana hanya geleng-geleng kepala. Bahkan saat berjalan bersama sang suami, Aryana sering di kira adik atau anak. Perbedaan usia Aryana dan Fahmi memang sangat jauh namun itu tak menyurutkan mereka mempertahankan hubungan ini hingga jenjang pernikahan.
"Ayo anak-anak jika sudah selesai ambil tas kalian dan masuk ke mobil, kita segera berangkat!" perintah Aryana pada keempat anaknya.
Setelah semua masuk ke mobil, Fahmi segera melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah. Saat akan berangkat tadi Fahmi sudah menerima tentang rekaman CCTV di sekolah anaknya dan ia sudah melihatnya.
Akhirnya Fahmi sudah sampai di sekolah anak-anaknya, seperti dugaan Arsen, para mama yang juga sedang mengantar anaknya, mereka memandang Fahmi sambil saling berbisik dan tentunya isinya adalah menggosipkan ketampanan Fahmi.
"Selamat pagi, Tuan Fahmi, Nyonya!" sapa salah seorang guru yang mengetahui kedatangan Fahmi.
"Pagi, apa saya bisa menemui kepala sekolah?" tanya Fahmi yang membuat hati guru tersebut ketar-ketir, karena baru hari ini seorang ceo perusahaan besar ingin menemui secara langsung kepala sekolah.
"Bisa, Tuan, mari!" ucap guru tersebut.
Setelah memastikan anak-anak memasuki ruang kelas, baru Fahmi dan Aryana mengikuti guru tersebut berjalan menuju ruang kepala sekolah. Beberapa guru yang ada di dekat kantor kepala sekolah cukup heran dengan kedatangan wali murid yang terkenal cukup kaya. Kepala sekolah sangat terkejut dengan kedatangan Fahmi dan Aryana, jika seorang ceo Pratama group sampai datang ke sekolah padahal tidak ada acara di sekolah, pastilah ada sesuatu yang sangat penting yang ingin di bicarakan.
"Tuan Fahmi, apa kabar? ada yang bisa saya bantu?" sapa kepala sekolah sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Kabar saya dan istri baik, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda," ucap Fahmi.
"Oh mari silahkan duduk, dan maaf kantor saya hanya seperti ini," ucap kepala sekolah, meski ruangannya cukup mewah karena itu adalah sekolah elite tetapi pasti masih kalah dengan ruang kerja Fahmi sebagai ceo.
"Begini, kemarin putri saya bercerita bahwa disini ada murid yang menjadi anak angkat daei seseorang yang kaya, dan murid ini sering mendapat perundungan karena statusnya itu, karena anak tersebut anak dari hanya panti asuhan. Bukan maksud saya ikut campur tetapi sikap murid-murid yang melakukan perundungan bisa mempengaruhi mental murid-murid yang lain terutama murid yang mengalami perundungan. Seharusnya sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu tetapi juga bisa bersinergi dengan orang tua untuk membentuk karakter yang baik, bukan arogansi karena harta yang dimiliki orang tuanya!" jelas Fahmi dengan nada sedikit keras membuat sang kepala sekolah makin pening.
"Maafkan kelalaian kami dalam mengawasi murid-murid, Tuan, kami akan memperbaiki semuanya. Jika boleh tahu siapa anak angkat korban perundungan tersebut?"
__ADS_1
"Nama lengkapnya saya tidak tahu, putri saya memanggilnya, Sean."
"Sean?" beo kepala sekolah berusaha mengingat murid yang bernama Sean.
"Kalau anda bingung, anda bisa memeriksa CCTV di sekolah ini agar anda tahu siapa Sean yang di maksud putri saya dan agar anda juga tahu kejadian buruk apa yang sudah menimpa anak malang itu!" pinta Fahmi tegas.
Kepala sekolah kemudian membuka laptopnya yang sudah terkoneksi dengan CCTV yang ada di sekolah. Kepala sekolah melihat rekaman CCTV bersama dengan Fahmi dan Aryana. Betapa terkejutnya sang kepala sekolah hal tersebut sampai terjadi di sekolahnya, bagaimana mungkin muridnya yang masih kecil-kecil berani melakukan perundungan bahkan ancaman, meski ancaman itu hanya sebuah gertakan dari seorang anak namun itu bisa mempengaruhi kondisi psikologi anak tersebut.
Kepala sekolah memperlihatkan wajah tegang setelah melihat rekaman CCTV, dia sungguh lalai dalam menjaga sekolahnya, meskipun anak yang di rundung tersebut bukan anak Fahmi namun ternyata hal tersebut membuat sang ceo Pratama group memberikan perhatian khusus karena kejadian perundungan tersebut disaksikan sendiri oleh putra putrinya.
"Maafkan kelalaian kami, kami berjanji hal ini tak akan terjadi lagi," ucap kepala sekolah dengan nada cemas.
"Bukan pada kami anda seharusnya meminta maaf, tetapi pada anak yang terkena perundungan dan keluarganya," ucap Aryana yang mulai membuka mulutnya untuk bicara karena semenjak datang suaminya lah yang lebih banyak bicara.
"Baik kami, akan meminta maaf pada Sean dan keluarganya," ucap sang kepala sekolah.
"Sebaiknya anda juga harus mengadakan pembinaan terhadap para siswa dan sosialisasi pada wali murid tentang pentingnya pendidikan karakter pada anak di usia dini," ucap Aryana kembali memberi masukkan pada kepala sekolah.
"Terima kasih sarannya, Nyonya, nanti akan kami bicarakan dengan dewan guru," ucap kepala sekolah.
"Kalau begitu, kami pamit karena apa yang ingin kami sampaikan sudah saya sampaikan," ucap Fahmi sembari berdiri dari duduknya sambil merapikan jasnya begitu juga dengan Aryana.
"Baiklah, kami pergi dulu, semoga anda benar-benar merealisasikan perkataan anda tadi," setelah mengucapkan itu Fahmi dan Aryana meninggalkan ruang kepala sekolah.
Sang kepala sekolah menghembuskan nafas lega karena Fahmi dan istrinya sudah pergi, namun ia harus menyelesaikan PR yang di berikan Fahmi dan itu cukup berat karena anak-anak yang ikut merundung Sean adalah anak-anak orang kaya yang cukup berpengaruh jadi sang kepala.sekolah harus hati-hati dalam mengambil keputusan agar semuanya aman.
Siangnya, Fahmi dan Aryana menjemput anak-anak pulang sekolah, karena mereka akan mengunjungi makam Pamela bersama-sama.
"Papa, Mama...!" panggil ke empat anak mereka sembari berlari.
Fahmi mengambil posisi sedikit jongkok untuk menyongsong kedatangan empat buah hati mereka, sedangkan Aryana memilih posisi berdiri.
Hap
Alesya dan Alya memeluk Fahmi sedangkan Arnan dan Arsen memeluk kaki Aryana.
"Bagaimana sekolah kalian hari ini?" tanya Fahmi sambil membelai kepala kedua putrinya.
"Sekolah kami baik, dan kabar baiknya anak-anak yang suka menganggu sean hari ini mereka hanya diam," jawab Alesya dengan antusias.
__ADS_1
Fahmi dan Aryana saling pandang setelah mendengar penjelasan dari Alesya, mereka kembali fokus pada keempat anaknya yang bergantian menceritakan kejadian di sekolah mereka hari itu.
"Sayangnya mama semua, hari ini kita akan ke pemakaman xx, kita akan berziarah ke makam sahabat mama!" ajak Aryana pada ke empat anaknya.
"Baik, Ma, kita akan berdoa untuk sahabat mama," ucap Alya.
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang!" ajak Fahmi lalu membukakan pintu mobil untuk anak-anaknya.
Sekitar setengah jam perjalanan, Fahmi, Aryana dan keempat anaknya sudah sampai di kompleks pemakaman xx. Mereka berjalan menyusuri pemakaman hingga sampailah pada sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Pamela Anggelina.
"Ayo kita berdoa dulu untuk aunty Pamela!" ajak Aryana.
Kemudian semuanya berdoa dengan posisi berjongkok di sekitar pusara Pamela, Fahmi tampak khusyuk memimpin doa. Pamela bukan penganut agama Islam, namun sebelum meninggal ia sudah memeluk Islam.
"Apa mama sangat sayang dengan aunty Pamela ini?" tanya Alesya setelah selesai berdoa.
"Iya, aunty Pamela bukan hanya sahabat tetapi saudara buat mama, ia salah seorang yang sangat berharga dalam hidup mama," jawab Aryana dengan mata berkaca-kaca dan suara parau.
Melihat hal itu, Fahmi langsung merangkul Aryana dari samping, ia tahu bahwa setiap berziarah ke makam Pamela, Aryana sangat sedih, sedangkan anak-anak baru kali ini di ajak berziarah ke makam Pamela.
"Sayang, jangan sedih, Pamela ikhlas melakukan hal itu padamu, sekarang tugas kita adalah menjaga baik-baik amanahnya," lirih Fahmi agar tak terdengar anak-anak.
"Alesya, letakan bunganya di dekat nisan aunty Pamela setelah itu kita pulang!" pinta Fahmi.
Alesya lalu meletakan rangkaian bunga yang cantik di dekat nisan Pamela, mungkin karena ikatan darah, Alesya mengusap nisan Pamela lalu menciumnya.
"Aunty Pamela, Lesya, papa, mama dan saudara-saudara Lesya pulang dulu ya, kami sudah berdoa untuk aunty jadi aunty bisa tidur dengan tenang di tempat yang indah, Assalamualaikum," ucap Alesya lalu kaki kecilnya mulai beranjak dari makam Pamela.
Aryana hampir menumpahkan air matanya saat melihat dan mendengar apa yang di katakan Alesya namun ia berusaha menahannya.
Mereka kemudian meninggalkan pemakaman menuju parkiran makam di mana mobil Fahmi berada. Saat Fahmi dan keluarganya meninggalkan makam, ada dua pasang mata mengawasi dari jauh. Setelah memastikan mobil Fahmi sudah tak terlihat kedua orang itu berusaha bicara dengan penjaga makam agar boleh memasuki makam elite tersebut, dengan segala cara akhirnya kedua orang itu berhasil meyakinkan penjaga makam untuk bisa memasuki area pemakaman elite, namun mereka hanya diberi waktu sebentar dengan diantar penjaga makam.
Kedua orang tersebut kemudian berdoa sebentar, kemudian segera meninggalkan makam Pamela. Sampai di luar makam salah seorang dari mereka menelpon seseorang.
"Hallo, Bos, hari ini keluarga tuan Fahmi mengunjungi kompleks pemakaman xx, dan setelah saya mencari tahu, mereka mengunjungi makam seorang wanita, di batu nisan tertulis Pamela Anggelina."
Di seberang telepon seorang pria tangannya bergetar hingga ponsel yang di genggamnya jatuh dan air mata yang keluar begitu saja setelah menerima telepon dari orang suruhannya.
Bruk
__ADS_1
__________________________________________